
"Gak papa Bang, cuma ke kilir doang" ucap Jihan.
"Mana" tanya Dani.
"Nih kaki" ucap Jihan menunjukkan kakinya yang mulai membiru.
"Bengkak Ji" ucap Dani.
"Iya dikit" ucap Jihan.
"Ngapain lo sama Dwi sampai lo luka gini" tanya Jovan.
"Gak Bang, ini tadi lagi jalan ke lemari buat cari baju tapi high heels gue patah satu ya gini jadinya" ucap Jihan.
"Oh, besok Abang beliin lagi" ujar Jovan.
"Iya Abang" ucap Jihan tersenyum.
"Udah boleh gue periksa" tanya Ridwan yang berada di belakang Jovan.
"Eh, boleh Bang" ucap Jovan.
"Bengkak Ji, sakit banget gak" tanya Ridwan.
"Gak si kalau gak di sentuh" ucap Jihan.
"Ran tugas lo" ucap Ridwan memanggil Randy.
"Oke" ucap Ridwan berjongkok di depan Jihan.
"Serius lo kak, masih inget terahir kali lo benerin kaki gue" ucap Jihan.
"Haha, sakit ya" ucap Randy
"Iya, buat sekarang pakai perasaan dong" ucap Jihan.
"Iya, tapi kalau rasa gue sampai hati lo gimana" ucap Randy.
"Jangan macem macem lo" ucap Dwi berdiri di samping Jihan.
"Iya iya gak bakalan" ucap Randy.
"Siap siap ya Ji" ucap Randy membuat Jihan memeluk pinggang Dwi karena posisi Jihan yang sedang duduk sedangkan Dwi berdiri.
"Au" ucap Jihan saat Randy menarik kakinya.
"Bentar Ji, tahan" ucap Randy kembali menarik kaki Jihan membuat Jihan mengeratkan pelukannya.
"Sakit sakit Ji gak perlu mesra mesraan gitu juga kali" ledek Ridwan.
"Eh, ngapain lo peluk peluk gue" ujar Jihan melepas pelukannya
"Gak salah tuh" ucap Dwi.
"Kenapa mau protes" ujar Jihan.
"Gak gak, serah lo yang penting lo bahagia" ucap Dwi.
"Maaf ya udah ganggu pesta kalian" ucap Jihan.
"Iya gak apa apa, lo bisa jalan lagi gak" tanya Dani mendekati Jihan.
"Bisa bantu Jihan" ucap Jihan kepada Dani.
"Ayok" ucap Dani
Jihan berdiri dengan bantuan Dani, Jihan tersenyum karena bisa berjalan dan tak lagi sakit pada kakinya.
"Kak Randy makasih" ucap Jihan tersenyum.
"Huh meleleh gue lihat senyuman lo" ledek Randy.
"Kak Randy bisa aja, kak yang tadi siang ke kampus ya" ucap Jihan.
"Iya jadi yang gue lihat tadi di kelas beneran lo" ucap Randy.
"He iya" ucap Jihan.
"Wah, jadi lo beneran S2" tanya Randy.
"Kita lihat aja nanti pas wisuda" ucap Jihan.
"Oke Kakak tunggu lo" ucap Randy.
"Kalian ngomongin apa si" tanya Jovan.
"Gak" ucap Jihan.
Saat Jihan akan menjawab kembali ponselnya berdering. Jihan mencari cari dimana ponselnya ternyata ada di tangan Dwi.
"Boleh minta ponsel gue" ucap Jihan.
__ADS_1
"Boleh asal lo terima telfon di depan gue" ucap Dwi.
"Iya iya bakal gue kerasin juga" ucap Jihan merebut ponselnya.
"Hallo" ujar Jihan tak lupa mengeraskan volume ponselnya.
"Iya Ay, gue ada di depan rumah lo nih bisa ketemu gak" tanya di sebrang telfon.
"Ada apa masuk aja kali, Abang ada kok" ucap Jihan.
Jihan menatap Dani untuk turun ke bawah menemui Fero sedangkan Dwi terlihat begitu kesal karena Jihan menghubungi laki laki lain bahkan dengan panggilan sayang.
"Iya Kak Dani udah bukain pintu" ucap Fero.
"Oke lo ikutin aja kak Dani" ucap Jihan.
"Oke" ucap Fero mematikan ponselnya.
"Siapa" tanya Dwi.
"Bentar lagi juga datang, oh ya kalian semua bisa keluar kecuali Abang sama lo" ucap Jihan menunjuk Jovan dan Dwi.
"Oke" ujar semua teman teman Jovan.
Saat semua orang keluar Dani datang dengan seseorang di di belakangnya. Dwi tersenyum lalu berjabat tangan dengan Fero membuat Jihan dan Dani menarik nafas panjang.
"Kenapa lo bawa Fero ke sini Kak" tanya Jovan.
"Lo harus dengerin dia mau bicara" ucap Dani.
"Oke" ucap Jovan
Fero Jihan Dwi Jovan dan Dani duduk di lantai dengan melingkar.
"Kenapa si" tanya Jovan
"Lo denger dulu, Fer lo mulai deh" ucap Dani.
"Gini Bang sebenernya gue cuma mampir" ucap Fero serius.
"What" ujar Dwi Jovan dan juga Jihan lain dengan Dani yang tertawa terbahak bahak.
"Hahaha kalian semua kena, mana muka tegang banget" ujar Dani.
"Beneran gue cuma mampir sekalian mau bermalam di sini lo gak lupa kan kalau gue wisuda besok" ucap Fero.
"Besok bukannya ada beberapa hari lagi ya" ujar Jihan.
"Iya bener juga, selamat ya lo duluin gue" ujar Jihan.
"Ledek gue lo seharusnya lo jangan tinggalin gue" ucap Fero.
"Lo nya aja yang gak mau kejar gue lo tuh terlalu percaya sama keadaan" ucap Jihan.
"Iya, sampai lo gak sadar keadaan yang akan menghianati lo" ucap Dani.
"Ya maaf, andai waktu bisa gue putar lagi gak bakal gue biarin lo lari Ay" ujar Fero.
"Gue udah berusaha sepelan mungkin untuk melangkah tapi lo gak mau samain jarak" ucap Jihan.
"Gue sadar itu, saat gue semakin dekat dengan jarak yang lo buat di saat itu juga gue harus berhenti dan menjalaninya sendiri" ujar Fero.
"Takdir kita emang gak sejalan" ucap Jihan.
"Iya Ay, oh ya gimana sama jadwal wisuda lo" tanya Fero.
"Masih di jadwal yang sama hari yang sama hanya keadaan yang berbeda Ta" ucap Jihan.
"Kalian ngomongin apa si sebentar wisuda sebentar apa lah gak jelas" ucap Jovan.
"Ngomongin apa yang pengin kita omongin ya gak Ta" ujar Jihan.
"Bener" ucap Fero.
"Ta lo kesini gak bawa oleh oleh gitu" tanya Jihan.
"Maaf Ay, cuma bawa hati" ujar Fero tersenyum.
"Biasaan lo" ujar Jihan.
"Kalian punya panggilan sayang" ujar Dwi.
"Kita" ucap Fero dan Jihan bersama.
Dwi mengangguk sembari menatap Jihan dan Fero bergantian. Jihan menatap Fero sebentar lalu menatap Dwi namun di saat yang bersamaan Dwi menggenggam tangan Jihan membuat Fero membulatkan matanya.
"Eh gue ke bawah dulu ya laper nih" ujar Fero cepat.
"Oke, kita juga iya gak Van" ucap Dani.
"Eh iya" ujar Jovan.
__ADS_1
Semua orang pergi dari dalam kamar Jihan, sedangkan Dwi masih di posisinya meminta penjelasan dari Jihan membuat Jihan menarik nafasnya panjang.
"Apa perlu gue jelasin" tanya Jihan.
"Kalau lo mau" ucap Dwi tanpa melepaskan tangannya yang berada di tangan Jihan.
"Mana yang harus gue Jelasin" tanya Jihan.
"Terserah lo" ucap Dwi.
"Ji apa kalian ada hubungan spesial" tanya Dwi.
"Gak ada hanya sebatas teman" ucap Jihan.
"Yakin" tanya Dwi.
"Ya" ucap jihan.
"Apa lo gak ada rasa sama dia Ji" tanya dwi.
"Rasa apa yang lo maksud" tanya Jihan.
"Jangan pura pura bodoh deh lo Ji" ucap Dwi menatap Jihan.
"Huh andai aja lo gak tunjukin jati diri lo udah hanyut gue dalam tatapan lo" ujar Jihan.
"Oke gue gak ada hubungan apa apa sama dia puas jadi lo gak perlu takut kalau gue bakal bersaing sama adek lo" ucap Jihan.
"Baguslah kalau lo tau diri" ujar Dwi.
"Nyesel.gue ngomong sama lo, dan lagi gue mau tanya apa bener usia Putri dua puluh lima katanya beda setahun sama lo lo kan baru dua puluh satu" ucap Jihan.
"Jadi lo inget ya haha, gue kira lo gak sadar sama perkataan gue" ucap Dwi.
"Gue masih bisa berfikir" ucap Jihan.
"Yaya dia udah dua puluh tahun dia baru mau masuk universitas" ucap Dwi.
"Kok beda cerita si, katanya dia lebih tua dari lo dan beda satu tahun kenapa sekarang jadi dia lebih muda dari lo pusing gue" ujar Jihan.
"Hehe, yaya sekarang serius dia dua puluh tahun lebih muda satu tahun dari gue dia baru mau masuk Universitas dan dia adek kandung gue bukan anak asisten papah atau mama maaf" ucap Dwi.
"Lo berani bohongin gue" ucap Jihan melepaskan tangannya dari genggaman Dwi.
"Hehe, sorry sorry soalnya gue mau tau apa yang bakal lo lakuin sama dia" ucap Dwi.
"Gue gak segila itu, dan lo gak akuin adek lo sendiri jahat lo" ucap Jihan mendorong Dwi.
"Kenapa lo dorong gue, dan lo juga kenapa gak bilang kalau lo adeknya Jovan" ujar Dwi.
"Buat apa gue bilang bilang, lagian apa urusan lo" ucap Jihan.
"Urusan gue, karena gue suka sama lo dari dulu pertama gue lihat lo di rumah Jovan" ucap Dwi.
"Lo bilang lo suka sama gue tapi lo kencan sama beberapa cewek di luar sana" ujar Jihan.
"Sebanyak apapun cewek yang gue deketin tapi yang ada di hati gue cuma lo jadi gue harap lo ngertiin gue" ucap Dwi.
"Ngertiin lo dengan cara biarin lo sama cewek lain gitu" ucap Jihan.
"Ji serius gue suka sama lo, lo sendiri yang bilang kalau sayang gak akan merusak tapi menjaga emang pernah gue rusak lo" ucap Dwi.
"Gak si, tapi apa itu bisa buat jaminan secara lo dulu sering gonta ganti kekasih apa gue masih bisa percaya sama perasaan lo" ucap Jihan.
"Lo harus percaya Ji" ucap Dwi menatap Jihan hangat.
"Gue gak mau" ucap Jihan.
"Susah ya ngomong sama lo udah semua cara gue lakukan tapi lo gak mau ngertiin gue" ucap Dwi emosi.
"Karena gue tau kalau semua yang lo omongin cuma buat selamatin perusahaan lo" ujar Jihan.
"Dan lo juga udah manfaatin gue dengan lo nikahin gue biar om sama tante tuh gak coret lo dari kartu keluarga dan lo kehilangan segalanya" lanjut Jihan.
Dwi mulai emosi dengan Jihan yang terus saja mengomel Dwi juga merasa bersalah karena semua yang di katakan Jihan adalah sebuah kebenaran. Dwi lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jihn lalu m*****t bibir Jihan dengan sangat lembut membuat Jihan terdiam.
"Kalian lagi ngapain" ujar Jovan saat melihat adegan tersebut.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan komennya ya....
__ADS_1