
"Ji lo masih anggap gue sahabat lo gak si" tanya Nisa penuh telisik.
"Masih lah, lo sahabat gue bukan orang lain" ucap Jihan yakin.
"Kalau lo masih anggap gue sahabat lo seharusnya lo cerita lah sama gue gak jadiin gue domba hitam buat pernikahan lo" ucap Nisa.
"Nis maafin gue, bukan maksud gue mau buat lo domba hitam" ucap Jihan memohon.
"Dan kalian berdua tau" tanya Nisa ke dua sahabatnya Hana dan Mona.
Mona dan Hana hanya mengangguk, sedangkan Nisa tersenyum sinis membuat Jihan menghela nafasnya panjang. Dwi yang melihat situasi seperti ini hanya bisa mengenggam tangan Jihan erat sedangkan Dani menonton dengan santai dan makan cemilan.
"Mereka tau kenapa lo gak kasih tau gue" ucap Nisa meninggi.
"Maafin gue Nis, sebenernya gue mau cerita sama lo tapi gue takut lo marah dan takut lo sakit hati" ucap Jihan.
"Lo tau dengan kayak gini gue lebih marah gue lebih sakit hati" ucap Nisa.
"Gue minta maaf Nis, gue kasih apapun buat lo asal lo mau maafin gue" ucap Jihan memohon.
"Mau nyogok lo, gue gak semurahan itu" ucap Nisa.
"Gak cuma gue mau kita berdamai" ucap Jihan.
"Oke ada satu syarat yang harus lo penuhi, kalau lo bisa penuhi gue anggap kita gak pernah ada masalah" ucap Nisa tersenyum licik.
"Oke lo tinggal bilang aja, " ucap Jihan.
"Oke lo serahin kak Dwi buat gue" ucap Nisa.
"Maksud lo apa" ucap Dwi keras.
"Wi diem dulu deh lo, kalau lo mau tau jawaban Jihan" ucap Dani santai di ranjang.
Dwi langsung menatap Dani tak percaya, lalu menatap Jihan sembari kembali duduk di samping Jihan. Sedangkan Jihan bangun dan mendekati Nisa dengan pelan dan
Plakkkkkk.....
Semua orang menatap Jihan tak percaya kalau Jihan akan menampar Nisa sahabatnya sedangkan Dani hanya tersenyum. Nisa membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang di lakukan Jihan padanya.
"Lo mikir gak si, pernikahan bukan sesuatu yang bisa lo permainkan gue sadar kalau gue sendiri belum bisa menerima ini sepenuhnya tapi gue gak akan biarin siapapun menghancurkannya termasuk lo" ucap Jihan tegas.
"Oh oke kalau itu mau lo" ucap Nisa tersenyum licik dan.
Plakkkk.....
"Itu buat lo yang udah berani nampar gue" ucap Nisa tersenyum.
Dwi menatap Nisa dengan tatapan membunuh, namun Nisa hanya tersenyum tanpa dosa. Saat Dwi melangkah untuk membalas yang Nisa lakukan tapi dengan cepat Jihan mengangkat tangannya tanda dia tak butuh bantuan.
"Are you oke" tanya Dwi.
"Hm" ucap Jihan.
"Dan ini
Plakkkkkkk...
"Buat lo yang gak mau cerita sama gue" ucap Nisa.
"Gila lo" teriak Dwi.
"Udahlah, duduk aja ngapa biar gue selesaikan masalah ini sendiri" ucap Jihan.
"Dia emang pantes buat lo Ji, terlihat jelas dia tidak ingin lo terluka walau cuma sedikit" ucap Nisa tersenyum.
"Jadi maksud lo, lo" ucap Jihan menelisik.
"Iya, gue gak sejahat itu ambil jodoh lo gue cuma gak yangka lo segitunya buat hati gue gak sakit" ucap Nisa.
Jihan memeluk Nisa dengan erat di balas dengan erat juga dan di susul oleh Mona dan Hana. Mereka semua kembali bersahabat dengan baik.
"Cewek aneh, tadi aja tampar tamparan sekarang pelukan" cibir Dani.
"Iri bilang bos" ucap Jihan.
"Gak tuh, oh ya Ji lo hubungin Mami deh biar dia yang jaga gue di sini" ucap Dani.
"Mami mami pala lo, lagian siapa suruh lo cobain jalanan" ucap Jihan.
"Banyak omong lo, seharusnya lo tuh terima kasih gitu gue udah baik hati biar lo pulang lo bisa istirahat bisa belajar lo" ucap Dani.
__ADS_1
"Yaya makasih, udah eh Na lo pulang bawa motornya Kak Dani ya" ucap Jihan.
"Lo ngusir gue" tanya Hana.
"Kenapa gak suka, masih mau di sini temenin Kaka gue gak yakin sama bapak lo" ucap Jihan.
"Iya juga, mereka kan tau kalau hari ini kita ujian udah pasti kan mereka juga tau kalau kita pulang cepet bisa kena gantung gue" ucap Hana.
"Iya bener, yuk pulang gue nebeng ya" ucap Nisa.
"Iya udah ayok," ucap Hana.
Hana Mona dan Nisa pergi dari ruang inap Dani namun dengan cepat mereka bertiga kembali lagi ke ruang inap Dani membuat Jihan dan Dwi bingung sedangkan Dani tersenyum licik.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Kakak lo sengaja ya" ucap Mona.
"Lah kenapa" tanya Jihan aneh.
"Mana kuncinya, kita di suruh dorong tuh motor" cibir Nisa.
"Hahahaha lagian kalian gak minta ya gak gue kasih lah makanya lain kali nanya dulu" ucap Dani menggantung kunci motornya di jari tangannya yang di angkat tinggi.
"Sini Kak" ucap Jihan berjalan maju.
"Gak, suruh temen lo yang ambil" ucap Dani.
"Yaya, kesempatan lo kak" ucap Jihan.
"Na ambil tuh" ucap Jihan.
"Ya" ucap Hana berjalan sembari menghentak hentakkan kakinya.
Semua orang menahan tawanya sedangkan Dani sangat bahagia karena bisa bermain main dengan Hana.
"Ji kita pulang dulu ya" ucap Nisa Hana dan Mona.
"Iya ati ati kalian" ucap Jihan.
Setelah kepergian ke tiga sahabatnya Jihan kembali duduk di sofa sembari menghubungi ke dua orang tuanya tentang keadaan Dani. Dengan santai Jihan memainkan ponsel Dani membuat Dani tersenyum.
"Lumayan lah kak" ucap Jihan namun masih serius menatap ponsel Dani.
"Lumayan susah" ucap Dani.
"Ya begitulah, kalau gak susah bukan ujian hidup aja ujiannya susah" ucap Jihan.
"Mulai curhat nih bocah" ucap Dani.
"Eh tadi ada yang tanya gue makan apa belum" tanya Jihan memberikan ponsel Dani kembali.
"Mas yang bilang, kamu mau makan apa" tanya Dwi.
"Apapun lah yang penting enak dan bersih" ucap Jihan.
"Oke, Mas beliin" ucap Dwi.
"Wi gue minta juga, gue gak suka makanan di sini gak enak" ucap Dani.
"Siap kakak" ujar Dwi tersenyum dan pergi.
"Ji suami lo nurut bener" ujar Dani.
"Ya kalau lagi nurut kalau gak yang ada suka ngatur" ucap Jihan.
"Oh ya Ji, gimana selanjutnya masih betah di fase ini" tanya Dani.
"Gak tau kak, sebenernya gue udah capek Kak tapi mau gimana lagi soalnya jalannya juga jadi serumit ini" ucap Jihan menghela nafas panjang.
"Iya Kakak juga gak nyangka jalan hidup lo rumit bener, tapi serapi apapun lo sembunyikan semuanya suami sama sahabat lo bakal tau juga" ucap Dani.
"Iya Kak, gue juga tau itu tapi kalau mas Dwi si gak gue pikirin tapi sahabat sahabat gue yang udah pada bantu gue di masa paling sulit itu yang gue pikirin" ucap Jihan.
Jihan meletakkan kepalanya di samping ranjang Dani membuat Dani sangat kasihan terhadap Jihan, adik yang selama ini dia jaga yang selama ini dia usahakan untuk bahagian saat ini dia sendiri tidak bisa membantu apa yang terjadi pada Jihan.
"Ji minggu depan kamu udah selesai ujian ya" tanya Dani.
"Iya Kak, kan ujiannya cuma empat hari" ucap Jihan.
"Pantesan" ucap Dani membuat Jihan menatapnya bingung.
__ADS_1
"Kenapa Kak, apa ada sesuatu" tanya Jihan.
"Eh, gak kok nanti juga kamu bakal tau sendiri" ucap Dani.
"Oh oke, lagian Jihan juga gak mau mikirin apapun selain ujian Jihan" ucapnya lesu.
"Teruslah berjuang, karena Kakak akan selalu bersamamu walau di masa sulitmu kakak adalah orang pertama yang akan ada saat kau rapuh" ucap Dani.
"Thanks kak" ucap Jihan meneteskan air matanya.
"Lo nangis Ji, dimana diri lo yang gak pernah netes tuh air mata di depan orang lain" ledek Dani.
"Udah berubah Kak, di sini Jihan belajar banyak air mata itu patut untuk keluar asal jangan buat orang lain tertawa karenanya" ucap Jihan.
"Yayaya terserah lo" ucap Dani.
"Kak, Ji ini makanannya maaf udah ganggu ya" ucap Dwi yang baru saja masuk.
"Ya taruh aja" ucap Dani.
Jihan yang sedang menangis langsung membalikkan arah pandangannya ke arah tembok dan dengan segera menghapus air matanya. Dani yang tau apa yang di rasakan Jihan ikut terasa sesak di dalam hatinya. Jihan berjalan ke arah sofa setelah bisa mengontrol air matanya.
"Sampai kapan lo mau terus senyum gitu Ji, sedangkan kebahagiaan lo udah di renggut dan sebentar lagi mimpi lo yang di renggut" ujar Dani dalam hati.
"Beli apa" tanya Jihan santai.
"Beli Gado gado" ucap Dwi.
"Doyan sayur lo" cibir Jihan sembari menyiapkan makanan untuk Dani.
"Doyan tapi gak semua" ucap Dwi tersenyum kecil.
" Kak mau di suapin atau maka sendiri" tanya Jihan.
"Makan sendiri aja, Kakak bisa lah lagian udah laper makanan yang dari sini gak ada rasa hambar" ucap Dani.
"Bilang hambar tadi makan banyak" cibir Jihan.
"Itu beda, ada rasa saat temen kamu yang suapin" ucap Dani tersenyum bahagia.
"Kak lo beneran suka sama Hana kenapa gak lo tembak aja dia biar dia gak berpaling gitu" ujar Jihan.
"Belum saat nya, kalau sudah saatnya nanti pasti akan kakak lakukan yang harus kakak lakukan sekarang adalah memberikan kenyamanan bukan pemaksaan" ujar Dani.
"Awas lo jangan PHP lo sama sahabat gue, kalau sampai itu terjadi abis lo kak kalaupun harus berpisah buatlah masalah yang akan buat kalian pergi saling menjauh" ucap Jihan memberikan makanan kepada Dani.
"Iya bawel" ucap Dani.
Dani makan dengan lahap sedangkan Jihan hanya makan sedikit itupun dengan berbagai arah pandangan. Tak lama kemudian ke dua orang tua Jihan datang saat melihat keadaan Dani mereka tersenyum membuat Dani memajukan bibirnya.
"Kenapa tuh bibir ikut luka" ledek Papa Jihan.
"Kalian myebelin, anak lagi sakit gini malah ketawa" cibir Dani.
"Kan seneng liatnya kalau lagi sakit gini diem gak banyak tingkah walaupun tambah cerewet" ucap Papa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote like dan comennnya yang membangun ya...
Happy reader....
__ADS_1