
"Bos sumbangin lagu dong" ucap salah seorang kariawan.
"Lagu apa" tanya Jihan.
"Lagu galau bos" ucapnya.
"Ta lo kan ahlinya lagu galau" ucap Jihan.
"Oke oke tapi jangan lupa sawerannya ya" ujar Fero yang tak kalah ramah dari Jihan kepada bawahannya.
Kucoba berkasih aku tiada mampu
Kucoba merindu kutiada berdaya
Bertahun lamanya terjalin asmara
Diantara kita takan mungkin bersama
Maafkanlah sayang bukan ku tak cinta
Bukan ku sengja menjauh darimu
Karena terpaksa harus ku merela
Demi bahagia dirimu dan dirinya
Kisah cinta engkau dan aku
Berakhir dengan air mata
Bukan salahmu yang tak setia
Namun diriku yang tak berpunya
Kekasih terimalah pilihan orang tuamu
Dirimu tercipta bukan untukku
Tak mampu ku lalui dinding pembatas cinta
Biarkan ku pergi untukmu sayang
Maafkanlah diriku
Maafkanlah sayang bukan ku tak cinta
Bukan ku sengja menjauh darimu
Karena terpaksa harus ku merela
Demi bahagia dirimu dan dirinya
Kisah cinta engkau dan aku
Berakhir dengan air mata
Bukan salahmu yang tak setia
Namun diriku yang tak berpunya
Kekasih terimalah pilihan orang tuamu
Dirimu tercipta bukan untukku
Tak mampu ku lalui dinding pembatas cinta
Biarkan ku pergi untukmu sayang
Maafkanlah diriku
Satu lagu yang Fero bawakan sukses membuat banyak orang meneteskan air matanya termasuk Jihan yang sangat meresapi lagu tersebut.
"Curhat bos" ledek Randy.
"Dikit" ucap Fero.
"Satu lagi dong" ucap Jovan.
"Tadi aja udah merdu banget gak ada yang nyawer" ucap Fero.
"Ji main dong" ucap Gabby.
"Gak lagi gak mood" ucap Jihan santai.
Jihan berkali kali menarik nafasnya panjang dan duduk bersandar.
"Kenapa, masih ingat" tanya Sonia pelan.
"Gak gue cuma capek terus bingung juga urusin nih cafe" ucap Jihan.
"Terserah deh, Ji club yuk" ucap Gabby.
"Males gue" ujar Jihan.
"Lebih males gue setiap gue ajak pasti itu jawaban lo" ujar Gabby.
"Udah tau gue males ke sana masih aja lo ajak" ujar Jihan.
__ADS_1
"Siapa tau lo mau gitu, soalnya kadang kadang lo kan tiba tiba minta ke sana" ucap Gabby.
"Gak, eh Nis kamu bisa bantu saya kan" ujar Jihan.
"Kenapa bos" tanya Nisa.
"Tolong buatin design buat logo baru J2 dong bisa gak" tanya Jihan.
"Gak tau bos, belum pernah" ucap Nisa.
"Coba aja dulu descipsi nanti saya kirim biar kamu ada gambaran" ujar Jihan.
"Oke bos, tapi gak yakin jadi cepet" ucap Nisa.
"Gak papa" ucap Jihan.
"Kenapa kamu ganti si" tanya Jovan.
"Males aja kak, itu kan logonya ada unsur dari Jihan gue mau serahin semuanya buat Abang buat mama sama papa aja Jihan mau fokus sama usaha Jihan" ucap Jihan.
"Jangan karena lo sedih semua di buat mainan" ucap Jovan.
"Gak Bang, sebenarnya udah lama Bang Jihan mau ganti tapi setiap Jihan bilang pasti Abang ngomongnya gini gak bisa sebelum kamu menikah dan uang kamu bener bener banyak" ucap Jihan.
"Iya tapi kamu kan uangnya belum banyak" ucap Jovan.
"Ya tapi kalau di gabungin uang Jihan sama mas Dwi gak baka abis tujuh turunan Bang" ucap Jihan.
"Gue mau turnan lo yang ke delapan dan seterusnya juga bisa menikmatinya" ucap Jovan.
"Dia tajir" ucap Jihan menunjuk Dwi.
"Tetep aja Abang gak ikhlas" ucap Jovan.
"Terserah Abang deh tapi logonya tetep harus di ganti gak ada complain" ucap Jihan.
"Tapi namanya tetep J2 kan" tanya Jovan.
"Gak jadi JoJi, ya iya tetep J2 kalau mau Abang ganti juga terserah" ucap Jihan.
"Boleh tadi JoJi bagus tuh" ucap Jovan.
"Gak lucu" ucap Jihan
"Wah adek Abang udah gede" ledek Jovan.
"Kalau kecil aja emang Abang mau jagain Jihan emang Abang bisa jaga biar Jihan gak di culik" ucap Jihan.
"Gak, mending lo gede gini makin dewasa dan satu permintaan Abang sopan sama suami kamu gimanapun kelak suami kamu yang menanggung semua dosamu" ucap Jovan.
"Iya Abang ku zeyeng" ujar Jihan.
"Oke suami ku sayang" ucap Jihan dengan wajah datar.
"Gak iklas banget" ujar Dwi membuat Jihan tersenyum kaku.
"Makin gak iklas" ucap Dwi.
"Serah" ucap Jihan ngambek
Jilah berjalan ke arah para kariawannya yang sedang membereskan kekacauan.
Saat Julio akan membuka pintu mobilnya dia melihat ada seseorang yang mengarahkan pistol ke arah Jihan membuat Julio membulatkan matanya. Julio langsung berlari ke arah Jihan kemudian menarik Jihan ke dalam pelukannya dan menghalangi penyerangan terhadap Jihan.
Dor....
"Tepat" ucap Julio
Bunyi suara tembakan tepat saat Julio memeluk Jihan. Jihan hanya tersentak kemudian menatap wajah Julio yang tersenyum.
"Bos gak papa" tanya Julio.
"Gak tapi kamu" ucap Jihan gemetar saat sadar ada cairan merah menetes di kepala Julio.
"Asal kamu selamat" ucap Julio langsung tumbang seketika Jihan langsung memeluknya dengan derai air mata.
Jihan menangis sejadi jadinya sedangkan Dwi cemburu dengan Jihan yang masih memeluk Julio. Dwi menarik Julio dengan kasar membuat Jihan marah.
"Gak perlu gitu, Bang tolongin dia" ujar Dwi menyerahkan Julio pada Ridwan dengan sigap Ridwan membawa Julio ke rumah sakit terdekat.
"Lo kenapa jahat si" ucap Jihan.
"Kamu peluk dia" ucap Dwi
"Kalau bukan dia mungkin gue yang udah mati" ujar Jihan lalu pergi mengejar Ridwan yang sedang memapah Julio ke mobilnya.
"Biar gue bantu dok" ucap Jihan.
"Makasih ya, udah jangan nangis" ujar Ridwan.
"Biarin gue duduk sama Julio" ucap Jihan.
"Gimana sama suami lo" tanya Jovan.
"Biarin aja" ucap Jihan.
"Ya udah asal jangan buat masalah" ucap Jovan.
__ADS_1
"Oke" ucap Jihan ikut masuk ke dalam mobil dan mengantar Julio ke rumh sakit di temani Ridwan dan Jovan sedangkan Dwi sedang di tahan Randy agar tidak memperkeruh suasana.
"Jul bangun Jul" ucap Jihan ini adalah kali pertama Jihan menangisi kariawannya.
"Kenapa nangis" tanya Jovan.
"Terus harus ketawa gitu" ucap Jihan masih menepuk pipi Julio.
"Lo tuh seolah bukan kariawan lo yang sakit tapi pacar lo, jangan bilang kalau dia pacar lo" ucap Jovan.
"Dia lebih dari seorang pacar" ucap Jihan.
"Kamu lebih takut kehilangan dia apa Dwi" ucap Ridwan.
"Lebih takut kehilangan Abang" ucap Jihan.
"Serius Ji pilihannya cuma dua" ucap Ridwan.
"Julio" ucap Jihan membuat Jovan dan Ridwan saling tatap.
"Apa Abang boleh tau alasannya" tanya Jovan.
"Karena dia datang saat Jihan ada di fase paling terburuk, dia juga yang buat Jihan bisa sampai kayak sekarang dia lebih pengertian dari pada orang tua Jihan dan Abang dia yang paling berharga dalam hidup Jihan lebih berharga dari Abang Papa sama Mama" ucap Jihan kembali menangis.
"Oke, bawa ke rumah sakit paling bagus" ucap Jovan di angguki Ridwan dengan kecepatan di atas rata rata Ridwan membawa Julio ke rumah sakitterbaik yang ada di kota tersebut.
Setelah sampai di rumah sakit Ridwan dan Jovan menggendong Julio ke UGD kemudian Ridwan yang memimpin operasi Julio. Jihan hanya bisa berdoa di luar ruangan dengan baju penuh darah karena sepanjang jalan kepala Julio ada di pangkuannya.
"Udah Ji kamu harus tegar, Abang yakin dia bakal kuat kalau kamu juga kuat" ucap Jovan.
"Iya Bang" ujar Jihan menghapus air matanya hanya isakan kecil yang terdengar.
"Kamu tau andai Abang tau dia lebih berharga mungkin Abang akan menikahkan kamu dengannya" ucap Jovan penuh penyesalan.
"Abang yakin soal itu" tanya Jihan.
"Ya, tapi andai tadi Dwi mendengar pengakuan kamu dia pasti marah dan mungkin menghajar Julio bagaimana apa kamu akan tetap memilih Julio" tanya Jovan.
"Ya Bang, Jihan minta Abang jangan bilang sama mas Dwi" ucap Jihan.
"Hm, Ji Abang boleh tanya lagi" ucap Jovan.
"Boleh Bang" ucap Jihan dengan air mata terus mengalir.
"Sebenarnya bagaimana perasaan kamu kepada Dwi" tanya Jovan membuat Jihan menatapnya.
"Please jawab" ucap Jovan.
"Entahlah Bang, tapi Jihan akan berusaha" ucap Jihan.
"Kalau kamu memang tidak bisa melanjutkan pernikahan kamu sama Dwi Abang bisa bicara sama keluarga Dwi sama Papa Mama juga" ucap Jovan.
"Jihan akan berusaha mempertahankan pernikahan ini Bang walaupun pernikahan yang gak pernah Jihan harapkan" ucap Jihan menatap lurus ke depan.
"Baiklah, tapi kalau ada sesuatu kamu harus ngomong sama Abang, terus saat kamu ada di dekat dia apa yang kamu rasakan" ucap Jovan.
"Ya Bang, Nyaman dan Aman tapi lebih sering panas" ucap Jihan.
"Kenapa panas" tanya Jovan.
"Terlalu banyak wanita di sekelilingnya" ucap Jihan.
"Kamu cemburu" tanya Jovan
"Tidak hanya tidak menyukainya, tapi kadang juga gak suka saat dia terlalu dingin juga karena akan lebih banyak wanita yang mengejarnya" ucap Jihan.
"Terus saya harus bagaimana" tanya Dwi.
"Entahlah, Jihan juga gak tau tapi sama seperti dulu terlalu nyaman untuk meninggalkan" ucap Jihan tanpa sadar Dwi yng bertanya sedangkan Jovan hanya tersenyum sembari berharap adiknya akan selalu bahagia karena dia tau kalau sedari tadi Dwi mendengarkan percakapan mereka.
"Makasih Ji" ucap Dwi lalu mencium hangat kening Jihan.
"Kamu sejak kapan di" ucap Jihan di hentikan Dwi
"Ganti pakaian mu" ucap Dwi.
"Nanti setelah jelas perkembangan Julio" ucap Jihan.
"Apa kamu yakin dia akan baik baik saja saat melihatmu masih seperti itu" tanya Dwi.
"Kenapa cara bicara kamu seperti itu" tanya Jihan penasaran.
"Lalu bagaimana saya harus berbicara, saya hanya akan membutmu senyaman mungkin tapi tidak menutup kemungkinan kalau saya tetap akan memperlakukanmu sebagai istri saya" ucap Dwi.
"Maksudmu " tanya Jihan.
"Sulit untuk di jelaskan, tapi saya bisa mempraktekkan" ucap Dwi.
"Coba" ucap Jihan menatap Dwi
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya guys.....