
Jihan membuka bukunya kemudian membuat tugasnya, Jihan dengan serius mengerjakan tugasnya sampai tidak mengetahui kalau Dwi sudah selesai dan sedang memperhatikannya dari belakang.
"Serius amat, butuh bantuan" ucap Dwi di samping telinga Jihan membuat Jihan tersentak.
"Ih bikin kaget aja" ucap Jihan santai.
"Kaget tapi santai, lagian serius bener" ucap Dwi.
Jihan tidak menjawab ucapan Dwi hany melannjutkan belajarnya tanpa menghiraukan Dwi yang terus saja mendekati dan duduk di sampingnya.
"Yakin gak butuh bantuan" ucap Dwi menatap Jihan.
"Gak cuma nih selesaikan tugas gue, pusing gue kalau sama pelajaran ini" ucap Jihan sangat putus asa.
"Itu karena kamu tidak mau menikmati pelajarannya, kalau kamu nikmati dari hati pasti bisa" ucap Dwi tersenyum.
"Di nikmati pake otak aja pusing gimana pakai hati bisa patah hati gue karena nih pelajaran" ucap Jihan menyodorkan buku bukunya kepada Dwi.
"Di bikin asik aja, coba sini aku ajarin mau gak kalau kamu gak mau percumah juga di paksa" ucap Dwi.
"Yaya" ucap Jihan.
Dwi tersenyum lalu mengajari Jihan dengan sangat sabar, sedangkan Jihan memperhatikan dengan sangat serius Jihan berusaha menikmati pelajarannya dengan santai hingga akhirnya Jihan tersenyum saat selesai mengerjakan tugasnya membuat Dwi bangga dengan Jihan yang mudah menerima semua yang dia ajarkan.
"Gimana udah bisa" tanya Dwi.
"Lumayan lah gak sepusing tadi dan udah ada beberapa kosa kata yang yangkut di kepala gue" ucap Jihan sembari merapikan buku bukunya.
"Syukurlah" ucap Dwi pergi namun sebelum itu Dwi mencium puncak kepala Jihan membuat Jihan tersentak kemudian membeku sedangkan Dwi tertawa lirih.
Dwi mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya kemudian memberikannya kepada Jihan. Jihan menatapnya aneh pasalnya Dwi memberikan ponsel paling mahal keluaran terbaru kepadanya.
"Buat kamu" ucap Dwi.
"Serius" tanya Jihan tak percaya.
"Serius lah sayang, itu buat kamu" ucap Dwi menggoda.
"Gak perlu" ucap Jihan dingin.
"Mau gak mau kamu harus pakai, gak terima protes " ucap Dwi santai.
"Tapi gue gak minta" ucap Jihan.
"Iya tau, tapi kamu butuh itu" ucap Dwi.
"Tapi" ucap Jihan lagi namun dengan cepat Dwi menutup mulut Jihan dengan telunjuknya.
"Pakai aja, lagian semua yang aku punya adalah milik kamu juga" ucap Dwi.
Tok... tok... tok...
"Ji keluar dulu Mama mertua kamu mau ada bicara sama kamu" teriak Mama Jihan.
"Ya mah" ucap Jihan cepat.
Jihan berjalan dengan cepat walaupun jalannya terlihat sangat aneh membuat Dwi miris melihatnya, namun Dwi tidak bisa membuat Jihan merasa lebih baik karena saat Dwi mendekat Jihan akan menjauh dan kadang Jihan akan memarahinya tanpa henti.
"Sini duduk sayang, mana Dwi" tanya Mama Dwi.
"Di kamar" ucap Angel dingin.
"Ji yang sopan" ucap Mama Jihan tersenyum.
"Ya mah " ucap Jihan singkat.
"Dwi di sini mah ada apa" ujar Dwi langsung duduk di samping Jihan.
"Wi kamu gak bawa Jihan ke dokter kasian tuh" ucap Papa Suseno.
"Gak mau dia pah" ucap Dwi enteng.
"Ya paksa kek, biar bisa di periksa" ucap Papa Suseno.
__ADS_1
"Udah tapu tetep gak mau, mau Dwi urut aja gak mau" ucap Dwi santai.
"Kapan lo ajak gue ke dokter apa lagi gue sampai di paksa ngehalu lo" ujar Jihan dalam.hati.
"Iya Jihan emang susah banget kalau suruh ke dokter" ucap Mama Jihan yang baru bergabung dengan Papa Jihan (agung).
"Bener gitu Jihan" tanya pak Suseno.
Jihan tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecut. Jihan merasa bosan dengan duduknya yang menurutnya hanya omong kosong dengan akhir Jihan yang menjadi bahan ejekan.
"Ji Mama minta maaf udah ganggu waktu istirahat kamu" ucap Mama Dwi (Sri).
"Gak kok mah, kebetulah Jihan udah selesai bicaranya" ucap Jihan tersenyum.
"Syukurlah kalau gak ganggu, Mama cuma mau bilang sekarang Mama harus ke tempat kak Putri jadi sebelum Mama sama Papa pergi ada sesuatu yang harus di lakukan" ucap Mama Sri.
Jihan menjadi semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka semua. Jihan hanya mendengarkan tanpa komentar dan tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan para orang tua.
"Ji kalian sudah resmi menikah tapi belum sempat Dwi kasih apapun sama kamu, jadi maukah kamu menuruti kemauan mama" ucap Mama Sri.
"Kata siapa belum kasih apa apa, tuh ponsel apa emang kalau orang tajir tuh gitu ya" ujar Jihan dalam hati.
"Apa Mah" tanya Jihan penasaran.
"Wi pakaikan ini di depan kita semua" ucap Mama Sri memberikan sebuah kotak cincin.
"Tapi Mah" ucap Jihan.
"Gak apa apa sayang, lagian kalian kan belum tukar cincin" ucap Mama Sri di angguki oleh mama Anggun.
"Maaf sebelumnya Mah, tapi Jihan gak pernah pakai kaya gituan soalnya Angel team volly jadi gak bisa pakai perhiasan" ucap Jihan lembut.
"Gak apa apa sayang, Dwi udah pilihin yang paling simple" ucap Mama Sri membuat Dwi tersenyum.
"Alasan apa lagi gue" ujar Jihan dalam hati.
Dwi mengambil cincin yang ada di dalam kotak kemudian meminta Jihan untuk mengulurkan tangannya, namun Jihan tak bergeming dengan cepat Dwi menarik tangan Jihan membuat Jihan mengikutinya walau berat hati.
"Iya Mah" ucap Dwi.
Dengan sangat hati hati Dwi memasukkan cincin tersebut ke jari manis Jihan dan di saat bersamaan Jihan meneteskan air matanya banyak orang tak melihatnya tapi Dwi melihatnya dengan jelas membuat Dwi merasa semakin bersalah kemudian Dwi mencium tangan Jihan membuat semua orang bersorak.
"Ji sekarang kamu pakaikan punya Dwi" ucap Mama Sri.
"Iya Mah" ucap Jihan dengan senyum manis.
Jihan memasang cincin di jari manis Dwi dengan sangat cepat lalu tersenyum, Dwi yang tau di balik senyum manis nan hangatnya ada hati yang sedang meraung raung menangisi takdir.
"Wi Jihan kalian mau mengantar mama sama papa ke bandara" tanya Mama Sri.
Jihan tidak menjawab hanya melihat ke arah Dwi, Dwi tau kalau Jihan sedang meminta izin membutnya menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan ke dua orang tuanya lalu tersenyum.
"Baik Mah" ucap Jihan.
"Ya sudah ayok berangkat " ucap Mama Sri semangat.
"Mah pah Jihan berangkat dulu ya" ucap Jihan berpamitan dengan ke dua orang tuanya.
"Iya hati hati di jalan" ucap Mama Anggun.
"Iya Mah" ucap Jihan tersenyum.
Dwi juga melakukan hal yang sama dengan Jihan berpamitan dengan ke dua mertuanya kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan ke dua orang tua Dwi. Namun Dwi harus duduk di samping supir pasalnya Jihan diminta duduk diantara ke dua mertuanya. Dengan berat hati Dwi mengikuti semua kemauan orang tuanya.
Selama perjalanan Jihan terus saja di ajak bicara oleh ke dua mertuanya membuatnya jengah pasalnya hati Jihan sedang tidak ingin bicara namun harus menampilkan senyuman manis di depan mertuanya. Dwi yang melihat itu merasa kasihan pada Jihan.
"Udah lah mah pah kasian Jihan jadi bingung kan mau jawab apa" ucap Dwi.
"Gak apa apa kan Jihan" ucap Mama Sri.
Jihan hanya tersenyum kaku.
"Jihannya aja gak apa apa, cemburu bilang boss" ucap Mama Sri meledek Dwi.
__ADS_1
"Ya iya lah cemburu, Dwi yang nikah mama sama papa yang bucin" ucap Dwi memajukan bibirnya membuat Jihan tersenyum geli.
"Senyum terus wanita ma selalu menang Dwi cuma debu " cibir Dwi.
"Hahaha kasian pengantin baru harus terpisah" ledek Papa Suseno.
"Papa juga, kalian semua seneng banget liat Kaka menderita" ucap Dwi merasa paling memyedihkan.
"Alah pinjem sebentar doang Ka, lagian setelah kita pulang puas puasin deh di kamar" ucap pak Suseno.
"Hm" ujar Dwi.
Jihan tersenyum tulus melihat perdebatan suami dan mertuanya. Suami geli rasany Jihan mengatakn suami hehe.
"Lihat tuh Jihan senyum senyum gak malu kamu" ucap Mama Sri.
"Biarin aja senyum senyum dari pada nangis sayang air matanya, tapi jangan senyum senyum ke laki laki lain" ucap Dwi menatap Jihan.
"Ngomong gitu dirinya aja tebar pesona sama cewe lain" cibir Jihan.
"Kapan" tanya Dwi.
"Setiap saat kali, sok lupa" ucap Jihan.
"Gak, biasa aja kali" ucap Dwi.
"Ya udah bisa aja kali gue senyum sama orang lain" ucap Jihan.
"Boleh tapi jangan sama cowok lain terlalu manis tau" ucap Dwi.
"Gak adil dong" ucap Jihan.
" Udah udah jangan berantem kali" ucap Mama Sri.
Seketika Jihan dan Dwi saling diam membuat ke dua orang tua Dwi tersenyum. Sepanjang jalan antara Jihan maupun Dwi saling diam sampai ke tujuan. Tak terasa sampai juga di tempat tujuan semua orang turun mengantar ke dua orang tua Dwi di bandara.
"Ka Mama sama Papa pergi dulu, Mam harap kalian bisa rukun dan cepet kasih berita bahagia buat mama sama papa" ucap Mama Sri.
"Iya ma, Mama sama Papa hati hati ya" ucap Dwi memeluk Mama.
"Nak Jihan titip Dwi ya" ucap Mama.
Jihan tidak menjawab, bukan karena tidak sopan tapi Jihan tidak tau harus menjawab apa pasalnya Jihan adalah orang yang akan memikirkan hati orang lain sebelum mengatakan sesuatu.
"Ya sudah mama pap pergi ya" ucap Mama memeluk Jihan disambut hangat dengan Jihan kemudian Jihan mencium tangan ke dua mertuanya tersebut.
Ke dua orang tua Dwi masuk Jihan dan Dwi melihatnya sampai tak terlihat lagi, setelah ke dua orang tuanya tak terlihat Jihan dan Dwi kembali masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang ke rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Jangan lupa like vote dan Komennya ya...
Kalau ada salah kata mohon komen dengan cara yang santun karena komentar kalian adalah semangat buat para penulis jangan komentar ysng buat orang lain Down...
Happy reader***....
__ADS_1