Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 175


__ADS_3

"Sudah lama Jihan mengakhiri hidup mah" ucap Jihan membuat semua orang tercengang.


"Kenapa kamu tidak melakukannya" tanya Fero.


"Dulu gue gak mau lari dari kenyataan pernikahan ini Ta" ucap Jihan.


"Bagaimana dengan sekarang bukankah semua sudah berakhir" tanya Fero.


"Hm, tapi gue juga gak mau membunuhnya" ucap Jihan.


"Berhenti bicara gak jelas lagi apa obat itu" tanya Dwi


"Obat, Put kamu tau obat ini" ucap Jihan memberikan berbagai macam obat.


Putri melihat setiap tablet dengan seksama tak lama dia kuga mengeluarkan obat miliknya dan menaruhnya di meja yang sama membuat Putri tersenyum.


"Selamat kakak ipar" ucap Putri memeluk Jihan.


"Sekarang keputusan ada di kamu" ucap Jihan.


"Gue mau bertahan sama lo walaupun gak bisa buat lo jatuh hati" ucap Dwi.


"Kakak ipar udah berapa" tanya Putri sembari membuka tablet obat Jihan.


"Mah pah Bang Kak semuanya maaf Jihan gak bisa bertahan dengannya tapi" ujar Jihan menarik nafasnya panjang.


"Tapi apa sayang bicaralah kami akan mendukung apapun keputusan kamu" ucap Mama Sri.


"Tapi Jihan gak bisa memutuskan hubungan pernikahan ini Jihan akan bertahan untuknya dan sesuai keinginan kalian menikah hanya satu kali walau berat dan ingin menyerah" ucap Jihan membuat semuanya bahagia.


"Beneran" ucap Dwi semangat membuat Jihan mengangguk.


"Makasih" ucap Dwi memeluk erat Jihan.


"Berjanjilah kalaupun kamu harus bersama wanita lain jangan pernah melakukannya di depan gue mereka dan juga Abang Abang gue" ucap Jihan di angguki Dwi.


"Sekarang ikutlah" ucap Jihan menggandeng Dwi untuk mengikutinya.


Jihan membawa Dwi ke ruangan dokter Lani dimana Ridwan juga sudah berada di sana. Dwi berfikir namun melihat alat yang ada di sana bisa dipastikan kalau itu ruangan seorang dokter kandungan.


"Siap Ji" tanya Ridwan di angguki Jihan.


"Jangan nangis ya Wi" ucap Ridwan membuat Dwi was was


Jihan berjalan mengikuti dokter Lani di ikuti juga oleh Dwi yang menatap Jihan lurus. Saat Jihan sudah berbaring Dwi membulatkan matanya saat dokter membuka baju Jihan.


"Ji" ucap Dwi khawatir.


"Tenang tuan" ucap Lani membuat Jihan tertawa.


Sang dokter langsung melakukan tugasnya Dwi melihat Jihan bukan monitor yang ada.


"Lihatlah " ucap Jihan membuat Dwi perlahan melihat monitor.


"Seseorang sudah ada di sana" ucap Jihan membuat Dwi menatapnya.


"Anakku dia anakku" ujar Dwi tak percaya.


"Selamat tuan" ucap dokter Lani.


Sang dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Jihan dan bagaimana keadaan janin Jihan yang sehat. Dwi tersenyum dan tanpa sadar air matanya mengalir Jihan melihat semua gerakan Dwi membuatnya yakin kalau Dwi adalah orang yang tepat.


"Ji" ucap Dwi saat Jihan sudah duduk.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Makasih tuhan, makasih Ji" ucap Dwi memeluk Jihan.


"Maaf" ucap Jihan.


"Kenapa minta maaf, jangan buat ku semakin bersalah" tanya Dwi.


Dokter langsung menjelaskan beberapa hal mengenai kehamilan sedangkan Dwi sangat antusias dan menanyakan bermacam macam sesuatu sampai sang dokter pusing menjelaskannya.


"Udah kasian dokternya" ucap Jihan.


"Mau tau" ucap Dwi.


"Nanti beli bukunya" ucap Jihan.


"Oke" ucap Dwi mencium pipi Jihan.

__ADS_1


"Maaf ya dok" ucap Jihan.


"Gak papa Nona apa vitaminnya anda makan dengan rutin" tanyanya.


"Ya dok" ucap Jihan.


"Ya sudah ini hasil USGnya rutin minum obat jangan stress jangan kerja yang terlalu memaksakan diri terurama pekerjaan berat" ucap sang dokter.


"Tuh jangan kerja" ucap Dwi.


"Ya sudah dok permisi" ucap Jihan di angguki sang dokter.


Jihan dan Dwi langsung keluar dari ruangan dokter Lani. Jihan kembali ke ruangan dimana semua orang berkumpul dan ternyata ada Ridwan di sana yang menjelaskan dan menceritakan semuanya yang dia ketahui tentang Jihan.


"Selamat sayang" ucap Mama Anggun di susul mama Sri.


Semua orang bahagia dengan kabar kehamilan Jihan. Sedangkan Dwi terus memeluk pinggang Jihan. Semua anggota keluargaa pergi membiarkan Jihan dan Dwi untuk bicara.


"Ji jangan pernah sembunyikan apapun lagi dariku" ujar Dwi.


"Kamu yang membuatku menyembunyikan semua ini" ucap Jihan.


"Ya gue minta maaf" ucap Dwi.


Jihan hanya diam lalu duduk di sofa yang ada. Sedangkan Dwi menatap Jihan dan mendekati Jihan.


"Boleh ku menyentuhnya" ucap Dwi.


"Hm" ucap Jihan.


Dwi mengelus perut Jihan sembari terus tersenyum. Dia berbicara banyak hal di depan perut Jihan sebenarnya dia ingin mengatakan semua itu pada Jihan namun Jihan tidak merespon.


"Ji" ujar Dwi menarik ponsel Jihan.


"Kenapa" tanya Jihan.


Dwi langsung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jihan. Jihan hanya diam membuat Dwi menyudahinya dan menatap Jihan.


Dwi kembali melakukannya dia masuk lebih dalam dan bermain dengan lembut. Jihan membalasnya membuat Dwi menarik tengkuk Jihan dan bermain dengan rakus.


"Udahlah capek gue" ucap Jihan.


"Mau gendong" tanya Dwi.


"Udah selesai" tanya Jovan.


"Udah, sekarang mau pulang tapi ke apartemen Jihan" ucap Jihan.


"Gak boleh harus ke rumah mamah gak ada protes" ucap Mama Sri membuat semua orang tertawa.


"Oke" ucap Jihan dingin.


"Maaf ya jeng dia gitu" ucap mama Anggun.


"Gak papa dulu pas dia kerja sama papa aja dia pernah bentak dan melawan" ucap mama Sri.


"Dia mengagumkan" ucap Fero lalu pergi membuat Putri merubah raut wajahnya.


Jihan pergi ke mobil yang ada di depan rumah sakit yang muat banyk orang. Semua anggota keluarga melakukan pesta di dalam mobil namun Jihan hanya duduk diam tidak menikmati pesta itu.


"Makanlah" ucap Mama Sri menyodorkan sebuah disert dengan senyuman.


"Gak mau" ucap Jihan.


"Kamu mau yang mana" tanya Dwi lembut.


"Mau lo diem" ucap Jihan langsung membuat semua orang diam namun seketika kembali ramai.


Jihan merasa kantuknya datang dia tertidur bersandar di pundak Dwi membuat Dwi menyingkirkan anak rambut di wajah Jihan.


"Wi tolong jaga dia ya" ucap Mama Anggun.


"Jangan lupa sabar dengan kelakuannya" ucap Dani.


"Ya kak, dia benci juga karena gue yang gak bener" ucap Dwi.


"Ya lo yang buat salah itu konsekuensi yang lo dapat kalau buat salah sama Jihan masih untung dia mau di sentuh biasanya liat aja dia pura pura gak kenal" ucap Dani.


"Bener banget kak Dani" ucap Putri.


"Lo hafal ya" ujar Dani.

__ADS_1


"Ya lah orang lo juga pernah ngebuly gue gara gara jidat Jihan kegores" ucap Putri.


"Dan hasilnya Jihan ngebuly gue" ucap Jovan.


"Kalian semua gak bisa diem ya" ujar Jihan sembari menutup mata.


"Kamu gak tidur" tanya Dwi.


"Tidur" ucap Jihan.


Tak lama mereka sampai di kediaman Prasaja Jihan hanya menatap ke dua kakaknya dan orang tuanya turun. Sebelum pintu kembali tertutup Mama Anggun mencium Jihan erat sembari memberikan beberapa wejangan pada Jihan.


Mobil kembali melaju ke kediaman Suseno dimana beberapa maid sudah bersiap di ruang tamu. Jihan hanya menatap saat turun dari mobil dia tidak ingin di sentuh oleh para maid yang sudah menunggunya dari tadi.


"Mari Nona" ujar kepala pelayan.


"Pergilah ke tempat kalian saya tidak ingin di sentuh" ucap Jihan membuat para pelayan saling tatap.


"Kalau gak mau pergi ya udah sekarang buatkan saya hot lemon tea" ucap Jihan membuat kepala pelayan mengangguk.


Jihan berjalan ke arah tv dia tidak ingin menonton tapi menunggu minuman yang dia pesan. Dia merebahkan tubuhnya di sofa dengan Jas Dwi yang menutup tubuhnya.


"Sayang saya mandi dulu ya" ucap Dwi.


"Iya" ucap Jihan singkat Dwi tersenyum lalu mencium kening Jihan dan pergi.


Saat Dwi peegi Jihan bermain ponselnya dengan Fero dan Putri yang juga berada di sana. Fero terus melihat Jihan sedangkan Putri bergelanyut manja di lengan Fero.


"Nona ini minumnya" ucap seorang pelayan dengan segelas hot lemon tea.


"Makasih ya, lain kali jangan menunggu saya saat saya pulang darimanapun itu" ucap Jihan tegas.


"Baik nona" ucapnya lalu pergi.


Jihan hanya menarik nafasnya panjang dengan terus bermain ponselnya. Dia duduk saat ayah mertuanya datang tak lama suaminya juga datang.


"Ini punya kamu" tanya Dwi.


"Hm, mau minum aja" ucap Jihan.


"Kamu kenapa gak suka pulang kesini" tanya Dwi sembari menyesap minumannya.


"Capek gue" ucap Jihan


"Ya udah istirahat yuk" ucap Dwi.


"Tapi males ke kamar" ucap Jihan.


"La teru" tanya Dwi mulai merasakan ada hal aneh dalam tubuhnya.


"Males di kamar gak bisa tidur" ucap Jihan mengambil minumannya dan meminumnya sampai tinggal sedikit.


"Ya sudah tidur di kamar tamu aja siapa tau nyaman" ucap mama mertua datang dengan senyuman.


"Lo ngerasa aneh gak si" tanya Jihan yang merasa tubuhnya mulai panas.


"Kamu juga berarti minumannya dong" ucap Dwi.


"Ah mamah ya" ucap Jihan langsung berdiri menarik jas Dwi yang ada di pangkuannya karena panas.


"Selamat berjuang" ucap Mama mertua.


"Ah dari awal emang udah gak enak perasaan gue" ucap Jihan berjalan lebih dulu ke kamarnya.


"Tungguin" ucap Dwi memgejar Jihan.


"Ji" ujar Dwi.


"Mau gimana lagi tuntasin lah" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Makasih ya" ucap Dwi menggendong Jihan ke kamarnya karena Jihan berjalan lambat.


Saat sampai di kamar Dwi langsung merebahkan Jihan di atas ranjang lalu dia berjalan untuk mengunci pintu dan mengaktifkan kedap suara di kamarnya.


"Ji gak papa nih" tanya Dwi.


"Gue gak mau di guyur sower" ucap Jihan.


Dwi tersenyum mendapat jawaban Jihan dia langsung mencium bibir Jihan dan langsung membalasnya. Mereka bermain dengan pemuh gairah sampai mereka melakukannya lama.


"Maaf ya guys Author skip takut ada bocil yang baca hehe"....

__ADS_1


Silahkan berkentar makasih yang udha mampir maaf yang gak di balas komemtarnya dan maaf belum mampir ke tempat kalian terus dukung Author ya.....


Salam kenal...


__ADS_2