
"Jihan ada" ujar Dwi dingin.
"Sedang pergi untuk menyuruh Tuan Kevin membeli makanan mungkin sebentar lagi beliau akan datang silahkan tunggu sebentar" ucap Sekertaris Jihan.
"Apa Jihn tidak mengatakan apapun tentang kedatangan saya" ujar Dwi dengan judesnya membuat sekertaris Jihan berfikir keras.
"Maaf tuan karena saya tidak mengenali anda tadi" ucap Sekertaris Jihan mempersilahkan Dwi untuk menunggu di dalam ruangan Jihan.
Sebenarnya sebelum Jihan pergi Jihan menunjukkan foto Dwi dan Rey dan meminta sekertarisnya Jika salah satu dari mereka datang untuk membiarkannya masuk.
Tanpa menjawab Dwi langsung saja masuk ke dalam ruangan Jihan membut sekertaris Jihan yang sedari tadi tersenyum bahagia menjadi cemberut karena merasa di acuhkan.
"Kenapa jadi dag dig dug gini ya" ujar Dwi sembari duduk di sofa yang ada di ruangan Jihan.
Tak lama Jihan kembali ke ruangannya tanpa bertanya apakah orang yang dia tunggu sudah datang atau belum yang dia lihat hanya sekertarisnya yang sedang manyun.
"Kenapa tuh orang kesambet kali ya" ujar Jihan terkikik sembri masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa ketawanya gitu nakutin" ucap Dwi membuat Jihn tersentak.
"eh jangan ngagetin ngapa, eh udah lama di sini" tanya Jihan langsung duduk di samping Dwi.
"Bawa apa nih" ucap Jihan membuka bungkus makanan yang Dwi bawa.
"Belum juga gue jawab" gerutu Dwi.
"Gue masih denger kali" ucap Jihan membuat Jihan menggaruk garuk tengkuknya.
Seketika wajah Jihan cerah bahagia karena makanan yang Dwi bawa adalah makanan yang sangat ingin dia makan namun selalu saja dia tunda pasalnya di kedai tersebut selalu sesak pengunjung.
Karena melihat Jihan yang cerah melebihi mentari membuat Dwi ikut tersenyum.
"Kenapa senyum senyum kenapa datang telat, kenapa gak ngabarin dan kenapa juga gak kasih tau udah di sini" ucap Jihan dengan tatapan tajam membut Dwi menelan ludahnya.
"Maaf Ji, sebenarnya tadi meetingnya selesai tepat jam makan siang untung aja Rey udah pesenin makanannya kalau gak, gak tau mau makan siang apa sekarang" ucap Dwi.
"Jadi kamu belum makan" ujar Jihan.
"Belum kamu aja yang makan" ucap Dwi.
"Belum makan udah berani ke sini gak takut apa kalau gak makan bisa pingsan di sini kan repot" ucap Jihn sembari berjalan mengambil dua minuman dingin dan memberikannya kepada Dwi.
"Kenapa cuma liatin gak mau makan udah telat gak mau temenin makan kamu pikir gue suruh ke sini buat liatin gue makan apa" ucap Jihan.
"Mau makan bareng sama mas" tanya Dwi ragu.
"Hm" ujar Jihan.
Karena jawaban Jihan yang terkesan cuek Dwi hanya melihat Jihan makan. Karena Dwi terus saja melihat nya Jihan langsung menatap Dwi dan menyendokkan makanannya ke dalam mulut Dwi membuat Dwi membulatkan matanya.
"Udah telen aja enak tau" ucap Jihan.
"Iya makasih" ucap Dwi.
"Iya" ucap Jihan langsung mengangkat piringnya ke tengah tengah antara dia dan Dwi memaksa Dwi untuk makan. Mereka makan satu piring berdua sampai habis bahkan mereka tidak sadar kalau Kevin dan Rey sudah ada di ruangan tersebut mereka berdua asyik mengambil foto majikannya.
"Kalian lagi apa" tanya Dwi menatap tajam saat sadar Rey dan Kevin ada di sana dengan mengarahkan kameranya ke arah dia dan Jihan.
"Gak, eh kita salah waktu ya" ucap Rey.
"Bener kalian lanjut aja kita tunggu di luar" ujar Kevin.
"Eh gak Vin, jangan dulu pergi ada yang mau gue kasih dan harus selesai sebelum gue balik" ucap Jihan berjalan ke meja kerjanya.
__ADS_1
Jihan seperti mencari sesuatu yang sangat penting semua map yang ada di meja dia buka.
"Cari apa bos" tanya Kevin.
"Cari amplop coklat besar yang kemarin ada di di meja ini" ucap Jihan.
"Ini bos" ucap Kevin.
"Iya itu, ada beberapa foto orang yang harus di singkirkan buat mereka semua menyesal berurusan sama gue dan gak boleh ada yang bisa akses ke perusahaan ini yang gue buka cuma akses buat lihat nilai jual saham dan lagi tolong kirim semua hasil meeting tadi ya" ucap Jihan.
"Bos ternyata mona muda orang yang mengerikan" ujar Rey berbisik pada Dwi dan di angguki Dwi.
"Siap bos" ucap Kevin memberikan hormat.
"Sip, Vin bawa uang cas gak si bensin gue lo servis gak di isi" ucap Jihan.
"Bokek Bos" ledek Rey.
"Iya semua kartu gue bawa dia" ucap Jihan menunjuk Kevin.
"Oh ya Ji gue ke sini mau kasih ini" ucap Dwi memberikan tas kecil berisi uang yang dia siapkan untuk Jihan.
"Apa" ucap Jihan mendekati Dwi dan menerima tas kecil tersebut.
"Gak kurang banyak" ujar Jihan saat membuka tas tersebut.
"Tuh kan Rey kurang banyak" ucap Dwi.
Jihan hanya tersenyum sadis kemudian mengambil dua juta dari total uang yang ada Jihan langsung mengembalikan sisanya kepada Dwi.
"Kenapa" tanya Dwi.
"Gue cuma bawa buat beli bensin doang buat bolak balik lagi" ucap Jihan.
"Dapet beli lo" ucap Jihan.
"Kenapa jadi dia yang cerewed si gue yang cewek juga" gerutu Jihan.
"Vin gue berangkat sekarang ya," ucap Jihan merapikan barang barangnya ke dalam sebuah tas besar.
"Oke bos" ucap Kevin.
Dwi menatap Jihan aneh pasalnya Jihan tak berpamitan dengannya dan asik memgemas barang. Namun hal tak terduga terjadi Jihan menyalami dan Dwi mencium kening Jihan hangat sampai Jihan memejamkan matanya. Dan saat itu juga Jihan memeluk Dwi erat begitupun sebaliknya.
"Eh sorry" ujar Jihan saat sadar tingkah gilanya.
"Ya, hati hati di jalan" ucap Dwi mengacak acak rambutnya.
"iya" ucap Jihan saat hendak membuka pintu ruangannya dia kembali melihat ke arah belakang.
"Kenapa bos ada yang lupa" ucap Kevin yang berada di belakang Dwi dengan menenteng tas besar Jihan.
"Gak si tapi kenapa gue berat ya Vin buat pergi sekarang padahal biasanya gue paling suka kalau pergi dari kota ini" ucap Jihan.
Dwi langsung menggenggam tangan Jihan dan menuntunnya menuju parkiran saat sampai di depan mobil Jihan Dwi membukakan pintu dan Kevin menaruh tas Jihan di bagasi. Saat sudah di balik kemudi dan Jihan akan menutup pintu di tahan Dwi membuat Jihan menatapnya.
"Sebentar Ji, ada yang lupa" ucap Dwi.
"Apa" ujar Jihan saat Dwi melongokkan kepalanya ke dalam mobil Jihan dan tepat di depan wajah Jihan.
Dwi menatap Jihan hangat membuat darah Jihan berdesir. Dengan perlahan Dwi menarik tengkuk Jihan dan ******* bibir Jihan. Jihan memejamkan matanya membuat Dwi semakin ganas ******* Jihan sampai mereka menyelesaikannya saat Jihan kehabisan nafas.
"Hati hati di jalan" ucap Dwi mencium bibir dan dahi Jihan singkat.
__ADS_1
"Ya see you again" ucap Jihan hangat.
Dwi menutup pintu mobil Jihan membuat Jihan segera menyalakan mesin mobilnya dan bersiap pergi sesaat sebelum pergi Jihan membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Dwi.
"Sepertinya mereka mulai ada rasa Vin" ucap Rey yang sedari tadi melihat adegan ke dua majikannya.
"Gue rasa juga gitu, dari pagi Jihan senyum senyum mulu" ucao Kevin.
"Sama kayak Dwi tuh mereka kayaknya emang mulai ada rasa" ujar Rey.
"Apa perjodohan ini akan berakhir bahagia ya Rey" ujar Kevin.
"Entahlah tapi sepertinya Dwi mau meresmikan pernikahannya" ucap Rey.
"Serius lo Rey" ujar Kevin antusias.
"Serius lo tau kenapa Dwi biarin si Jihan pulamg biar dia bisa urus pernikahannya sendiri sesuai keinginan" ucap Rey.
"Syukur deh kalau begitu" ucap Kevin.
"Lo masih suka sama Jihan Vin" tanya Rey.
"Siapa si yang gak suka sama Jihan kalau udah kenal dan siapa juga yang gampang lupain dia gadis manis dan mandiri" ucap Kevin.
"Tapi gue sadar Rey gue gak akan pernah bisa dapetin dia dulu aja pas masih sam Fero gue gak bisa rebut apa lagi sekarang di tangan Dwi" ucap Kevin.
"Sabar ya Vin mungkin tuhan udah siapain yang terbaik buat lo" ujar Rey.
"Lo juga kan masih ada rasa sama Putri" ucap Kevin.
"Kita di posisi yang sama" ucap Rey.
Sebenarnya Rey Kevin Dwi dan Putri mereka lumayan dekat karena keluarga Suseno yang tidak pernah memandang sebuah kedudukan sosial. Sedangkan Jihan mereka mengenalnya sebagai seorang paling junior di antara mereka namun karena sifat Jihan yang baik setelah mengenalmya membut Kevin jatuh hati padanya sampai dia memyerah saat tau Jihn seorang Prasaja.
Sama halnya dengan Rey yang memendam rasa kepada Putri namun kisahnya tak jauh beda dengan Kevin dia berhenti saat Dwi memintanya mematahkan rasanya kepada Putri.
Saat mereka sedang asik berbincang tiba tiba Dwi mendekati mereka membuat mereka kelabakan karena takut Dwi mendengar percakapan mereka berdua.
"Rey pergi dari hadapan gue" ucap Dwi membuat Kevin dan Rey membulatkan matanya.
"Pergi" ucap Dwi untuk ke dua kalinya.
Tanpa pikir panjang Rey pergi dari hadapan Dwi di ikuti Kevin namun dengan cepat Dwi menghentikan Kevin.
"Vin bukan lo" ucap Dwi.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan komentarnya ya....
Salam manis author....
__ADS_1