Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Berhenti jadi Mama


__ADS_3

"Sayang jam berapa" tanya Dwi.


"Itu jam" ujar Jihan menunjuk dinding.


"Udah sore lama ya saya tidur" ujar Dwi.


"Ya lama lah paha saya sanpai kebas" ujar Jihan.


"Benarkah maafkan saya" ujar Dwi langsung bangun dan duduk tegak.


"Sayang" ujar Dwi.


"Kenapa" tanya Jihan dingin.


"Gak cuma mau panggil aja" ujar Dwi tersenyum hanya mendapat tanggapan gelengan kepala Jihan.


"Sayang kamu gak punya pacar kan" tanya Dwi membuat Jihan menatapnya sebentar.


"Kenapa, kalau punya pacar juga konsekuensi kamu" ujar Jihan.


"Masa iya bukannya sedari dulu kamu gak pernah punya pacar kecuali teman mesra yang ninggalin kamu pas SMP dan itu juga buat kamu trauma untuk menjalin hubungan lebih" ujar Dwi.


"Kalau udah tau kenapa tanya, ternyata kamu penguntit" ujar Jihan.


"Hehe maaf sengaja" ujar Dwi.


"Andai Jihan gak jadi jodohmu kamu jagain jodoh orang dong" ujar Jihan sembari tersenyum.


"Tapi nyatanya gak kamu jadi jodohku" ujar Dwi penuh bangga.


"Itu karena pemaksaan menjadi jodohmu" ujar Jihan.


"Tapi kamu tetep mau kan" ujar Dwi mencolek dagu Jihan membuat Jihan menatapnya penuh benci.


"Kenapa marah, halal sayang" ujar Dwi lebih menggoda Jihan.


"Berhenti menggodaku, tidak akan berarti karena Jihan masih benci kamu" ujar Jihan.


"Terserah kamu saya suka menggodamu" ujar Dwi terus menggoda Jihan membuat Jihan menutup wajahnya dengan batal sofa.


"Percumah sayang " ujar Dwi membuat Jihan tidak tahan dan teriak dengan wajah merona.


"Kamu teriak sama Mas" uuar Dwi dengan tatapan dingin.


"Ya, kenapa mau marah marah aja Jihan memang salah semua salah Jihan" ujar Jihan pergi.


Dwi menahan tangan Jihan yang akan pergi.


"Kalau marah jangan pergi duduk" ujar Dwi membuat Jihan menyerah dan duduk.


Saat duduk Dwi langsung memeluknya dari samping membuat Jihan berangsur reda.


"Maaf saya hanya menggoda, saya ingin melihat senyuman kamu tapi kamu malah marah gitu maaf" ujar Dwi tulus.


"Maaf gak bisa kontrol emosi, karena semua yang kamu lakukan di mata saya itu salah" ujar Jihan jujur tapi nada bicaranya lembut.


"Saya tau itu" ujar Dwi menghujani Jihan dengan ciuman.


"Udah geli tau" ujar Jihan tersenyum


"Gitu dong senyum cantik" ujar Dwi namun tak berhenti menciuminya


"Udah udah stop oke gue mau siap siap ke rumah mama" ujar Jihan.


"Yaya," ujar Dwi melepaskan Jihan namun mengikutinya untuk berganti pakaian.


"Kenapa ikut" tanya Jihan dengan nada tidak bersahabat.


"Kenapa mas udah liat semuanya, setiap inchi" ujar Dwi.


"Terserah tapi apa masih sanggup jika Jihan berganti pakaian di depan kamu sekarang yakin gak nyesel" ujar Jihan membuat Dwi mengacak rambutnya frustasi dan pergi.


"Pergi juga, kenapa jantung gue apa perlu juga gue cek jantung" ujar Jihan dalam hati namun tiba tiba kepalanya sangat berat membuat Jihan berpegangan pada sebuah lemari.


"Kepala gue masih gak bisa" ujar Jihan menahan sakitnya tapi dia diam tidak ingin Dwi mengetahui sakitnya itu.


Jihan tetap mengganti pakaiannya dengan badan bercucuran keringat dingin. Sebenarnya Jihan sering mengalami itu saat dia di rundung banyak masalah menurut Ridwan dia mengalami gejala shok jantung yang terjadi karena masalah yang terus menerus terjadi tapi dia tidak mampu menceritakannya kepada siapapun jadi dia menahannya sendiri tapi untungnya dia jarang pingsan saat mengalaminya.


"Sayang kok lama" ujar Dwi.

__ADS_1


"Bentar" ujar Jihan langsung mengganti pakaiannya dengan cepat tanpa memilih.


"Udah " ujar Dwi.


"Udahlah kalau belum ngapain keluar" ujar Jihan.


"Oke" ujqr Dwi menatap Jihan dengan wajah yang penuh keringat Dwi ingin menyentuh wajahnya namun dengan cepat Jihan menepisnya.


"Gantilah" ujar Jihan pergi berharap Dwi tidak tau yang sedang dia alami.


"Kamu oke" taanya Dwi.


"Lebih baik dari sebelumnya" ujar Jihan duduk di meja riasnaya sedangkan Dwi berganti pakaian dengan warna senada.


Jihan memoles wajahnya dengan tangan gemetar. Dia menyamarkan wajah pucatnya di balik make up flawless yang di aplikasikan.


"Sayang kamu kalau ada apa apa bilang ya" ujar Dwi keluar dari ruang ganti.


"Hm, mas bisa rapiin rambut Jihan" ujar Jihan karena dia tidak sanggup untuk menahan gemetar di tangannya.


"Dengan senang hati " ujar Dwi tersenyum.


Saat Dwi mulai merapikan rambutnya Jihan mengambil sesuatu di tas kecilnya dan meminumnya. Dwi hanya melirik sekilas tanpa bertanya.


"Gini aja" tanya Dwi yang mengurai rambut Jihan.


"Boleh" ujar Jihan yang berangsur membaik.


Jihan dan Dwi bersiap untuk berangkat saat Jihan merasa kakinya mampu menopang tubuhnya lagi. Sejak keluar dari apartemen tangan Jihan tak lepas dalam lengan Dwi walau Dwi heran namun dia abaikan karena dia terlalu senang.


Saat berada di mobil Jihan mematikan AC mobil membuat Dwi bingung karena keadaan mobil cukup panas. Namun Dwi enggan bertanya dia tetap fokus menyetir sampai tak lama mereka tiba di mansion Suseno.


Terlihat banyak mobil terparkir disana. Jihan hanya menarik nafasnya panjang.


"Mas" ujar Jihan memanggil Dwi saat akan keluar mobil.


"Kenapa sayang" tanya Dwi lembut.


"Kamu masuk dulu aja" ujar Jihan.


"Kamu kurang sehat ya, yuk ke dokter aja" ujar Dwi menempelkan tangannya di kening Jihan.


"Gak perlu nanti juga sembuh" ujar Jihan lemas.


Dwi membukakan pintu mobil untuk Jihan, kemudian menuntun Jihan ke dalam rumah. Dengan srkuat tenaga Jihan menahan rasa sakitnya dengan terus menggenggam tangan Dwi erat.


"Sayang kamu datang" ujar Mama Sri menyambut.


"Iya mah maaf ya Jihan gak bisa bantu mama" ujar Jihan dengan senyuman mengembang.


"Iya gak papa kamu duduk aja udqh hampir selesai juga" ujar Mama.


"Iya mah" ujar Jihan kembali menggandeng Dwi karena Dwi setia di belakangnya.


"Sayang" teriak Mama Fero.


"Ibu" ujar Jihan langsung memeluknya.


"Kamu kayak gak ketemu setahun aja" ujarnya membalas pelukan Jihan.


"Jihan kangen ibu" ujar Jihan meneteskan air mata.


"Yaya ibu juga kangen kamu apa kabar" tanya Mama Fero melepaskan pelukannya.


"Lebih baik hari ini bu, ibu gimana sehat" tanya Jihan.


"Sehat dong, dan tentu masih cantik kamu sakit ya pucet amat" tanya Mama Fero.


"Masa si bu, kayaknya Jihan salah pilih lipstik jadi pucet" ujar Jihan dengan senyuman merekah.


"Bukan bibir tapi wajah kamu pucet, jujur sama Ibu kamu kenapa" tanya Mama Fero.


"Oke oke kenapa si gak bisa di bohongi, oke Jihan agak pusing tadi tapi untung mas Dwi stay sama Jihan jadi udah mendingan" ujar Jihan.


"Bagus deh kalau gitu, ya udaah kamu istirahat aja ya" ujar Mama Fero.


"Oke bu" ujar Jihan.


"Mas" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum dan merangkul Jihan membawa Jihan ke kamarnya.

__ADS_1


"Kamu yakin gak mau periksa ke dokter" tanya Dwi.


"Gak, jangan pake rangkul dong sumpeg" ujar Jihan.


"Takut nyaman ya" ujar Dwi menggoda Jihan dengan kedipan mata


"Serah deh" ujar Jihan sembari tersenyum samar.


"Jihan" panggil seseorang yang sangat familiar di telinga Jihan namun Jihan enggan membalikkan badannya.


"Sayang mamah tuh" ujar Dwi.


"Tau" ujar Jihan dingin.


"Yang sopan dong sayang" ujar Dwi.


"Kenapa kamu gak mau mencoba mengerti saya" ujar Jihan ketus.


"Jihan" ujar Mama Anggun lagi dengan nada lebih tinggi.


"Oke kenapa mah" ujar Jihan selembut mungkin.


"Kenapa, seharusnya mama yang bilang kenapa kamu sama mertua bahkan sama mamanya Fero baik kenapa sama mama gak" tanya Mama Jihan penuh marah membuat Jihan terpancing amarah.


"Oh itu, pertama mama mertua menyambut Jihan dengan hangat ke dua Ibu menyayangi Jihan tulus bahkan dia tau kalau Jihan bohong sedangkan mama Jihan dateng aja yang di liat ponsel mah" ujar Jihan.


"Bukannya lebih baik anak anak yang sopan terhadap orang tua" ujar Mama


"Jihan sudah sopan kok dengan gak ganggu mama yang asik mainin ponsel" ujar Jihan.


"Kamu , kamu tau mama cari uang dan itu buat kamu" ujar Mama menunjuk wajah Jihan dari kejauhqn.


"Jihan gak minta mama ikut kerja, Jihan gak pernah meminta sesuatu yang mengeluarkan uang mama Jihan cuma minta kasih sayang dari mama sehari aja mama liat Jihan sebagai anak" ujar Jihan mulai memanas.


"Hidup butuh uang Ji gak perlu naif deh" ujar Mama.


"Uang Jihan punya banyak uang bahkan hadiqh hadiah yang mama kasih buat Jihan masih dan belum tersentuh sama sekali, uang papa cukup kok mah buat kuta semua sebenarnya Jihan gak mau buat mama susah mama boleh kerja tapi please liat Jihan sebagai anak" ujar Jihan.


"Lalu kalau mama gak kerja urusin kamu aja bagaiman kehidupan glamor mu" ujar Mama.


"Jihan punya cukup uang bahkan semua yang Jihan beli gak ada yang pake uang mama dari ujung rambut sampai ujung kaki Jihan beli keperluannya sendiri" ujar Jihan.


"Ya kamu sekarang berani bilang gitu karena ada suami kamu kan" ujar Mama.


"Suami, sebelum ada dia juga Jihan mampu beli semuanya dan kalau mama mau uang yang mama kasih buat Jihan semuanya ada di kartu dan kartunya ada pada papa" ujar Jihan.


"Kamu mulai durhaka dengan mama" ujar Mama.


"Durhaka, sepertinya begitu mau gimana lagi" ujar Jihan.


"Jihan kamu bener bener ya" ujar Mama marah membuat semua orang menatapnya.


"Mah please berhenti jadi mama Jihan, itu yang mama mau kan" ujar Jihan.


"Sayang" ujar Dwi lembut.


"Mas please" ujar Jihan menangis terduduk di anak tangga.


"Oke mulai saat ini kamu bukan anak saya" ujar mama


"Dengan senang hati, andai saya boleh memilih juga saya gak mau jadi anak anda" ujar Jihan tak kalah marah pada saat itu membuat semua orang tercengng.


Mama Anggun pergi dengan kesal, sedangkan Dwi memeluk Jihan dengan erat.


"Kenapa setiap kali ketemu bukan kerinduan mas kenapa malah kebencian" ujar Jihan meraung dalam pelukan Dwi.


"Semua akan baik baik saja sekarang saat kamu berani jujur" ujar Dwi.


Jihan terus menangis tak lama dia merasakan sesak di dadanya dia menarik nafas panjang panjang dan kemudian dia pingsan dalam pelukan Dwi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya guys...


__ADS_2