
"Karena lo gue semangat menjalani hari hari gue, karena lo gue bersikeras membangun sebuah perusahaan walaupun ujung ujungnya kamu yang mengembangkannya gue gamau di saat gue bisa dapatin lo gue gak punya apa apa, apa lagi untuk kelangsungan anak anak kita nanti gue harap gue bisa santai dalam menjalankan bisnis nanti gue gak mau jadi orang tua yang hanya memikirkan uang bukan keluarga yang gak tau pertumbuhan anak anaknya dan gak tau kebahagiaan keluarganya" ujar Dwi sembari memeluk Jihan membuat Jihan kembali menangis.
"Apa tujuan lo buat gue kayak gini" ujar Jihan
"Gue ingin buat lo bahagia apapun alasannya lo gak boleh nangis gue pengin wujutin semua impian lo tapi gue salah jalan yang gue ambil justru menjadi bumerang di hati gue ternyata hati lo udah terlanjur di bawa orang lain" ucap Dwi lembut.
Jihan tidak menjawab hanya terus menangis meraung raung dalam pelukan Dwi. Lama Jihan menangis sampai suaranya tak terdengar lagi. Saat Dwi mengurai pelukannya karena penasaran keadaan Jihan dia sangat terkejut saat melihat Jihan lunglai dan jatuh pingsan.
"Ji ji bangun" ujar Dwi menepuk pipi Jihan pelan.
"Panggil dokter Van" ujar Dani.
"Iya Kak" ujar Jovan.
"Bang Ridwan dia tau semua tentang Jihan " ujar Dwi.
"Oke" ujar Jovan menghubungi Ridwan.
Sedangkan Dwi di bantu Dani membawa Jihan ke kamar yang ada di ruangan Jihan. Alangkah terkejutnya Dwi saat masuk ruangan itu ruangan yang penuh dengan design design rumah luar biasa yang Jihan buat.
"Wi" ujar Dani.
"Sorry Kak" ujar Dwi membaringkan Jihan pelan.
Dwi terlihat sangat gelisah membuat Dani yakin kalau Dwi pilihan terbaik untuk Jihan. Tak lama Jovan datang dengan Ridwan di belakangnya Ridwan tersenyum dan meminta semua orang untuk keluar.
Dwi enggan meninggalkan Jihan membuat Ridwan menarik nafasnya panjang karena dia tau Dwi pasti akan melarangnya mengecek keadaan Jihan dengan kontak fisik.
"Wi udahlah lo mau Jihan sembuh kan" ujar Jovan.
"Tapi Bang" ujar Dwi.
"Tenanglah saat dia sadar gue pasti bicarain semuanya sama lo" ujar Ridwan.
"Lo harus cerita semua sama gue lo harus janji" ujar Dwi di angguki Ridwan.
Dengn berat hati Dwi meninggalkan Jihan bersama dengan Ridwan. Tak lama Jihan mulai tersadar sebenarnya Ridwan tidak melakukan apapun dia hanya menunggu Jihan tersadar sembari mengecek nadinya.
"Sadar juga kamu" ujar Ridwan
"Eh Dokter, kenapa sama Jihan" tanya Jihan sembari duduk bersandar.
"Katanya kamu pingsan, be the way gimana perasaan lo sekarang" tanya Ridwan.
"Kayak ada sesuatu yang menyegarkan, lega" ujar Jihan.
"Kamu mengingat apa yang kamu ucapkan sebelum pingsan" tanya Ridwan.
"Em entahlah Kak, sepertinya ingatan gue buruk" ujar Jihan namun tiba tiba meneteskan air mata.
"Percumah kamu bohong sama saya Ji, lebih baik kamu bercerita kalaupun saya tidak bisa bantu setidaknya kamu merasa lega" ujar Ridwan.
Jihan mengangguk dan mulai menceritakan semuanya. Ridwan berfikir namun dia tetap tersenyum dan tetap mendengarkan tanpa komentar.
"Apa Jihan terlalu jahat Kak" ujar Jihan.
"Apa saya boleh berpendapat ini masalah keluarga kecil kamu selesaikanlah jangan buat dirimu nyaman dengan orang lain dan melupakan adanya suami yang buat kamu nyaman" ujar Ridwan.
"Selama ini tidak ada yang mendengarkan pendapat Jihan selain kamu Kak, gak ada yang bisa ngertiin Jihan bahkan orang tua Jihan aja gak peduli" ujar Jihan.
"Dan selama ini juga gak ada yang sepercaya kamu kepada saya, gak ada juga yang lebih jujur dari kamu jangan buat saya terlalu nyaman menjadi dokter kamu jangan sampai saya melewati batas itu" ujar Ridwan.
"Maaf Kak" ujar Jihan.
"Hm, sekarang kalau kamu sudah lebih baik saya pergi jangan takut menghadapi kenyataan utarakan pendapat jangan takut mereka marah oke" ujar Ridwan mengacak rambut Jihan sembari tersenyum manis.
Jihn membalas senyuman Ridwan dia lanagsung bangun dan beranjak pergi dari kamar itu. Jihan berjalan pelan sembari merapikan rambut dan pakaiannya.
Saat keluar dari kamar tersebut Jihan menatap sekitar. Ada Dwi Dani dan Jovan ketiganya duduk saling berjauhan dan merenung. Jihan berjalan ke arah Dwi dan duduk di sana membuat Dwi tersentak.
"Gimana udah baikan" tanya Dwi hanya di angguki Jihan
"Maafin Jihan" ujar Jihan sembari menyandarkan kepalanya di pundak Dwi dan menutup mata.
__ADS_1
"Maaf untuk apa" tanya Dwi lembut.
"Untuk semuanya, berhentilah bertanya kepala saya cukup pusing hari ini" ujar Jihan membuat Dwi diam sembari terus mengelus rambut Jihan.
Jovan hanya tersenyum sedangkan Dani menatap lurus ke depan. Dia tidak menyangka sebegitu mudah Jihan luluh di hadapan Dwi atau mungkin itu hanya usaha Jihan agar tidak mendapat lebih banyak masalah.
Saat itu juga ponsel Jihan berdering menandakan ada panggilan masuk. Jihan masih diam sedangkan Dwi hanya menatap ponsel Jihan yang tertera nama Brama di sana ingin marah tapi tidak tega.
"Angkat aja" ujar Jihan.
"Hm, hallo kenapa" ujar Dwi.
"Jihan mana" tanyanya dalam telfun.
"Ada ini di sebelah saya tapi dia meminta saya untuk menjawabnya kalau ada perlu silahkan bicara" ujar Dwi.
"Formal amat Bang, gini Jihan jadi datang gak ke panti asuhan" tanya Brama.
"Sayang dia tanya jadi datang gak ke panti asuhan" tanya Dwi pada Jihan.
"Panti asuhan" ujar Jihan langsung duduk dengan tegak dan merebut ponselnya.
"Lo kenapa baru hubungin gue" ujar Jihan.
"Lo yang dari tadi kemana aja biasanya lo tuh gak pernah lupa" ujar Brama.
"Biasa andelin orang sekarang lagi gak ada yang bisa gue andelin" ujar Jihan.
"Ya udah sekarang lo mau pergi gak" tanya Brama.
"Gak bisa gue hehe" ujar Jihan.
"Gila lo gue juga gak bisa ikut terus siapa yang handle" tanya Brama.
"Emang siapa aja yang bisa hadir" tanya Jihan.
"Gak ada yang bisa hadir harapannya cuma lo sama gue dan gue sibuk" ucap Brama.
"Cinta juga butuh perjuangan" ujar Brama.
"Yaya terserah, masih sore juga gimana kalau di batalin aja ganti besok buat makanan yang udah di pesen kirim ke sana aja biar gue yang bayar buat besok sesuai jadwal" ujar Jihan.
"Lo yakin lo yang bayar semua kerugian hari ini" ucap Brama.
"Iya ngomong ngomong rugi gue butuh suntikan dana nih" ujar Jihan.
"Lo butuh berapa" tanya Brama enteng.
"Gue butuh lo" ujar Jihan.
"Ya berapa" tanya Brama.
"Ya itu gue butuh lo buat temenin gue pemotretan buat produc mama besok pagi" ujar Jihan.
"Lo tau gue males kalau itu" ujar Brama.
"Lo pikir gue mau jadi model, mending jadi designernya tau gak mau tau lo harus bantuin gue daripada hutang gue sama lo" ujar Jihan.
"Hutang aja deh" ujar Brama.
"Dasar gila lo kebanyakan uang pa gimana lo nawarin hutang, gue gak mau tau lo harus datang ke pemotretan besok" ujar Jihan.
"Gak ada yang bisa gue bantu selain itu" tanya Brama penuh harap.
"Gak ada, padahal gue udah tawarin Abang gue yang jadi pasangan gue mama gak mau katanya kamu tuh temen gue yang paling ganteng" ujar Jihan.
"Lo mengakui juga gue ganteng" ucap Brama bangga.
"Hello itu mama gue yang bilang kalau menurut gue yang paling ganteng Abang gue" ujar Jihan.
"Yaya lo tuh cuma cinta sama Abang lo doang gak bisa liat yang bening lebih dari Abang lo" ujar Brama.
"Abang gue sempurna" ujar Jihan.
__ADS_1
"Jangan jangan lo diem diem naksir Abang lo lagi inget ada darah yang sama" ujar Brama.
"Kalaupun gue naksir gak bakal gue nikah juga sama Abang gue, gue masih waras" ujar Jihan.
"Yaya serah lo tapi gue harap kali ini mak lo bayar lo" ujar Brama.
"Dia mau bayar gue dua kali lipat kalau gue berhasil bawa lo besok" ujar Jihan.
"Oke kalau gitu kita deal, pertemuan kita di undur" ujar Brama.
"Thanks " ujar Jihan mematikan ponselnya.
Setelah mematikan ponselnya Jihan berjalan ke luar ruangan menemui Ani sekertarisnya. Dia meminta jadwal untuknya selama satu minggu ke depan Ani hanya memberikan sebuah ipad kemudian Jihan membawanya ke ruangannya lagi.
"Ji istirahatlah dulu" ujar Dani.
"Iya ini juga istirahat kok Kak" ujar Jihan duduk kembali di samping Dwi dengan serius menatap Ipad nya.
"Hallo Brama gak bisa besok deh kayaknya akhir pekan jadwal gue padat" ujar Jihan menghubungi Brama.
"Oke gue juga mau bilang gak bisa gue juga baru liat jadwal gue " ujar Brama.
"Jadwal lo cuma godain Sonia, udah ya bye kalau ke panti asuhan gue bisa tapi malam jam makan malam ya" ujar Jihan.
"Oke gue tunggu besok, sekalian kabarin yang lain siapa tau bisa" ujar Brama.
"Oke thanks bye" ujar Jihan mematikan ponselnya.
Jihan meletakkan ponselnya dan kembali menatap Ipadnya. Tak lama Fero mengetuk pintu dan masuk dia melihat dokter Ridwan pergi dari ruangan Jihan saat akan masuk membuat Fero bingung pasalmya dia pergi tadi sebelum Jihan pingsan itupun karena Randy menariknya keluar.
"Kenapa Ta" tanya Jihan.
"Sepertinya kamu masih belum bisa, untuk hari ini biar saya yang selesaikan semuanya untuk semua pertemuan hari ini biar saya yang handle" ujar Fero.
"Iya ada meeting lagi ya" ujar Jihan menatap jadwalnya.
"Iya hari ini lumayan padat juga si tapi gue udah bilang ke papa kok dan dia bolehin dia juga bilang buat selesaikan pekerjaan saya di sini" ujar Fero.
"Makasih Ta" ujar Jihan.
"Hm kalau gitu gue permisi" ujar Fero.
"Oke" ujar Jihan tersenyum.
"Mas bisa anterin Jihan pulang" tanya Jihan pada Dwi.
"Bisa sekarang" tanya Dwi.
"Bentar lagi Jihan ambil tas dulu" ujar Jihan.
Dwi mengangguk lalu membiarkan Jihan bersiap. Saat Jihan selesai dia mengantar Jihan pulang sedangkan Dani dan Jovan kembali ke kantornya masing masing. Jihan meminta untuk di antar ke apartemen bukan mansion milik keluarga Dwi.
Sedari mereka keluar dari ruangan Jihan mereka memjadi pusat perhatian pasalnya Dwi menggandeng Jihan dengan sangat erat. Sedangkan Jihan berjalan berhimpitan dengan Dwi karena masih pusing
"Kamu oke" tanya Dwi saat sampai di mobilnya.
"Masih sedikit pusing" ujar Jihan.
"Tidurlah" ujar Dwi menepuk pundaknya di angguki Jihan.
"Pak antar saya ke apartemen ya" ujar Dwi pada supirnya.
Sepanjang perjalanan pulang Jihan hanya diam menutup matanya walaupun tidak tidur. Tapi untuk kali ini dia merasa sangat pusing dan merasa tenaganya terkuras habis.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys...
__ADS_1