
" Kalian yakin dengan hasil ujian kalian" tanya Jihan.
"Yakin em yakin lah iya gak guys" ujar Joni.
"Kalau kalian yakin sama hasilnya dan nilai kalian memuaskan dan bisa bersaing buat seleksi di Universitas X gue bakal bantu tempat tinggal kalian" ucap Jihan.
"Serius Ji" tanya Hana.
"Iya tenang aja, tapi inget kalau nilai kalian bisa ikut masuk calon mahasiswa baru di Universitas X dan kalian harus berani buat hidup di sana tanpa siapapun yang kalian kenal" ucap Jihan.
"Dan siapapun yang masuk sepuluh besar gue kasih hadiah deh" ujar Fero.
"Hadiah lo transparan gak kayak Jihan jelas" ucap Mona.
"Biar kalian penasaran aja" ucap Fero menjulurkan lidahnya.
"Oh ya Ji lo berangkat besok ke kota nya gak bisa di undur apa kita rayain dulu" ucap Nisa.
"Apa lagi yang mau di rayain gue bikin acara ini juga biar kalian semua bisa saling bicara biar saat kalian terpisah nanti tidak ada rasa penasaran akan sesuatu" ucap Jihan.
"Iya lagian kalau mau rayain sesuatu tuh kalau udah jelas keluar hasil ujiannya lulus gak" ucap Joni.
"Kalau nunggu pengumuman kalau ada yang gak lulus gak bakal dateng ogeb, lo pikir kalau lo gak lulus yang ada lo ngurung diri" ucap Mona.
"Yaya udah terserah kalian gue bakal adain pesta buat kita semua minggu depan oke" ucap Fero.
"Ya terserah lo, gue usahain datang tenang aja" ujar Jihan.
"Oke setuju" ucap semua teman teman.
"*Ji maafin gue, pesta itu bukan cuma karena kelulusan tapi juga karena pernikahan gue dan lo pasti datang karena orang yang akan jadi istri gue adek ipar lo" ucap Fero dalam hati menatap Jihan.
"Kenapa gue ngerasa gak suka pas dia bilang pesta untuk kita semua, ya Tuhan apa rahasia yang akan kau buka nanti" ujar Jihan menadahkan kepalanya ke atas*.
Malam semakin larut beberapa teman dan tetangga sudah mulai pergi ke rumah masih masing hanya sisa tempat yang berserakan. Jihan menatap sekeliling kemudian mengangkat kepalanya merentang kan tangan dan memejamkan mata sekedar menikmati suasana desa.
Suasana yang akan Jihan rindukan, andai Jihan bisa meminta waktu lebih lama di sana namun itu tidak akan pernah terjadi karena dua minggu lagi dia harus menyelesaikan S2 dalam waktu satu tahun saja.
"Sudahlah Ay suatu saat kita akan kembali ke suasana ini lagi" ujar Fero.
"Iya gue bakal kangen sama suasana ini, karena gue bakal sibuk dengan urusan di luar sana" ucap Jihan membuka matanya.
"Kalian berdua kenapa si seneng banget berduaan" ujar Dwi lalu berdiri di antara Fero dan Jihan.
"Ta kita harus beres beres nih besok gue berangkat cepet soalnya" ujar Jihan.
"Gue juga sama kali, kuliah gue tinggal satu minggu lagi" ucap Fero.
"Satu minggu bangga gue dua minggu lagi biasa aja" ujar Jihan.
"Ya iya lah orang cepetan gue" ucap Fero.
"Tinggian gue sekolahnya" ujar Jihan bangga.
"Mulai bisa sombong ya" ucap Fero.
"Harus" ucap Jihan pergi membantu Dani.
Jihan tidak menghiraukan Dwi yang sedari tadi menatapnya tajam bahkan dia sempat mencengkram tangan Jihan namun Jihan berusaha untuk bersikap biasa walau sakit.
"Ta lo besok berangkat jam berapa" tanya Jihan teriak karena jarak mereka yang lumayan jauh.
"Sore Ay, kenapa" tanya Fero.
"Kalau sore lo suruh Kevin aja buat kirim supir ke sini" ucap Jihan.
"Oke" ucap Fero kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi kevin.
Jam sudah menunjukkan jam dua belas malam semua baru saja selesai di bereskan Jihan lalu berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
Jihan membaringkan badannya di atas kasur empuk yang sangat nyaman dengan segera dia tertidur pulas dengan kaki yang masih menyentuh lantai.
"Wi Jihan mana" tanya Jovan.
"Ada di kamar kayaknya, tadi dia pulang dulu" ucap Dwi.
__ADS_1
"Oh pasti kecapean tuh anak, ya udah kamu susulin gih udah malam juga" ujar Jovan.
"Hm oke" ujar Dwi menuju kamar dengan langkah kesal.
"Udah tidur tuh bocah, dasar kebo" ucap Dwi lalu melepaskan sandal yang Angel kenakan dan membenarkan posisi Jihan.
"Gak bangun sedikitpun, hufh tapi manis juga kalau tidur" ujar Dwi membelai wajah Jihan.
Dwi bermain di wajah Jihan membuat Jihan mengeliat namun masih melanjutkan tidurnya sampai Dwi ikut tertidur di sebelah Jihan dengan tangan yang berada di wajah Jihan.
Suara khas pedesaan membuat malam terasa sangat sunyi semua orang tengah berada di alam mimpi masing masing.
Suara burung dan ayam yang berkokok menandakan pagi telah datang, Jihan membuka matanya lalu membulatkan matanya karena saat Jihan membuka mata wajah Dwi tepat di depannya dan menempel di wajahnya.
"Minggir lo" ujar Jihan mendorong Dwi.
"Kenapa si" ucap Dwi.
"Gue mau mandi" ucap Jihan.
"Emang udah pagi" tanya Dwi.
"Udah siang kali" ucap Jihan santai sembari masuk kamar mandi.
Saat Dwi ingin mengejarnya tiba tiba ponselnya berdering.
"Siapa si pagi pagi ganggu" ujar Dwi.
"Hallo" ucap dwi.
"Hallo selamat pagi pak Dwi saya hanya mau mengingatkan kalau hari ini ada rapat di sekolah dan anda harus datang jam delapan" ucap orang dalam sebrang.
"Baiklah" ucap Dwi.
"Ji lo berangkat duluan gue ada rapat" ucap Dwi berteriak saat Jihan di kamar mandi.
Jihan tidak menjawabnya namun Jihan menyelesaikan mandinya lebih cepat. Jihan lalu pergi ke dapur untum menyiapkan sarapan.
"Semuanya sarapan sudah siap" teriak Jihan.
Tak lama kemudian Dani dan Jovan datang dengan lesu, di susul Dwi yang sudah rapi.
"Ada rapat di sekolah" ucap Dwi.
Jihn tidak menghiraukan semua orang Jihan serius dengan sarapannya sehingga mendapat tatapan tajam dari Jovan namun Jihan hanya menyengir kuda.
"Utamakan suami Ji" ujar Jovan.
"Huh iya iya" ucap Jihan kemudian mengambil sarapan untuk Dwi.
"Berdua" ucap Dwi.
Jihan menghela nafas panjang lalu mulai makan sepiring berdua dengan Dwi, Jihan menyuapi Dwi dengan kasar namun di balas senyuman manis oleh Dwi membuat Jovan membentak dan memarahi Jihan.
"Pinter banget lo buat gue kena marah sama Abang" ujar Jihan dalam hati.
"Ya udah mas berangkat ya terima kasih sarapannya" ujar Dwi.
Jihan hanya mengangguk kemudian Dwi menyodorkan tangannya dengan sangat terpaksa Jihan mencium tangan Dwi dan tersenyum manis. Dwi tersenyum licik sembari mengacak acak rambut Jihan.
Jihan lalu bersiap untuk berangkat ke kota walaupun harus dia tunda beberapa jam ke depan karena Dwi pergi dan juga karena paksaan dari Jovan kalau dia harus menunggu Dwi.
Jihan pergi ke tempat Fero untuk menanyakan sesuatu namun saat sampai di rumah Fero Jihan termenung melihat surat undangan berserakan dan beberapa keluarga Fero dari kota sedang berkumpul.
"Eh maaf ganggu ya" ujar Jihan.
"Enggak kok sayang" ucap Mama Fero.
"Oh ya tante Ata mana" tanya Jihan.
"Ngapain lo tanya tanya Kakak lagi dasar" ucap seorang gadis kecil.
"Ada perlu, lo kapan datang" ujar Jihan santai.
"Tadi pagi" ucapnya cuek.
__ADS_1
"Kenapa lo, gak biasanya gini sama kak Jihan" ujar Fero yang baru saja bergabung.
"Hua.... hua..... kenapa bukan kak Jihan si pengin rasanya gue tulis nama lo di sini kak" ujar gadis kecil tersebut memeluk Jihan sembari menangis menunjuk kartu undangan.
Jihan berusaha mencerna ucapan gadis tersebut yang bernama Syifa keponakan Fero. Jihan membalas pelukan Syifa erat dan mulai sadar apa yang Syifa katakan.
"Sudahlah sayang, kamu percaya takdir kan walaupun kita gak bisa bersama dalam ikatan indah tapi kita masih bisa jadi keluarga" ucap Jihan menatap Syifa.
"Tapi Kak" ujar Syifa.
"Lakukan apa yang seharusnya lo lakukan karena gak selamanya jalan yang lo suka itu yang terbaik.kadang kita harus melewati jalan tajam dan berduri dan mencoba untuk bisa berdiri" ucap Jihan.
"Udah udah jangan ganggu kak Ay, dia pasti mau cepet cepet pergi" ujar Fero.
"Gak kok tenang aja ada beberapa jam lagi, oh ya gue ke sini mau minta data investor perusahaan" ucap Jihan.
"Kenapa gak minta sama Kevin" tanya Fero.
"Gue mau pelajari sekarang" ucap Jihan.
"Oke gue ambil" ucap Fero.
Jihan mengangguk dan tersenyum meihat Fero pergi,. Tak lama kemudian mama Fero datang dan memberikan sebuah undangan bersampul merah dengan foto Fero dan seorang gadis yang Jihan kenal.
"Maaf sayang tante gak bisa melakukan apa apa" ucap mama Fero.
"Gak apa apa lagi tante, ini juga yang terbaik buat Ata" ucap Jihan santai.
"Sekali lagi maafin tante ya sayang" ucap Mama Fero memeluk Jihan.
"Ay nih" ujar Fero memberikan sebuah berkas.
"Thanks ya gue balik dulu, sama sekalian pamit Jihan berangkt nanti siang tante" ucap Jihan menyalami Mama Fero.
"Iya hati hati ya, sekali lagi maafin tante" ucap Mama Fero memeluk Jihan.
Jihan tersenyum lalu pergi namun sebelum pergi Jihan membalikkan badannya.
"Ta selamat atas pernikahan lo ya" ucap Jihan.
"Eh udah tau ya makasih ya" ucap Fero.
Jihan berlari ke rumahnya lalu memeluk Dani erat membuat Jovan yang baru saja datang dari dapur mengerutkan dahinya kemudian ikut bergabung.
"kenapa Ji" tanya Jovan.
"Gak pengin peluk kakak aja" ucap Jihan mengeratkan pelukannya di balas Dani tak kalah erat walaupun dia masih bingung.
"Kita berangkat jam berapa" tanya Jihan.
"Tunggu Dwi" ucap Jovan.
"Oh oke" ucap Jihan melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa Ji pulang pulang terus peluk Kakak" tanya Jovan.
"Pengin aja" ucap Jihan lesu.
"Ya udah terserah, eh itu apa" tanya Dani.
"baca aja" ucap Jihan.
"Oh pantesan peluk gue lo" ujar Dani senyum senyum menatap Jihan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....