
Seketika Jihan membulatkan matanya dan melepaskan tautannya dengan Dwi sedangkan Dwi hanya terdiam sembari menatap Jovan tajam ketika Jovan mulai tertawa.
"Ngapain lo kesini" ucap Dwi dingin.
"Hehe sorry gue gak tau kalian lagi hahaha" ujar Jovan.
"Diem lo pergi sana ganggu aja" ucap Dwi.
"Iya iya cuma mau ambil ponsel sama sekalian mau bilang di tunggu om Seno tuh di bawah" ucap Jovan masih menahan tawa.
"Bang bisa gak jangan ketawa gitu" ujar Jihan.
"Kenap malu" ledek Jovan.y
"Bang" ucap Jihan hendak berdiri namun di tahan Dwi.
"Kenapa mau marah, lanjutin deh tapi jangan lama lama di tunggu mertua tuh" ujar Jovan berlari.
"Kenapa lo tahan gue si" ujar Jihan kesal.
"Kalau lo kejar dia lo bakal lebih malu nanti tuh liat bibir lo merah banget" ucap Dwi.
"Lo si ah, bikin kesel aja" ucap Jihan mengambil tisu lalu mengelap bibirnya.
"kenapa di lap si" tanya Dwi kesal.
"Kenapa mau marah, eh bentar gue kan ambil tisu buat lap bibir lo" ujar Jihan berfikir membuat Dwi gemas lalu mencubit pipi Jihan.
"Au sakit tau" ujar Jihan.
"Sorry lagian gemesin banget si" ucap Dwi.
"Nih" ujar Jihan memberikan tisu kepada Dwi.
"Bersihin" ucap Dwi.
"Gak mau bersihin aja sendiri siapa suruh" ucap Jihan.
"Kalau gak mau bersihin gue keluar nih, atau gak gue makan lagi tuh" ucap Dwi menunjuk bibir Jihan.
Seketika Jihan memegang bibirnya kemudian menggigitnya membuat Dwi menelan salivanya susah. Dwi terpesona dengan cara Jihan menggigit bibir bawahnya namun dia terkejut saat Jihan sudah menempelkan tisu di bibir Dwi dan mulai mengusapnya lembut.
"Kenapa gue jadi dag dig dug gini si" ujar Dwi dalam hati.
"Udah yuk ke bawah sebelum ada rumor baru tentang kita" ucap Jihan.
Dwi hanya mengikuti Jihan tanpa protes. Jihan yang berjalan agak tertatih karena bengkak di kakinya walaupun sudah tidak sakit lagi membuat Dwi memeganginya erat.
"Hai pah" ucap Jihan menyalami pak Seno.
"Hai sayang, kamu kenapa jalannya kayak gitu" tanya pak seno.
"Gak pah, cuma kekilir tadi tapi udah baikan kok tinggal bengkaknya doang jadi rasanya agak berat di bawa jalan" ucap Jihan.
"Ridwan adek kamu sakit kamu santai aja" ucap Papa Seno.
"Terus harus Ridwan apain lagian udah ada Dwi yang jaga dia dan udah Ridwan periksa kali om" ucap Ridwan.
"Baguslah sekarang duduklah" ucap papa menyuruh Jihan untuk duduk.
"Kak Kevin kok di sini" tanya Jihan.
"Ikut om" ucap Kevin.
"Jangan jangan alasan Kakak gak mau ikut tadi mau ke tempat papah ya" selidik Jihan.
"Emang kenapa kalau asisten lo ikut papah" tanya Dwi dingin.
"Tanya aja kenapa sensi" ucap Jihan tak kalah dingin.
"Udah udah kalian gak pernah akur ya dari dulu" ucap Rey.
"Iya kenapa si, Bos saya ke sini ada keputusan yang harus anda ambil" ucap Kevin.
"Apa, berhenti panggil gue bos kita gak lagi kerja" ucap Jihan santai.
"Tapi ini masalah pekerjaan" ucap Kevin.
"Iya tapi di luar jam kerja" ucap Jihan.
"Yaya susah amat" ucap Kevin.
"kenapa lo kesini" tanya Jihan.
"Gini Ji, sebenarnya om minta tolong buat bujuk kamu sama Kevin" ucap papa.
"Bujuk buat" tanya Jihan.
__ADS_1
"Buat apa lagi, sebelumnya papa mau tanya bener kamu perintahin biar perusahaan Dwi masuk ke dalam black list" tanya papa.
"Ya kenapa" tanya Jihan.
"gak bisa di ubah keputusannya" ujar papa.
"Papa tau kan apa yang akan terjadi saat mereka masuk daftar black list di perusahaan Jihan" ucap Jihan.
"ya papah tau makanya papa mau tau alasan kamu" ucapnya.
"Banyak alasan pah malah Jihan udah kasih peringatan sebelumnya tapi dia abaikan" ucap Jihan.
"Sekarang kamu ceritakan apa yang di lakukan Dwi sampai dia harus masuk black list" tanya papa
"Pertama dia seneng banget batalin jadwal pertemuan padahal udah jamnya ketemu emang dia pikir perusahaan Jihan gak ada kerja apa, ke dua dia gak pernah kabarin kalau dia mau ketemu tau tau ke kantor untung Jihan selalu siap dengan semua keadaan ke tiga dan yang paling nyebelin dia mengubah tempat pertemuan kita hanya karena ceweknya di tempat tak jauh dari dia berada dan yang paling ngeselin dia gak pernah profesional dalam kerja dia selalu aja seenaknya mentang mentang ada hubungan dan pernah dia tuh ketemu sama Jihan sambil mesra mesraan di depan Jihan pah bukan cemburu tapi seenggaknya di hormatin gue lah dan itu bisa jadi skandal dan gue gak mau kalau hanya karena dia usaha yang udah gue bela belain hancur sekejap" ucap Jihan penuh emosi dan tatapannya tak teralihkan dan berkesan menyeramkan.
"Bener gitu Wi" ujar papa.
"Gak semuanya bener pah" ujar Dwi membela diri.
"mana yang salah" tanya papa.
"Gak ada si" ujar Dwi.
"Itu namanya bener semua kucing" ucap Jihan.
"maaf Pah" ucap Dwi menunduk.
"Tapi Ji apa harus ke black list" tanya papah.
"Terus mau di taruh di man lagi pah, udah bosen ladenin dia" ucap Jihan.
"Di hati" ujar semua orang membuat papa tertawa.
"Gak lucu" ujar Jihan kesal.
"Ta lo yang terusin deh males gue" ucap Jihan.
"Ini kan masalah lo" ucap Fero.
"Angkat tangan lo kenapa gak sekalian angkat kertasnya terus tanda tangan semua saham lo kasih ke gue" ucap Jihan.
"Gue masih butuh kali Ji" ucap Fero.
"Oke, karena Jihan gak enak sama papa Jihan bakal buat minum buat papa" ujar Jihan tersenyum.
"Papa rayu Fero aja siapa tau berhasil" ucap Jihan.
"Lo aja susah yang cewek gimana Fero" ucap Papa.
"Ya kan dia mau jadi mantu papa siapa tau coba aja" ucap Jihan.
"Gue gak mau, itu masalah lain lo aja yang udah jadi istrinya gak peduli" ucap Fero.
"apa peduli lo" ucap Dwi.
"Tuh kan pah sombong banget dia angkuh lagi dan satu lagi nyebelin" ucap Jihan membuat semua orang tersenyum.
"Ya udah deh kalau kamu gak mau, Wi udah papa bantu tapi hasilnya nihil gak ada hasil kamu usaha sendiri lah" ucap Papa.
"papa aja nyerah gimana Dwi" ucapnya.
"Kak Rey Kak Kevin bantu dia gih" ucap Jihan.
"Boleh" tanya Rey dan Kevin bersama.
"Boleh, tapi jangan pernah minta bantuan sama gue" ucap Jihan.
"Terus gimana kita masuknya cuma lo yang bisa masuk tanpa jejak" ucap Rey.
"cari tau aja sendiri" ucap Jihan.
Kevin dan Rey kemudian saling melempar pandangan dan seketika mereka mengacak rambut bersamaan membuat Jihan terperanjak.
"Kalian kompak amat" ucap Jihan.
"Ya hallo siapa" tanya Jihan saat mengangkat telfon masuk.
"...."
"Pergi ke rumah gue sekarang kita selesaikan malam ini juga" ucap Jihan tegas lu mematikan ponselnya.
Tak lama kemudian ada seorang wanita cantik bak model datang dengan tatapan tajam ke arah Jihan. Jihan tidak takut justru dia tersenyum sinis melihat siapa yang baru saja datang
"Hai lama gak ketemu" ucapnya.
"Ya baru dua tahun lah" ucap Jihan santai
__ADS_1
"mau apa lo" lanjut Jihan.
"Gue mau minta pertanggung jawaban lo " ucapnya.
"tanggung jawab gue gak hamilin lo" ucap Jihan tersenyum.
"Masih bisa senyum lo, kita duel sekarang" ucapnya.
"Oke kayaknya lo udah makin jago aja" ucap Jihan.
"Kenapa lo takut" tanya nya bangga.
"gak mau di sini, eh tapi jangan deh sayang nanti kalau ada yang pecah atau rusak baru aja gue liat lagi " ucapan Jihan membuat lawan bicaranya sangat kesal lalu menyerang Jihan.
Jihan dengan sigap menangkis semu serangan Jihan tidak menyerang balas karena Jihan tidak ingin orang yang ada di depannya terluka karenanya. Jihan terus saja menghindar membuat lawan semakin kesal.
"Kapan selesainya " ujar Fero.
"Lo kenal dia Fer" tanya Jovan.
"ya, dia musuh Jihan dari kelas X dulu" ucap Fero.
"Mereka sering berantem" tanya Dwi.
"Ya bisa di bilang mereka bad girl paling menakutkan sepanjang sejarah.
"What" ucap Jovan.
Setelah lama berduel akhirnya Jihan mulai membalas dan setiap serangan yang melanyang mengenai lawannya. Sampai permainan berakhir dan di menangkan Jihan.
"Gue menang lagi apa yang lo taruhin kali itu" ujar Jihan.
"Lo udah buat gue malu tunggu pembalasan gue" ucap nya.
"Mau balas pake apa lo pake Abang lo lagi yakin lo" ujar Jihan.
"Kalau ya kenapa lo takut dia udah ada di sini paham lo" ucapnya.
"Huhuhu gak takut gue" ujar Jihan.
"Awas lo" ucapnya mendekati Zian.
"Huh kan udah gue duga lo tuh adeknya Zian kan makanya lo belagu gitu lo terus aja berlindung di belakang Abang lo pecundang" ucap Jihan.
"lo bilang apa gue pecundang" ucapnya emosi.
"Ya kenapa lo mau marah" ucap Jihan.
"Kapan selesainya si kalian berdua" ucap Fero.
"Diam lo" ucap Jihan dan Zira.
"Kompak bener" ucap Fero.
"Ini semua gara gara lo tau gak si" ucap Jihan menunjuk Fero.
"kok gue" ucap Fero.
"Iya kenapa lo pilih Jihan bukan gue" ucap Zira.
"Lo suka sama Ata" tanya Jihan menelisik.
"Sok suci lo Ji, lo tuh udah ambil semua yang gue punya paham lo lo juga tau kalau gue sama Fero" ucap Zira.
"Gue ambil semua milik lo bukannya lo yang jadiin itu semua taruhan sampai lo buat pacar lo barang taruhan gila lo, dan mau gimana lagi gue yang menang" ucap Jihan.
"Berkali kali lo sakitin hati gue terima akibatnya lo gue punya banyak pendukung di sini" ucap Zira.
"Iya lah, om Seno om lo Dwi Abang lo Zian Abang lo Ridwan Abang lo tapi lo lupa gue punya semua cinta mereka termasuk orang orang lo mau apa lo" ucap Jihan.
"Kalian semua" ucap Zira.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan komennya ya....
__ADS_1