Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 151


__ADS_3

Karena sebelumnya Dwi sudah menemui Ridwan dan menayakan perkembangan pengobatan Jihan sampai dia juga tau berbagai obat yang di konsumsi Jihan dan saat apa Jihan mengonsumsinya.


Dwi memeluk Jihan sampai Jihan tenang dan terlelap dalam tidurnya. Dia sengaja melakukan itu karena permintaan Ridwan. Dan dia juga melihat ciri ciri bagaimana penyakit Jihan kambuh.


"Maafin gue Ji" ujar Dwi dalam hati sembari menangis melihat penderitaan yang Jihan rasakan.


Dwi terus mengelus elus pipi Jihan sembari menahan tangisnya. Dia dan Jihan tertidur di lantai dekat ranjang karena Dwi menyandarkan kepala Jihan di pangkuannya.


Malam mulai larut namun Dwi masih belum bisa tidur dia terus menatap wajah istrinya itu. Dia merasa bersalah karena tindakannya selama pernikahan membuat penyakit Jihan sering kambuh padahal sebelumnya keadaannya sudah membaik.


"Em" Jihan mengeliat mengganti posisinya menjadi meringkuk membuat Dwi tertawa dengan tingkah Jihan.


Dwi mengambil beberapa foto Jihan yang terlelap lalu mengganti walpaper ponselnya. Dwi masih belum bisa tidur padahal nadannya sangat lelah.


Pagi menjelang Jihan mulai mengerjap erjapkan matanya Dan merasakan ada tangan yang hangat di atas pipinya..


"Mas gak tidur" tanya Jihan saat membuka matanya di sambut senyuman hangat Dwi.


"Baru bangun" ujar Dwi berbohong.


Jihan bangun dan memijat pelipisnya karena kepalanya masih terasa berat. Jihan berjalan sempoyongan ke kamar mamdi dan mandi.


"Mas gak mandi" tanya Jihan saat keluar dari kamar mandi melihat Dwi masih asik rebahan.


"Gak" ujar Dwi santai.


"Mas" panggil Jihan lirih.


"Kenapa sayang perlu sesuatu" tanya Dwi.


"Gak makasih, dan maaf" ucap Jihan.


"Kenapa nih" tanya Dwi membenarkan posisinya berganti duduk di tepian ranjang.


Jihan berjalan ke arah Dwi dan duduk di sampingnya membuat Dwi penasaran apa yang akan Jihan katakan.


"Jihan tau kamu gak tidur kan semalam makanya gak berani mandi" ucap Jihan di sambut senyuman Dwi.


"Kata siapa mas tidur dengan nyenyak" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya.


"Jangan bohong matamu tidak bisa berbohong" ucap Jihan menatap Dwi tajam.


"Hehe iya iya, senengnya mulai di perhatikan" ujar Dwi.


"Mas sini maju deh" ujar Jihan membuat Dwi mengerutkan dahinya.


"Kenapa" ujar Dwi.


"Sebentar aja" ucap Jihan memaksa.


"Kenap" ujar Dwi bertanya namun tidak dapat dia selesaikan karena Jihan sudah menempelkan bibirnya di bibir Dwi.


Jihan bermain sedikit membuat Dwi tersenyum. Jihan bermain tanpa balasan karena Dwi hanya menikmati ulah Jihan.


"Apa maksudnya" tanya Dwi saat Jihan memundurkan kepalanya


"Sebenarnya Jihan ingin membencimu tapi tidak bisa kamu terlalu manis, sudah Jihan coba mencari celah dimana Jihan bisa mengusirmu tapi semua sia sia hanya ada kebaikan yang terlihat" ujar Jihan.


"Apa itu juga yang membuatmu selalu menentang perjodohan ini dan sedingin itu" tanya Dwi.


"Maaf, apa kamu tidak menyadarinya bukankah saya dingin hanya sejak menikah sebelumnya saya biasa" ucap Jihan.


"Apa itu berarti kamu mencintaiku" tanya Dwi serius.


Jihan mengangguk "Jihan hanya marah karena perjodohan, ada sisi senang Jihan menikah tapi Jihan juga kecewa karena banyak yang ingin Jihan lakukan sebelum menikah " ujar Jihan.


"Jihan takut semua rencana Jihan gagal dan kamu tidak suka dengan rencana rencana Jihan" lanjut Jihan.


Dwi tersenyum lalu menarik Jihan dan mencium bibir Jihan.


"Mulai sekarang jangan ragu untuk mengungkapkan sesuatu, mas akan selalu ada untukmu dan saya tidak akan mengekangmu kamu bebas melakukan apapun asal tidak membahayakan nyawa" ucap Dwi memeluk Jihan.


Jihan membalas pelukan Dwi hangat lalu menangis dalam pelukan Dwi.


"Udah, mau sarapan apa" tanya Jihan merenggangkan pelukannya dan menghaous air matanya


"Sandwich buataan kamu enak" ujar Dwi.


"Oke" ujar Jihan tersenyum dan pergi.


Dwi tersenyum sudah mendapat cinta Jihan. Jihan pergi ke dapur dengan rambut di gerai namun saat melihat sumpit dia melipat rambutnya dengan sumpit.


"Ya Tuhan Ji gila kapan lo" ujar Putri.


"Barusan" ucap Jihan biasa tak lagi sedingin dulu kepada Putri.


"Mamah masak apa" tanya Jihan pada mama Sri.


"Nih cuma buat sarapan simple" ujar Mama Sri.

__ADS_1


"Kalo mama mau sarapan pake apa" tanya Jihan pada ama Anggun.


"Mau masak" tanya Mama Anggun.


"Hm mau makan bareng mamah" ucap Jihan lembut.


"Gimana kalau kita masak nasi goreng mix kesukaan kita berdua" ucap Mama Anggun.


"Siap" ucap Jihan.


"Suami kamu makan apa" tanya Mama Anggun.


"Mau sandwich" ucap Jihan.


"Ya udah kamu buat sandwich aja mama buat nasi gorengnya" ujar Mma Anggun di angguki Jihan.


Jihan serius membuat makanann bersama para wanita yang lainnya. Mereka semua seperti keluarga yang sangat bahagia karena terus bercanda tawa.


"Wah liat deh" ujar Jovan.


"Biasa dunia wanita itu unik" ujar Dani.


"Jihan love you" teriak Dani.


"Love you too Kak" ucap Jihan membalas.


"Ji buatin makanan dong" ucap Jovan


"Abang liatnya Jihan lagi ngapain" tanya Jihan.


"Maksudnya mau request buatin sandwich" ucap Jovan tersenyum.


"Siap" ucap Jihan.


"Thanks you" ucap Dani di sambut senyuman Jihan.


"Apa seenak itu sandwich kamu Ji sampai semua minta sandwich" ujar Putri.


"Coba aja nanti" ucap Jihn tersenyum


Dwi berjalan dari arah tangga langsung menatap istrinya yang sedang berjibaku dengan sandwichnya.


Setelah masakan selesai semua di sajikan di meja makan dengan para suami sudah duduk di sana.


"Mah Jihan ganti baju dulu ya" ucap Jihan melepas celemeknya.


Jihan berjalan ke kamarnya untuk bersiap berganti pakaian karena akan pergi ke desa. Jihan menggerai rambutnya dan make up flawles. Dia bergabung dengan yang lainnya di meja makan setelah menyisihkan barang bawaannya di depan televisi.


Jihan menarik piring yang da di depan mamahnya lalu duduk di lantai di ikuti mama Anggun membuat semua menatapnya. Sedangkan Dani dan Jovan tersenyum dan ikut bergabung.


"Oke Jihan pertama" ucap Jihan menunggu suapan mama Anggun.


"Yang tua yang menang" ucap Jovan.


"Gue tertua" ucap Dani.


"Kalah kita Bang" ujar Jihan pada Jovan.


Mama Anggun tersenyum lalu menyuapi ke tiga anaknya itu. Semua orang tersenyum melihat kelakuan Jihan dkk itu.


"Mama mau anak baru lagi gak" ujar Dwi.


"Gak udah kebanyakan" ucap Dani.


"Iya kita jadi gak kenyang nanti" ledek Jovan.


"Iya nambah anak aja sana minta sama mak lo" ucap Dani.


"Bang kak" ujar Papa Prasaja


"Ya udah sini sayang" ucap Mama membuat Dwi tersenyum dan bergabung.


"Tante" ujar Fero


"Kenapa mau juga" tanya Mama Anggun di angguki Fero.


Semua makan dengan lahap, namun Jihan hanya makan dua suap sedangkan Jovan Dani makan banyak.


"Lagi Ji" tanya Mama.


"Gak mah makasih" ucap Jihan bangkit.


"Baru dia Ji, biasanya kamu yang paling banyak makan" ucap Dani.


"He, udah terlepas rindu Jihan" ucap Jihan di sambut senyuman manis Mamahnya.


Jihan duduk di meja makan dan mengambil beberapa sandwich.


"Put mau" tanya Jihan.

__ADS_1


"Boleh Ji" ujar Putri.


"Putri" tegur Dwi yang juga ikut duduk di samping Jihan.


"Udah lah mas, kita perlu penyesuaian iya gak put" ucap Jihan di angguki dn di balas senyuman aneh Putri.


Jihan memberikan sandwich pada Putri lalu suaminya. Sandwich membuat sandwich cukup untuk semua orang. Setelah Jovan Dani dan Fero selesai makan sekarang tinggal Mama Anggun yang di suapi Jovan Dani dan Jihan bergantian.


"Kok gak di makan mas" tanya Jihan.


"Eh terlalu mwnghayati" ucap Dwi.


"Kenapa kita" tanya Dani.


"Hm, indahnya" ucap Dwi.


"Terakhir pas Jihan pertama di terima masuk SMP " ucap Jihan.


"Lama" ucap Jovan.


"Nih" ucap Jihan sembari menyodorkan sandwich buatannya.


Dwi tersenyum lalu menggigit makanan yang Jihan berikan lalu mengambil alih makanan itu dan menyodorlannya pada Jihan. Jihn tersenyum bukannya memakan bagian yang belum tersentuh Jihan justru memakan bagian yang di makan Dwi.


"Ji jadi oergi" tanya Jovan.


"Jadi bang, bentar lagi nunggu Kevin" ucap Jihan.


"Bawa Kevin" tanya Fero.


"Gak Ta, cuma minta uang sama Kevin lo kok amneaia sekarang si" ucap Jihan.


"Oh, bisa handle sendiri gue bisa temenin lo" ucap Fero.


"Gue handle sendiri dulu, kalau udah baru lo yang kesana gantian gue juga gak mau lama lama urusin yang di sana doang di sini udah kelamaan asisten asisten gue yang handle" ucap Jihan.


"Oh oke, kapan pun lo butuh gue gue ada buat lo" ucao Fero di angguki Jihan datar.


"Butuh uang berapa" tanya Dwi.


"Dikit doang, lagian udah kerja sama sama kak Randy kok" ucap Jihaan.


"Dia setuju" tanya Dwi.


"Hm, gitu katanya uji coba dulu seperti biasa kak Randy ya gitu" ucap Jihan.


"Leon" tanya Dwi.


"Setelah pulang dari desa nanti Jihan selesaikan semua please" ucap Jihan.


"Oke apapun" ucap Dwi


"Thanks" ucap Jihan.


Tak lama Kevin datang dengan beberap uang di dalam.tas yang akan Jihan bawa. Jihan mendekati Kevin lalu berbincang serius Dwi hanya melihat tanpa tau apa yang mereka berdua rencanakan.


"Oke" ucap Kevin pergi begitu saja.


"Mas Jihan berangkat ya" pamit Jihan setelah Kevin pergi.


"Hm, mas antar" ujar Dwi di angguki Jihan dengan senyuman.


Jihan lalu berpamitan kepada semua orang, sedangkan Dwi mengambil barang bawaan Jihan. Semua orang peegi dari rumah itu ke mobil masing masing untuk menjalankan altivitasnya.


Jihan daan Dwi berjalan paling belakang. Dwi berjalan lebih dulu namun Jihan mengejarnya dan menggandengbtangan Dwi membuat Dwi berhenti dan menatapnya dengan senyuman lalu membalas genggaman Jihan.


"Berapa lama di sana" tanya Dwi.


"Gak pasti "ucap Jihan.


"Bisa di percepat" tanya Dwi.


"Bisa kalau semua lancar" ucap Jihan.


"Ku tunggu kepulangan mu" ucap Dwi


"Hm" ujar Jihan bergelanyut manja di lengan Dwi dengan senyuman mengembang.


.


.


.


.


***Ketauan guys...


Ternyata usaha Jihan gagal buat menahan rasa pada Dwi iya gak guys...

__ADS_1


Lanjut ya guys.... dukung terus... love you***


__ADS_2