
"Iya, eh Abang" ujar Jihan mendongak lalu mencium tangan Jovan dan Dwi yang baru saja datang.
"Tuh kan Wi bener yang gue liat di lampu merah tadi tuh Jihan" ujar Jovan.
"Kenapa" tanya Jihan
"Tadi pas di lampu merah mau kesini Abang kayak liat motornya kak Dani, tapi kan gak mungkin Kakak bawa motor jauh abis jatuh terus Abang liat sepatunya cewek Abang bilang ke Dwi kalau itu lo malah gak percaya" ujar Jovan bercerita.
"Hehe, Iya itu motor Jihan yang bawa" ucap Jihan.
"Hm, kamu kenapa di sini gak masuk" tanya Jovan.
"Gak, tadi udah masuk tapi lagi rapat" ucap Jihan.
"Oh, udah makan" tanya Dwi sembari duduk di samping Jihan.
Jihan menatap Dwi aneh sedangkan Dwi malah tersenyum manis sembari membelai belai rambut Jihan. Walaupun Jihan tidak suka orang menyentuh rambutnya namun Jihan membiarkan Dwi melakukannya.
"Belum, kenapa tanya kan ikut Jihan kemana mana" ujar Jihan sinis.
"Iya maaf, kamu marah" tanya Dwi.
"Gak, kesel doang" ujar Jihan.
"Sekali lagi maaf, mau makan apa biar mas beliin" ujar Dwi menawarkan.
"Gak perlu" ucap Jihan dingin.
Dwi tidak gentar dengan perlakuan kasar Jihan, membuat Jovan yang melihatnya tidak tega dengan Dwi selalu berjuang mendapatkan hati Jihan walaupun perlakuan Jihan selalu kasar kepadanya bahkan sering Jihan melewati batasnya tapi Dwi selalu tersenyum menghadapinya.
"Sini pak" teriak Jihan saat seorang satpam terlihat mencari cari sesuatu.
"Ini Bu, ini kunci motornya dan ini uangnya" ujar pak satpam.
"Kok gak di pakai pak" tanya Jihan.
"Pedagangnya gak ada kembaliannya Bu" ujarnya.
"Oh, buat Bapak aja" ujar Jihan.
"Tapi Bu" ujarnya menolak.
"Udah anggap aja rezeki buat anak Bapak" ucap Jihan santai.
"Terima kasih Bu saya permisi" ujarnya pergi.
Jihan lalu membuka bungkus makanan yang tadi di bawa oleh pak satpam sedangkan Dwi melihatnya dengan tatapan aneh. Jihan lalu memakan makanannya Jihan yang melihat Dwi melihatnya intens membuat nafsu makannya hilang. Jihan lalu memasukkan makanannya ke mulut Dwi yang sedari tadi menganga.
"What" ujar Dwi.
"Makan aja, lagian dari tadi nganga terus" ujar Jihan tersenyum lalu melanjutkan makannya.
"Tapi" ujar Dwi.
"Enak" ucap Jovan yang tertawa renyah.
"Telen aja dulu baru komentar, gak jelas kalau ngomong masih makan gitu" ucap Jihan.
Dwi mematuhi omongan Jihan walaupun ekspresinya sangat lucu menurut Jihan. Jihan bahkan sampai menghentikan makannya hanya untuk menatap Dwi dan menertawainya.
"Puas" ujar Dwi setelah menelan makanannya.
"Puas puas, Bang liat gak tadi ekspresinya seharusnya Abang vidio biar dia juga liat" ucap Jihan.
"Iya bener lo, ulangi deh" ucap Jovan.
"Jahat kamu Ji, gak takut jadi istri durhaka" ujar Dwi.
"Biasanya di balik istri durhaka ada suami yang durjana" ujar Jihan enteng.
"Gila bener" ucap Dwi.
"Baru sadar" tanya Jihan.
"Kalian berdua bisa gak si gak usah berantem kalau ketemu, bercanda kek kalau perlu mesra mesra kek pengantin baru" ucap Papa Jihan yang baru saja datang.
"Pah ini kantor ya kali pake mesra mesraan" cibir Jihan.
"Berarti mau tuh Wi kalau di kamar" ujar Jovan kemudian tertawa.
"Gak lucu" ucap Jihan melenggang masuk ke dalam ruangan Papanya tak lupa dengan menenteng makanannya yang belum habis.
"Eh Ji, mana pesenan Abang" tanya Jovan.
__ADS_1
"Kamu pesen apa Bang" tanya Papa.
"Ada lah" ucap Jovan.
Jihan lalu mengambil tasnya dan membukanya, Jihan mengeluarkan sebuah laptop dan sebuah kotak merah di atas meja. Jovan lalu mengambilnya sedangkan Jihan tetap dengan makannya.
"Ji makan mulu" cibir Jovan.
"La terus mau ngapain" tanya Jihan.
"Pikirin tuh suami makan sendiri aja" ucap Jovan.
"Hm iyalah, mau" tanya Jihan kepada Dwi.
"Gak buat kamu aja habiskan" ucap Dwi lembut.
"Tuh kan Bang dia gak mau" ucap Jihan.
"Kamu galak si" cibir Jovan.
Jihan menghela nafasnya panjang lalu meletakkan makanannya dan mengambil laptop yang ada di meja.
"Ini laptopnya" ucap Jihan.
"Terima kasih" ucap Dwi.
"Sama sama, nih mau gak gue gak se jahat itu ngebiarin orang kelaparan" ucap Jihan.
"Udah habiskan aja" ucap Dwi.
Jihan lalu memaksa Dwi untuk membuka mulut walaupun dia sangat malas melakukannya namun karena Papa dan Abangnya yang menatapnya penuh amarah seperti singa yang akan menerkamnya hidup hidup.
"Lo mau gue di makan hidup hidup sama mereka" ucap Jihan menatap Papa dan Abangnya secara bergantian.
"Oke satu suap aja" ucap Dwi sembari tersenyum.
"Oke" ucap Jihan lalu memasukkan makanannya ke mulut Dwi satu ke mulutnya satu begitu seterusnya sampai makanan habis.
"Gitu baru good" ucap papa Suseno yang baru saja datang.
"Papa" ucap Dwi lalu Jihan membalikkan badannya dan mencium tangan Pak Suseno.
"Kok kumpul di sini semua si" tanya Jihan.
"Seperti yang kalian lihat seperti ini hubungan kita" ucap Jihan malas.
"Bang sebenarnya apa isi kotak itu Bang" tanya Jihan.
"Buka aja" ujar Jovan.
"Orang segelnya gitu banyak banget" ucap Jihan.
"Ini tuh isinya" ucap Jovan.
"What, selembar kertas kosong" ucap Jihan.
"Ya" ucap Jovan enteng.
"Gila lo Bang, gue di suruh cepet cepet ke sini cuma buat anter kertas kosong itu lo gila ya Bang tau kan besok Jihan harus ujian penentu masa depan Bang" ucap Jihan marah.
"Tau Abang, tapi itu Abang lakuin buat kamu sama Dwi kasian Dwi dari pagi gak fokus dia" ucap Jovan.
"Tapi gak gini kali caranya Bang, Jihan belain gak makan Jihan biarin Kak Dani sendiri bahkan Jihan gak mikirin nyawa Jihan buat ke sini tapi ternyata lo cuma kerjain gue Bang gila lo" ucap Jihan.
"Ji jangan ngomong gitu sama Abang" ucap Dwi mengenggam tangan Jihan.
"Lo bisa ngomong gitu lo gak tau perjuangan gue datang ke sini ternyata cuma buat mainan, jahat tau gak sekarang seharusnya gue tuh lagi belajar bareng ada les Jihan tinggal demi lo Bang tapi ini alasan lo gak masuk akal" ucap Jihan.
"Tenang aja lo bakal dapat bagian dalam hal ini" ucap Jovan.
"Uang gue udah terlalu banyak tanpa uang dari lo Bang, kalau lo mau ambil lagi semua uang lo juga bisa Jihan kasih sekarang" ucap Jihan.
"Mana" tanya Jovan.
Jihan lalu menghubungi seseorang dan menyuruhnya membawa uang dan berkas yang Jihan minta.
"Jihan gak nyangka Bang lo bener bener lo tau kan Bang perjalananan gak cepet butuh waktu berjam jam baru sampai kebayang kan capek Bang sendiri lagi" ucap Jihan duduk saat Dwi memeluknya.
"Jinak juga lo Ji sama Dwi" ucap Jovan.
Jihan lalu berdiri dan ingin kembali melawan omongan Jovan namun lagi lagi di halangi Dwi dengan memeluk pinggang Jihan erat membuat Jihan mengurungkan niatnya dan pergi dari ruangan tersebut.
"Ji kemana" ujar Dwi.
__ADS_1
"Biarin aja nanti juga balik lagi" ucap Jovan.
Ke dua orang tua yang ada di sana hanya menyaksikan tanpa ingin melerai, sebenarnya mereka ingin tau apa yang akan di lakukan keduanya namun Jihan memilih pergi namun beberapa saat kemudian Jihan kembali lagi membuat senyuman mengembang di bibir Dwi maupun Jovan.
"Tuh kan balik lagi" ucap Jovan.
Jihan tidak menghiraukan omongan Jovan Jihan hanya mengambil helm dan kunci motor yang ada di atas meja kemudian pergi lagi.
Dwi yang hendak mengejarnya di hentikan Papa Jihan tak berselang lama seseorang datang dengan pakaian serba hitam dan tanda pengenal dari perusahaan AYASTA GROUP.
"Cari siapa" tanya Dwi.
"Saya ke sini atas perintah bu Jihan, beliau menyuruh saya bertemu dengan tuan Jovan dan memberikan ini kepadanya" ucapnya.
"Apa ini" tanya Jovan.
"Itu tanda bukti transfer dari rekening atas nama tuan Jovan sejak dua tahun lalu beserta uang yang anda kirim kepada bu Jihan" ucapnya tanpa ekspresi.
"Jihan beneran, sebenarnya siapa kamu kenapa tau Jihan" ucap Jovan.
"Panggillah beliau dengan sopan, saya hanya menjalankan tugas" ucapnya.
"Lalu apa hubungan antara AYASTA GROUP dengan Jihan" tanya Dwi.
"Maaf itu hal pribadi silahkan tanya kepada beliau, saya permisi" ucapnya melenggang pergi.
Semua orang saling tatap karena tidak paham dengan keadaan tersebut sedangkan di tempat lain seorang remaja sedang uring uringan di tempat sebuah hiburan malam yang baru saja buka.
"Kenapa lo, lama gak main" ucap betender.
"Eh Kak Andi, gue baru datang ke sini lagi karena emang gue baru ke kota lagi" ucap Jihan.
Andi adalah seorang betender di sebuah klub malam, Saat Jihan dan teman temannya datang Andi yang selalu melayaninya, namun kali ini adalah kali ke dua Jihan meminta minuman kepada Andi setelah dua tahun yang lalu karena Jihan bukan tipe orang yang merusak tubuhnya dengan minuman.
"Kasih gue minum kak" lanjut Jihan.
"Beneran lo, lo kan gak pernah minum Ji" ucapnya.
"Gue pengin melayang sebentar, panggil semua temen temen gue Kak" ucap Jihan.
"Kenapa gak lo panggil sendiri si" ucap Andi.
"Gue gak punya no mereka lo aja lah suruh mereka datang cepet ke sini" ucap Jihan.
"Oke" ucap Andi.
Andi menghubungi teman teman Jihan dengan senang hati semua teman Jihan mengiyakan panggilan Jihan. Tak berselang lama kedua sahabatnya datang.
"Hai Ji kangen tau" ucap Sonia temannya.
"Hai" ucap Jihan.
"Lo minum Ji" tanya Jeni.
"Sedikit Doang" ucap Jihan.
"Pasti ada masalah nih" ucap Sonia.
"Kalian kenapa cuma berdua kemana yang datu" tanya Andi.
"Satu lagi gak bisa di ganggu lagi asik dia" ucap Sonia.
"Gila tuh anak, gak takut apa ya" ucap Jihan.
"Gak kali" ucap Jeni.
"Kalian bersenang senang lah gue yang traktir" ucap Jihan membuat ke dua sahabatnya berbinar.
"Kak lagi" ucap Jihan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus ya love you readers....