Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 92


__ADS_3

Dwi tersenyum karena Jihan tak meronta dia lalu mencium puncak kepala Jihan dan menyusulnya ke alam mimpi.


"Bangun" ujar Dwi lembut membangunkan Jihan.


Jihan terbangun dari tidurnya mulai mengerjapkan matanya. Pemandangan yang pertama dia lihat adalah wajah tampan suaminya. Jihan terpana namun dengan cepat Jihan menyadari tingkahnya kemudian duduk dengan tegak di ranjang membuat Dwi tersenyum.


"Udah rapi aja" ujar Jihan dengan suara khas bangun tidur.


"Iya katanya kamu mau pulang ke kota jadi gak" ujar Dwi.


"Jadi dong, tapi jam berapa sekarang" ucap Jihan.


"Jam tiga pagi" ujar Dwi.


"Kamu udah mandi" ujar Jihan.


"Udahlah, kan udah ganteng" ucap Dwi penuh percaya diri.


"Gak pake mandi juga ganteng kali" ucap Jihan lirih sembari berjalan ke kamar mandi.


Dwi hanya tersenyum melihat Jihan yang salah tingkah apa lagi memujinya walaupun hanya melalui sebuah gumaman.


Tiga puluh menit berlalu Jihan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Jihan lalu duduk di depan meja riasnya dan mengeringkan rambutnya.


"Kenapa liatin gitu" ujar Jihan.


"Kamu cantik" ujar Dwi.


"Emang" ujar Jihan santai sembari menyelesaikan mengeringkan rambutnya.


"Biar Jihan aja" ujar Jihan menata beberapa bajunya ke dalam tas besar.


"Biar mas bantu" ucap Dwi.


"Udah duduk aja lagian ini kan baju baju Jihan semua" ucap Jihan.


"Iya tapi banyak barang mas juga" ujar Dwi.


"Tapi kenapa barang barang kamu di satuin sama barang Jihan, tuh ada kotak bisa buat tempat kali di taruh sini bisa rusak" ucap Jihan mengeluarkan barang barang Dwi.


"Perhatian juga" ujar Dwi.


"Baru sadar" ujar Jihan.


"Biar Jihan yang bawa aja nanti kamu bawain tas Jihan aja hehe" ujar Jihan tersenyum.


"Iya iya" ujar Dwi mengacak acak rambut Jihan.


Jihan hanya melanjutkan berkemasnya membiarkan Dwi yang terus mengganggunya. Dwi bahkan memeluk dan sesekali mencium pipi Jihan.


"Udah ngapa" ujar Jihan.


"Lagian kamu buat ku candu" ucap Dwi kembali mencium pipi Jihan.


"Please udah dong gak baik kayak gini terutama buat jantung gue juga buat Jantung bekerja sama lah, jangan maraton" ujar Jihan dalam hati.


"Oke siap" ujar Jihan.


"Ya udah yuk bawa ke mobil" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan.


Dwi Jihan keluar bersama dengan beriringan. Jihan terkejut saat melihat banyaknya orang yang ada di rumahnya. Namun Jihan melanjutkan jalannya kemudian segera kembali ke dalam rumah.


"Rame banget" ucap Jihan.


"Iya dong kita kan sahabat yang baik hati" ucap Nisa.


"Makasih guys" ucap Jihan.


"Iya kita kan mau mengantar kepergian lo biar lo pergi dengan tenang " ucap Hana.


"Lo kira gue mati" ucap Jihan dengan suara keras membuat semua orang tertawa.


"Jangan keras keras bicaranya" ucap Dwi.

__ADS_1


"Hehe sorry lagian mereka nih" ucap Jihan lembut.


"Kita mau lihat senyum lo untuk terakhir kali" ucap Mona.


"Kalian akan sering melihat senyum gue" ucap Jihan.


"Gak Ji kita bakal jauh dan mungkin kita ketemu itupun kalau lo kesini" ucap Hana.


"Kalian lebih beruntung daripada gue" ucap Fero tiba tiba.


"Kenapa" tanya Hana Nisa Mona dan Jihan.


"Karena saat gue lihat senyum dia ternyata senyumnya buat orang lain dan lagi setiap hari gue harus lihat dia sebagai orang lain" ucap Fero perlahan Hana Nisa Mona dan Dwi memundurkan beberapa langkahnya bahkan Dwi menahan Putri yang akan menarik Fero.


"Ini semua takdir Ta, gue gak bisa mengubahnya kalaupun gue ubah jalan gak akan sama seperti yang kita inginkan jadi bahagialah di jalan lo gue juga akan bahagia di jalan gue" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Tapi berat Ay, berat" ucap Fero menunduk.


"Mana semangat lo, mana Ata yang gue kenal yang selalu ceria lo gak ingat apa pas gue tumbang lo semangatin gue lo ubah gue jadi lebih kuat terus ini apa Ta" ucap Jihan.


"Entahlah Ay, kenapa takdir buat lo jadi kakak gue kenapa gak sekalian lo jadi ibu gue" ujar Fero meneteskan air matanya.


"Gue juga sakit saat gue di surih nikah sama orang gak gue kenal, tapi gue gak yakin sama perasaan gue sama lo Ta maafin gue" ujar Jihan.


"Gak Ay, gue yang terlalu berharap sama lo gue terlalu yakin sama perasaan gue gue hanyut dalam kebaikan lo" ucap Fero.


"Maafin gue gak pernah balas perasaan lo gue akuin Ta ada sesuatu yang gue rasa tentang lo gue gak tau rasa apa itu gue cuma gak mau jauh sama lo gue takut lo pergi dari hidup gue gue nyaman dan merasa aman di samping lo " ucap Jihan.


"Apa kamu tidak sakit saat gue bersama teman wanita lain" ucap Fero.


"Maaf Ta" ucap Jihan.


"Sudah ku duga, ternyata gue salah" ucap Fero tersenyum.


"Maksud lo apa Ta" tanya Jihan menatap Fero.


"Maksud gue, gue rela kembali ke SMA buat lo gue rela terus berusah keras ke perguruan tinggi biar bisa sama sama lo, lo tau semua itu gak penting buat gue" ucap Fero mendekat.


"Maaf Ta, jalan kita sekarang berbeda mungkin ini jalan terakhir yang kita lewati bersama maaf kita ada masa depan masing masing" ucap Jihan meneteskan air matanya


Dwi dan Putri yang melihat membulatkan matanya mereka saling tatap kemudian berjalan ke arah Fero dan Jihan dengan mengepalkan tangannya.


"Kalian mau apa, biarin mereka kenalan dengan status baru mereka" ucap Mama Sri.


Jihan dan Fero melepaskan pelukannya saat mendengar keributan, namun saat Jihan akan berbalik Fero menariknya kemudian mencium kening Jihan membuat Jihan membulatkan matanya begitupun Dwi yang langsung melayangkan tinjunya.


"Kak kenapa istri lo juga salah" teriak Putri sembari menolong Fero.


Dwi juga menampar Jihan namun Jihan tidak melawan dia hanya membatu membuat Dwi semakin marah dan meninggalkannya.


"Lo gak hak pukul dia" teriak Fero saat Dwi berjalan begitu saja meninggalkan Jihan.


"Lalu apa hak lo cium dia" ucap Dwi berteriak saat meninggalkan Jihan.


"Udahlah lo gak bakal menang lawan Kakak gue" ucap Putri dengan amarah membara.


Saat Dwi sudah berjalan jauh dan Fero sudah di bawa pergi Jihan ambruk dengan derai air mata membuat semua sahabatnya iba.


"Ji" ucap Cika yang meihat Jihan ambruk saat baru saja datang.


"Cika" ucap Jihan menangis.


"Keluarkan kalau memang itu buat kamu lega" ucap Cika sembari merengkuh tubuh Jihan.


Jihan menangis dalam pelukan Cika membuat Cika ikut meneteskan air matanya sedangkan ke tiga sahabatnya sedang membujuk Dwi untuk memaafkan Jihan.


"Pak Dwi sebentar" ucap Mona.


"Apa" ujar Dwi dingin.


"Biarin Jihan menjelaskan semuanya" ucap Mona.


"Gak perlu" ujar Dwi pergi.


"Jangan lakukan kekeliruan untuk menyakiti seseorang" ujar Nisa berteriak.

__ADS_1


Saat melihat Dwi yang terus menjauh Hana Mona dan Nisa kembali ke tempat Jihan berada. Masih sama Jihan masih ada di tengah tengah lantai dengan semua anggota keluarga yang hanya menatapnya.


"Maaf Ji" ucap Hana.


"Iya gak apa apa, emang gue yang salah biarin aja emang gue yang gak tau diri" ucap Jihan.


"Tapi Ji" ucap Hana.


"Udahlah jangan khawatir, ini bakal sembuh nanti lagian udah biasa gue gini" ucap Jihan dengn senyuman mengembang.


"Ya udah udah mau pagi gue berangkat ya makasih kalian semua sahabat terbaik gue" ucap Jihan berpamitan kepada sahabatnya.


"Iya good luck" ucap Nisa.


"Thanks, good bye see you tumorrow" ucap Jihan bangun dan berjalan ke arah pintu utama.


"Mah Pah Kak Bang Put Ta dan semuanya gue minta maaf, gue duluan" ucap Jihan membungkukkan setengah tubuhnya.


"Vin gue ikut lo" ucap Jihan.


"Bagaimana dengan tuan muda Nona" tanya Kevin.


"Kamu gak lihat dia udah pergi, yuk ah" ucap Jihan.


"Oke, apa ada yang tertinggal" tanya Kevin.


"Banyak Vin, banyak yang gue tinggal gak bisa bawa pergi" ucap Jihan.


"Apa nona mungkin saya bisa bantu" ucap Kevin.


"Kenangan indah bersamamu" ucap Jihan lalu tertawa dan masuk ke dalam mobil meninggalkan Kevin yang sedang kebingungan.


"Woy mau berangkat gak" ucap Jihan.


"Iya iya" ujar Kevin lalu duduk di balik kemudi dan melajukaan mobilnya ke kota.


Sepanjang Jihan masuk ke dalam mobil dia hanya diam membuat Kevin iba pasalnya dia tidak pernah melihat bosnya di pukul begitu tanpa alasan dan ini juga pertama kalinya Jihan tidak melawan saat di pukul.


Sedangkan di kediaman Jihan di desa semua orang sedang duduk saling diam menatap Fero dengan tatapan tajam. Fero yang di tatap hanya diam tak berkomentar atau merasa risi dengan tatapan semua orang.


"Ikut gue" ujar Mona menarik Fero kasar di ikuti dengan jalan lunglai oleh Fero karena dia tau pasti dia akan di introgasi oleh sahabat sahabat Jihan.


"Fero sebenernya mau lo apa si mau hancurin masa depan Jihan" ucap Hana.


"Gak Na, gue reflek" ucap Fero.


"Mana ada reflek gitu, kalau peluk masih oke" ucap Nisa.


"Oke oke, gue mau buat hubungan dia sama suaminya retak gue cinta sama dia gue sayang sama dia" ucap Fero.


"Lo jahat Fer, lo gak kayak Fero yang kita kenal Fero yang selalu mendukung semua keputusan Jihan" ucap Mona.


"Lo tau sakit kalau liat dia mesra sama suaminya, ya memang gue akuin kalau dia lebih baik dari gue tapi kenapa harus jadi kakak gue gak bisa jadi orang lain aja" ucap Fero.


"Takdir" ucap Nisa.


"Iya gue tau, tapi nyesek tau " ucap Fero.


"Nyesek gue lebih nyesek liat dia di tampar tanpa bisa jelasin keadaan sama suaminya" ucap Hana.


"Sorry gue juga nyesel udah lakuin itu, gue gak nyangka suami dia bener bener melindungi apa yang dia punya gue juga sadar kalau dia gak ada rasa sama gue" ucap Fero.


"Maksud lo" ucap Nisa.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya ya....

__ADS_1


Maaf yang udah nunggu lama, lagi sibuk sama dunia nyata jadi maaf ya kak...


__ADS_2