
"Sayang, sayang" ujar Dwi menepuk pipi Jihan.
Dwi langsung menggendongnya ke kamar. Sedangkan Mama Anggun sedang menangis di depan Jovan Jovan hanya menatapnya karena dia juga punya banyak salah kepada Jihan.
Tiba tiba Ridwan datang dengan jalan sangat cepat bahkan tidak menyapa siapapun yang ada di sana Dia jalan ke arah kamar Dwi memvuat semua orang penasaran.
"Dokter Ridwan kenapa lagi' ujar Jovan berlari mengikuti Ridwan.
Jovan ikut masuk begitu saja saat Dwi membuka pintu dia melihat Jihan ada di atas tempat tidurnya.
"Wi" ujar Jovan.
"Sama kayak tadi siang habis debat sama mam langsung gitu" ujar Dwi dengan tubuh gemetar
Tak lama setelah itu banyak anggota keluarga yang ikut masuk ke dalam kamar. Ridwan selesai memeriksa Jihan dia langung mengatakan keadaan Jihan.
"Maaf semuanya tolong jangan buat Jihan menahannya lagi, Dia mengalami shok jantung tadi siang dan dia menahan rasa sakutnya sampai sekarang sebenarnya dia terlalu tertekan dengan suatu keadaan dan dia tidak bisa menceritakannya karena suatu hal, dan yang saya tau dia berusaha membuat orang di sekelilingnya tersenyum dan lupa kalau dia juga butuh di buat tersenyum" ujar Ridwan.
"Jadi selama ini dia sakit" ujar Mama Anggun.
"Iya dan saya harap anda bisa menerimanya, dan berikan kasih sayang yang dia inginkan" ujar Ridwan.
"Saya akan mencobanya dok" ujar Mama Anggun menangis di samping Jihan.
"Kamu kenapa gak jaga dia" ujar Fero memulai debat.
"Saya gak tau kalau keadaannya separah itu" ujar Dwi
"Saya akan mengambilnya kembali" ujar Fero.
"Jangan pernah menyentuhnya atau kamu akan tau akibatnya" ujar Dwi.
"Saya tidak peduli, karena kamu berjanji untuk membuatnya tersenyum bukan menangis" ujar Fero.
"Lalu bagaiman dengan kehdiran kamu selama ini kenapa tidak bisa menyembuhkannya" ujar Dwi.
Fero langsung melayangkan tinjunya membuat Dwi tersungkur.
"Kalian Jihan sakit kenapa malah ribut kamu juga Fero kenapa marah gitu" ujar Putri.
"Karena saya mencintainya" ujar Fero membuat semua orang bengong.
"Kamu mancintai orang yang salah" ujar Dwi membalas tinju Fero.
"Kamu yang merebutnya dari saya" ujar Fero penuh amarah dan saling berkelahi.
Semua orang berusaha memisahkan bahkan Jovan terkena pukulan Dwi. Namun mereka berdua tidak peduli bahkan semua orang tak peduli lagi dengan Jihan malah sibuk memisahkan Fero dan Dwi.
Jihan terbangun dari pingsan dengan kepala pusing. Jihan duduk sendiri kemudian bingung karena semua orang berteriak.
Jihan berjalan dan melihat Fero dan Dwi sedang beradu otot Jihan membulatkan matanya dan melupakan sakitnya.
Jihan kaget saat melihat wajah Dwi babak belur begitupun Fero. Saat mereka tak juga berhenti Jihan berjalan ke arah mereka dan menjewer ke duanya.
"Au au" ujqr fero dan Dwi.
"Mau lagi" ujar Jihan marah.
"Yaya gak gak" ujar Dwi dan Fero bersama.
"Ay kamu" ujar Fero.
"Iya bahkan saya bangun gak ada yang sadar karena kalian" ujar Jihan melepaskan jewerannya.
Namun bukannya selesai Dwi dan Fero kembali melayangkan tinjunya. Jihan memeluk Dwi saat Fero akan melayangkan tinjunya lagi di wajah Dwi.
"Ay" ujar Fero.
"Kenapa dia suami gue, gue sadar gue suka sama lo gue sayang sama lo tapi gue rasa itu cuma rasa takut kehilangan lo bukan perasaan gue yang sebenarnya, jadi mulai sekarang cintai istrimu karena ini jalan yang terbaik jangan mencari jalan untuk keluar atau mengeluarkan gue dari status istri orang" ujar Jihan membuat Fero menatapnya.
"Tap Ay gue cinta sama lo" ujar Fero membuat para orang tua saling tatap.
"Kenapa kenapa lo baru bilang sekarang saat gue gak ada pilihan jawaban" ujar Jihan.
"Karena gue takut lo pergi" ujar Fero.
"Oke sekarang gue jawab pertanyaan lo selama ini, gue sayang sama lo gue nyaman sama lo dan gue takut kehilangan lo tapi kalau sama mas Dwi gue gak tau pasti perasaan gue yang jelas gue gak mau dia tersentuh wanita lain sedikit pun dan gue gak rela saat dia menyentuh orang lain bahkan saat dia menyentuh gue ada rasa bahagia di hati gue gue bahkan bisa salang tingkah di depannya apa itu cukup untuk menjawabnya" ujar Jihan.
"Gue tau Ay, sekarang gue bisa pergi dari hidup lo" ujar Fero pergi.
"Maaf" ujar Jihan membuat Fero hanya tersenyum sedangkan Putri mengikuti Fero.
__ADS_1
"Ji" ujar Dwi.
"Kenapa, gak sekalian aja ancurin tuh muka sekalian aja biar gue gak tau itu kamu" ujar Jihan marah.
"Maaf" ujar Dwi seperti anak kecil.
"Emang dengan maaf wajah kamu balik ganteng lagi, gak bakal" ujar Jihan berjalan ke meja riasnya.
"Cie... gantengnya ilang" ledek mama Anggun.
"Hahaha biarin mereka jeng" ujar mama Sri.
"Oke, Jihan mama minta maaf selama ini mama gak pernah perhatiin kamu" ujar Mama Anggun memeluk Jihan dari belakang.
"Mah please beri waktu Jihan menata hati Jihan lagi " ujar Jihan dingin.
"Oke, mama pergi ya" ujar mama Anggun pergi dari kamar Jihan.
Jihan tidak menjawab tapi air mqtanya jqtuh begitu saja saat pintu kakar tertutup Dwi yang tau perasaan Jihan langsung memeluk Jihan dari belakang.
"Sayang perih" ujar Dwi
"Siapa suruh berantem gitu" ujar Jihan mengambil kotak obat.
"Dia bilang mencintai kamu ya mas gak terima lah" ujar Dwi membuat Jihan membalikkan badannya masih dalam pelukan Dwi.
"Lalu" tanya Jihan.
"Dia juga bilang mau ambil kamu dari saya" ujar Dwi.
"Terus" ujwr Jihan sembari membersihkan luka Dwi.
"Dia juga bilang kalau mas merebut kamu dari dia" ujar Dwi.
"Tapi emang iya kan" ujar Jihan.
"Iya si, eh kok kamu bela dia si" ujar Dwi hanya di sambut senyuman manis Jihan.
"sayang Kiss" ujar Dwi.
"Gak mau, lagi luka juga" ujar Jihan
"Biar sembuh sayang" ujar Dwi mendekatkan wajahnya.
"Please" ujar Dwi membuat Jihan mengangguk..
Dengan senang hati Dwi menarik tengkuk Jihan dan mulai beraksi. Jihan hanya memejamkan matanya sedangkan Dwi bermain liar sembari senyum senyum.
"Udah" ujar Jihan menepuk dada Dwi
"Makasih" ujar Dwi.
"Hm sekarang bersihkan luka kamu" ujar Jihan.
"Sayang i Love You" ujar Dwi hanya mendapat senyuman Jihan.
Jihan terus mengobati luka Dwi dengan sangat hati hati.
"Mas maaf Jihan udah repotin kamu terus" ujar Jihan.
"Mas gak rasa di repotin kok, malah seneng sering gendong kamu" ujar Dwi.
"Seneng gitu Jihan sakit" ujar Jihan.
"Gak si cuma seneng gendong kamu" ujar Dwi.
"Sayang kencan yuk" ujar Dwi membuat Jihan menatapnya.
"Sibuk" jawab singkat Jihan.
"Kencan gak harus pergi sekarang juga bisa kita halal" ujar Dwi
"Ya tapi Jihan sibuk" ujar Jihan.
"Terserah deh yang penting kamusama mas untuk hari ini" ujar Dwi memeluk Jihan.
"Seneng banget peluk" ujar Jihan membuat Dwi mengeratkan pelukannya.
"Nyaman" ujar Dwi membuat Jihan membalas pelukan Dwi hangat membuat Dwi tersenyum.
Tok...tok...tok....
__ADS_1
Pintu kamar Dwi di ketuk sebenarnya pintu itu tidak tertutup sempurna jadi siapapun bisa melihat apa yang sedang terjadi.
"Siapa ganggu aja" ujar Dwi justru mengeratkan pelukannya
"Kak kalau mau mesra mesraan tutup pintunya yang rapat dong" teriak Putri dari luar.
"Biarin aja kamu kenapa ganggu pergi kamu" ujar Dwi.
"Ye gue ke sini juga karena manq yang suruh, makan malam udah siap suruh turun" ujar Putri.
"Ya bentar lagi" ujar Dwi masih mameluk Jihan.
Putri hanya menggelengkan kepalanya dan pergi dia tidak sadar kalau sedari tadi Fero juga ada di belakangnya bersembungi dia melihat semua yang Jihan dan Dwi lakukan.
"Udah dong laper" ujar Jihan.
"Eh itu iya iya yuk" ujar Dwi melepaskan pelukannya berganti menarik tangan Jihan.
"Apa perlu kayak gini" ujar Jihan karena Dwi memaksa Jihan untuk menggandeng lengannya.
"Perlu dong kita kan lagi kencan" ujar Dwi bahagia.
"Oke khusus hari ini Jihan ikuti semua kemauanmu" ujar Jihan.
"Oke gak masalah" ujar Dwi dengan raut pemuh bahagia.
"Apapun akan ku lakukan untuk mendapatkan hatimu Ji" ujar Dwi dalam hati.
Saat mereka berdua menuruni anak tangga semua orang tersenyum bahagia.
"Sayang apa perlu ikut makan di sini mama bisa mengantarnya" ujar Mama Anggun.
"Bukannya tadi manggil buat makan bersama" ujqr Jihan masih dingin.
"Iya juga, kamu mau makan yang mana" tanya Mama Anggun.
"Mas mau makan apa" ujar Jihan cuek pada mamanya membuat mamanya menarik nafas panjang.
"Sayang apa harus kamu seperti itu" ujar Dwi berbisik
"Kalau kamu ingin Jihan menuruti semua keinginann kamu maka ikuti keinginan Jihan" ujar Jihan membuat Dwi manggut manggut.
Jihan mengambil beberapa lauk di piring Dwi. Namun saat Jihan akan mengambilnya sendiri Dwi menahannya Jihan tau maksud dan hanya mengangguk.
"Ji kapan kasih cucu" tanya Papa Jihan.
"Suatu hari nanti" ujar Jihan.
"Iya apa belum proses lagi" tanyanya lagi.
"Pah papa tau kan kita harus menunggu sampai Jihan bersih lagi" ujar Jihan.
"Iya pah lagian mereka punya kesempatan buat saling kenal" ujar Mama Anggun.
"Ya karena jika Jihan sudah punya anak gak bakal bisa jadi brand ambasadornya lagi" ujar Jihan dingin.
"Jihan" ujar Jovan.
"Oke oke" ujar Jihan langsung diam.
"Berhubung ini makan besar kita bisa saling cerita saya minta maaf atas nama putra saya Fero yang buat keributan yang masih gak bisa terima keadaan ini" ujar mama Fero.
"Ya siapa yang bisa terima ini dengan cepat semua butuh proses harus ada yang di korbankan" ujar Jihan.
"Ay jangan buat gue bingung dengan jawaban jawaban lo" ujar Fero.
"Ta pahami keadaan kalau mereka bisa pura pura bahagia kenapa gue gak, kalau mereka bisa pura pura rela kenapa gue gak" ujar Jihan.
"Ay berjanjilah kalau lo bakal bahagia" ujar Fero.
"Kebahagiaan gue udah lo renggut" ujar Jihan penuh tekanan membuat semua orang diam.
.
.
.
.
Janagan lupa dukungannya guys....
__ADS_1
Eps kali ini muter muter ya...ðŸ¤