Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Obat Gila


__ADS_3

"Kak Julio lo bawa obat gak" tanya Jihan.


"Obat apa" tanya Julio.


"Obat hilangin cakaran harimau" ucap Jihan membuat Ridwan tersenyum lain dengan Dwi yang berada di meja lain dengan expresi sangat kesal karena Jihan sangat dekat dengan ke dua laki laki di depannya.


"Gak lupa, kalau obat gila gue punya" ucap Julio santai.


"Ye udah cukup gila buat hari ini" ucap Jihan.


"Saya bawa, nih kebetulan Julio bilang tadi kalau kalian main cakar" ucap Ridwan memberikan obat oles.


"Thanks ka" ucap Jihan di angguki Ridwan yang langsung menyantap makanan di depannya.


Jihan langsung berjalan duduk ke tempat Dwi yang sedang manyun. Jihan duduk dengan keras lalu menyodorkan obat yang dia minta dari Ridwan Dwi hanya menatap.


"Kalau gak mau ya udah bisa suruh yang lain" ujar Jihan hendak berdiri namun di tahan Dwi.


Dwi mengambil obat yang ada di tangan Dwi dan mulai mengoleskannya di tempat tempat yang ada cakarannya. Dwi sangat lembut saat mengoleskannya sembari sedikit memijat.


Tak lama para pengganggu datang membuat Diw sedikit tak nyaman.


"Hai Ji lo tau gak lo tau gak" ujar Gabby girang yang langsung duduk di antara Dwi dan Jihan.


"Ya gak lah orang lo baru sampai, dan satu lagi gak ada kursi lain apa pengap nih" ujar Jihan.


"Aduh maaf ganggu ya" ucap Gabby.


"Ya banget" ucap Dwi dengan mata elangnya membuat Gabby tersenyum kaku.


"Sorry sorry, Ji mata suami lo terlalu mengintimidasi" ucap Gabby jujur.


"Gak sebaiknya lo bilang tatapan suami lo kayak mau makan gue hidup hidup" ucap Jihan.


"Nah itu maksud gue" ucap Gabby.


"Woi lo gangguin Jihan" ujar Jane yang datang bersama Sonia.


"Eh Ji bibir lo, lo main kasar ya" tuduh Sonia.


"Main kasar apaan nyoba juga gak" ucap Dwi.


"Terus itu sampai luka jangan jangan KDRT" ucap Jane di angguki Sonia.


"Gue sayang sama dia gak mungkin kan gue pukul dia" ucap Dwi.


"Eh emang KDRT mau gitu obatin" ucap Jihan.


"Bener juga, buktikan kalau kamu sayang sama dia di depan kita biar kita lega" ucap Gabby.


"Emang sayang bisa di buktikan bukannya hanya bisa dengan tindakan" ucap Jihan.


"Ya udah pakai tindakan" ucap Gabby.


Dwi tersenyum semringah sedangkan Jihan memundurkan kepalanya sembari menggeleng tau apa yang ada di otak suaminya. Dwi menarik tengkuk Jihan dan benar Dwi mulai melu**t bibir Jihan dengan lembut membuat Jihan menutup matanya entah karena menikmatinya atau karena malu.


"Wah, banyak yang patah hati nih" ledek Randy.


Dwi tidak menghiraukannya dia justru bermain dengan elegan membuat semua orang tak ingin menatapnya lagi.


"Udah kali gak malu tuh di liatin orang, lanjut di kamar nanti" ucap Jovan


Jihan menepuk dada Dwi karena mulai kehabisan nafas. Dwi melepaskannya kemudian mengusapnya dengan jarinya dan menciumnya lagi sekilas. Jihan sangat malu bahkan wajahnya sangat merah dia menyembunyikan wajahnya di lengan Dwi.


"Bikin malu aja" ucap Jihan lirih.


"Mereka yang maksa" ucap Dwi.


"Bilang aja kesempatan" ucap Jihan.


"Kapan lagi bisa main di depan banyak orang" ujar Dwi.


"Ji gue mau tanya boleh udah selesaikan" tanya Gabby.


"Kenapa tanya aja gue denger kok" ucap Jihan masih bersembunyi.


"Gue di lamar Benni" ucap Gabby membuat Jihan terperanjat dan berdiri.


"Lo serius, bukannya kalian gak pernah dapat restu" ucap Jihan.

__ADS_1


"Serius" ucap Gabby.


"Gimana kalian dapat restu atau jangan jangan lo udah hamidun" ucap Jihan penuh telisik.


"Sembarangan lo, ternyata kita tuh di jodohkan dari kecil tapi sengaja mereka gak kasih kasih restu biar kita tuh berjuang buat dapat restu mereka" ucap Gabby.


"Wah beruntung banget lo di jodohin sama seseorang tapi ternyata orang itu pacar lo" ucap Jihan memeluk sahabatnya itu.


"Banget dong Ji" ujar Gabby menyambut pelukan Jihan.


"Jadi maksud kamu kamu gak beruntung gitu gak seneng di jodohin sama mas" tanya Dwi.


"Ya seneng lah orang banyak duit" ujar Jihan membuat Dwi kembali menciumnya.


"Gak papa kalaupun kamu cuma suka duit gue" ucap Dwi.


"Iz, pergi sana main nyosor aja" ujar Jihan di angguki Dwi yang mengganti duduknya tepat di depan Jovan.


"Ji pas kamu mau nikah nih apa doa yang selalu lo ucapin" tanya Gabby duduk di samping Jihan.


"Doa gue yakin lo " tanyw Jihan


"Yakin lah" ucap Gabby.


"Doa gue gini " Tuhan buatlah acara ini banyak masalah dan kendala karena sebenarnya gue belum mau nikah apa lagi sama orang yang gak gue kenal apalagi gue di jadiin tebusan" itu doa gue" ujar Jihan membuat semua orang bengong.


Pletakkkkkk....


Sebuah sentilan mendarat di kening Jihan bukan dari Dwi ataupun Jovan melainkan Julio sang asisten.


"Au sakit tau" ucap Jihan mengelus kepalanya.


"Lagian doa lo gitu kalau beneran ada bahaya yang dahsyat mau apa lo" ujar Julio.


"Ya apapun itu yang oenting gue gagal nikah" ucap Jihan.


"Dasar, oh ya sekalian gue mau pamit jam makan siang udah abis" ucap Julio.


"Iya ati ati lo jangan godain Ani" ujar Jihan.


"Beres mana sanggup bertarung sama Kevin bisa bisa baru mau melangkan udah kena santet gue" ujar Julio.


"Padan muka" ucap Jihan membuat Julio akan melencarkan sentilannya namun dia hanya berbohong.


"Gak waspada aja, oh ya kak nanti beliin amplop ya" ucap Jihan.


"Amplop putih atau coklat" tanya Julio.


"Terserah suka suka kamu, mau gambar anime juga gak papa" ucap Jihan.


"Gimana kalau buat sendiri pakai buku tulis" ucap Julio.


"Boleh kalau lo mau, tapi buat banyak ya kira kira dua ratusan" ucap Jihan.


"Gak papa asal dapat bonus" ucap Julio.


"Gak ada, bonus lo kan udah gue transfer berkala" ucap Jihan.


"Woi kapan pulangnya lo" ucap Dwi.


"Nanti lah" ucap Julio.


"Nyebelin lo ya" ujar Dwi.


"Kaliaj bisa berantem juga ya, lanjutin biar gue liat siapa tau bisa dapat kemistri bagus " ucap Jihan


Seketika Dwi dan Julio saling tatap dan membuang sembarang tatapan mereka secara bersama. Mereka berjalan saling membelakangi.


"Sayang kamu kenapa si deket banget sama dia" tanya Dwi


"Dia lagi jadi temen kalau lagi jadi asisten kan gak deket kayak gitu" ucap Jihan.


Pletakkkkk


"Au Abang apa apaan si Bang sakit tau" ujar Jihan.


"Kenapa marah tadi Julio gak di marahin" ucap Jovan.


"Tadi emang gue yang salah orang doa gue bukan kebaikan la kalau Abang gak ada alasan buat sentil Jihan" ucap Jihan.

__ADS_1


"Oh... ya udah kalau gitu sentilan Abang kamu anggap aja karena gak ada sopan sopannya sama suami" ucap Jovan.


"Guys gue duluan ya" ujar Raka.


"Kemana lo" tanya Randy.


"Kerja lah, gue beda sama kalian gak kerja bisa abis" ucap Raka.


"Makanya Bang jadi tuan muda dong biar gak kerja mulu" ucap Nisa.


"Ya pasti suatu saat Abang jadi tuan muda oke, semangat kerjanya ya" ujar Raka mengacak rambut Nisa.


"Oke Bang, kita sama sama berjuang" ucap Nisa.


Raka hanya tersenyum, sedangkan Nisa melambaikan tangannya sampai Raka tidak lagi terlihat.


"Nis gak selamanya seorang tuan atau nona muda tuh gak kerja mereka gak cuma habisin duit tapi merek juga di tuntut untuk menghasilkan duit lebih banyak dari yang mereka keluarkan kalau gak percaya tanya sama mereka kebetulan mereka semua tuan muda" ujar Jihan sembari menepuk bahu Nisa


"Huh, andai gue terlahir kayak lo Ji" ucap Nisa.


"Gue justru yang berharap lahir kayak lo, gue gak harus rasain kesepian di tinggal ortu kerja gak harus radain di culik dan gak harus rasain beban beban berat sendiri karena gue bisa ceritain semuanya sama mama papa gue gue iri sama lo Nis" ujar Jihan.


"Jihan" ucap Nisa menangis.


Nisa menangis sesegukan membuat Jihan memeluknya. Nisa membalas pelukan Jihan dengan menahan air mata yang akan segera keluar.


"Jangan ingin menjadi orang lain, jadilah diri sendiri nikmati semua proses lo karena proses adalah penentu masa depan gue yakin lo sukses suatu hari nanti gue jamin itu tapi yang gue minta jangan pernah lupain orang yang pernah ada dalam susah lo jangan tamak dalam rezeki lo ada hak orang lain jangan takut untuk memberi" ucap Jihan menatap lekat Nisa.


"Gue bakal ingat itu Ji, kalau gue salah jalan bimbing gue tarik gue bahkan kalau perlu pukul gue" ucap Nisa.


"Oke sekarang bantu saya merapikan itu bisa" tanya Jihan menunjuk beberapa meja dan kursi yang koyak karena perkelahian tadi.


"Siap bos" ucap Nisa semangat.


Jihan tersenyum melihat kepergian Nisa. Dwi mendekati Jihan dan menepuk nepuk bahu Jihan membuat Jihan menyandarkan kepalanya di bahunya.


Lama Jihan dalam posisinya membuat Jovan mengambil beberapa potret kedekatan adiknya. Tak lama Jihan sadar lalu mendorong Dwi dan berjalan cepat.


"Bos" panggil Riko.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Ini laporan keuangan bulan ini Bos, saya pikir ini bisa untuk merenovasi ulang" ucap Riko.


"Oke saya bawa dan pelajari ya, untuk sementara jangan kasih orang makan di tempat tapi harus di bawa pulang ya" ucap Jihan.


"Siap Bos" ucap Riko.


"Terima kasih" ujar Jihan.


Riko berjalan pergi sedangkan Jihan berjalan ke arah meja dimana semua orang sedang menikmati disert yang di sajika.


"Ta ini gimana kayaknya hasil bulan ini gak meyakinkan karena kejadian tadi" ujar Jihan kepada Fero.


"Ya mau gimana lagi Ay, gak selamanya jalan kita mulus nanti kita benerin ini setelah anak anak terima upah mereka" ucap Fero.


"Bener kamu, terlau anak baik di sini" ucap Jihan menatap sekeliling.


"Hm, kayaknya cukup kalau gak kita pakai uang lain dulu" ucap Fero.


"Oke" ucap Jihan.


"Riko, ini saya bawa ya oh ya buat hari ini kalian beresin ini aja sama pelayanan kayak yang tadi saya bilang" ucap Jihan.


"Siap bos" ujar Riko memberi hormat.


"Oke guys, kalian hari ini gak perlu cuci piring karena pelayanan akan di alihkan tidak boleh makan di tempat untuk sememtara waktu dan buat yang lagi beresin kaca hati hati ya dan semangat" ucap Jihan kepada anak buahmya di sambut riang anak buahnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya guys....


__ADS_2