Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
1M


__ADS_3

"Sampai bu bos silahkan" ucap Kevin.


"Terima kasih" ucap Jihan.


Jihan dan Kevin sampai di perusahaan AS Corporate tempat Jihan akan menghadiri sebuah meeting. Saat Jihan datang beberapa orang berpakaian serba hitam menyambutnya dan mengantarnya ke ruang meeting Jihan dan Kevin berjalan ke ruang meeting yang telah di tentukan pihak perusahaan.


"Silahkan" ucap salah seorang body guard membuka pintu ruang meeting.


"Terima kasih" ucap Jihan masuk.


Jihan sempat terkejut saat melihat beberapa orang yang dia kenal ada di dalam namun dengan cepat Jihan mengganti ekspresinya menjadi ekspresi santai. Banyak orang yang menatapnya tanpa berkedip membuatnya sedikit risih dengan mereka dengan cepat Kevin mengintruksikan untuk memulai meeting.


"Jihan" ucap Dwi dan Jovan bersama.


"Maaf saya terlambat"ucap Jihan berusaha santai.


"Tidak apa silahkan duduk" ucap seseorang yang sedang memimpin meeting.


"Baiklah karena semua sudah hadir saya sebagai CEO dari AS Corporate saya akan mengumumkan bahwa saya akan memberikan tanggung jawab perusahaan ini kepada anak semata wayang saya Zian Ahmad saya harap kalian bisa membatunya dalam menjalankan tanggung jawabnya" ucap pak Ahmad Suseno pimpinan AS Corporate.


"Terima kasih semua saya harap kita bisa bekerja sama" ucap Zian.


Semua orang kembali fokus kepada meeting melupakan sejenak keterkejutannya atas kehadiran Jihan apalagi posisi Jihan sebagai CEO AYASTA GROUP. berselang beberapa jam meeting selesai Jihan langsung keluar dari tempat meeting karena dia tidak tau harus berkata apa kepada semua orang Jihan bingung harus menjelaskannya.


"Nona Jihan" panggil seseorang.


"Ya" ucap Jihan ramah.


" Maaf Nona Bos saya ingin bertemu dengan anda" ucapnya.


"Gimana Vin masih ada waktu gak" tanya Jihan.


"Masih satu jam lagi bu bos" ucap Kevin.


"Oke, kita pergi" ucap Jihan.


Jihan pergi menemui orang yang sedang menunggunya. Jihan berjalan cepat dan penuh wibawa mengikuti orang yang tadi menegurnya sampai Jihan di depan sebuah ruangan.


Tok.... tok... tok...


"Masuk" ucap dari dalam.


"Silahkan Nona" ucapnya membuka pintu.


Jihan masuk lalu terperanjat saat melihat Jovan Dwi Zian sedang berkumpul di sana. Jihan bingung dengan keadaan begitupun Dwi.


"Eh Jihan, silahkan duduk Ji" ucap Zian.


"Terima kasih, Vin duduk" ucap Jihan lalu berjalan ke arah Dwi dan Jovan yang sedari tadi melihatnya tanpa berkedip Jihan lalu mencium tangan Jovan dan Dwi.


"Kenapa manyun" tanya Jihan kepada Dwi.


"Tuh siapa" tanya Dwi.


"Dia, Kevin asisten Jihan kenapa cemburu ya" ledek Jihan.


"Iya lah, kenapa si asistennya harus cowok" ujar Dwi


"Kalau cewek bisa bisa lo seneng ke kantor gue" ucap Jihan santai.


"Kalian udah saling kenal" tanya Zian.


"Seperti yang lo liat" ucap Dwi jutek.


"Sabar bro" ucap Zian.


"Abang kesini sama mas Dwi doang gak bawa asisten" tanya Jihan.


"Bawa mereka lagi ada di ruang sebelah kumpul para asisten" ucap Jovan.


"Kalau gitu Kevin bisa gabung dong sama mereka" ujar Jihan.


"Bisa, Zian suruh orang kamu buat ajak Kevin gabung sama asisten kita" ujar Jovan

__ADS_1


"Vin kamu ikut dia ya gabung sama asisten Abang sama Mas Dwi, kamu kenal.kok sama asistennya Mas Dwi" ucap Jihan memberikan isyarat.


"Siap bu Bos" ucap Kevin.


"Oke" ucap Zian lalu memberikan isyarat kepada asistennya untuk membawa Kevin ke ruangan sebelah.


Setelah Kevin dan asisten Zian pergi dari ruangan semua kembali terdiam dengan pikiran masing masing. Lain dengan Jihan yang terlihat santai duduk di samping Dwi.


"Kenapa diam bukannya anda ingin mengatakan sesuatu kepada saya sampai anda memanggil saya tanpa membuat janji terlebih dahulu" ucap Jihan.


"Eh iya maaf Nona Jihan, saya hanya ingin berbicara sama anda" ucap Zian jujur.


"Tak berkelas, lagian kenapa and ingin berbicara dengan saya bukankah anda sangat membenci saya karena ayah anda lebih memilih saya untuk memberikan modal untuk membangun sebuah perusahaan dibanding anda" ucap Jihan tegas.


"Apa maksud anda Nona, bukankah kita baru bertemu sekarang" ucap Zian bingung.


"Benarkah bukannya anda selalu mengirim mata mata untuk mensabotase perusahaan saya" ucap Jihan.


"Mana mungkin, atau jangan jangan kamu" ucap Zian menelisik.


"Bagaimana dengan ini" ucap Jihan mengganti model tatanan rambutnya menjadi sedemikian rupa.


"Anda belum mengenali saya, mas Dwi Jihan pinjam kacamatanya ya" ujar Jihan melepas kaca mata yang sedang Dwi pakai dan memakainya.


"Si cupu" ucap Zian saat melihat Jihan memakai kaca mata.


"Kenapa si cupu si ingetnya, nyebelin" ucap Jihan.


"Maksud lo apa Zian" tanya Dwi.


"Gini Bang, dia tuh cewek yang selama ini gue ceritain sama lo Bang dia tuh yang udah goda ayah biar di kasih modal" ucap Zian.


"Beneran Ji" ucap Dwi menatapnya.


"Gak semua salah, kalau gak percaya tanya aja sama om sama papa apa alasan mereka lebih pilih Jihan untuk kasih modal usaha di banding dia"ucap Jihan santai.


"Oke kita tunggu mereka datang" ucap Dwi.


"Hm, eh Bang cantik gak Jihan pakai ini" ucap Jihan berpose di depan Jovan dengan kaca mata Dwi membuat Dwi dan Jovan tersenyum.


"Terima kasih Abang, Bang ngomong ngomong Abang percaya gak sama Jihan" ucap Jihan sembari memeluk Jovan.


"Gak, tapi Abang maunya kamu jelasin nanti sebelum kamu pulang Abang gak mau marahin kamu di depan orang lain" ucap Jovan.


"Makasih Bang, udah ngertiin Jihan" ucap Jihan mengeratkan pelukannya.


"Kamu masih jadi simpanan om Seno" tanya Zian tiba tiba.


"Masih lah, orang kasih Jihan sesuatu yang buat Jihan gak bisa pergi dari dia" ucap Jihan santai.


"Dasar wanita murahan" ucap Zian memancing emosi Dwi namun dengan cepat Jihan memeluk Dwi untuk menghentikannya.


"Udah jangan ladeni dia, gue udah tau sifat dia kok santai aja" ucap Jihan melepas pelukannya kepada Dwi.


"Sekarang lo deketin dia belum puas lo deketin om Seno" ucap Zian.


"Kenapa lo gak terima gitu" ucap Jihan tegas.


"Cewek penggoda aja lagak lo" ujar Zian.


"Lo dari tadi ngehina gue mulu, lo gak sadar apa dari tadi tatapan lo aja udah ngebuktiin kalau lo juga terpesona sama gue lagak lo hina gue" ujar Jihan mulai emosi.


"Hah, emang apa yang udah om Seno kasih sama lo" tanya Zian.


"Banyak lah, dia bahkan kasih sesuatu yang sebenarnya agak kecewa tapi ya sudahlah lumayan juga" ucap Jihan menatap Dwi membuat Dwi semakin penasaran.


"Jangan jangan lo hamil anaknya om ya" tanya Zian membuat Dwi membulatkan matanya.


"Hahaha hamil, gak pakai hamil gue udah dapet aset paling berharga" ucap Jihan.


"Oke lo gak hamil tapi punya anak om Agung kan" ujar Zian tersenyum licik.


"Iya, Jihan di kasih anak sama om" ucap Jihan santai membuat Dwi dan Jovan membulatkan matanya.

__ADS_1


"Apa ini alasan kamu gak mau di sentuh" tanya Dwi serius.


"Mas cermati omongan Jihan" ucap Jihan santai.


Dwi mulai mencerna omongan Jihan tiba tiba papa Suseno datang Jihan lalu berlari memeluk Papa Suseno membuat Dwi semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa Ji apa mereka membuatmu sulit" ujar Papa Suseno yang baru saja datang.


"Hm" ujar Jihan.


"Langsung peluk emang berapa bayaran yang om Seno kasih semalam" tanya Zian.


"Kenapa mau negosiasi" ujar Jihan.


"Dasar wanita murahan" ucap Zian.


"Zian" bentak papa Seno.


"Udah lah pah, kita ikuti permainannya" ucap Jihan lirih.


"Oke dari tadi lo bilang gue wanita murahan, sekarang gue mau jual mahal sama lo" ucap Jihan tersenyum menggoda.


"Berapa mau lo" tanya Zian sombong.


"Berapa lo mampu bayar gue" tantang Jihan.


"Seratus juta" ucap Zian membuat Dwi marah.


"Buat apa seratus juta kalau gue bisa dapat lebih dari itu" ucap Jihan membuat Dwi melongo.


"Jihan" bentak Dwi sembari menghampiri Jihan.


Jihan tersentak lalu memejamkan matanya menahan sesuatu yang akan mengalir. Jihan lalu membuka matanya dan ternyata Dwi sudah di depannya. Dwi terus maju lalu memeluk Jihan dengan erat membuat Jihan bingung.


"Kenapa" tanya Jihan saat Dwi melepas pelukannya.


Dwi tidak menjawab Dwi justru menangis di depan Jihan membuat Jihan tambah bingung dengan Dwi. Namun Dwi lalu memberikan ponselnya kepada Jihan untuk membaca sebuah pesan dari seseorang.


"Jangan marah dengan Jihan, kamu tau maksud Jihan dengan kalau Jihan di kasih anak dan aset paling berharga sama papa, itu artinya kamu Wi kamu adalah aset paling berharga dan Jihan sudah mulai menerima kamu sebagai bagian dari hidup dia kamu adalah anak yang papa kasih buat Jihan, jangan pernah bentak dia" pesan yang Jihan baca.


"Lanjutkan permainanmu" ucap Dwi tersenyum.


"Bagaimana tuan Zian masih mau negosiasi dengan saya anda lihat kan kalau seorang tuan Dwi aja nangis di depan saya" ucap Jihan tersenyum tanpa dosa.


"Menarik, ucapkan nominalnya" ujar Zian sombong.


"Apa anda yakin, bagaimana kalau 1M buat sekali peluk" ucap Jihan membuat semua orang tertegun.


"Gila kamu" ujar Zian.


"Sepertinya begitu, karena itu udah murah di banding pemberian om Seno" ucap Jihan.


"Berapa satu malam" tanya Zian.


"Lima Milliyar dolar AS" ucap Jihan.


"Bisa abis duit gue, lagian gue gak akan bayar lo lebih buat sesuatu yang sudah tak tersegel" ucap Zian makin menjadi.


"Yaya terserah, karena segel bukan jaminan kenikmatan" ucap Jihan mulai emosi.


"Zian sudah jangan ganggu Kakak mu" ucap Pak Ahmad Suseno yang baru saja datang.


Ahmad Suseno seorang pengusaha kaya putra ke dua di keluarga Suseno.


"Kakak, maksudnya" tanya Zian.


"Dia itu istri Bang Dwi, kamu mau berurusan sama Abang" ujar papa Seno.


"Beneran Bang" tanya Zian takut.


"Gak percaya" ucap Dwi.


"Gak buktikan" ucap Zian.

__ADS_1


Dwi lalu memeluk pinggang Jihan erat membuat Jihan tersentak dan menatap Dwi tajam. Dwi lalu menarik tengkuk Jihan dan mulai menc**m bibir Jihan sekilas namun karena tidak ada perlawanan dari Jihan Dwi melanjutkannya dengan Melu**t bibir Jihan di depan semua orang membuat semua orang membulatkan matanya.


__ADS_2