
"Ngapain Ji bawa buku segini banyak ke sini si" ucap Jovan.
"Bantuin Jihan Bang" ucapnya memelas.
"Tugas susah baru cari Abang, lagian pelajaran apa sampai kamu gak tau" tanya Jovan.
"Apa lagi kalau bukan bahasa Inggris sama Matematika" ucap Jihan malas.
"Kenapa gak minta bantuan Dwi aja" tanya Jovan.
"Orang dia yang kasih tugas, ya kali dia mau ngajarin" cibir Jihan.
"Kalau mintanya baik baik pasti di ajarin" ucap Jovan.
"Ya nanti, mau gak bantu Jihan Abang kan genius" tanya Jihan.
"Iya iya mana" ucap Jovan.
"Giliran di puji aja langsung" ucap Jihan.
"Mau gak" ucap Jovan.
Jihan mengangguk lalu mulai belajar walaupun sangat terlihat stres Jihan terus berusaha. Sudah satu jam berlalu hanya beberapa yang masuk ke dalam otaknya Jihan tetep kekeh untuk melanjutkan belajarnya.
"Ji lo gimana si belajar gak masuk masuk tapi kok bisa naik kelas si" tanya Jovan.
"Bang jangan remehin gue Bang" ucap Jihan malas.
"Makanya, belajar yang bener sekali kali kek bikin Abang bangga kalaupun gak bisa jadi yang pertama jafilah yang ke dua atau ke tiga" ucap Jovan.
"Karena jafi yang ke dua atau jadi yang ke tiga itu membuat seseorang hancur" ucap Jihan santai.
"Serah lo" ucap Jovan.
"Bang, udah jangan gitu nanti juga pas ujian jafi yang pertama iya kan sayang" bela Dwi.
"Bela terus tuh, ya udah lo lanjutin ajarin si Jihan gue juga mau bikin skripsi" ucap Jovan.
"Iya Bang, biar gue yang lanjutin" ucap Dwi.
"Haha, aneh lo panggil gue Abang lucu tau gak si ya gak Ran" ucap Jovan.
"Iya bener banget lo, si Dwi juga panggil kamunya lucu" ucap Randi.
"Udah ngejeknya pergi sana" ucap Dwi.
"Marah, ya udah lanjutin berduaannya" ucap Jovan meninggalkan Jihan dan Dwi berdua.
Jihan melihat ke arah Dwi aneh, sedangkan Dwi membalas tatapan Jihan dengan tatapan hangat tajam dan penuh kehangatan. Jihan hanya melanjutkan belajarnya walau dengan stres yang sudah menghentikan kerja otaknya.
"Mas, gak bisa otak Jihan udah gak bisa mikir lagi" ucap Jihan menelungkupkan tangannya di wajah.
"Ya udah kita istirahat dulu" ucap Dwi.
"Hm, Jihan ambil minum dulu ya kamu mau minum apa sekalian Jihan ambilkan" tanya Jihan.
"Air putih aja" ucap Dwi serius menatap laptopnya.
"Oke" ucap Jihan.
Jihan pergi ke dapur untuk mengambil minum dan makanan ringan untuknya dan juga Dwi, Jihan merasa sangat kasihan melihat Dwi pasalnya dirinya juga mempunyai tugas tapi dia masih mau mengajarinya.
"Meskipun kamu sibuk kamu masih mau mengajari gue, padahal gue udah frustasi dengan pelajaran sedangkan kau sendiri dengan santai mengajari gue, gue janji bakal buat yang terbaik dan bakal buat lo bangga" ujar Jihan di dapur sembari melihat ke arah Dwi.
"Nih Mas" ucap Jihan memberikan minuman kepada Dwi.
Dwi tersenyum dengan sifat Jihan yang lembut kepadanya membuat semua lelahnya menghilang begitu saja. Dwi sebenarnya sangat lelah dengan hari ini pasalnya setelah mengajar dia juga harus memikirkan perusahaan Papanya yang ada di kota belum lagi mengajari Jihan dan merencanakan ulang tahun Jihan.
"Kita mulai lagi" ucap Dwi.
"Oke, mohon kesabarannya memgajari Jihan" ucap Jihan.
__ADS_1
"Iya, yang penting kamu serius sebenarnya kamu punya potensi hanya saja kamu perlu menikmati apa yang sedang kamu lakukan kamu pasti akan menguasainya" ucap Dwi.
"Oke" ucap Jihan melanjutkan belajarnya.
Dwi dengan sabar mengajari Jihan, Jihan mulai enjoy dengan pelajaran yang sedang dia pelajari. Dwi tersenyum dengan hasil kerja kerasnya mengajari Jihan karena Jihan sudah mulai paham dan sudah mulai bisa menjelaskan apa yang sedang dia pelajari.
"Yes, makasih" ucap Jihan menutup semua bukunya.
"Iya, sekarang tidur gih udah malam besok kan sekolah" ucap Dwi.
"Oke, kamu gak mau bantu apa bawa ini ke kamar" ujar Jihan.
"Iya nanti aku yang bawa kamu duluan aja" ucap Dwi.
"Hehe, bercanda gue bawa sendiri tidur jangan malam malam dingin soalnya beda sama di kota" ucap Jihan.
"Iya sayang" ucap Dwi gemes mengacak acak rambut Jihan.
Jihan hanya tersenyum kaku karena perlakuan Dwi. Jihan lalu membawa buku bukunya ke kamar lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tidak butuh waktu lama Jihan terlelap. Dwi memasuki kamar dengan sangt pelan berharap tidak mengganggu Jihan Dwi merebahkan tubuhnya di samping Jihan Dwi penasaran mengapa tidak ada bantal di tengah.
"Kemana bantalnya gue takut khilaf dan buat dia takut sama gue" ujar Dwi dalam hati.
"Udah tidur aja, banyak mikir" ucap Jihan membuat Dwi tersentak.
"Kamu belum tidur" tanya Dwi.
"Udah" ucap Jihan asal.
"Tidur tapi ngomong" cibir Dwi.
"Udah diem ngapa mau sambung mimpi nih" ucap Jihan.
"Iya iya, Ji boleh minta sesuatu gak" tanya Dwi.
"Apa, mata gue udah susab di buka nih" ucap Jihan.
"Gak perlu buka mata juga gak apa apa" ucap Dwi.
"Oke" ucap Dwi.
Dwi mendekatkan diri ke Jihan, lalu mengecup kepala Jihan berulang ulang membuat Jihan terbangun dengan kelakuan Dwi. Dwi hanya tersenyum melihat ekspresi Jihan yang menurutnya sangat lucu.
"Cium si cium gak bertubi tubi juga kali, malah ketawa lagi" cibir Jihan sembari duduk.
"Hehe maaf, lagian kamu gemesin banget" ucap Dwi ikut mendudukkan diri di samoing Jihan.
"Emang gemesin baru sadar" ucap Jihan aneh.
"Iya, boleh deketan gak si duduknya" tanya Dwi.
"Gak gak situ aja" ucap Jihan menolak.
"Gak baik lo mau jadi istri durhaka kamu gak mau deketan sama suami" ucap Dwi.
"Kenapa istri durhaka si" cibir Jihan.
"Ji aku tau kamu belum bisa nerima aku, jadi aku akan berusaha keras untuk memenangkan hati kamu semua cara akan aku lakukan" ucap Dwi.
"Tapi kamu tau Ji, kenapa aku memilib untuk segera menikahimu aku ingin mempunyai teman yang mau mendengarkan semua keluh kesahku seorang teman yang mau berbagi rasa denganku" lanjut Dwi.
"Maksud kamu" tanya Jihan.
"Maksudku aku tidak hanya menjadikan kamu istri hanya untuk memuaskan semua hasrat ku tapi ku jadikan kau istri yang mau berbagi rasa dengan ku" ucap Dwi meneteskan air mata.
"Kau menangis" tanya Jihan menatap Dwi.
"Tidak" ucap Dwi cepat menghapus air matanya.
"Menangislah jika itu membuatmu lega" ucap Jihan.
"Gak, udah kamu tidur lah lagi aku gak akan ganggu kamu lagi" ucap Dwi.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menyelesaikan tugasmu" tanya Jihan.
"Sudah selesai, kenapa ada sesuatu" tanya Dwi.
"Tidak, berapa kali kau memanggilku sayang hari ini dan sebanyak itu juga kamu berhasil membuatku malu" ucap Jihan.
"Kau malu dengan panggilan itu" tanya Dwi.
"Iya gue malu, jadi mulai sekarang berhentilah memanggilku sayang karena itu sangat berat untukku" ucap Jihan menunduk.
"Apa maksudmu" tanya Dwi mengangkat kepala Jihan lalu menatapnya lekat.
"Aku malu, karena belum bisa membuatmu bahagia malu karena belum bisa membalas rasamu malu karena telah memperlakukanmu dengan buruk tapi kamu tetap memanggilku sayang" ucap Jihan.
Dwi tidak mampu menjawab hanya bisa memeluk Jihan erat. Jihan membalas pelukan Dwi erat membuat Dwi tersenyum dan mencium rambut Jihan.
"Maaf karena telah membuatmu tidak nyaman, kamu adalah yang terbaik tidak penting bagiku kata kata atau perbuatanmu yang kurang baik menurutku semua yang kamu lakukan hanya yang terindah" ucap Dwi.
"Maafin gue" ucap Jihan.
"Udah lah, selama kamu tidak melarangku untuk mencintai dan menyayangimu itu sudah cukup untukku" ujar Dwi.
"Maafin gue, lo boleh melakukan apapun ke gue semua hak lo asal jangan buat gue malu dengan tindakan gue sendiri" ucap Jihan.
"Sudahlah jangan seperti itu, aku mencintaimu" ucap Dwi.
"Bolehkah gue berteriak sekarang, bolehkah gue pergi sekarang kata yang selama ini ingin ku dengar darimu telah terucap" ujar Jihan dalam hati.
"Apa aku juga boleh meminta hak ku hari ini" tanya Dwi.
"Apa" ucap Jihan melepaskan pelukan Dwi keras.
"Hahaha wajah kamu sangat lucu saat sedang takut sayang" ledek Dwi.
"Terserah gue mau tidur" ucap Jihan.
Jihan langsung menidurkan diri memunggungi Dwi kesal. Dwi hanya tersenyum lalu ikut merebahkan diri di samping Jihan kemudian masuk kedalam selimut dan memeluk Jihan dari belakang.
"Gak perlu peluk peluk kali" ucap Jihan.
"Ji please Ji cuma peluk kok gak lebih" ucap Dwi menyembunyikan wajahnya di punggung Jihan membuat empunya mengeliat.
"Kenapa Sayang" ledek Dwi.
"Geli tau, bisa gak si gak usah gitu yaya boleh tapi peluk aja gak lebih" ucap Jihan.
"Iya iya sayang janji" ucap Dwi.
Tak lama kemudian Jihan tertidur pulas sedangkan Dwi tersenyum lalu menyusul Jihan ke alam mimoi dengan posisi masih memeluk Jihan dari belakang dengan erat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Jangan lupa like vote dan komennya ya....
Salam manis Author***...
__ADS_1