Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Kok Sedih


__ADS_3

"Gak gitu ini gak kurang banyak buat porsi sarapan" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Sekalian makan siang" ucap Dwi membuat Jihan menggut manggut.


Jihan sangat menikmati makanannya sedangkan Dwi makan dengan terus menatap wajah Jihan.


"Kenapa liatin gitu" ucap Jihan.


"Kayaknya enak punya kamu" ucap Dwi.


"Kenapa sama kali menunya" ucap Jihan.


"Suapin" ucap Dwi manja.


"Manja bener" ucap Jihan.


"Mau apa gak" ucap Dwi.


"Gak" ujar Jihan dingin.


"Jahat" ucap Dwi merajuk malah membuat Jihan menatapnya dengan senyuman tertahan membuat Jihan terlihat begitu cantik di mata Dwi.


"Ji kamu mau anak berapa" ucap Dwi membuat Jihan tersedak.


uhuk.... uhuk.....


"Nih minum dulu" ucap Dwi memberikan segelas air.


"Maaf" ucap Dwi.


"Gak, gue yang minta maaf gak bisa bahas itu" ucap Jihan.


"Karena hubungan kita tidak se jauh itu" ujar Jihan dalam hati.


Jihan menyelesaikan makannya dengan cepat lalu menghubungi sekertarisnya untuk mengurus semua pekerjaannya karena dia akan beristirahat di rumah.


"Kamu mau kerja kan" tanya Jihan.


"Iya tapi nanti habis makan siang kenapa mau ikut" tanya Dwi lembut.


"Gak, anterin Jihan pulang dulu" ucap Jihan.


"Oke" ucap Dwi.


"Nurut banget si" ucap Jihan.


Dwi hanya membalas dengan senyuman manis tak terasa Jihan juga memberikan senyumn manisnya walaupun tidak begitu terlihat.


Setelah menyelesaikan makannya Dwi mengantar Jihn pulang namun di tengah jalan Dwi berhenti untuk bertanya kepada Jihan kemana dia akan pulang.


"Kemana aja yang penting gue bisa istirahat" ucap Jihan.


Tempat yang Dwi tuju adalah apartemennya karena apartemennya yang satu arah dengan kantornya. Dwi mengantar Jihan sampai masuk apartemen Dwi mengganti pakaiannya membuat Jihan sampai tertidur dengan pulas di atas ranjang Dwi.


"Mas berangkat sayang istirahatlah" ucap Dwi berbisik di telinga Jihan kemudian mencium kening Jihan lembut.


Dwi berjalan pelan dan menutup pintu dengan sangat pelan takut membangunkan Jihan yang sudah terlelap. Dwi langsung melajukan mobilnya ke tempat kerjanya saat sampai di depan gedung sudah di tunggu asistennya membuat Dwi bergegas masuk.


"Ada masalah apa Rey" tanya Dwi sembari berjalan cepat.


"Ada tuan besar di atas" ucap Rey membuat Dwi menggentikan langkahnya sebentar lalu kembali melanjutkannya.


"Pah kenapa" tanya Dwi saat sampai di ruangannya.


"Salam dulu kek" ucap Papa Dwi.


"To The Point" ucap Dwi.


"Oke mana menantu papa" tanya papa melihat ke arah belakang Dwi.


"Lagi istirahat di rumah" ucap Dwi.


"Serius" ucap papa.


"Di apartemen Dwi" ucap Dwi langsung duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Begini kita harus pergi ke luar kota buat urus masalah di sana sekarang juga" ucap Papa.


"Harus banget Dwi ikut pah" ucap Dwi.


"Ya kalau bukan kamu yang urus siapa lagi kalau papa doang gak bisa" ucap Papa.


"Kenapa gak suruh menantu papa" ucap Dwi.


"Perusahaannya juga lagi goyah" ucap Papa.


"AYASTA" ujar Dwi.


"Hm, tapi Papa yakin setelah Jihan turun tangan semua akan beres jadi biarin Fero bantu Jihan" ucap Papa.


"Gak pah, yang goyah perusahaan Ata AYASTA baik kok" ucap Jihan tiba tiba membuat Dwi memandangnya tak berkedip.


"Kenapa liatinnya gitu, biasa aja kali" ucap Jihan meletakkan helmnya di meja Dwi.


" Kamu" ujar Dwi.


"Hm setelah kamu pergi Rey hubungin gue katanya ada masalah, dia jelasin semuanya terus gue siap siap kesini secepat mungkin" ucap Jihan.


"Oke yang aneh kenapa bisa cepet banget mas aja baru sampai terus bukannya tadi kamu lagi tidur" ucap Dwi.


"Pakai motor" ucap Jihan.


"Udah gak penting bahas itu sekarang yang penting perusahaan gimana, Jihan ke sini buat kondisiin perusahaan di sini Putri gak mau" ucap Jihan.


"Bener bener adek gak bisa di arepin" ucap Dwi lalu duduk di samping Jihan.


"Emang siapa yang mau bantu urusan perusahaan gue juga males kali pusing" ucap Jihan.


"Terus kenapa kamu datang ke sini" ujar Dwi.


"Tanggung jawab, lagian gue gak mau kamu hancur gitu aja belum banyak uang kamu yang gue abisin" ucap Jihan.


"Terserah kamu, tapi mas izin mau berangkat sama papa urus perusahaan di luar negeri" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan.


"Kok gue sedih ya" ujar Jihan dalam hati.


"Pah bisa tinggalkan kita sebentar" ucap Dwi di setujui Papanya.


"Baiklah papa sama Rey tunggu di atas" ucap papa pergi.


Papa dan sekertarisnya meninggalkan mereka berdua. Sekarang hanya mereka berdua di dalam ruangan itu mereka saling tatap kemudian Dwi berhambur ke dalam pelukan Jihan membuat Jihan meneteskan air matanya walaupun tanpa di sadari Dwi.


"Mas pergi ya, jaga diri kamu jangan lupa makan jangan bawa motor lagi" ucap Dwi.


Jihan hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Dwi menarik tengkuk Jihan dan ********** perlahan. Setelaah puas Dwi mencium kening Jihan sekilas dan membalikkan badannya untuk pergi.


"Berhati hati lah jaga dirimu setidaknya untukku" ucap Jihan membuat Dwi kembali membalikkan badannya.


"Kamu mengatakan sesuatu" ucap Dwi menatap Jihan dalam.


"Entahlah sepertimya tidak, pergilah" ucap Jihan berlalu melewati Dwi.


Dwi tersenyum lalu mengikuti langkah Jihan dan menyetarakannya. Dwi menggenggam tangan Jihan sembari berjalan ke atas gedung untuk pergi menggunakan helli kopter.


"Cepatlah" ucap Papa saat melihat anaknya berjalan ke arahnya.


"Mas pergi ya, jaga hatimu untukku" ucap Dwi kembali memeluk Jihan dan mencium kening Jihan singkat.


Jihan hanya menatap kepergian suami dan mertuanya itu. Saat helli kopter yang Dwi naiki tidak terlihat lagi Jihan turun dan langsung ke ruangan Dwi untuk mengecek masalah yang ada.


Jihan membuat meeting dengan tiba tiba membut semua kariawan Dwi mentap Jihan aneh. Jihan tidak peduli dengan itu dia bahkan meminta laporan semua bidang dalam satu tahun terakhir.


Banyak kariawan yang pucat karena melihat wajah serius Jihan yang melebihi wajah Dwi saat marah. Jihan mengecek semuanya bahkan Jihan sampai membawa pulang beberapa berkas untuk mempelajarinya.


"Vin datang ke apartemen gue nanti setelah kerjaan lo selesai gue butuh ke ahlian lo" ucap Jihan dalam sambungan telefon.


"Oke siap" jawab Kevin.


Saat Jihan sampai di parkiran apartemen ternyata Kevin sudah menunggunya di depan pintu apartemen Jihan.

__ADS_1


"Lama Vin" tanya Jihan


"Belum si setelah bos telfon langsung ke sini" ucap Kevin.


"Oh ya udah yuk langsung aja" ucap Jihan.


Jihan tersenyum lalu mempersilahkan Kevin masuk untuk membantunya bekerja. Sampai larut malam Jihan bekerja di apartemen nya dan malam itu juga masalah perusahaan Dwi selesai.


"Selesai juga" ucap Jihan meregangkan ototnya.


"Iya" ucap Kevin.


"Laper gak kak" tanya Jihan.


"Laper lah dari tadi sore belum makan" ucap Kevin.


"Cari makan ke luar aja yuk" ucap Jihan.


"Boleh" ucap Kevin.


Jihan pergi makan bersama dengan Kevin Di lain tempat Dwi sedang mengadakan meeting dengan semua petinggi perusahaan. Setelah itu dia mengurus masalah masalah yang ada dengan sangat serius.


"Maaf Tuan sepertinya DJC sudah setabil" ucap Rey


"Maksudnya" tanya Rey.


"Nih bos nilai saham juga naik bos, dan masalah masalah yang ada sudah teratasi ini berpengarush dengan perusahaan induk bos " ucap Rey menjelaskan.


"Siapa yang melakukan ini Rey" tanya Dwi.


"Tidak tau tuan, tidak ada jejak" ucap Rey.


"Baiklah kalau gitu kita cuma fokus sama perusahaan induk" ucap Dwi.


"Siap bos, apa bos tidak lapar" tanya Rey


"Iya Wi kita makan dulu" ucap Papa Dwi.


"Nanti ja pah gak laper" ucap Dwi.


"Gimana mau laper ke pikiran sama istri tuh" ucap Rey.


"Diem lo makanya nikah jadi tau gimana rasanya jauh sama istri" ucap Dwi.


"Dia di sana belum tentu inget sama lo" ucap Rey.


"Gue gak peduli telfon dia sekarang" ucap Dwi.


"Udah malam siapa tau dia udah tidur wi nanti malah ganggu" ucap Papa Dwi.


"Gak mungkin tidur om, Jihan pasti baru selesai kerja" ucap Rey.


"Makannya telfon dia" ucap Dwi.


"Gue gak punya nomernya gue telfon Kevin aja" ucap Rey.


"Kenapa Kevin" ucap Dwi.


"Karena dia pasti lagi sama bini lo" ucap Rey membuat Dwi membulatkan matanya.


Merasa salah berbicara Rey langsung menyengir tanpa dosa. Dwi hanya tersenyum walau sakit tapi dia percaya dengan istrinya itu.


.


.


.


.


.


***Jangan lupa like vote dan comennya..... ya


maaf lama***...

__ADS_1


__ADS_2