
Jihan terus mencari orang untuk menanam saham di perusahaannya. Jihan meyakinkan beberapa sahabatnya yang sudah terjun ke dunia bisnis keluarga mereka.
Sampai tengah malam Jihan masih berada di depan komputernya meminta mertua dan suaminya pergi dari ruangan tersebut karena mereka terus berdebat.
Waktu menunjukkan jam tiga pagi hari namun Jihan masih belum tidur. Dia baru selesai mengerjakan semuanya dengan sangat baik pada saat pagi hari sahamnya sudah benar benar kembali.
"Syukurlah masih bisa bangun" ucap Jihan.
Dia melakukan pembenahan di perusahannya, dia juga membuat pertahanan yang lebih di perusahaannya. Sampai pagi menjelang para maid yang sedang menyiapkan sarapan untuk sarapan besar pagi ini Jihan masih belum keluar.
Saat beberapa orang bangun melihat Dwi tidur di sofa membuat para orang tua merasa kasihan. Mereka membiarkan Dwi tidur sebelum mereka membangunkannya nanti untuk sarapan.
"Pagi semua" ucap Putri.
"Pagi sayang" ucap mama Anggun.
"Kok kak Dwi tidur di sana, kak Jihannya mana" tanya Putri
"Di usir kali dari kamar" ucap Mama Sri.
Saat semua sudah siap dan semua sudah berkumpul di meja makan. Mama Sri membangunkan Dwi untuk sarapan namun Dwi tak kunjung bangun. Saat semua orang mulai makan Jihan keluar dari ruang kerjanya dengan wajah kucel.
"Kucel bener" ledek Jovan.
"Hm, ngantuk" ucap Jihan berjalan sempoyongan.
"Gak tidur semalam" tanya Fero.
"Gak Ta, Julio Kevin nih" ucap Jihan memberikan dua buah kunci mobil terbaru saat Kevin dan Julio berpapasan dengannya
"Bos ini" ucap Keduanya saling tatap.
"Makasih ya, tipe dan warna ke duanya sama" ucap Jihan berjalan ke arah kamarnya.
"Makasih Bos" ucap ke duanya riang hanya di balas senyuman manis Jihan.
"Mas Dwi mana" tanya Jihan.
"Kangen ya noh" ucap Putri.
"Gak sarapan" tanya Jihan.
"Gak mau bangun" ucap mama Sri.
"Oh" ucap Jihan kembali melanjutkan jalannya.
"Cuma Oh, gak ada niat bangunin" ucap Jovan.
"Gak, biarim gue aja belum makan dari kemarin" ucap Jihan pergi.
"Sungguh pemandangan tak enak di lihat" ucap Dani.
"Senyum terus yang dapet mobil" ucap Jovan menyindir Kevin dan Julio
"Iya dong, eh kemarin Jihan bilang katanya kalau bisa kerja sama dengan keluarga Wibowo bakal dapat hadiah apaan tuh" ucap Kevin.
"Oh itu, buat lo uang aja ya buat Jihan biar di pilih sendiri nanti atau dia bilang mau sesuatu" tanya Jovan.
"Gak si, dia cuma seneng doang" ucap Kevin.
"Abang beliin es cream" pesan singkat Jihan pada Jovan.
"Nah baru di omongin" ucap Jovan.
"Apa Jihan ada es cream kesukaan" tanya Jovan.
"Gak, dan setau gue Jihan tuh paling gak suka sama escream sama coklat walaupun kalau di kasih pasti di terima tapi di kasih yang lain lagi" ucap Kevin.
"Lah ini" ucap Jovan menunjukkan pesan singkat Jihan.
"Kok aneh ya, kemarin aja gue di bilang gak mandi padahal dari pagi gue kerja sama dia kok baru sampai sini terus mual" ucap Kevin.
"Dia mual kalau deket gue" ucap Dwi.
"Lo gak mandi" ucap Dani.
"Enak aja, katanya parfum gue gak enak padahal setiap hari gue pake" ucap Dwi.
"Hamil kali" ucap Putri.
"Gak tau " ucap Dwi.
"Periksa deh" ucap Putri.
"Gak mau cari perkara" ucap Dwi.
"Kamu gak makan di kamar aja" ucap Mama Sri.
__ADS_1
"Gak, makan di sini aja tapi suapin mama Fero" ucap Dwi membuat semua menatapnya.
"Serius lo emak gue itu" ucap Fero.
"Hm mau suapin tapi yang itu" ucap Dwi menunjuk nasi goreng seafood.
"Lo yakin bukannya lo alergi ya" ucap Dani.
"Tapi pengin" ucap Dwi dengan mata berbinar.
"Udah kita coba aja" ucap mama Fero.
Dwi mulai memasukkan suapan mama Fero namun reaksinya sangat di luar dugaan. Bukan gatal atau semacammya tapi dia justru kegirangan seperti anak kecil.
"Gue yang hamil tapi yang aneh orang lain" ucap Putri.
Setelah beberapa suap Dwi langsung meminum segeas susu dengan cepat dan pergi ke kamar.
"Tadi kakak minum susu" ucap Putri.
"Iya apa bukan cuma hatinya tapi mulutnya juga bermasalah" ucap papa Seno.
"Kenapa" tanya Semua orang.
"Ini pertama kalinya Dwi minum susu seperti itu, setelah dia menginjak dewasa dia bahkan sangat membenci susu" ucap mama Sri.
"Udah gak bener" ucap Julio.
"Udah lah makan makan, Kevin Julio siapa salah satu dari kalian kerja sama saya" ucap Papa Seno.
"Kevin aja dia kan lebih ahli" ucap Julio.
"Kenapa harus gue, kerjaan gue sama Jihan belum selesai lo aja lagian emang Jihan mau kerja sama lo penghianat" ucap Kevin.
"Penghianatan gue berujung mobil mewah" ucap Julio mencibir.
Setelah banyak adegan aneh di pagi itu mereka semua mulai makan dengan tenang. Dan satu persatu dari mereka pulang dan ada yang pergi ke kantor.
"Vin ikut gue" ucap Jihan dengan pakaian yang sudah rapi di susul Dwi dengan pakaian rapinya.
"Julio pergi ke Ayasta pantau perkembangan kalau sampai ada sesuatu telfon gue" ucap Jihan.
"Siap bos" ucap Julio dan Kevin.
"Kemana sayang" tanya Dwi.
"Ya apa kamu mau pergi lagi" ucap Dwi.
"Hm, lagian deket kamu mual terus" ucap Jihan.
"Mau peluk cium" ucap Dwi merengek.
"Gak bisa" ucap Jihan.
Saat Dwi melangkah maju Jihan langsung berlari karena mual. Melihat reaksi Jihan Dwi mengerti betapa tersiksanya Jihan saat berada di sampingnya. Dwi menatap Jihan saat Jihan kembali ke teras.
"Kasian juga" ujar Dwi sembari terus menatap kedatangan Jihan.
Di luar dugaan saat berjalan ke arah Dwi dengan merapikan kembali tampilannya. Jihan melihat Dwi yang masih di tempatnya tadi dengan terus menatapnya.
"Jangan ngelemun" ucap Jihan sembari menarik lengkuk Dwi dan mencium bibir Dwi sekilas.
Dwi tersenyum dengan perlakuan Jihan sedangkan Kevin yang melihatnya tertawa keras.
"Ji" panggil Jovan.
"Kenapa Bang" tanya Jihan.
"Lo gak ada hadiah gitu buat gue" ucap Julio.
"Lo yang janji hadiah sama gue Bang tapi gak bakal gue terima sebelum semua sah" ucap Jihan langsung pergi ke tempat helli kopter yang sudah menunggunya.
"Gimana sama Es creamnya" ujar Jovan.
"Kasih aja pas pulang" ucap Dani langsung pergi ke kantornya.
"Lo mau meratapi kepergian Jihan kak" ucap Putri.
"Eh gak" ucap Dwi langsung peegi ke kantor dengan Rry yang sudah menunggunya
Semua orang pergi menjalankan aktivitasnya masing masing di lain tempat Jihan dan Kevin sudah mengudara dengan terus melihat beberapa berkas di tangannya.
"Udah di undur kan meetingnya" ucap Jihan.
"Udah Bos, saya undur tiga puluh menit cukup sampai Bos istirahat beberapa menit" ucap Kevin.
"Good Job" ucap Jihan.
__ADS_1
"Oh ya Vin, saya ada janji makan siang sama perusahaan mana ya" tanya Jihan.
"Itu perusahaan baru bos, milik tuan Muda Aditya" ucap Kevin.
"Ganteng gak" tanya Jihan.
"Tanya ganteng gak nya, inget suami bos" ucap Kevin.
"Biarin suami gue, mau mengembara dulu gue" ucap Jihan.
"Punya Bos gini amat" ucap Kevin membuat Jihan tersenyum.
Mereka sampai di kantor cabang telat beberapa menit namun semua kariawan sudah berada di tempatnya masing masing. Saat Jihan datang semua yang ikut meeting hari ini merasa sulit bernafas.
Jihan ke ruangannya dan beristirahat sebentar sedangkan Kevin menyiapkan ruang meeting. Saat menunggu Kevin Jihan melihat beberapa laporan yang ada di meja kerjanya dia tersenyum dengn hasil kerja anak buahnya.
"Sudah siap bos" ujar Kevin.
Jihan dan Kevin kembali ke ruang meeting seperti biasa saat Jihan datang semua terdiam tanoa suara. Jihan memimpin dengan sangat tegas tidak menerima kekurangan apapun.
"Bos perubahan jadwal dari pihak Aditya katanya jadwal terbaru akan di kabarkan" ucap Kevin berbisik.
Jihan mengangguki ucapan Kevin lalu kembali memimpin meeting. Kali ini meeting berjalan dengan asik karena sesekali Jihan membuat lelucon tidak seserius kemarin.
"Terima kasih kerja samanya" ujar Jihan menutup pertemuan saat jam makan siang tiba.
"Vin makan di mana" tanya Jihan.
"Terserah bos aja mau dimana kali ini kita gak ada jadwal full kantor" ucap Kevin.
"Oh oke, makan di tempat kemarin aja ya enak gue belum makan dari kemarin" ucap Jihan.
"Siapa suruh gak makan" ucap Kevin.
"Vin vin bentar" ucap Jihan terduduk kesakitan.
"Lo gak papa Bos" tanya Kevin
"Perut gue kram lagi, bisa minta tolong ambilin air anget" ujar Jihan yang duduk di depan lif di angguki Kevin.
Kevin berlari pergi ke pantry untuk mengambil air anget karena tidak ada botol dia menggunakan pelastik.
"Bos maaf cuma ini" ucap Kevin memberikan air anget yang sudah di ikat atasnya.
Jihan mulai mengompres perutnya dan perlahan mulai membaik tapi Jihan berfikir kenapa saat Dwi mengusapnya rasa itu langsung hilang sedangkan saat ini terasa masih sedikit sakit walaupun sudah bisa berjalan.
"Kak" panggil Kevin saat dia sudah bisa berdiri.
"Kenapa " tanya Kevin.
"Yuk makan" ucap Jihan.
"Ayok" ucap Kevin langsung pergi dengan Jihan untuk makan.
Saat sampai di restauran kemarin Jihan langsung memilih beberapa makanan utama sedangkan Kevin hanya sebuah steak dan minuman dingin.
"Kak kayak ada yang kenal" ujar Jihan menunjuk seseorang yang jauh dengan mereka dengan lirikannya.
"Tuan muda Wibowo dan sekertarisnya" ucap Kevin.
"Pantesan kayak liatin aja dari tadi apa gue yang keGRan" ucap Jihan.
"Tau ah, biarin makan aja" ucap Kevin yang kebetulan makanan mereka datang.
Jihan berbinar melihat makanan di depannya dia saling tatap dengan Kevin.
"Gak bisa cantik" ucap Kevin di angguki Jihan.
"Kak, kamu udah di kasih hadiahnya sama Abang" tanya Jihan.
"Dia bilang mau kasih uang aja biar lebih bermanfaat" ucap Kevin.
"Uang Bonus dong" ucap Jihan.
"Apapun itu gue terima" ucap Kevin.
Jihan hanya menggeleng mendengarkan jawaban Kevin. Dia makan dengan lahap bahkan mereka tidak peduli status sosial mereka yang berbeda.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys....