Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Kan Bener


__ADS_3

"Kenapa kalian kaget si, padahal ada yang lebih mahal dari itu" ucap Jihan.


"Ya iya lah, orang sepatu lima ratus ribu aja udah mahal banget" ucap Hana.


"Gimana kalian kalau tau harga fantastis salah sebuah jam terkenal dunia" ucap Jihan.


"Kayak apa tuh" ucap Nisa.


"Kayak gini" ucap Jihan menunjukkan jam tangannya.


Semua sahabatnya tertawa sedangkan Jihan menatap mereka aneh. Tak lama kemudian Fero datang dengan cepat Nisa meraih tangan Fero lalu melihat jam tangan Fero dan ternyata benar apa yang dia duga jam tangan ke dua sahabatnya berpasangan.


"Tuh kan bener" ucap Nisa.


"Kenapa" tanya Jihan menatap Nisa aneh begitupun dengan Fero dengan cepat Fero melepas tangannya.


"Jam tangan kalian pasangan ya" tanya Nisa penuh telisik.


"Emangnya kenapa gak boleh" tanya Fero.


"Gak gitu, tapi kan lo udah punya pasangan sendiri Ji" ucap Nisa.


"Kenapa emangnya, ini juga belinya kita pas lagi liburan ya kan Ta" ucap Jihan.


Masta adalah panggilan khusus Jihan untuk Fero (Fero Bramasta) begitupun dengan Fero yang memakai panggilan khusus untuk Jihan dengan sebutan Ay (Ayudia). Namun mereka bisa menyembunyikan semua panggilan itu di depan Dwi.


"Bener tuh, kan sebelum lo ada pasangan ya kan Ay" bela Fero.


"Tapi ini jam mahal kan, dan di produksi cuma dua puluh pasang di dunia kan" ucap Nisa.


"Masa sih, pasti mahal" ujar Hana.


"Kamu kata siapa ini limited edition" tanya Mona.


"Nih, gue udah browsing" ucap Nisa.


"Segitunya lo Nis" ucap Jihan.


"Harganya berapa tuh" tanya Hana.


"Ini murah lagi" ucap Fero.


"Iya tapi berapa" tanya Mona.


"Cuma seratus dua puluh lima juta aja" ucap Jihan enteng.


"Gila lo segitu lo bilang murah, bisa dapet mobil tuh" ucap Mona.


"Sebenarnya siapa si kalian, gak mungkin kan kalian orang biasa" ucap Mona menelisik.


"Kita siapa aneh jelas jelas kita manusia biasa, emang kalian pikir siapa" ucap Fero.


Saat Jihan akan membalas ucapan sahabat sahabatnya, tiba tiba ponsel Jihan berdering seketika Jihan membulatkan matanya karena dia melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Kenapa Ay" tanya Fero.


"Gue lupa harus jemput Kaka di rumah sakit" ucap Jihan.


"Mau di antar" tanya Fero.


"Gak gue bawa motor juga" ucap Jihan.


"Oke hati hati jangan ngebut ngebut" ucap Fero.


"Gue lagi insaf" ujar Jihan tersenyum.


"Gue duluan guys" ucap Jihan.


Jihan berjalan cepat namun ponselnya kembali berdering, dengan cepat Jihan meihat kemudian mengerutkan dahinya karena ternyata Dwi yang menghubunginya dengan vidio call Jihan mengangkatnya namun Jihan tetap berjalan dengan cepat.


"Kenapa" tanya Jihan sinis.


"Galak bener, gak apa apa rindu" ucap Dwi.


"Gue gak ada waktu mau jemput Kaka di rumah sakit" ujar Jihan.


"Iya, mas temenin ya" ucap Dwi.


"Temenin gimana orang jauh gitu" ucap Jihan.


"Sambil telfon lah" ucap Dwi.

__ADS_1


"Mau gue nyusul Kaka pake ambulan" ucap Jihan santai.


"Gak lah, kamu taruh aja ponselnya di motor" ucap Dwi.


Jihan berdecik lalu kembali melanjutkan perjalanannya dengan mengikuti arahan Dwi untuk menaruh ponselnya di motor. Jihan berjalan dengan kecepatan medium membuatnya tak mendengar apa yang Dwi katakan. Sampai di parkiran rumah sakit Jihan berlari ke ruangan Dani namun Dani sudah berada di lobi dengan cengiran kudanya.


"Kaka, kenapa udah di sini" tanya Jihan.


"Iya Abang udah keluar lima belas menit yang lalu tapi kata kamu suruh nunggu ya udah Kaka tunggu lah" ucap Dani.


"Maaf ya kak, sebenarnya Jihan lupa tadi he" ucap Jihan.


"Iya gak apa apa, lagian sebentar doang, oh ya gimana ujian kamu lancar" tanya Dani.


"Lancar lah Kak" ucap Jihan.


"Ji" ujar seseorang.


"Siapa Ji" tanya Dani yang mendengar seseorang memanggil Jihan.


"Lupa, nih" ucap Jihan memperlihatkan ponselnya ke Dani.


"Haha, segitunya lo Wi baru beberapa menit kali lo pergi dari rumah" ujar Dani tertawa renyah.


"Puasin tawa lo Kak, gak asik tau dia malah bikin Jihan gak bebas melakukan apapun tau" ucap Jihan.


"Itu tujuannya Ji, biar kamu gak berjalan terlalu jauh" ucap Dwi.


"Iya Ji itu tandanya dia tuh beneran tulus sama lo" ucap Dani.


"Fulus kali" cibir Jihan.


"Ya udah yuk kak, pulang nanti Jihan masakin deh" ucap Jihan.


"Ya udah ayok, Kakak yang bawa motornya ya" ucap Dani.


"Emang Kaka udah beneran sembuh" ucap Jihan.


"Udah tenang aja" ucap Dani.


"Ya udah" ucap Jihan.


"Gak lucu" ucap Jihan.


Dani hanya tersenyum begitupun dengan Dwi yang melihat Jihan kesal membuatnya tersenyum. Jihan sudah menyuruh Dwi untuk menutup telfonnya namun di tolak Dwi dan meminta Jihan untuk tetap tersambung membuat Dani terus meledek Jihan.


"Kak mau makan apa" tanya Jihan saat sudah sampai di rumahnya.


"Apa aja kalau kamu yang masak pasti enak" ucap Dani.


"Oke" ucap Jihan lalu pergi ke dapur dan meninggalkan ponselnya di meja.


"Woy Ji, suami lo kacangin" ucap Dani.


Jihan tidak mendengarkan Dani karena dirinya memang sengaja meninggalkan ponselnya yang masih tersambung dengan Dwi di meja karena menurut Jihan Dwi terlalu mengganggunya. Namun lain dengan Dani yang sangat senang menggodanya dan membawa ponsel Jihan ke dapur membuat Jihan cemberut.


"Kenapa di bawa kesini si Kak" ujar Jihan manyun.


"Gak, cuma kasian kamu masak sendiri nih biar bisa temenin kamu" ucap Dani.


"Serah lo deh Kak, gue mau masak lo taruh aja" ucap Jihan


"Oke gue taruh sini aja biar kamu kemana pun kelihatan" ujar Dani menaruh ponsel Jihan sembari tersenyum dan berlari.


Jihan jengah dengan perlakuan Dwi, namun Dwi menikmati setiap momennya. Dwi terus menatap Jihan dalan walaupun Jihan tidak memperdulikannya Jihan menyelesaikan masaknya dengan cepat lalu memanggil Dani untuk makan sedangkan dia bersiap pergi.


"Kak, makan udah siap gue mau pergi paling nanti sebelum makan malam udah pulang" ucap Jihan.


"Kemana" tanya Dani.


"Kan tadi udah bilang kemana" ucap Jihan.


"Oh iya lupa, ati ati kamu bawa motor Kaka" ucap Dani.


"Siap kak" ucap Jihan memberi hormat.


"Itu masih tersambung sama Dwi" tanya Dani.


"Masih" ucap Jihan.


"Ya Wi, gak bakal ilang juga bini lo kerja yang bener aja lo cari uang yang banyak buat Jihan buat dia seneng" ucap Dani.

__ADS_1


"Hehe, iya deh Kak, ya udah ya Ji Mas kerja lagi see you" ucap Dwi.


"Iya" ujar Jihan singkat.


Jihan lalu berlari dan menyiapkan semua keperluan dan permintaan Jovan yang harus dia antar. Jihan memakai celana jeans hitam sepatu boots hitam dan juga jaket hitam dan semua perlengkapan berkendara membuatnya menjadi sangat terlihat galaknya apalagi dengan make up yang membuat matanya menjadi semakin tajam.


"Ji lo hitam hitam gitu mau ngelayat lo" ujar Dani sembari tertawa.


"Kakak nyebelin, tapi cantik kan" ujar Jihan.


"Iya mau dandan gimana pun lo tetep cantik, malah Kaka suka ini kamu yang Kaka kenal" ujar Dani.


"Iya, ya udah Kak, Jihan berangkat ya" ucap Jihan pergi.


"Ya ati ati lo, makasih makannya enak" ucap Dani.


"Oke kakak" ujar Jihan.


Jihan lalu pergi membawa motor Dani dengan cepat dan perlengkapan berkendara yang komplit. Jihan membawa motornya dengan cepat dan hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan ke kota padahal dengan kecepatan biasa bisa sampai tiga jam. Jihan memarkirkan motornya tepat di depan gedung kantor Papanya membuatnya di tegus satpam.


"Maaf Nona, silahkan ke arah sana" ucap Satpam lembut menunjuk tempat parkir motor.


"Hehe maaf pak" ujar Jihan sembari membuka helmnya.


"Eh, Bu Jihan maaf bu" ucap Satpam salah tingkah.


"Iya gak apa apa pak, oh ya pak tolong parkirin motor saya ya sekalian beliin saya makan" ucap Jihan.


"Siap bu, tapi mau makan apa" tanya Satpam.


"Makanan yang biasa bapak belikan dulu, ini uangnya" ucap Jihan memberikan selembar uang.


"Siap bu" ucapnya setuju.


"Oh ya sama nanti yang bawa ke atas bapak ya" ucap Jihan.


"Baik bu" ujarnya.


Jihan lalu masuk dengan jalannya yang sangat berwibawa, semua kariyawan yang melihatnya lalu membungkukkan badannya namun Jihan tidak bergeming Jihan terus berjalan sampai dia masuk lif membuat semua kariawannya tak mampu mengangkat kepalanya di depan Jihan.


"Hai mba, Tuan ada" tanya Jihan kepada sekertaris Papanya saat sudah sampai di depan ruangan Papanya.


"Ada Bu, tapi" ujarnya belum selesai namun Jihan sudah nelonyor masuk.


Jihan membuka pintu sembari memanggil Papanya namun langkahnya terhenti saat dia melihat ada beberapa orang di dalam ruangan Papanya.


"Bu sedang ada rapat" ujar sekertaris Papanya.


"Udah tau, kenapa gak bilang" ucap Jihan.


"Tadinya mau bilang tapi Ibu udah masuk duluan" ujarnya.


"Maaf semuanya, silahkan lanjutkan" ucap Jihan pergi.


Jihan berjalan keluar ruangan menuju ruang tunggu yang ada di depan ruangan Papanya. Tak berselang lama dua orang pemuda datang dan menghampiri Jihan namun Jihan tidak menghiraukannya sampai mereka berdiri di depan Jihan.


"Ji" sapa salah seorang.


.


.


.


.


.


.


.


***Siapa yang datang ya...


Sebelumnya Author minta maaf ya lama gak bisa up soalnya lebaran sibuk banget buat yang udah dukung vote like terima kasih maaf belum bisa mampir...


Di tunggu ya kelanjutannya Author mulai muncul lagi nih..


Dan Minal Aidzin wal Faidzin buat semuanya...


Dan jangan lupa terus dukung Author, berkat kalian Author bisa kontrak sekali pengajuan... Thanks Readers***....

__ADS_1


__ADS_2