
Sedangkan di kamar lain Fero sedang merebahkan diri di ranjang. Putri tersenyum lalu mulai menggida suaminya itu dia tau dia sangat jahat karena merebut Fero dari Jihan namun di sisi lain dia harus berusaha agar Fero menjauh dari Jihan agar Dwi juga bisa bahagia.
"Apa kamu yakin akan melakukannya dengan tidak terpaksa" ujar Putri pada Fero saat Fero mulai menjamah tubuhnya.
"Saya harus bisa keluar dari semua ini" ujar Fero.
"Baiklah kalau dengan ini gue bisa dapatin lo seutuhnya" ujar Putri.
Putri mulai permainan dengan panas di balas Fero tak kalah panas namun bukan Putri yang ada di pikiran Fero melainkan Jihan karena itulah dia sangat semangat. Sampai permainan mencapai puncaknya membuat Putri dalam puncak kenikmatan begitupun Fero.
"I love you Ay" ujar Fero saat menyelesaikan permainannya membuat Putri sangat kecewa karena ternyata suaminya membayangkan orang lain.
Fero langsung tumbang dengan tubuh masih di atas Putri sedangkan Putri menangis dalam diam. Karena dia tau orang yang menjadi suaminya bukan orang yang mencintainya namun dia bertekad untuk mendapat cintanya sepenuhnya.
Di lain tempat Dwi masih menatap Jihan dari dalam kamar. Dia melihat semua yang Jihan lakukan namun tidak bisa mendengar apa yang Jihan katakan.
Sampai Jihan bangkit dan masuk ke dalam kamarnya. Dwi yang hanya berpura pura tidur tau apa yang sedang Jihan lakukan di gelapnya kamar itu.
Jihan merebahkan diri di atas ranjang di samping Dwi namun tidak lupa untuk menaruh bantal di antara mereka. Jihan tertidur dengan sangat cepat sedangkan Dwi masih belum bisa tidur. Dia menarik bantal itu dengan pelan dan membuangnya sembarang.
Dwi bergeser mendekati Jihan dan mencium kening Jihan dengan sangat lembut membuat Jihan mengeliat namun tidak bangun. Dwi tersenyum melihat Jihan terlelap dengan sangat imut menurutnya.
"Kenapa gue pernah membenci cipataan mu yang sungguh sempurna ini Tuhan" ucap Dwi memainkan hidung Jihan.
"Apapun itu kebencian ku telah berganti dan saya tidak akan membiarkan kamu pergi dariku lagi" ujar Dwi ikut terlelap ke alam mimpi dengan Jihan dalam pelukannya.
Tidur yang singkat menurut Jihan dan Dwi karena terlalu singkat saat dia memeluknya karena pagi menjelang. Dwi terbangun lebih awal karena tidak ingin merusak mood Jihan dengan membuatnya marah di pagi hari.
"Bangun sayang" ujar Dwi membangunkan Jihan dengan pelan setelah membersihkan diri.
"Em" ujar Jihan mengeliat.
"Udah siang bangun dong manis" ucap Dwi.
Dengan sangat malas dan masih menutup matanya Jihan duduk bersandar membuat Dwi tersenyum baginya sekarang dengan Jihan tidak marah padanya itu sudah cukup.
"Jam berapa" ujar Jihan merapikan rambutnya.
"Jam enam" ucap Dwi.
"Huh" ujar Jihan langsung pergi membersihkan diri.
Dwi menunggu sembari merapikan pakaiannya. Lama Jihan berada di kamar mandi membuat Dwi jenuh dan .emilih untuk merapikan tempat tidurnya. Dan di sana dia mendapat sebuah liontin kalung berbentuk Love dengan tulisan "Dwi Putra" di belakangnya ada sebuah senyuman mengembang di sana.
"Liatin apa" tanya Jihan.
"Eh ini saya temuin ini, apa ini punya kamu" tanya Dwi memberikan liontin itu.
"Iya untung gak ilang" ujar Jihan
"Kenapa kalau ilang" tanya Dwi.
"Bisa di gantung saya sama mama" ucap Jihan.
"Lalu apa kamu akan memakainya" tanya Dwi
"Sepertinya itu lebih baik, tapi nanti setelah saya membeli kalungnya" ujar Jihan.
"Apa mau saya belikan" tanya Dwi.
"Apa harus bertanya" ujar Jihan mengeringkan rambutnya.
"Iya takutnya kan kamu gak mau nanti gak kepake kan sayang" ujar Dwi.
Jihaan tidak menjawab hanya mengngguk tanda dia setuju dengan Dwi akan membelikan sebuah kalung.
"Kalau gak gue setui juga bakal lo beliin kan" ujar Jihan
"Kamu mau sekalian sama cincin gak" tanya Dwi.
"Mau di taruh di mana" tanya Jihan.
"Tangan kamu lah" ujar Dwi.
"Tau ya kali di idung, tapi ini kan ada cincin pernikahan " ujar Jihan
"Iya juga ya" ujar Dwi.
"Tau ah, dah siang nih mau sarapan gak" tanya Jihan.
"Mau dong sama sekalian mau bilang jadikan aku suamimu di depan Mama" ucap Dwi.
"Oke" ujar Jihan singkat.
Jihan mengambil tas jinjingnya dan menenteng paper bag tak lupa menggandeng Dwi dengan mesra sembari melukiskan sebuah senyuman
"Hai sayang sayangnya mama" ujar Mama.
__ADS_1
"Hai mah" ucap Dwi.
"Sayang bagaimana tidur nyenyak" ucap Mama keoada Jihan.
"Nyenyak kok mah, kan gak ada gangguan" ujar Jihan.
"Hahahaha nyaho kamu Wi" ujar Mama.
"Is mama" ujar Dwi.
"Udah udah makan" ujar papa.
Jihan hanya mengangguk sedangkan Dwi menarik kursi untuk Jihan duduk. Dengan senyuman yang terpaksakan dia duduk dengan santai dan menaruh paperbagnya di atas meja.
"Kaki kamu gimana udah baikan" tanya Fero.
"Kaki, udah kok" ujar Jihan.
"Sayang aa" ujar Dwi menyuapkan nasi goreng ke mulut Jihan.
Dengan senyuman Jihan menerima suapan Dwi tanpa protes membuat Fero panas. Tak hanya sampai di situ Dwi juga mencium bibir Jihan yang sedang mengunyah membuat Jihan terdiam.
"Kalian itu ya pandai membuat kita iri, oh ya kalian kapan kasih kita cucu" ujar Mama membuat Jihan tersedak begitupun Fero.
"Biasa aja" ujar Papa.
"Nanti pah kalau memang rezeki Jihan cepat" ujwr Jihan.
"Tapi kalau sampai satu tahun gak punya anak punya anak kalian harus ikut program biar tahun ke dua kalian menikah udah punya anak" ujar Papa.
"Kita gak bisa memaksakan rezeki pah, sekeras apapun kuta berusaha kalau belum rezeki ya belum tapi sekuat apapun kita menolaknya kalau memang rezeki dia akan tumbuh" ujar Jihan.
"Papa tau itu, Put kenapa dari tadi diem aja" tanya Papa
"Lagi males aja pah" ujar Putri.
"Mas Jihan berangkat duluan ya sama Kevin" ujar Jihan.
"Bareng dong" ucap Dwi.
"Gak mau nanti lama kalau bareng gak nyampe nyampe" ujar Jihan yang tau jalan pikiran suaminya.
"Kamu kenapa si jadi orang peka banget" ucap Dwi.
"Kamu yang kurang peka" ujar Jihan.
"Siap Bos, tapi saya kan juga laki laki" ucap Kevin.
"Ya lo kasihin GPS sama CCTV biar tau apa yang sedang lo lakuin" ujar Jihan.
"Nah boleh tuh" ujar Dwi.
"Awas aja kalau beneran lakuin itu" ujar Jihan Pergi.
"Iya iya sayang " ujar Dwi mengejar Jihan.
"Ya udah saya berangkat ya mas" ujar Jihan lembut membuat Dwi senyum senyum.
"Ya sayang" ujar Dwi memeluk Jihan dengan sangat terpaksa dia membalas pelukannya
"*Jangan GR dulu tuh mama liatin " ujar Jihan berbisik.
"Iya biarin saya suka" ujar Dwi.
"Ya udah lepasin kapan gue berangkatnya" ucap Jihan.
"Bentar lagi" ujar Dwi.
"Cari kesempatan aja lo" ujar Jihan.
"Orang pandai" ujar Dwi.
"Udah lepasin" ucap Jihan*.
Dwi melepas pelukannya lalu mencium keningnya hangat membuat yang melihat bisa merasakan keharmonisan kedua sejoli itu.
Jihan mincum tangan Dwi lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil. Sedangkan Dwi senyum senyu. membuat Jihan menggelengkan kepalanya dan menyuruh Kevin menjalankan mobilnya.
"Boy" ujar Mama.
"Ya mah" ucap Dwi.
"Udah berkembang ya" ujar Mama.
"Jangan kan berkembang mah justru makin rumit dan parah apa iya Dwi jadi anak durhaka karena Dwi bohong sama mama" ujar Dwi dalam hati.
"Udah mah" ucap Dwi berbohong
__ADS_1
"Ya udah kamu hati hati ya berangkat kerjanya" ucap Mama.
"Ya mah Dwi berangkat dulu ya" ujar Dwi mencium mamanya dab pergi.
Sepanjang jalan Dwi hanya tersenyum membuat Rey ikut tersenyum. Namun berbeda dengan Jihan yang hanya diam sepanjang jalan yang membuat Kevin bingung sendiri.
"Vin turunin gue di depan JiAy boutique aja ya" ujar Jihan.
"Siap bos" ujar Kevin.
"Buat urusan pagi ini sampai siang di urus Ata habis makan siang baru gue" ujar Jihan.
"Siap Bos" ujar Kevin melajukan mobilnya menuju tempat yang Jihan minta.
"Makasih Vin tapi nanti gak perlu jemput biar saya ke Ayasta sendiri nanti" ucap Jihan.
"Tapi bos jauh " ujar Kevin
"Gak masalah" ucap Jihan tersenyum dan pergi.
"Terlalu manis untuk di lupakan, Ji andai lo bisa cerita semua ke gue gue tau terlalu banyak beban yang lo alami" ujar Kevin saat Jihan pergi.
"Hai guys" ujar Jihan saat masuk ke dalam butiknya dengan senyuman mengembang.
"Hai bos" ujar semua kariawannya.
"Belum semua ya" ujar Jihan.
"Udah saya yang terakhir" ujar Ani penanggung jawab boutique JiAy.
"An ini buat semuanya saya langsung pergi masih banyak soalnya" ujar Jihan
"Siap bos" ujar Ani
"Tapi bos apa gak ada design baru" tanya Ani
"Oh ya udah lama gak update ya" ucap Jihan.
"Ya bos" ujar Ani.
"Oke besok gue kabarin lagi" ucap Jihan.
"Siap bos, tapi kalau bos ada waktu nanti malam datang ke acara syukuran Ani ya bos" ujar Ani.
"Undangan langsung nih" ucap Jihan.
"Iya bos itupun kalau bos berkenan" ucap Ani.
"Syukuran apa" tanya Jihan.
"Alhamdulillah kebeli rumahnya bos" ujar Ani.
"Wah good job" ujar Jihan melenggang pergi.
"Lah main nyelonong aja mau datang gak" ucap Ani lirih.
"Guys duluan ya" ujar Jihan.
"Oke " ucap semua kariawan.
Jihan berjalan keluar dari boutique nya. Dia terus berjalan tujuannya sekarang adalah AyaSta couple yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
Lima belas menit kemudian Jihan sampai di temoat yang dia tuju tak beda dari yang dia lakukan pada saat datang ke butiknya dia menampakkan senyum bahagia sehingga tidak ada yang tau isi hatinya dia hanya membagi gaji setiap kariawannya lalu pergi.
"Si bos lagi galau ya" ujar salah seorang kariawan.
"Gak tau tuh soalnya selalu ada senyuman di wajahnya" ujar kariawan B.
"Sulit di tebak" ucapnya.
"Bener wanita yang paling tangguh, karena pasti ada banyak masalah walau dia selalu tersenyum" ujar Kariawan A.
"Udah udah si bos masih denger tuh" ucap kariawan C membuat gerombolan kariawan itu membubarkan diri.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannyaa ya guys....
__ADS_1
Salam manis Author.... Love ❤️.