
"Maaf Wi" ucap Rey.
"Gak papa telfon aja" ucap Dwi.
"Kenapa gak lo aja langsung telfon Jihan" ucap Rey.
"Gue takut gak di angkat" ucap Dwi.
Saat sedang berdebat siapa yang akan menelfon tiba tiba ponsel Dwi berdering.
"Panjang umur" ucap Dwi.
"Iya Kevin" ucap Rey tertawa.
"Diam lo" ujar Dwi kesal.
"Kenapa Vin" ujar Dwi.
"Alih telfon vidio" ujar Kevin.
"Oke" ujar Dwi.
Setelah telfon tersambung Dwi menyerngitkan dahinya pasalnya di depan Kevin ada banyak makanan dan kudapan dengan Jihan yang sedang asik makan.
Dwi tertawa tapi tidak bersuara, bahkan Jihan tidak sadar kalau Dwi sedang melihat tingkahnya dengan sambungan telefon.
"Lo ngapa Kak, jangan bilang lo curi foto gue ya" telisik Jihan.
"Ih GR bener lo" ujar Kevin.
"Biarin, atau jangan jangan lo terpesona sama gue" ujar Jihan.
"Kalau terpesona juga apa untungnya" ujar Kevin.
"Untungnya em ya gak ada, cuma gue yang rugi" ujar Jihan.
"Kenapa" tanya Kevin.
"Pesona gue luntur kalau jalan sama lo" ujar Jihan.
"Udah makan aja, keburu dingin" ucap seseorang.
Jihan menengok kesana kemari mencari sumber suara yang sangat familiar di telinganya.
"Kak lo denger gak" ujar Jihan.
"Apa" ucap Kevin asik makan.
"Kayak denger suara mas Dwi tau, bukannya dia ke luar kota ya" ucap Jihan.
"Kenapa kalau mas ke luar kota, mau selingkuh" ujar Dwi namun Jihan masih belum sadar.
"Tuh Kak, lo denger kan apa gue yang halu ya" ujar Jihan.
"Halu, kali lo" ucap Kevin.
"Masa sih, kenapa gue halu ya" ucap Jihan sembari makan.
"Jatuh cinta kali" ucap Kevin.
"Gue jatuh cinta sama mas Dwi, harusnya si gitu" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Harusnya gitu gak ada kata lain" ujar Kevin.
"Gak ada, bingung juga gue sama pernikahan sama perasaan gue" ucap Jihan.
"Lo curhat" ucap Kevin membuat Jihan kesal.
"Gak si cuma kalau lo mau denger juga gak apa apa" ucap Jihan kesal.
"Ogah gue takut sakit hati" ucap Kevin.
"Emang lo bisa sakit hati" ucap Jihan.
"Gue juga manusia kali" ucap Kevin kesal.
"Nih biar gak halu" ujar Kevin memberikan ponselnya kepada Jihan.
"Lo, lo dari tadi Vidio Call sama dia gak bilang bilang lo dasar gak jadi gue kasih bonus" ucap Jihan.
"Gak apa apa Vin, gue yang kasih bonus dua kali lipat" ucap Dwi.
"Lagi apa kok kayak rame" ucap Jihan.
"Cie penasaran" ujar Rey.
"Diem lo kak Rey, Kak Kevin gimana nasib motor gue" ujar Jihan mengalihkan pembicaraan.
"Udah di ambil sama anak buah di apartemen" ucap Kevin.
"Hm, di cuekin" ujar Dwi.
__ADS_1
"Terserah dong" ucap Jihan.
"Gak kangen apa sama mas" tanya Dwi.
"Gak" ucap Jihan singkat.
"Bilang iya kek biar mas seneng" ucap Dwi.
"Gak mau kasih harapan" ucap Jihan dingin.
"Makan apa" tanya Dwi.
"Makan apa aja asal jangan mkan hati" ujar Jihan membuat Dwi berfikir keras.
Jihan hanya menatapnya lalu meletkan ponsel Kevin di atas meja dengan ponsel menghadap dirinya. Jihan melanjutkan makannya dengan lahap begitupun Dwi yang juga makan dengan lahap.
"Mba apa ada box makan kalau ada saya minta beberapa" ucap Jihan kepada pelayan.
Sang pelayan membawa beberapa box makan kemudian memberikannya kepada Jihan.
Jihan menata beberapa makanan yang sama sekali belum dia sentuh ke dalam box kemudian membawanya menuju sekelompok anak jalanan dan memberikan makanannya.
"Vin apa yang dia lakukan" tanya Dwi.
"Liat aja" ucap Kevin.
Karena Kevin mengikuti Jihan dengan ponsel masih menyala. Dwi kagum karena Jihan sangat baik hatinya bahkan dia tidak sungkan duduk dengan mereka semua.
"Hal biasa yang dia lakukan saat makan di luar" ucap Kevin
Jihan kembali ke tempat makannya kemudian menyelesaikan makannya dan memilih kembali ke apartemen Dwi dengan di antar Kevin.
"Ji ada chat dari Dwi" ucap Kevin memberikan ponselnya.
"Kenapa gak ke ponsel gue aja langsung si" ucap Jihan menerima ponsel Kevin.
"Gak tau" ujar Kevin.
Jihan membaca chat yang Dwi kirimkan kemudian dia membalasnya dengan cepat. Jihan hanya memegangi ponsel tersebut tanpa membalas chat yang Dwi terus kirimkan.
"Makasih untuk hari ini Kak" ujar Jihan.
"Ok, kamu yakin mau tinggal di sini" tanya Kevin.
"Iya kenapa" ucap Jihan.
"Gak apa apa" ucap Kevin tersenyum.
"Gue mau acak acak apartemen dia hehe" ujar Jihan masuk ke dalam apartemen Dwi.
"Hehe lupa nih" ucap Jihan mengembalikan ponsel Kevin.
Kevin tersenyum lalu pergi, sedangkan Jihan langsung menuju kamar Dwi dan tidur.
Pagi menjelang Jihan melakukan aktivitasnya di apartemen Dwi sebelum dia berangkat untuk bekerja. Jihan membuat sarapan untuk dirinya setelah itu bersiap untuk pergi ke butiknya.
"Hai girl" ujar Jihan saat sampai di butiknya.
"Mba Jihan sudah datang, mba ada beberapa orang nungguin mba" ucap Ani salah satu kariawannya.
"Iya suruh tunggu sebentar lagi, saya mau siap siap dulu" ucap Jihan pergi ke ruang kerjanya dan berganti pakaian pasalnya di apartemen Dwi tidak ada baju miliknya
tiga puluh menit berlalu Jihan keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri orang yang sudah menunggunya dari tadi.
"Selamt siang maaf menunggu lama ada yang bisa saya bantu" ucap Jihan.
"Hei" ujar Gabby.
"Gabby, kenapa ada yang bis gue bantu" tanya Jihan.
"Iya gini gue mau nikah sama dia" ujar Gabby menunjuk Beni di sampingnya.
"Kalian nikah seriusan" tanya Jihan tak percaya.
"Serius lah, gue tanggung jawab kali" ucap Beni.
"Tanggung jawab, lo hamil " tanya Jihan lirih.
"Eh mana ada gak lah, gini gue ceritain sebenarnya hubungan gue sama dia tuh gak ada setuju dari orang tua " ucap Gabby.
"Alasannya" tanya Jihan.
"Pertama kita masih sekolah, ke dua terlalu muda buat nikah, tapi yang bikin gue lakuin ini karena mereka menganggap Beni gak bakal bisa bahagiain gue apa lagi yang mereka tau Beni kan playboy" ucap Gabby.
"Terus kalian lakuin "hal nekad" itu bertujuan biar kalian di restuin gitu kalian gila" ucap Jihan.
"Tapi dia tanggung jawab Ji" ucap Gabby.
"Gue tau, tapi seharusnya kalian itu bersyukur bisa habisin waktu remaja kalian buat main main buat sesuka hati dan bisa menikmati masa sekolah" ujar Jihan.
"Kita tau, tapi gue takut gue hamil" ujar Gabby lirih.
__ADS_1
"What, emang gak pakai pengaman" ujar seseorang di belakang Jihan.
"Gue lupa waktu itu udah gak tahan he" ujar Beni
"Eh bentar bentar yang ngomong tadi siapa" ucap Jihan.
"Tuh" ujar Gabby dan Beni menunjuk belakang Jihan.
"Mas Dwi" ucap Jihan saat membalikkan badannya.
"Surprise" ucap Dwi semangat.
Jihan hanya menatapnya aneh tanpa expresi membuat Dwi bingung. Jihan lalu mengulurkan tangan untuk mencium tangan Dwi di balas ciuman di kening.
"Wah udah sah jadi bebas ya" ucap Gabby.
"Kalian kenapa gak nikah secara agama dulu, tujuan kalian kan punya anak biar orang tua kalian restuin hubungan kalian kan" ujar Jihan.
"Emang bisa gitu Ji" ucap Gabby.
"Bisa lah, nanti setelah anak kalian lahir baru kalian resmikan pernikahan kalian biar gak tambah dosa juga" ucap Jihan.
"Hm oke" ucap Beni.
"Gimana By lo mau kan" ucap Beni pada Gabby.
"Iya gue mau" ucap Gabby.
Beni tersenyum lalu memeluk dan mencium Gabby membut Jihan membulatkan matanya. Belum juga sah kalian udah main nyelonong aja gak malu apa" Ujar Jihan.
"Hehe iya Mba Jihan cantik yang baik yang gak pernah acaran apa lagi pegangan tangan " ucap Gabby.
"Biarin eh, berhubung kalian di sini pilih baju gih masing masing satu sebagai hadiah pernikahan kalian" ucap Jihan.
"Serius" ucap Gabby bahagia.
"Iya" ucap Jihan.
Gabby dan Beni mencari baju yang mereka inginkan. Sedangkan Jihan pergi berbicara kepada Ani kemudian pergi ke ruangannya tentu saja dengan Dwi yang mengekorinya.
"Ji kamu gak penasaran mas bawa apa buat kamu" ujar Dwi menutup pintu ruangan Jihan.
"Kenapa pulang gak bilang, kenapa gak tunggu di apartemen aja, kenapa gak telfon kenapa " ujar Jihan mengomel.
"Iya iya sayang maaf" ucap Dwi mendekati Jihan bermaksud untuk menggenggam tangan Jihan tapi tak di sangka Jihan justru lari memeluknya.
Dengan senyuman melebar Dwi membalas pelukan Jihan erat. Dwi bahkan beberapa kali mencium puncak kepala Jihan. Dwi melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah orang yang dia rindukan namun Jihan malah makin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa" tanya Dwi
"Gak tau" jawaban Jihan yang membuat Dwi bingung.
Dwi mengangkat dagu Jihan dan membuat Jihan menatapnya dalam. Dwi memajukan wajahnya kemudian menarik tengkuk Jihan dan me***at lembut bibir Jihan.
Juhan tidak memberontak membiarkan Dwi bermin lebih dalam tapi dia tidak membalas perlakuan Dwi. Setelah puas bermain Dwi kembli memeluk erat Jihan.
"Hei cantik kamu nangis" ujr Dwi saat merasa bajunya basah.
"Hei kenapa" tanya Dwi melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayu istrinya.
"Entahlah air matanya terus mengalir" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Hm sepertinya ada sesuatu, udah jangan nangis nanti mas gigit mau" ujar Dwi langsung membuat Jihan seketika berhenti mengeluarkan air matanya
"Duduk, mau cerita" tanya Dwi sembari duduk bersama.
"Gak ada yang bisa di ceritain, mana buah tangan" ujar Jihan mengulurkan tangannya.
"Giliran oleh oleh aja baru semangat" ucap Dwi memberikan sebuah paperbag yang dia bawa tadi.
"wah cantik banget" ucap Jihan saat melihat sebuah sepatu dengan corak khas sebuah daerah.
"Kamu suka" tanya Dwi.
"Suka boleh Jihan pakai" tanya Jihan.
"Boleh, sini mas pakaikan" ucao Dwi berlutut di depan Jihan dan memasangkan sepatu itu.
"Eh sorry lagi asik ya" ucap Gabby yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan kerja Jihan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya readers....
Maaf ya lama upnya .... sama ceritanya Author kaya muter muter ya... silahkan komentar.....