Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 156


__ADS_3

"Bukankah itu sebuah penghinaan nona" ledek Leon.


"Sengaja" ucap Jihan duduk dengan ketus.


"Sendirian lo" ucap Leon.


"Gak" ucap Jihan.


"Sama pacar, mana pacar lo gue mau tau emang ada orang yang mau pacaran sama lo" ucap Leon.


"Wah wah, anda kira saya tidak laku tuan banyak yang mengantri untuk mendapatkan saya" ucap Jihan.


"Gak percaya gue" ucap Leon.


"Serah, emang lo gak boleh percaya sama manusia" ucap Jihan


"Eh secantik apa si lo, gak mungkin lebih cantik dari seorang putri Konglomerat kan" ujar Leon.


"Mungkin kalau saya membuka cadar ini anda gak berkedip" ucap Jihan.


"Ya karena lo burik hahaha" ucap Leon.


"Hai Ji" ujar seseorang menghampiri.


"Hai lama bener lo" ucap Jihan.


"Hehe sorry, siapa nih pacar baru lo" ucap Niken teman Jihan pemilik tempat itu.


"Mana ada dia baru saja menghina gue" ucap Jihan.


"Haha, eh maaf tuan bolehkah saya duduk di sini" ujar Niken.


"Yaya saya juga mau pergi" ucap Leon dengan mengedipkan mata kepada Jihan.


"Eh lo kenapa nyuruh gue ke sini" tanya Niken.


"Lo pasti kenal ke dua gadis itu" tanya Jihan.


"Mana yang sama tuan Muda Putra" tanya Niken.


"Lo kenal dia juga, dia sering ke sini" tanya Jihan.


"Kenapa lo penasaran" tanya Niken.


"Lo tau gue udah nikah kan, nah itu suami gue" ucap Jihan.


"What lo serius" tanya Niken keras.


"Lo cewek tapi suara lo menggelegar" ujar Jihan.


"Hehe sorry, ya Tuan mudaa itu sering ke sini dan mereka berdua adalah faforitnya eh lo kesini karena itu" tanya Niken.


"Ya lah mana lagi, gue ke sini juga karena lo upload vidio tadi" ucap Jihan.


"Terus ini juga alasan lo" tanya Niken menunjuk cadar Jihan.


"Hm begitulah" ucap Jihan.


"Terus tuan muda tadi" tanya Niken.


"Itu bos gue, gak nyangka juga ketemu dia di sini" ucap Jihan.


"Bos lo, bukannya itu tuan muda mafia itu ya Ji bos lo kok bicaranya lo gue si" tanya Niken.


"Profesional say" ucap Jihan.


"Tapi dia kok hina lo gak pernah liat wajah lo ya" tanya Niken.


"Gak gue selalu pakai cadar kalau kerja sama para mafia gue juga gak mau nyawa gue ilang sia sia" ucap Jihan.


"Pinter juga lo, lo gak mau makan" tanya Niken.


"Mau dong, lo masakin ya" ucap Jihan.


"Oke kalau lo doyan aja makanan gue" ucap Niken.

__ADS_1


"Gak gak gak jadi" ucap Jihan berjalan di ikuti Niken.


Saat Jihan berjalan pergi tiba tiba dia berpapasan dengan Kevin dan Ani sang sekertaris membuat Jihan gelagapan.


Namun dengan cepat Jihan mencari posisi agar Kevin tak melihatnya namun saat itu juga Kevin sudah menatapnya dengan tajam.


"Apa perlu anda bersembunyi padahal anda tau kalau anda tidak bisa bersembunyi bukankah itu hal yang sia sia" ucap Kevin membuat Jihan menatapnya.


"Bisa gak kalau lo gak lihat gue gitu kak" ucap Jihan membuat Kevin tertawa.


"Udha jelas jelas di depan gue masa iya gak liat mata gue masih bener" ucap Kevin


"Yaya, eh lo jangan panggil nama gue" ucap Jihan.


"Kenapa" tanya Kevin sembari melihat sekeliling lalu tertawa.


"Sekali lagi lo ketawain gue, gue ambil balik bonus lo" ucap Jihan berlalu pergi.


Kevin tertawa sedangkan Ani hanya menatap Kevin dengan penuh kebingungan. Kevin menarik Ani untuk duduk di meja yang sudah mereka pesan.


"Kenapa bingung ya tadi siapa" ujar Kevin.


"Dari postur sama bajunya kayak bu Jihan ya" ujar Ani.


"Tepat" ucap Kevin.


"Cantik banget pake cadar" ucap Ani.


"Mana ada cantik mata doang yang terlihat, eh Vin lo kenal sama cewek bercadar tadi" ujar Leon yang menghapiri.


"Apa lo gak kenal" tanya Kevin balik.


"Maksud gue gini, dia emang anak buah gue tapi kan gue belum pernah liat wajahnya" ucap Leon.


"Mau gue deketin" ujar Kevin mendapat tatapan tajam Ani.


"Gimana caranya lepas tuh cadar" tanya Leon.


"Jadilah suaminya gampang kan" ucap Kevin.


"Tepat" ucap Leon tertawa dan pergi.


Dari kejauhan Jihan menatap Kevin dengan tatapan menakutkan sedangkan Kevin hanya menyengir tanpa dosa. Jihan kembali ke mejanya dengan Niken dan beberapa teman lainnya.


"Hei lo mau gak" ujar Leon datang dengan sebuah minuman.


"Thanks" ucap Jihan menerimanya.


Leon terus menatap Jihan, Jihan tau kalau Leon ingin melihat wajahnya. Dia mengambil sedotan dan mulai meminum.


"Gagal" ucap Kevin tertawa


Leon pergi mengambil beberapa disert untuk Jihan namun dengan senyuman manis di balik cadar Jihan melihat perjuangn Leon untuk melihat wajahnya.


Jihan terbelalak saat melihat Dwi yang berada tepat di depan matanya mencium salah seorang gadis di sana. Jihan merasa matanya mulai panas dan cairan bening meronta ingin keluar.


"Si bos nangis" ucap Ani menyenggol Kevin.


Kevin menatap Jihan dan melihat arah pandang Jihan yang ternyata Dwi terlihat sangat enjoy dan dekat dengan ke dua gadis yang menggodanya terus menerus.


..."Ku menangis" ledek Kevin....


Dengan cepat Jihan menghapus air matanya. Dia melihat Abangnya datang dan langsung melayangkan tinjunya namun Jovan belum juga sadar kalau Jihan ada di sana.


"Ceraikan adek gue sekarang juga" ucap Jovan membuat Dwi gelagapan.


Jihan hanya melihat tanpa ada kemauan ingin memisahkan ke duanya. Jovan terus memukul kembali wajah Dwi namun Dwi membalasnya sedangkan Leon masih asik dengan tatapannya pada Jihan Ridwan mencoba menengahi.


"Jihan" ujar seseorang berteriak lalu berlari memeluk Jihan.


"Jihan" ujar semua orang termasuk Dwi dan Jovan.


"Gue kangen sama lo, sumpah lo masih menawan walaupun pakai cadar" ujar Amira sahabat Jihan yang kuliah di luar negeri.


"Gue juga kangen lo" ujar Jihan.

__ADS_1


Jovan menatap Jihan yang berjalan ke arah mereka. Dwi menatap melas pada Jihan sedangkan Jovan merapikan bajunya yang berantakan akibat perkelahian tadi.


brugh....


Jihan meninju Dwi dengan sangat keras sampai ujung bibir Dwi berdarah membuat semua orang terbelalak.


"Lo bilang gue bidadari kan tapi gue bisa jadi monster yang gak bakal bisa lo mainkan, bermainlah dengan mereka sepuas lo tapi gue udah pernah bilang jangan pernah bermain di depan keluarga gue terutama bng Jovan" ucap Jihan pemuh amarah.


"Lo mata matain gue" tanya Dwi.


"Jadi lo pulang gak langsung temuin gue malah mata matain gue gitu" ucap Dwi.


"Gak ada waktu gue mata matain lo, gue pulang gak bilang karena lo buat ulah di perusahaan gue tapi lo malah asik asikan main di sini terus gue salah gitu" ucap Jihan tak bisa menahan amarahnya lagi.


"Ji ingat kesehatan mu Ji" ucap Ridwan.


"Gue gak peduli lagi dok, kalaupun Jihan mati se enggaknya gak ada dendam Abang gue sama dia" ucap Jihan.


"Lo tau gue dulu nangis mau mati gaara gara anak kita pergi tapi sekarang gue bersyukur anak kita pergi lebih dulu dia gak liat bapaknya gila kayak gini gak liat ibunya kayak gini puas lo ha puas" ucap Jihan kembali memukul Dwi namun lebih lembut karena manangis.


"Oke sekarang lanjutkan permainan lo, ingat kamu boleh main tapi jangan di depan keluarga gue sekali lagi lo buat Abang gue mukul lo gue bakal ungkapin semua sama mama Sri dan lo perlu ingat juga pernikahan bukan hal yang main main buat gue tapi saat gue ingin melepaskannya tidak akaan pernah bisa kembali" ucap Jihan menghapus air matanya dan pergi menggandeng Jovan.


"Hei Je" ujar Leon menarik Jihan keras membuat Jihan jatuh di dadanya.


"Perfect" ucap Leon langsung menarik cadar Jihan.


Leon terpukau dengan kecantikan Jihan sedangkan Dwi marah melihat perlakuan Leon. Jihan hanya membenarkan posisi dan pergi.


"Je ini" ujar Leon mengibarkan cadarnya.


Jihan hanya mengangkat tangannya dan pergi begitu saja. Saat sampai di parkiran mobil Jihan mengyentikan langkahnya membuat Jovan menatapnya.


"Bang" ujar Jihan membentak Jovan.


"Kenapa" tanya Jovan.


"Bang kenapa lagi lagi Abang ikut campur, kenapa Abang langsung mukul dia, dan kenapa Abang tau kalau dia lagi kayak gitu tadi " ujar Jihan.


"Biasaan pertanyaan lo panjanag bener, Abang baru datang dan melihat Dwi di sana sedang gila ke dua Abang minta Dwi buat jaga lo tapi tidak menyakitinya tapi dia malah asik main di belakang lo" ucap Jovan.


"Bang sekarang ini semua urusan Jihan apapun itu selama Jihan masih mampu melawannya sendiri Abang please bukan Jihan gak mau Abang campur tangan di kehidupan Jihan tapi kasih kesempatan Jihan buat bisa menyelesaikan masalah" ucap Jihan.


"Maaf Ji, tapi Abang gak bisa menahannya Abang gak mau kamu sakit hati Ji dan Abang gak mau kalau kamu sampai tau kalau Dwi gila dan Abang juga gak tau ternyata kamu juga menyaksikan itu" ucap Jovan.


"Hm sekarang pinjemin Jihan pengawal lo Bang, Jihan mau ambil tas di dalam dan Jihan gak mau salah satu dari mereka menyentuh Jihan" ucap Jihan di ngguki Jovan dan langsung mengisaratkan beberapa pengawal yang dia bawa untuk menjaga Jihan.


Jihan kembali ke dalam dengan pengawalan penuh. Jihan juga berjalan dengan serius dan aura dingin yang menyelimuti membuat semua orang yang berpapasan dengannya minggir seketika.


Jihan melihat Dwi di dalam sedang uring uringan dan saat Jihan berjalan ke arahnya Dwi langsung menatap Jihan membuat pandangan mereka bertemu membuat Jihan menghentikan langkahnya


"Tolong ambilkan tas saya" ucap Jihan pada seorang pengawal dan di angguki.


"Nona Jihan Prasaja bukankah anda tidak adil" ujar Dwi membuat Jihan menatapnya.


"Baiklah keadilan yang bagaimana yang anda maksud tuan Dwi Putra" ucap Jihan.


"Kamu bisa di keilingi banyak pria kenapa saya tidak" ucap Dwi membuat Jihan tertawa.


"Oke, gini semua pria yang mengelilingi saya tidak perlah melakukan hal lebih dari sekedar berjalan bersama atau duduk dan bercanda sedangkan yang anda lakukan itu ah " ujar Jihan frustasi.


"Sekarang kita perjelas hubungan ini kita ketemu aja di rumah papa Seno gue gak peduli lagi sama hati mak lo ataupun orang yang gue perjuangan selama ini gue bakal lepas lo" ujar Jihan penuh amarah.


"Je i love you" ujar Leon.


"Bolehkah saya menjawabnya sebagai ganti ciuman yang sudah saya saksikan" ujar Jihan dengan tawa menakutkan.


.


.


.


.......


Jangan lupa dukungannya ya guys......

__ADS_1


__ADS_2