Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 184 Mau Menerimaku Kembali


__ADS_3

"Jawab dengan jujur siapa anak yang bersamamu saat di bandara" ujar Jihan.


"Bandara" tanya Dwi berganti posisi menatap Jihan.


"Hm siapa dia" tanya Jihan.


"Dia anak Klara, oke gue minta maaf sebelumnya gue emang udah nikah lagi dan orang itu Klara tapi gue berani sumpah kalau anaknya atau ank yang lo liat itu bukan anakku" ucap Dwi menatap Jihan di balas tatapan serius Jihan.


"Lalu bagaimana kamu membuktikannya" ucap Jihan.


"Tes DNA sekarang juga gue bisa karena sebelumnya gue


Juga udah tes DNA dan dia bukan anakku" ucap Dwi.


"Lalu bagaimana kamu menikah dengannya" tanya Jihan penasaran.


"Maaf Ji gue minta maaf" ucap Dwi menangis.


"Lo nidurin dia kan, lo lakuin itu saat lo masih jadi suami gue saat gue baru pergi iya" ujar Jihan membuat Dwi mengangguk dengan isak tangis.


Jihan mendorong tubuh Dwi untuk menjauh darinya dengan air mata yang mengalir. Dia duduk di tepi ranjang di ikuti Dwi yang memeluknya dengan ucapan maaf yang terus menerus terucap


"Ji" panggil Jovan.


"Ya Bang" ujar Jihan menghapus air matanya dan keluar dari kamar di ikuti Dwi.


"Kenapa Bang" tanya Jihan langsung duduk di samping Jovan.


"Dokter Rey mau bicara" ucap Jovan.


"Kenapa Dok". Tanya Jihan.


"Em kamu bisa bantu saya gak, sebenarnya saya di jodohkan tapi saya tidak mengenal siapa wanita itu saya ingin kamu pergi denganku menemui orang tuaku saya sudah bicara sama Abang kamu" ucap Reymond.


"Maaf sebelumnya nih, mau jadiin gue pacar gitu biar gak di jodohkan" ujar Jihan


"He iya" ucap Rey.


"Kalau mereka minta kita nikah waktu itu juga gimana" tanya Jihan membuat Dwi membulatkan matanya sedangkan Jovan tertawa.


"Ya kita nikah" ucap Rey.


"Menarik" ucap Jihan.


"Ji" ujar Dwi menatap penuh harap namun Jihan justru tersenyum.


"Kenapa, kamu aja bisa nikah lagi" ujar Jihan lirih


"Tapi, dia gak bisa pergi" ujar Dwi.


"Dia siapa" tanya Rey.


"Dia ayah dari anak anakku" ucap Jihan.


"Suaaami" tanya Reymond dengan wajah berganti sayu.


"Harusnya si gitu, Dok gini gue pengin bunuh orang tapi dia orang yang ingin gue lindungi, pengin marahin tapi sayang pengin hancurin tapi dia orang yang paling ingin gue bahagiakan gimana ya" ujar Jihan.


"Mabuk dan bunuh dia" ujar Reymomd.


"Gak ada cara lain" tanya Jihan.


"Dengan kamu mabuk berat maka kamu akan membunuh tanpa sadar dan hukumannya tak akan terlalu berat" ujar Rey.


"Menarik, mari kita coba nanti malam" ujar Jihan.


"Kamu mau menemani makan dengan orang tuaku" tanya Reymond.


"Entahlah ingin lenyap gue" ujar Jihan pergi ke kamar mengambil tasnya dan kunci mobil.


"Mau kemana" tanya Dwi dingin.


"Mau cari malaikat maut kenapa mau ikut" ucap Jihan.


"Ngomong yang bener lo gue belum siap ngurusin anak anak lo" ujar Jovan.


"Iya Abang maaf, bercanda" ujar Jihan memeluk manja Jovan.


"Tau mau apa" ujar Jovan.


"Hehe dua Bang " ujar Jihan.


"Gak ada " ujar Jovan.


"Bang please" ucap Jihan.


"Anak lo aja gak ngrengek" ucap Jovan.


"Oke satu tapi buat gue sendiri" ujar Jihan.


"Mending dua buat rame rame " ucap Jovan.

__ADS_1


"Boleh deh" ujar Jihan.


"Gak ada, lagian ada Dwi lo mau mabuk gila lo" ucap Jovan.


"Karena dia" ujar Jihan.


"Ada yang mau lo katakan" tanya Jovan yang tau kalau Jihan mabuk maka dia akan mengatakan semua yang dia rasakan.


"Jantung gue berdetak kenceng banget, hati gue sakit air mata ngalir begitu saja apa ada obat untuk itu" tanya Jihan menatap Rey.


"Ada suntik mati" ucap Rey.


"Sakit dong" ucap Jihan.


"Abang lo tau lo pelit" ucap Jihan.


"Gak peduli, Wi lo harus liatin apa aja yang dia beli dia gak boleh sentuh Anggur apapun merknya ataupun minuman beralkohol lainnya" ujar Jovan.


"Abang ngapa ngomong" ucap Jihan langsung mencium pipi Jovan dan pergi.


Jovan menatap Dwi dan menyuruhnya mengikuti Jihan. Dwi mengikuti Jihan dalam diam dia tidak berbicara sampai mereka berada dalam satu mobil menuju pusat perbelanjaan.


"Bagaimana dengan perkembangan sekolah anak anak" ujar Dwi membuka pembicaraan.


"Baik, mereka sekarang sudah masuk SD mereka menargetkan lulus dengan cepat" ujar Jihan.


"Apa otak mereka meniru otakmu" tanya Dwi.


"Lebih dari milik gue, di usia mereka sekarang Justine sudah menciptakan sebuah aplikasi game online dia juga sudah mendapatkan banyak uang sedangkan Jenifer dia sudah bisa menghafal semua alat jenis obat dan semua tentang medis" ujar Jihan tersenyum membayangknmab anak anaknya.


"Dia ingin menjadi Dokter" tanya Dwi.


"Hm" ujar Jihan.


"Apa mereka merepotkanmu" tanya Dwi.


"Gak mereka sangat mandiri hanya sesekali mereka menjadi anak kecil mereka sangat dewasa" ujar Jihan.


"Apa mereka tidak pernah menanyakan keberadaanku" tanya Dwi.


"Gak pernah, dia hanya ingin tau tentang Jovan mereka mencari tau semua tantang Jovan dan saat ke Indonesia bukan kamu yang mereka cari melainkan Jovan" ujar Jihan melihat wajah Dwi yang cemberut.


"Jangan sedih, mereka mencari Jovan untuk menanyakan keberadaanmu sebelum pergi ke Indonesia mereka sudah mencari tau tantangmu memang tidak pernah bertanya tapi mereka mencarimu" ujar Jihan.


"Kenapa kamu bersembunyi" ujar Dwi.


"Pada saat itu nyawaku di ujung tanduk, gak ingin kehilangan anak untuk ke dua kalinya harus pergi walau berat meninggalkan semuanya harus bertahan hidup sendiri sampai lahiran pun sendiri" ujar Jihan sedih.


Jihan juga menceritakan setiap orang yang telah menolongnya. Dwi mencium kening Jihan membuat Jihan menatapnya lalu dia membalas pelukan Dwi erat.


"Sekarang jawab pertanyaanku, kamu masih menginginkan ku dalam hidupmu atau tidak karena jawabanmu menentukan langkahku" ujar Dwi merangkup wajah Jihan.


"Ingin kamu kembali di hidupku tapi aku juga gak mau jadi duri dalam rumah tangga barumu anak anak juga paham kondisi ini" ujar Jihan.


"Kamu tau bahkan pernikahanku dengan Klara hanya sebatas kertas persetujuan tidak di akui dalam negara" ujar Dwi.


"Ceritakan agar aku tidak salah paham" ujar Jihan.


Dwi bercerita semuanya, membuat Jihan paham situasi dan kondisi Dwi saat ini. Dia mencoba menata hatinya untuk menerima Dwi kembali.


"Mau menerimaku kembali" tanya Dwi di angguki Jihan membuat Dwi tersenyum dan memeluknya erat.


"Makasih" ujar Dwi menghujani Jihan dengan ciuman.


"Make up gue luntur" ujar Jihan mengusap pipinya.


"Masih cantik, kamu kenapa pas ke Indonesia memakai cadar" tanya Dwi melanjutkan perjalanannya.


"Gue mau melindungi anak anak" ujar Jihan.


Dwi terus mengucapkan maaf dan terima kasih kepada Jihan sembari menggenggam erat tangan Jihan begitupun Jihan yang terus tersenyum.


Saat sampai di pusat perbelanjaan Dwi memberikan uang yang cukup banyak kepada Jihan untuk di belanjakan membuat Jihan bahagia pasalnya sudah lama dia tidak membelikan baju baru untuk ke dua anaknya karena anak anaknya selalu menolak.


Waktu terus berjalan cepat dia harus segera ke tempat pemotretan untuk mengiklankan baju sahabatnya Sandra.


"Mau pulang dulu atau mau ikut" tanya Jihan saat menata belanjaannya di bagasi mobil.


"Ikut aja" ujar Dwi.


"Oke" ucap Jihan membuat mereka pergi ke tempat pemotretan.


"Anak anak gimana pulang sekolahnya" tanya Dwi saat sampai di tempat tujuan.


"Mereka pulang sore ada bis sekolah juga" ucap Jihan membuat Dwi manggut manggut.


"Em duluan ya tunggu sini mau siap siap dulu sama titip tas" ujar Jihan menyuruh Dwi menunggu di tempat pemotretan.


"Oke" ujar Dwi tersenyum.


Jihan pergi menemui sahabatnya Sandra lalu bersiap untuk make up dan berganti pakaian.Saat menunggu Jihan di ruang ganti Dwi membuka tas Jihan dan melihat lihat isi tasnya dan juga ponselnya.

__ADS_1


Dwi menaruh beberapa lembar uang ke dalam dompet Jihan dan sebuah kartu Black card. Saat keluar dengan pakaian yang dia iklankan dia sangat cantik apalagi outfit yang dia kenakan sangat pas di tubuhnya.


"Siapa tuh" ujar Sandra melihat Dwi di tempat pemotretan.


"Kenapa nanya nanya" ujar Jihan.


"Punya kamu" tanya Sandra hanya di balas senyuman manis Jihan.


Tak lama Jihan melakukan pemotretan dan membuat sebuah ikan vidio dengan cepat.


"Ini yang saya suka cepat dan tepat" ujar Sandra.


"Makasih" ujar Jihan.


"Oke see you again udah di transfer ya" ujar Sandra.


"Oke" ujar Jihan memeluk Sandra lalu berlalu pergi.


"Udah" tanya Dwi.


"Udah yuk" ujar Jihan.


"Mau kemana lagi" tanya Dwi.


"Mau ke toko ada pesenan kamu pulang aja bentar lagi anak anak pulang" ujar Jihan.


"Kamu gak papa sendirian" tanya Dwi.


"Udah biasa" ucap Jihan.


Dwi melajukan mobil Jihan ke apartemen Jihan lalu mobil Jihan di bawa Jihan ke tokonya. Dia langsung bekerja membuat pesanan pelanggannya. Dia bekerja sampai tidak sadar kalau anak anaknya sudah ada di sana bersama Dwi karena sangat seriusnya.


"Bos harus siap dua puluh menit lagi orangnya mau ambil" ujar seorang kariawan Jihan.


"Gila" ujar Jihan terlihat sangat stress.


Dengan cepat Jihan menyelesaikan pesanan mengerahkan semua kariawan yang dia percaya sehingga semua cepat selesai.


"Finish thanks guys" ujar Jihan langsung melepaskan celemek yang dia pakai.


"Mommy" ujar Jenifer.


"Hai Girl, kapan datang" tanya Jihan berusaha seceria mungkin.


"Udah lama" ucap Jenifer.


"Sama siapa, mana Abang" tanya Jihan.


"Tuh" ujar Jenifer.


"Mom ambil tas dulu ya, langsung pulang" ucap Jihan di angguki sang anak.


Jihan langsung menemui anak anaknya dan juga Dwi Jihan meminta Dwi untuk mengemudi dia merasa sangat lelah beraktivitas seharian. Saat perjalanan pulang Jihan tertidur membuat Dwi mengusap kepala Jihan di tertawakan anak anaknya.


"Ji" ujar Dwi saat sampai di palkiran apartemen.


"Udah sampai" ucap Jihan mengeliat.


"Udah" ucap Dwi


Jihan langsung berjalan masuk namun langsung kembali ke luar membuat Dwi bingung.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Belanjaan gue masih di mobil" ucap Jihan.


"Biar saya yang bawa kamu pergilah dengan anak anak" ucap Dwi.


Jihan berjalan lunglai kembali ke apartemennya bersama ke dua anaknya.


"Guys maaf ya Mommy mau istirahat dulu" ujar Jihan.


"Ya Mom" ucap ke dua anaknya.


Jihan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa di depan televisi dimana Jovan sedng bersantai.


"Abang minggir" ucap Jihan mendorong Jovan sampai jatuh.


"Dasar" ujar Jovan mengalah.


"Mana Dwi" tanya Jovan.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya ya guys...


Hapoy readers.......

__ADS_1


__ADS_2