Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Pernyataan


__ADS_3

"Kok gue" ucap Jihan.


"Diem lo Ji, gimana Nis" tanya Hana.


"Gue si gak apa apa, cuma kembali lagi ke keputusan kak Dwi gimana pilih gue apa Jihan" ucap Nisa enteng.


"Enteng banget lo ngomong, gak tau apa rasanya sayang tapi di paksa berhenti" ujar Jihan.


"Gak, yang tau cuma lo dan semoga aja cuma di lo" ujar Nisa.


"Lo ya, temen jahanam" ucap Jihan.


"Pagi semuanya, maaf saya harus masuk di kelas kalian karena bu Meri tidak datang untuk mengajar jadi saya yang ganti untuk persiapan ujian kalian" ucap Dwi tiba tiba.


"Apa tidak masalah" tanya Dwi lagi.


"Tidak" ucap semua siswi serentak.


"Giliran guru ganteng aja langsung semangat" cibir seorang siswa.


"Sudah sudah sekarang kalian semua konsentrasilah saya tidak akan berikan komsekuensi apapun pada kalian yang tidak memperhatikan" ucap Dwi tegas.


Dwi mulai mengajar Jihan memperhatikan dan mulai mempraktekkan apa yang Dwi ajarkan tadi malam mulai menikmati seseatu yang dia pelajari. Jihan bahkan bisa menjawab beberapa pertanyaan Dwi membuat semua temannya menggelengkan kepala pasalnya Jihan terkenal dengan otak yang pas pasan.


"Tiga jam pelajaran bersama saya bagaimana kalian setuju" tanya Dwi berdiri di belakang muridnya.


"Setuju" ucap beberapa siswa.


"Tiga jam, pinter gak pusing iya" cibir Jihan dan di dengar Dwi.


"Mau protes" ucap Dwi di samping bangku Jihan.


"Iya mau protes tapi takut kualat pak jadi nikmati aja" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Tumben lo Ji, nurut amat" ucap seorang murid.


"Kalau gak nurut, bisa abis gue" ucap Jihan sadis.


"Sudah selesai bicaranya sekarang kalian berdua maju ke depan dan kerjakan soal di depan" ucap Dwi.


"Kita berdua" tanya Jihan.


"Iya gak pake protes" ucap Dwi mengangguk mempersilahkan Jihan dan temannya maju.


Dengan sangat terpaksa Jihan dan teman laki lakinya berjalan ke depan dan mengerjakan soal dengan teliti Jihan mengerjakannya dengan penuh perhitungan Jihan ingin membuktikan kalau dia juga bisa seperti Abangnya yang ahli di setiap hal terutama akademi nya.


"Bagus, bagaimana cara menjawabnya silahkan jelaskan" ucap Dwi.


"Di jelaskan pak, yang bener aja" ucap Jihan protes.


"Emangnya kenapa, atau kamu cuma asal jawab" ujar Dwi.


"Gak, kalau asal sia sia belajar sampai larut" ucap Jihan.


"Ya udah jelaskan biar saya yang mendengarkan" ucap Dwi duduk di tempat duduk Jihan.


"Iya tapi kalau salah mohon bantuannya" ucap Jihan.


Jihan mulai menjelaskan bagaimana cara dia menjawabnya walaupun hanya memakai cara cara simple tapi penjelasan Jihan lebih masuk ke dalam otak otak temannya pasalnya kelas Jihan terkenal dengan kelas paling sulit di ajar.


"Bagaimana kalian sudah paham dengan penjelasan ibu Jihan" ujar Dwi.


"Paham pak" ucap semuanya.


"Baiklah sekarang saya akan kasih kalian beberapa soal dan harus selesai sebelum waktu istirahat" ucap Dwi.


"Siap pak" ucap semua murid tanpa kecuali Nisa yang asik melihat punggung Dwi yang tepat duduk di depannya.


"Pak bisa saya kembali ke meja saya" ucap Jihan.


"Gak bagi tuh kertas yang ada di meja ke semua teman teman baru boleh duduk" ucap Dwi.


"Yaya" ucap Jihan santai lalu mengambil soal soal yang ada di meja dan membagikannya ke semua temannya.


"Sudah bisa saya duduk" tanya Jihan.


"Sudah silahkan" ucap Dwi.


Semua orang serius dengan soal yang Dwi berikan sedangkan Dwi sibuk mengambil beberapa foto Jihan diam diam. Jihan mengangkat kepalanya dan tak sengaja melihat Dwi sedang mengarahkan kamera kepadanya lalu Jihan tersenyum manis ke arah Dwi membuat Dwi tersenyum merona.


"Baik waktunya istirahat tinggalkan tugasnya di atas meja kalian boleh keluar" ucap Dwi.

__ADS_1


"Baik pak" ucap semuanya.


Jihan dkk pergi ke kantin untuk makan dengan bahagia Nisa terus tersenyum dan menceritakan tentang apa yang dia sedang rasakan membuat Jihan tersenyum kaku.


"Ji deketin gue lah sama kak Dwi" ucap Nisa.


"Gimana caranya" ujar Jihan.


"Ya gak tau, rasanya gue udah sangat jatuh hati Ji" ucap Nisa.


"Jangan terlalu dalam, takut gak bisa keluar dari rasa yang kamu bangun itu" ucap Jihan memesan makanan.


Saat Jihan asik makan ada sebuah notifikasi di ponselnya menandakan sebuah pesan masuk.


*Ji bisa beliin mas makanan sama minum gak, mas gak bisa tinggalin tugas nih males kalau di bawa ke rumah kan mau berduaan sama kamu nanti masa iya sambil ngerjain tugas kasian kamunya di anggurin.


Terima kasih Sayang


I love you*


Jihan tidak membalas pesan dari Dwi namun memberikan pesan ke dua temannya agar memberikan izinnya untuk menemui Dwi yang berada di kelas. Hana dan Mona memberikan izin dan mencarikan alasan agar Jihan bisa pergi dari Nisa. Dengan berbagai bujuk rayu ahirnya Jihan bisa pergi dengan dua minuman dan dua bungkus siomay.


"Mas" panggil Jihan.


"Eh iya kenapa Ji" tanya Dwi.


"Tanya kenapa, yang suruh bawa makan sama minum siapa" ujar Jihan menyiapkan siomay dan minumnya.


"Kirain gak di beliin, istri gue baik juga" ledek Dwi.


"Udah mau makan gak kalau gak Jihan makan sendiri nih" ucap Jihan.


"Suapin" ucap Dwi.


"Suapin kenapa punya tangan kan" ucap Jihan.


"Punya tapi lagi kerja" ucap Dwi santai.


"Kalau gak dosa gue tonjok lo" ujar Jihan lirih.


"Kamu ngomong sesuatu" tanya Dwi pura pura tidak dengar.


"Iya sayang, terima kasih" ucap Dwi.


Jihan mulai menyuapi Dwi dan mulutnya sendiri, lebih tepatnya mereka makan bersama dengan Dwi yang serius dengan pelerjaannya. Jihan menyuapi Dwi satu dan dirinya sendiri satu sampai habis dua bungkus siomay yang Jihan bawa.


"Udah nih minum dulu" ucap Jihan memberikan minuman yang sudah dia buka.


"Iya terima kasih" ucap Dwi tersenyum manis.


"Nih" ucap Dwi menyodorkan minumannya kepada Jihan.


"Gak Jihan juga punya" tolak Jihan.


"Oh oke, mas udah selesai mas ke ruang guru dulu ya jangan rindu" ucap Dwi.


"GR banget kamu mas, paling juga kamu yang rindu" cibir Jihan.


"Tuh tau, makanya jangan jauh jauh" ucap Dwi berdiri.


"Iya cepet pergi sana temen temen Jihan pasti udah mau ke kelas" ucap Jihan.


"Iya, nanti pulang sama mas ya mas tunggu" ucap Dwi.


"Iya iya" ucap Jihan.


Namun sebelum meninggalkan kelas Dwi mencium kepala Jihan dengan hangat membuat Jihan tidak sanggup melihat ke arah Dwi. Dwi hanya tersenyum tapi beberapa saat kemudian teman Jihan datang membuat Dwi berhenti tersenyum lalu pergi.


"Ji tolong kasih itu ke teman teman kamu ya, saya gak hafal namanya soalnya udah saya acak acak tadi" ucap Dwi.


"Iya ma... eh pak" ucap Jihan menunduk membuat Dwi tersenyum manis.


"Manisnya" puji Nisa.


"Jangan senyum gitu gak baik, buat jantung gue maksudnya" ujar Jihan dalam hati.


"Ji kenapa lo pergi dulu si, jangan bilang lo pergi buat ketemu kak Dwi" ujar Nisa.


"Kenapa emangnya kalau temuin kak Dwi" tanya Mona.


"Ya gak apa apa si tapi kan aneh seorang Jihan mau berduaan di dalam kelas" ucap Nisa.

__ADS_1


"Gak lah, tadi tuh Abang kirim pesan tanya bukunya kebawa gue apa gak ya gue cari takutnya itu buku penting" ucap Jihan santai.


"Lalu di bawa lo gak" tanya Nisa.


"Gak" ucap Jihan.


"Ya gak mungkin lah, ngapain juga lo bawa buku Abang lo iya kan" ucap Nisa.


"Ya mungkin aja kan tadi malem belajar bareng Abang buat skripsi gue kerjain tugas kan mungkin aja gue salah ambil" ucap Jihan.


"Oh terus udah ketemu" tanya Nisa.


"Udah di kamar gue" ucap Jihan.


Nisa ber oh ria sedangkan Jihan tersenyum kecut karena telah membohongi Nisa.


"Maafin gue Nis udah bohongin lo, sering lagi" ucap Jihan dalam hati.


"Ji nanti pulang kita mampir ke toko gue dulu ya" ucap Nisa.


"Gak bis Nis, maaf gue harus pulang tepat waktu soalnya kak Dani yang di rumah" ucap Jihan.


"Kasian banget si lo kalau kak Dani di rumah" ucap Mona.


"Iya dia terlalu sayang sama gue" ucap Jihan.


"Lo pulang sama siapa, lagian toko gue kan kelewatan" ucap Nisa.


"Sama kak Dwi, itung itung dia bayar tinggal di rumah gue" ucap Jihan tersenyum sinis.


"Perhitungan amat lo Ji, terus mau aja kak Dwi sama lo kan bisa jadi fitnah" ucap Nisa.


"Perhitungan itu penting bisa irit ongkos bolak balik kan lumayan bisa buat beli jajan" ucap Jihan.


"Kenapa gak minta jemput kak Dani aja" tanya Hana.


"Kalaupun kak Dani yang jemput bukan gue yang pulang tapi lo" ucap Jihan.


"Bener tuh kata Jihan, lagian kan kak Dwi sendiri gak salah dong nebeng" ucap Mona.


"Tapi kok gue gak liat motor kak Dwi si di palkiran" ucap Nisa.


"Dia ganti motor" ucap Jihan.


"Kenapa, kan bagus pakai motor itu gak kebayang gimana rasanya gue bisa duduk di belakangnya dan memeluknya dengan erat" ujar Nisa berandai andai.


"Khayal lo" cibir Mona.


"Eh biarin dong, lagian kan kak Dwi gak ada ceweknya iya kan" ucap Nisa.


"Bukan gak ada lo gak tau aja" ucap Jihan.


"Lo tau Ji" tanya Nisa membuat Jihan kikuk.


"Ya kan secara dia dari kalangan atas gantengnya gak mungkin gak ada cewek di belakangnya" ucap Jihan.


"Iya lo bener" ucap Nisa.


Tak lama kemudian guru masuk dan memberikan pelajaran matematika yang sangat membingungkan. Nanun Jihan mencoba untuk memahami dengan beberap rumus yang dia pelajari tadi malam dengan Dwi dan Abangnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira kira Jihan bisa gak ya buka hatinya buat Dwi....


Penasaran yuk ikuti terus ceritanya dan jangan lupa dukungan buat Author ya like vote dan komennya....

__ADS_1


__ADS_2