Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Sepupu


__ADS_3

Jihan membalikkan badannya kemudian tersenyum dan berlari memeluk seseorang yang baru saja datang orang yang sangat Jihan rindukan. Dwi yang melihatnya merasa cemburu dengan apa yang Jihan lakukan.


"Udah peluknya kasian tuh suami lo liatin menderita banget tuh" ucap Dani.


DANI DARMAWANGSA saudara Jihan yang hidup di kota. Dani adalah anak dari kaka papa Jihan tepatnya Dani adalah kaka sepupu Jihan. Jihan dan Dani sangat dekat karena saat kecil Dani tinggal di desa dan sering bermain dengan Jihan.


"Iya, Kaka tau Jihan udah nikah" tanya Jihan.


"Tau lah, makanya Kaka pulang mana Abang kamu" tanya Dani.


"Tuh lagi duduk sama temen temennya" ucap Jihan menunjuk Jovan.


"Yuk kenalin Kaka ke suami kamu" ucap Dani .


Jihan menuntun Dani berjalan ke arah Jovan dan Dwi yang sedang asik ngobrol dengan teman temannya. Dwi yang di landa cemburu membuat Jihan tersenyum karena ekspresi lucu Dwi.


"Hai Wi gak nyangka ya lo yang bakal lepasin masa lajang secepat ini" ujar Dani memeluk Dwi.


"Kalian saling kenal" tanya Jihan.


"Hm, kita satu jurusan lagi kita sama sama di semester akhir" ucap Dani.


"Oh ya udah gak perlu di kenalin kan" ucap Jihan.


"Kenalin lah tega bener gak kenalin" ledek Dani.


"Males, eh Kak mana hadiah buat Jihan" tanya Jihan.


"Ada tuh" ucap Dani.


"Hadiah apa ini kak" tanya Jihan semangat.


"Hadiah pernikahan kamu lah" ucap Dani.


"Oke, lalu mana hadiah yang satu lagi" tanya Jihan.


"Hadiah apa" tanya Dani berfikir.


"Hadiah ultah Jihan lah apa lagi" ucap Jihan mencari cari.


"Emang harus dua ya, kan itu juga udah besar hadiahnya anggap aja gue satuin" ucap Dani.


"Gak ada satuin, besar juga bungkusnya doang isinya ma kecil cuma harga doang yang besar lo tau sendiri kan gue gak suka itu" ucap Jihan memajukan bibirnya sembari duduk keras di samping Dwi.


"Baru gue denger cewe gak suka hadiah mahal" ucap Randi.


"Lo emang beda Ji, tapi sayangnya lo udah jadi istri temen baik gue gue harap lo bahagia Ji" ujar Raka dalam hati.


"Yaya, kamu mau apa" tanya Dani manja pada Jihan.


"Emang gak ada pertanyaanain selain itu ya, udahlah gak penting" ucap Jihan membuka hadiah dari Dani.


Dwi yang masih cemburu terlihat memperhatikan Jihan dengan serius saat Jihan mulai membuka hadiahnya. Jihan yang merasa di perhatikan menatap Dwi membuat pandangan mereka bertemu namun dengan cepat Jihan kembali serius dengan hadiahnya.


"Kak ini hadiah pernikahan yang bener aja" ucap Jihan tak percaya.


"Kenapa" tanya Dani.


"Ya aneh lah, gak sekalian aja lo kasih hadiah alat USG" cibir Jihan.


"Bener juga kenapa gak kepikiran ya" ujar Dani tersenyum.


"Emang apa hadiahnya" tanya Dwi.


Jihan memberikan hadiah tersebut dengan malas, Dwi yang penasaran langsung melihat hadiahnya seketika matanya membulat tak percaya dengan apa yang Dani berikan sebuah tespack aneh memang tapi lucu. Namun tanpa sadar Dwi tersenyum membuat Jihan lebih kesal.


"Apaan si Wi, tadi lo melotot seketika lo senyum manis gitu" tanya Jovan.


"Mana emang kamu bisa senyum manis ya" pertanyaan bodoh Jihan membuat semua orang tertawa.


"Ngapain tertawa gak lucu, kak Dani gue tunggu hadiah selanjutnya" ucap Jihan berdiri.


"Duduk aja dulu, santai Dwi aja santai duduk biar gue jelasin" ucap Dani.


Jihan menuruti perkataan Dani, Jihan duduk kembali dengan kesal karena Abang dan teman temannya mulai menggodanya dengan hadiah Dani. Namun anehnya Jihan tidak sedih tapi Jihan merasa bersalah karena yang mereka inginkan hal yang sangat Jihan hindari.


"Tuh hadiah beneran dari gue" ucap Dani menunjuk arah pintu yang terlihat dua orang sedang membawa dua hadiah besar.

__ADS_1


"Ini gak aneh kan" tanya Jihan.


"Gak buka aja, tapi yang itu kalian buka bersama" ucap Dani menunjuk kotak hadiah warna merah.


"Oke" ucap Jihan memberikan hadiah tersebut ke Dwi dan membukanya bersama.


Jihan dan Dwi membuka hadiah bersama dengan wajah tengang membuat semua orang ikut tegang. Setelah hadiah tersebut terbuka mata Jihan maupun Dwi membulat kemudian menatap Dani aneh.


"Kenapa" tanya Dani.


"Mata gue bener gak si" tanya Jihan pada Dwi.


"Sepertinya begitu haruskah kita hadiahi dia bom atom" ucap Dwi.


"Sepertinya itu yang terbaik" ucap Jihan.


"Udah diskusinya ada pertanyaan" tanya Dani.


"Hm, dari mana kaka dapat ini dan siapa yang memberikan ini satu lagi kapan kaka membelinya" tanya Jihan.


"Runtut amat neng satu satu ngapa" ujar Dani santai.


"Jawab" ucap Jihan serius.


"Ini yang gak bisa gue lupain melihat lo bicara serius lo makin menarik" ucap Dani menggoda.


"Cukup sudah bisa tolong di jawab" ucap Jihan.


"Oke oke, gue kasih kalian itu gue tau kalau kalian bakal menundanya jadi apa salahnya gue kasih itu lagian itu aman lagi" ucap Dani santai.


"Emang apaan si kok serius banget" ucap Jovan.


Jovan menarik hadiah yang ada di pangkuan Dwi seketika Jovan tertawa keras membuat teman temannya penasaran dan ikut melihat. Ekspresi mereka sama yaitu menertawakan hadiah Dani sebuah boneka yang sangat cantik dengan sebuah tulisan Mama Papa.


"Ini sangat sangat aman" ledek Randi.


"Mereka aja setuju" ucap Dani.


"Terserah" ucap Jihan mengambil hadiah ke duanya dan memberikannya kepada Dwi untuk membukanya.


"Kenapa gak kamu aja" tanya Dwi.


Dengan santai Dwi membuka hadiah terakhir dengan hati dag dig dug Dwi membuka hadiahnya kemudian tersenyum. Jihan yang sedang asik bermain ponsel tidak melihat apa yang ada di dalam kotak Jihan cuek.


"Gak mau lihat" tanya Dwi.


"Apa, gak kalau aneh" ucap Jihan.


"Gak aneh, mungkin ini hadiah yang paling kamu inginkan" ucap Dwi lembut.


"Cie lembutnya, Ji luluh gak tuh" ledek Randi.


"Apaan si, biasa aja kali gue aja biasa" ucap Jihan.


"Bener bener nih anak, eh Van itu adek lo bener cewek bukan si" tanya Randi.


"Ya cewek lah" ucap Jovan.


"Cewe tapu di lembutin gak bisa ya, nasib li sungguh bert Wi" ledek Randi.


Jihan melihat hadiah tersebut lalu tersenyum. Jihan terlihat begitu bahagia dengan hadiah yang dia terima. Sebuah sepatu snacker putih dengan pita hijau sepatu yang sedang Jihan inginkan sampai Jihan tidak menggunakan semua sakunya agar bisa membeli sepatu tersebut.


"Makasih Kak" ucap Jihan memeluk Dani erat.


"Iya, itu hadiah ultah ini baru hadiah pernikahan yang bener dari kaka" ucap Dani menatap Jihan.


Jihan tersenyum lalu menutup matanya atas perintah Dani, Dwi yang merasa cemburu hanya bisa melihat tanpa bisa berkomentar apa lagi memisahkan ke duanya.


"Ini buat Jihan" tanya Jihan tak percaya saat melihat hadiah sebuah tiket liburan ke Bali.


"Iya, buat kalian honey moon" ucap Dani.


"Maaf kak tapi Jihan gak bisa terima ini, bukan gak mau tapi Jihan" ucap Jihan tercekat.


"Kamu bisa menggunakan ini kapan pun kamu siap, kamu tau kenapa kaka pilih hadiah ini" tanya Dani.


Jihan menggelengkan kepalanya sembari menatapnya tajam.

__ADS_1


"Karena Kaka ingin tidak ada alasan buat kalian berpisan ingat broken home bukan hal yang baik" ucap Dani tersenyum.


Jihan tersenyum sembari meneteskan air matanya, Dani memeluk Jihan erat kemudian meminta Dwi untuk mendekat dengan berat Dwi mendekat lalu Dani melepaskan peluknnya kepada Jihan dan memberikan tangan Jihan ke Dwi.


"Jaga dia, jangan buat air matanya menetes selain air mata bahagia" ucap Dani tersenyum.


Dwi dan Jihan saling tatap kemudian Dani membiarkan mereka berdua.


"Jelaskan semuanya dan jangan ada rahasia di anatara kalian" bisik Dani saat hendak duduk.


"Mas bisa bicara sebentar" ucap Jihan mengandeng Dwi ke kamar.


"Langsung mojok" ledek Randi.


"Ada yang mau gue tanya" ucap Dwi serius.


"Apa" tanya Jihan.


"Sebenarnya apa hubungan kalian maksudku Dani, gue diem karena gue gak mau bertengjar di depan orang gue punya hati yang bisa merasakan sakit, terutama saat kamu lebih dekat dan akrab dengannya" ucap Dwi.


"Sebelumnya Jihan minta maaf karena belum kenalin kamu dana kak Dani dan lagi apa yang kamu lihat di depan bukan seperti apa yang kamu pikirkan Kak Dani adalah kaka sepupu Jihan dia sepupu yang paling dekat dengan Jihan dia adalah korban sebuah broken home" ucap Jihan.


"Broken Home" tanya Dwi.


"Ya di usia yang sangat kecil ke dua orang tuanya berpisah, dia selalu menangis Jihan gak tega karena dia orang yang sangat periang sebelumnya jadi Jihan bertekad untuk membuatnya selalu tersenyum apapun yang terjadi, dia pergi saat dia mulai sekolah SMP" ucap Jihan meneteskn air matanya.


"Jadi dia dulu tinggal di sini" tanya Dwi.


"Hm, dia pergi saat SMP saat ibunya kembali menikah karena dia ingin menjaga rumah tangga ibunya dia ingin memastikan tidak ada lagi air mata kesedihan di mata ibunya, dan dia adalah orang yang sangat mengerti gue" ucap Jihan.


"Maaf, udah buat kamu menangis" ucap Dwi menghapus air mata Jihan.


"Sudah lah, sekarang kamu udah tau jadi gue gak khawatir dengan asumsimu" ucap Jihan pergi.


"Tetap aja jangan terlalu dekat dengannya" ucap Dwi.


"Kenapa" tanya Jihan bingung.


"Aku gak suka, jujur aku cemburu dengan kedekatan kalian" ucap Dwi menatap Jihan.


Jihan hanya tersenyum menanggapi perkataan Dwi kemudian kembali ke ruang tamu untuk menggoda sahabat dan juga kakaknya.


"Hana" panggil Jihan.


"Ya" jawab Hana singkat.


"Na bawain minum deh ke depan ada temen lagi tuh" ucap Jihan.


"Siapa" tanya Hana.


"Ada lah gue ke depan dulu ya" ucap Jihan.


"Kenapa gak lo bawa sekalian" tanya Hana.


"Tangan gue sibuk" ucap Jihan.


"Sibuk apanya" cibir Hana.


"Sibuk nempel sama gue" ucap Dwi yang tiba tiba muncul dan menggandeng Jihan.


"Pacaran teroos" ujar Hana.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennya ya man teman...


Happy readers...


__ADS_2