Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 148


__ADS_3

"Manis" ujar Dwi sesaat setelah menyelesaikan aktivitasnya.


"Iz" ujar Jihan memukul dada Dwi namun tidak mepepaskan genggamannya.


"Sudah lebih baik apa mau nangis lagi" tanya Dwi.


"Mau aku nangis terus gitu" ucap Jihan tak suka.


"Ya karena di saat kamu menangis kejujuran akan menyertai" ujar Dwi tersenyum.


"Dasar bahagia di atas penderitaan orang" ucap Jihan memukul mukul Dwi membuat Dwi pergi berlari.


"Berhenti kamu mas" ujar Jihan mengejar.


"Gak mau kalau berhenti abis saya" ujar Dwi meledek Jihan.


"Siapa suruh, makanya jangan suka menari di atas hati yang luka" ucap Jihan.


"Kamu pandai merangkai kata" ucap Dwi memuji dengan terus menghindar.


"Iya dong kalau gak gak sayang sekolah sastranya" ucap Jihan.


"Ay main yuk taruhan siapa menang boleh minta apa aja" ucap Fero memegang stikPS.


"Oke" ujar Jihan semangat.


"Gue yang bakal menang" ucap Fero.


"Liat aja nanti, taruhan saham" ujar Jihan


"Saham apa nih" tanya Putri takut.


"Dianya takut sahamnya ke ambil gue" ledek Jihan membuat Putri cemberut.


"Tenang aja Put bukan saham pernikahan yang gue minta" ujar Jihan membuat Dwi duduk di sampingnya keras


"Encok lo Wi" ucap Jovan.


"Gak suka dia" ujar Dwi menunjuk Fero.


"Emang gue suka Jihan duduk deket suami gue" ucap Putri mendapat tatapan macan kelaparan dari Dwi.


"Hehe maaf maksudnya kakak ipar jangan deket deket suami gue dong" ucap Putri.


"Namanya aja mau main PS ya deketan kalau main hati baru jauhan" ucap Jihan mendapat tatapan mematikan dari Dani Jovan dan Dwi.


"Oke oke fine" ujar Jihan langsung berpindah duduk di ampit Jovan dan Dani sedangkan Dwi ada di depannya.


"Kalian baikan" tanya Jovan.


"Emang pernah marahan" tanya Jihan.


"Gak kalian cuma saling menyalahkan" ujar Dani.


"Abang sama Kakak sebenarnya mau tanya apa Jihan tau bukan itu maksudnya kan" ucap Jihan serius dengan game yang dia mainkan.


"Gini kamu sudah bisa menerimanya" ujar Jovan takut takut.


"Kalau gak gue terima gue gak bakal mau di deketin" ucap Jihan.


"Kamu aneh Van, dia aja udah izinin Dwi cium bibirnya tadi" ujar Dani.


"Kakak tau" tanya Dwi.


"Lo kan gak pernah liat tempat Wi sudah beberapa kali gue liat itu" ucap Dani.


"Emangnya kenapa kita halal" ucap Jihan enteng membuat Dwi tersenyum sedangkan Fero merasa hatinya bergemuruh.


"Kak Jovan kamu yang lanjutin deh" ujar Fero memberikan stik PS itu pda Jovan dan pergi di ikuti Putri.


"Ji dia marah" tanya Dani


"Kayaknya si iya, kan dia gak pernah bisa sentuh gue tangan aja pernah mau gue patahin" ucap Jihan.


"Kejam" ucap Jovan.


"Kenapa dia lakuin apa sampai kamu mau patahin tangannya" tanya Dwi.


"Dia mau cium gue" ucap Jihan enteng.


"Dari tadi nih anak nyerocos enteng bener" ucap Dani.


"Iya kayak gak ada beban gitu, lebih tepatnya gak tau apa ada yang terbakar dengan ucapannya" ucap Jovan.


"Sengaja" ujar Jihan membuat ke tiga pemuda itu menggelengkan kepalanya.


"Yes i'm winner" ucap Jihan.


"Kamu pinter banget main game" tanya Dwu saat Jihan beroindah duduk kesampingnya.


"Itu belum seberapa Wi lo liat aja ruangan sebelah" ujar Dani.


"Ruangan sebelah" tanya Dwi.


"Gak ada apa apa tenang aja" ucap Jihan gugup


"Mau liat" ujar Dwi memohon.


"Liat apa kakak ada ada aja tuh" ujar Jihan.


"Daripada koleksi lo gak ada yang liat" ucap Dani.


"Koleksi" tanya Jovan.

__ADS_1


"Lo gak tau Bang" tanya Dwi.


"Gak" ujar Jovan.


Jihan berjalan ke arah sebuah dinding namun design dinding itu terkesan unik membuat Jovan dan Dwi mengikutinya.


"Inget jangan sentuh apapun" ucap Jihan di angguki Dwi dan Jovan seperti orang bodoh.


Jihan menekan sesuatu di dekat tangga itu dan wush terbuka dinding yang terkihat biasa saja itu memperlihatkan lemari kaca besar dengan berbagai piala di sana.


"Kapan kamu buat ini" tanya Jovan.


"Pas abisin duit mama papa" ujar Jihan.


"Jadi uang papa mama habisin buat ini" ujar papa Prasaja.


"Hm, mah pah ada sesuatu buat kalian" ujar Jihan berjalan mengambil sebuah buku rekening.


"Ini" ujar Jihan.


"ini buat apa" tanya Papa.


"Makasih udah pinjemin uang sama Jihan ini semua yang Jihan pinjem sama papa mama sama sekalian uang yang papa mama kasih waktu tebus Jihan ini juga buat Abang makasih ya" ujar Jihan juga memberikan buku rekening pada Jovan.


"Ji semua itu buat kamu kita gak mengharap kembali" ujar Jovan.


"Iya tau kalian selalu ada uang dalam keadaan apapun, tapi Jihan udah berjanji sama diri Jihan Jihan bakal kembalikan semua uang yang pernah Jihan pakai dari kalian bukan maksud lain hanya tidak ingin menjadi beban kalian terimalah" ucap Jihan.


"Apa kamu juga perlu melakukan ini sama papa mama" tanya Papa.


"Iya pah, papa tau saat Jihan minta Abang yang urus semua perusahaan papa bukan Jihan tak mampu tapi memang harus bersembunyi terima kasih menyembunyikan Jihan selama ini karen kalian Jihan tidak lagi terlibat dalam masalah kalian" ucap Jihan.


"Kita orang tua wajib beri nafkah sama kamu" ucap Mama.


"Tau mah, dan Jihan juga tau kalian bahkan tidak mengenal anak anak kalian karena uang jadi terimalah uang ini setidaknya agar kalian bisa mengenali cucu kalian nanti" ucap Jihan.


"Kamu hamil" tanya Mama.


"Mah gak ada yang instan, mama juga tau Jihan baru kehilangan dirinya tapi Jika memang Jihan di beri kepercayaan lagi tolomg kenali cucu kalian jangan kenalkan uang tapi kasih sayang" ujar Jihan membuat mama papa dan Jovan menangis.


"Jangan menangis, lihatlah" ujar menunjuk sebuah lemari kaca penuh dengan hadiah hadiah yang dia terima dari papa mama Jovan dan semua orang bahkan dia juga menyimpan sebuah sapu tangan milik Dwi yang dulu di berikan padanya.


"Semua ini" ujar mama.


"Hm, Jihan tau arti dari setiap hadiah yang kalian kasih karena itulah Jihan benci kalian tapi tanpa kalian Jihan gak akan ada di dunia ini dan karena kalian juga Jihan menemukan seseorang yang Jihan cari selama ini walau tujuan kalian lain" ucap Jihan.


"Bisakah lo berhenti bicara, lo mempermalukan mereka dan kenapa lo simpan hadiah hadiah ini" ucap Dani.


"Sebagus apapun hadiah itu jika kamu tidak menghargainya maka itu tidak akan ada artinya, tapi seburuk apapun hadiah itu jika itu tulus dan kamu bisa menghargainya maka akan sangat berarti" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Kamu mengingatnya" ucap Dwi.


"Hm seseorang juga pernah bilang kalau memang takdir kamu tidak akan bisa lari tapi jika itu kehendak seseorang kamu bisa mengubahnya jangan pernah membenci seseorang lebih dalam dari kesalahannya atau kamu akan sengsara karena merindukannya" ucap Jihan.


"Sayang, dia ibumu seburuk apapun orang tuamu itu ingat kamu hidup karena mereka" ujar Dwi.


"Masih sulit" ucap Jihan kaku.


"Dan Abang adalah orang yang akan menjadi perisai untuk menjaga adik perempuan dengan caranya" ucap Dwi lagi.


"Mas please" ucap Jihan.


"Oke daripada melow gini udah jelas ya semuanya Jihan semoga kamu akan selalu bahagia" ucap mama Anggun berusaha tegar


"Ji maafin papa, papa berdosa " ujar Papa.


mama papa dan Jovan saling tatap mereka merasa sangat berdosa pada Jihan. Sedangkan keluarga Putra hanya menatap tidak berniat ikut campur walau tau hati menantunya hancur saat ini. Jihan membalikkan badannya dan mulai melamgkah pergi meninggalkan oramg tua dan Abangnya namun saat di ambang pintu Jihan berbalik dan berlari memeluk ke dua orang tuanya dan juga Jovan membuat semua menangis terharu.


"Kamu habisin uang berapa" tanya papa.


"Papa masih bahas uang" ujar Mama marah.


"Ya dia diem diem buat gini" ucap papa.


"Peetanyaan yang tepat tuh, kapan kamu buat ini" ujar Jovan


"Nah itu baru bener" ucap Mama.


"Lupa, maaf mempermalukan kalian di depan besan" ujar Jihan.


"Ya kalau besannya aja kayak gitu gak malu" ucap mama yang menunjuk ke dua orang tua Dwi yang sedang asik bercumbu.


"Angel angel" ujar Dani menepuk Jidatnya.


"Daripada dengerin kalian gak ada abisnya tuh masalah" ucap Mama Sri.


"Iya tapi tau tempat dong, disini ada anak di bawah umur" ucap mama Anggun.


"Ya dan saya tau jeng mereka juga pernah merasakannya gak sepolos itu" ucap Mama Sri.


"Bang kakak" ucap Jihan.


"Tanya sama suami lo apa iya dia sepolos itu" ucap Dani yang mendapat tatapan tajam Jihan.


"Kalau dia gue tau, gue juga pernah liat dia gitu sama Klara di kantor" ucap Jihan membuat Dwi malu.


"Dasar hidung belang" ucap Jovan.


"Biarin adek lo terima itu kok" ucap Dwi mengejek.


"PD bener Jihan menerimanya, gimana kalau Jihan balas " ujar Jihan.


"Kamu" ucap Dwi menunjuk Jihaan dengan telunjuk.

__ADS_1


"Ya saya Jihan Ayundia yang berbuat seenaknya tanpa memikirkan perasaan seseorang sekalipun itu kamu" ucap Jihan.


"Awas aja kalau beneran lakuin itu" ucap Dwi cemberut dan pergi


"Ji" tegur papa.


"Hehe iya pah" ucap Jihan berjalan ke arah Dwi yang sudah pergi lebih dulu ke dekat kolam renang.


"Awas awas Ji" ucap Jovan.


"Liat aja siapa pemenangnya" ucap Jihan berjalan pelan ke ayunan di belakang Dwi.


Setelah Jihan pergi semua orang kembali dengan suasana cerianya. Para orang tua membahas anaknya masing masing bahkan sesekali mereka membahas bisnis.


"Liatin apa, mukanya aja gak bakal keliatan di situ gelap tau" ujar Jihan


"Biarin gelap" ucap Dwi kesal.


"Seharusnya Jihan yang kesel kenapa kamu" ucap Jihan.


"Entahlah" ujar Dwi.


"Gak mau duduk" tanya Jihan tanpa menjawab Dwi langsung duduk di samping Jihan.


Jihan menyandarkan kepalanya di ayunan sedangkan Dwi menyandarkan kepalanya di pundak Jihan.


"Berat tau'" ucap Jihan.


"Gak peduli" ucap Dwi.


"Em sayang mengenai ucapan kamu tadi kalau di beri kepercayaan kembali buat jadi seorang ibu apa maksudnya" tanya Dwi.


"Jelas kan maksudnya, kamu tau saya membenci sebuah kata perpisahan" ucap Jihan.


"Jadi kamu mau mempertahankan pernikahan ini" ucap Dwi.


"Hm tapi Jihan gak janji dengan perasaan ini" ujar Jihan.


"Gak papa, kamu mau membersihkan bekas yang menggores hati" tanya Dwi.


"Maksudnya" tanya Jihan tak mengerti.


"Kamu melihat saya bercumbu dengan Klara kamu gak ingin membersihkan bekasnya" tanya Dwi.


"Gimana caranya" tanya Jihan membuat Dwi bersemangat dan mengangkat kepalanya dan menatap lembut Jihan


"Lakukan" ucap Dwi karena Jihan tau maksudnya.


"Harus" tanya Jihan.


"Hm, lakukan saya hanya ingin mengingatmu yang pernah menyentuhku" ucap Dwi.


Dwi menatap hangat mata Jihan, Jihan membalas tatapan itu. Dengan hati bergemuruh karena sangat gugup Jihan menutup matanya membuat Dwi tersenyum dan melancarkan aksinya.


"Buka matamu tatap mataku dan nikmatilah" ucap Dwi melepas tautannya.


Perlahan Jihan membuka mata dan saat matanya terbuka sempurna matanya bertemu langsung dengan mata Dwi yang sangat indah di matanya.


"Nikmati setiap sentuhannya" ucap Dwi di angguki Jihan seperti terhipnotis dengan tatapan maut nya.


Dwi mendekatkan bibirnya dan mulai menyatukannya dengan daging kenyal Jihan. Dwi bermain makin dalam membuat Jihan mulai terbuai dan mulai membalasnya. Jihan mengalungkan tangannya di leher Dwi membuat Dwi tersenyum puas.


Dwi bermain makin dalam dan Jihan mulai kewalahan menghadapi Dwi. Jihan mengikuti irama Dwi bahkan Jihan tak sadar kalau tangan Dwi sudah menembus ke dalam bra miliknya.


Dwi bermain dan mulai meremas bukit kembar Jihan dengan satu tangan sedangkan tangan yang satunya berada di bawah telinga Jihan


"Kamu menikmatinya, bahkan kamu membalasnya" ujar Fero dari kejauhan


Tak jauh dari tempat Fero berdiri Putri sedang menatapnya dengan tetesan air mata yang terus mengalir.


"Pinter juga kamu ya" ujar Dwi saat menyelesaikan permainannya.


"Kamu yang ajarin" ucap Jihan.


"Benarkah, bagaimana saya mengajarimu" ledek Dwi.


"Katanya suruh di nikmati, praktek tak semudah teori" ucap Jihan.


"Emang ada teorinya, bukannya langsung praktik" ucap Dwi.


"Tau ah" ucap Jihan malu.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya guys...


maaf ya adegannya gak enak di baca he..


Ini episode yang Author aja mikirnya panjang banget semoga kalian suka


Silahln beri komentar.

__ADS_1


__ADS_2