Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 177


__ADS_3

Jihan tersenyum namun seketika Klara menampar kuat Jihan membuat temannya membulatkan mata. Jihan meringis kesakitan karena ujung bibirnya pecah.


"Lo boleh pergi setelah nyawa lo di ujung tanduk" ucap Klara.


"Kalau lo mau bunuh gue sekarang aja" ucap Jihan.


"Gak segampang itu bumil, kalau gue bunuh lo terus lo mati gak jadi menderita dong lo" ucap Klara sinis.


Jihan benci namun dia tidak bisa apa apa karena tangan dan kakinya terikat. Dia hanya berdoa semoga keluarganya cepat menemukannya dia tidak ingin membahayakan anaknya lagi.


"Di saat seperti ini anakku pergi apa sekarang gue akan merasakan hal yang sama Tuhan izinkan aku ubtuk menkadi seorang wanuta sempurna" ujar Jihan dalam hati.


Jihan terus di ikat sedangkan Klara tidur di ranjang yang ada di sana. Jihan meneteskan air matanya yang di lihat teman Klara itu.


" Gue gak tega liat bumil gitu gimanapun caranya gue harus menolongnya gue gak mau bunuh seseorang yang tidak berdosa" ujar teman Klara dalam hati sembari menatap Jihan yang menangis.


Sedangkan di lain tempat Dwi sedang uring uringan sedangkan mamahnya menangis tiada henti. Waktu sudah menunjukkan sore hari Dwi pergi ke apartemen milik Jihan berharap Jihan ada di sana namun nihil..


Dwi seperti orang gila sama seperti Jovan Dani dan Fero yang tak kalah acak acakan karena Frustasi.


"Kalian bertiga laki laki harusnya kalian gak gini cari dia bukan malah gila gini" ujar Putri menatap Dani Jovan dan Fero.


"Lebih baik melihatnya di pelaminan dengan orang lain daripada kehilangan jejak seperti ini" ujar Fero.


"Diem lo sekarang apa Jihan punya musuh" tanya Jovan.


"Klara" ucap Putri dan Fero.


"Klara kekasih Dwi" tanya Dani.


"Ya tapi bukannya dia ada di RSJ ya" ucap Fero.


"Pasti ada sesuatu kita hubungi rumah sakit itu" ucap Jovan


Jovan mencari informasi tentang Klara ternyata Klara sudah keluar dari RSJ itu sebulan yang lalu dan dia dinyatakan tidak mengalami gangguan Jiwa membuat semua orang menaruh curiga pada Klara.


"Kalian cari tau dimana Klara sering terlihat" ucap Putri pada orang kepercayaannya.


Saat semua anak disana orang tua Jihan maupun Dwi dalam kamar masing masing mereka frustasi mereka khawatir tapi tidak bisa memperlihatkan apa yang sedang mereka rasakan saat ini.

__ADS_1


Di apartemen Jihan Dwi melihat semua kenangannya bersama Jihan. Dia pergi dari sana dengan perasaan campur aduk dia sangat Khawatir dengan Jihan apalagi kondisi Jihan yang sedang hamil membuat Jihan lemah.


Di lain tempat saat Ini Jihan sedang di suapi makanan oleh teman Klara pasalnya Klara sedang pergi.


"Makanlah setidaknya untuk anakmu" ucapnya.


"Kenapa kamu baik" ucap Jihan menerima suapan teman Klara itu.


"Saya tidak tau kamu sedang hamil saya tidak ingin menjadi pembunuh wanita hamil yang suci" ucapnya.


"Kamu bisa menolongku" ucap Jihan


"Apa" tanyanya


"Biarkan gue hidup" ucap Jihan membuatnya berfikir.


"Hm dengan syarat kamu tidak boleh menampakkan diri di depan Klara" ucapnya.


"Setuju" ucap Jihan.


Teman Klara membantu Jihan pergi dan memberikannya topi dan jaket untuk penyamaran. Ternyata benar wajahnya sudah ada di dalam ODP. Jihan langsung pergi ke apartemennya dengan cepat dia mengambil uang dan pasportnya yang ada di berangkas.


"Mas Dwi Abang Jihan takut" ujar Jihan dalam hati saat lepas landas.


"Mas Dwi Jihan janji akan merawatnya dengan baik" ucap Jihan mengusap perutnya.


Setelah penerbangan yang cukup lama Jihan sampai di suatu negara. Dia membeli sebuah rumah kecil di sebuah kota di negara itu.


Dia mencari pekerjaan dengan kecerdasannya dia di terima di sebuah perusahaan walau jabatannya cukup rendah tapi uang yang di hasilkan bisa digunakan untuk sehari hari.


Sedangkan di negara asalnya Dwi mulai kurus karena sudah satu minggu berlalu tapi masih tidak ada kabar juga. Dwi mulai mengurung diri kamar yang dulunya selalu rapi sekarang sangat berantakan bahkan Dwi yang selalu mempesona sekarang tidak terurus.


Apalagi saat dia kembali ke apartemen Jihan beberapa hari yang lalu ada bercak darah di lantai dan sofa dengan brangkas yang sudah tidak berisi.


"Kak mau sampai kapan lo kayak gini" ujar Putri.


"Put Jihan" ujar Dwi.


"Tau tapi apa kak Jihan masih mau sama kakak kalau kakak aja kaya gitu" ujar Putri.

__ADS_1


Dwi langsung bangun dan menuju kamar mandi. Dia berfikur ada benarnya ucapan Putri itu


"Put bersihkan kamar Kakak" ucap Dwi.


Dwi membersihkan dirinya sembari menangis sedangkan kamarnya sedang di bersihkan para maid. Setelah selesia Dwi langsung pergi untuk makan dia berfikir kalau dia terus begini bagaimana dengan anggota keluarganya yang lain.


"Syukurlah kamu keluar Wi" ucap Mama Anggun.


"Iya mah, kalian semua sudah makan" tanya Dwi di gelengin semua orang pasalnya setelah Jihan hilang keluarga Prasaja dan Suseno tinggal dalam satu rumah.


"Mari makan" semua orang mengikuti Dwi ke ruang makan dengan tujuan untuk membantu Dwi menjalani harinya tanpa Jihan.


"Kak Jovan kita tidak boleh terus merenung kan" ujar Dwi saat melihat Jovan hanya menatap makanannya.


"Kamu bener Wi kalau Jihan melihatnya pasti dia marah" ucap Jovan membuat semua orang meneteskan air matanya sedangkan Dwi menahannya.


Setelah itu semua orang pergi ke altivitasnya masing masing mereka merelakan Jihan pergi walau hati mereka tidak ada yang menerima kalau Jihan meninggal.


Dwi mulai dengan aktivitasnya seperti biasa bersama dengan Jovan dan lainnya sedangkan di negara lain Jihan sedang berkemas di dalam rumah yang dia sewa.


"Kalau gini terus gak bakal kekumpul uang gue sampai apalagi dengan kehamilan gue yang makin hari makin membesar.


Jihan pergi mulai mencari kerja paruh waktu untuk menghasilkan banyak uang karena uang yang dia bawa dari negaranya tidak terlalu banyak setelah dia menyewa rumah itu.


Jihan terus berkeliling sampai dia mendapatkan sebuah perkerjaan oaruh waktu. Dengan kehamilan yang belum.jelas terlihat membuatnya mudah mencaru pekerjaan walaupun tubuhnya kadang mengalami kram.


Hari terus Jihan lewati walu berat dan sulit dia tetap berusaha sampai sekarang kehamilannya yang terus membesar membuatnya sulit bekerja dia membuka sebuah usaha kecil kecilan untuk menyambung hidupnya.


"Anak mommy makasih ya udah bertahan sampai saat ini berjuang bersama" ujar Jihan yang sedang menunggu tokonya sembari mengelus perutnya.


Di lain negara Dwi sudah semakin terbiasa tanoa Jihan dalam hari harinya walau dia menjalani kehidupan yang tidak sehat dia sering bergadang dan minum minum.


"Au" ujar Putri.


"Kenapa put" ucap Fero yang sedang duduk di depan TV.


"Sepertinya air ketubanku pecah" ujar Putri yang melihat kakinya penuh dengan air.


"Fero cepat bawa Putri ke rumah sakit" ucap Mama Sri panik.

__ADS_1


Fero langsung menggendong Putri pergi saat berpapasan dengan Dwi yang baru pulang kerja dia hany menatap tak peduli.


__ADS_2