
Jihan langsung membaca laporan yang di berikan Riko. Dia membaca dengan sangat teliti itu juga dia lakukan untuk menghindari pertanyaan pertanyaan mamahnya.
"Kemana kamu kucurkan semua dana ini" tanya Jihan
"Pertama di ambil buat pondok pesantren santuni anak yatim dan di kasih ke panti jompo seperti yang anda perintahkan dulu bos maaf kalau semua itu terlalu banyak" ujar Riko.
"Di sini sudah di tulis semua mau aja kamu menjelsakan lagi saya kan vuma males bacanya, gak papa lalu yang lain" tanya Jihan.
"Semua saya serahkan sama tuan Fero" ujar Riko.
"Oke, saya bawa ini ya" ujar Jihan.
"Oke bos, kalau gitu saya permisi" ujar Riko membungkukkan badannya dan mendapat senyuman manis Jihan.
"Banyak senyuman" ujar Reymond.
"Cie cemburu" ucap Jihan langsung.
"Sangat" ujar Reymond mendamba membuat semua terdiam.
"Gue masakin" ujar Jihan langsung pergi untuk memasakkan sesuatu untuk Reymond.
"Jihan" ujar beberapa orang memeluk Jihan.
"Hai guys" ujar Jihan membalas pelukannya.
"Lo pulang gak bilang bilang gimana kabar lo baik kan apa lo bahagia apa lo sehat" ujar Nisa panjang kali lebar.
"Satu satu dong panjang bener kayak keret api" ucap Jihan.
"Hehe kangen ama lo" ujar Nisa.
"Bos Nyanyi dong" ujar salah seorang kariawan lama.
"Nyawer ya" ucap Jihan.
"Siap nanti kalau gajian" ujarnya.
"Ta udah hampir gajian" tanya Jihan.
"Hari ini" ujar Fero.
"Jadi kamu nyindir nih, lagian gue belum resmi pengang kendali lagi minta sama Ata aja" ujar Jihan.
"Siap bos" ujarnya.
"Nyanyi nyanyi" ujar semua kariawan Jihan tidak peduli banyak pelanggan.
"Nanti masak dulu buat doi oke". Ujar Jihan tanpa beban membuat Reymond tersenyum.
Jihan masak dengan cepat dan menyajikannya kepada Reymond. Dia bersiap untuk bernyanyi namun dia kembali berbalik ke mejanya dan mengambil jas Jovan untuk menutup pahanya di atas panggung.
"Apa ada orang spesial untuk lagu itu bos" tanya Mona.
"Ya dia ada di sini, lagu sebuah jawaban yang dia inginkan" ujar Jihan mendapat sorakan kariawannya maupun para pelanggan.
Maafkan kesalahanku
Bukan ku melukai dirimu
Maafkan kesayanganku
Bukan ku meninggalkan dirimu
Kau hadir di saat ku luka dengan penuh kasih sayang.
Di saat lukaku sembuh kini dia datang tuk kembali
Tuhan mengapa terlambat kau hadirkan dia
Dia kepadaku ku cinta dirinya
Tuhan bolehkah meminta ku miliki dia
Walau tak di dunia kumiliki dia di akhirat saja
Maafkan kesayanganku bukan ku meninggalkan dirimu
__ADS_1
Kau hadir di saat ku luka dengan penuh kasih sayang.
Di saat lukaku sembuh kini dia datang tuk kembali
Tuhan mengapa terlambat kau hadirkan dia
Dia kepadaku ku cinta dirinya
Tuhan bolehkah meminta ku miliki dia
Walau tak di dunia kumiliki dia di akhirat saja
Tuhan mengapa terlambat kau hadirkan dia
Dia kepadaku ku cinta dirinya
Tuhan bolehkah meminta ku miliki dia
Walau tak di dunia kumiliki dia di akhirat saja.
Maafkan kesayanganku
Bukan ku meninggalkan dirimu
Jihan menangis selama dia menyanyikan lagu itu dan berhasil membuat Reymond ikut menangis dan langsung menghampiri Jihan dan memeluknya erat di balas Jihan dengan pelukan dan tangisan yang tak berhenti.
"Bos i love you" ujar Riko dan kariawannya.
"I love you all" ujar Jihan memghapus air matanya.
"Terima kasih" ujar Reymond.
"Maaf" ucap Jihan.
"Tak masalah sekarang sudah jelas" ujar Reymond memuntun Jihan turun dari panggung dan duduk bersama keluarganya dengan duduk berdampingan.
Sorot mata Dwi tidak bersahabat saat Reymond tidak melepaskan tangn Jihan tapi di tahan Jovan dan tuan Seno karena Jihan juga harus bahagia walau bukan Dwi yang membuatnya bahagia.
"Mah, dia dokter yang menolong Jihan dulu yang membuat Jihan bertahan sampai sekarang saat Jihan gila dia yang bantu saat Jihan baru menjadi seorang ibu dia yang bantu Jihan belum bisa menjawab apapun saat ini hati Jihan belum siap untuk semuanya" ujar Jihan menatap mamahnya sayu.
"Apa mama terlalu mengekangmu, tapi ini semua demi kebaikanmu lakukan dulu siapa tau cocok" ucap mama Anggun.
"Ya maaf tante tidak bisa memenuhi keinginan tante, buat kencan sebenarnya kita memang belum pernah kencan beneran tapi kita akan menjalani sesuai jalan masing masing" ujar Reymond menggenggam tangan Jihan.
"Secepat itu kalian memutuskan dan apa secepat itu juga kalian akan pergi lagi" tanya mama Anggun.
"Bukan mah tapi selama itu, setiap detik yang Jihan lalui di sini terlalu lama karena Jihan bekerja mengejar waktu Jihan gaak bisa menikmati waktu yang berharga dengan kalian" ujar Jihan.
"Jaga kesehatanmu, saya pergi dulu see you next again" ujar Reymond
"Ya maaf untuk semuanya" ujar Jihan.
"Oke tak masalah saya kesini juga buka untuk mencari jodoh melainkan bekerja senang bekerja bersamamu kamu wanita paling payah paling gila dan kamu juga, wanita paling tangguh yang saya kenal tetap menjadi yang paling kuat daari yang terkuat" ujar Reymond mencium kening Jihan membuat Jihan terdiam.
"Psikopat" ujar Jihan membuat Reymond tersenyum
"Setelah ini sepertinya akan ku lakukan tuduhanmu menjadi psikopat dan kamu target pertama ku" ujar Reymond mendekatkan wajahnya.
"Gila" ujar Jovan Reymon hanya tersenyum.
"Ngadepin dia yang over gitu harus gila, semuanya saya permisi, maaf tante saya tidak bisa memaksa hatinya dia terlalu rapuh" ucap Reymod.
"Bukannya barusan bilang mommy yang paling kuat" ucap Justine.
"Apa arti psikopat" ujar Jenifer membuat semua orang menatapnya.
"Apa pertanyaanku salah" ujar Jenifer.
"Gak sayang see you, see you Ji" ujar Reymond lagi lagi mencium Jihan kali ini pipinya.
"Uncle ke pencatatan sipil aja yuk Justine yang jadi saksinya" ujar Justine.
"Kenapa" tanya Jihan dan Reymond bersama.
"Urus akte nikah" ucap Feri membuat Jihan dan Reymond saling tatap.
"Udah yuk pergi" ujar Jihan menarik Reymond menjauh.
__ADS_1
"Pencatatan sipil" tanya Justine.
"Ke tempat kebahagiaan" ujar Jihan menarik Reymond.
Jihan terus menarik Reymond menjauh sampai di depan sebuah mobil yang menunggu kedatangannya. Setelah berbincang sedikit Reymond pergi dengan lambian tangan setelah mobil Reymond pergi Jihan menangis dan terduduk di depan cafe tidak peduli dengan orang orang yang menatapnya.
Lama Jihan di sana laluu dia bangun dan mengusap air matanya yang bercucuran hatinya hancur sekali lagi.
"Tuhan mengapa kau hancurkan lagi hati ini yang baru bersatu" ujar Jihan.
"Bos" ujar Riko.
"Ya Rik" ujar Jihan.
"Anda oke" ujar Riko.
"Lebih dari yang tadi kenapa ada masalah" tanya Jihan.
"Tuan Fero meminta anda menemuinya di ruangan" ujar Riko.
"Oke" ujar Jihan berjalan dia berlaku ke ruangannya dan menemui Fero.
Di dalam ruangan Fero langsung memberikan sebuah kardus kecil berisi amplop gajian para kariawannya dan sebuah amplop besar penghasilan bulan ini milik Jihan yang sudah di bagi hasil dengan Fero.
Di ruangn itu juga Fero meminta Jihan menceritakan semuanya agar Jihan merasa lebih baik namun Jihan hanya tersenyum dan sesekali mengusap air matanya.
"Maaf semuanya kami mempercepat penutupan cafe hari ini jadi bagi yang sedang makan silahkan habiskan dan untuk yang baru order akan kami bungkus terima kasih" ujar Jihan membuat semua terbengong.
Jihan berjalan ke arah pintu utama dan menuliskan kalau cafe itu sudah tutup. Perlahan beberapa orang pergi hany yang baru order yang sedang menunggu pesanannya.
Jihan pergi ke dapur dan membantu semua chef yang sedang memasak. Dia memasak dengan beberapa menu sekaligus dengan wajah dingin bahkan tidak ada yang berani bertanya kepadanya.
Setelah cukup lama semua pelanggan sudah pulang Jihan ikut membereskan bahkan membersihkan tempat itu walau dia di larang oleh kariawannya namun kariawannya takut saat Jihan menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi.
"berkumpullah" ujar Jihan membuat semua kariawannya berkumpul.
Jihan memanggil satu persatu kariawannya dia langsung memberikan amplop berisi uang gaji mereka. Jihan juga memberikan tambahan uang beberapa lembar keoada para kariawannya sehingga menghabiskan uang hasil bulan ini miliknya.
"Lanjutkan kerja kalian" ucap Jihan langsung duduk di tempat duduk singgle dan menutup mata dan memijat pelipisnya.
"Mom" ujar Justine mendekat.
"Kenapa" tanya Jihan tanpa meihat anaknya.
"Mommy boleh memilih jalan mommy sendiri, Abang bisa menerima Uncle Rey menjadi Daddy kita ya gak Je lagian dia baik juga mom" ujar Justine hati hati.
"Jangan berfikir terlalu panjang" ujar Jihan membuat ke dua anaknya terdiam.
Tak lama Klara datang dengan anaknya yang langsung memeluk Dwi bahkan Jihan tak peduli.
"Kenapa kesini" tanya Dwi dingin.
"Anakmu yaang meminta" ujar Klara.
"Falen bukan anak yang menggangguku saat kerja kalau bukan kamu yang meminta" ucap Dwi.
"Lalu kenapa" ujar Klara langsung duduk.
Dwi emosi dia langsug marah saat Klara mengucapkan berbagai hal yang membuatnya semakin frustasi.
"Hai kalian berdua bisa gak si jangan berisik pergi sana kalau mau berantem" ujar Jihan tegas dan nadanya yang tinggi membuat ke dua anaknya saling tatap pasalnya itu kali pertama Jihan berbicara seperti itu di depan mereka.
"Kalian ikutlah keluarga Prasaja pulang di sana kalian lebih aman jangan menunggu mommy pulang karena mommy akan pulang terlambat" ujar Jihan di angguki ke dua anaknya.
"Mah bawa mereka pulang Bang Jovan ambil koper mereka di mansion Suseno sekalian koper Jihan" ujar Jihan tegas lalu melenggang pergi.
"Tapi di rumah tadi kan juga ada Daddy" ujar Jenifer membuat Falen membulatkan matanya dan memukul Jenifer.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author terus ya guys....