
"Gue kenapa" tanya Kevin.
"Gue mau bicara sama lo, kita bicara di ruangan Jihan" ucap Dwi.
Dwi meninggalkan Kevin yang masih tidak tau apa yang akan Dwi lakukan terhadapnya namun tetap mengikuti Dwi.
"Apa dia denger apa yang barusan gue bilang sama Rey" ujar Kevin dalam hati.
Dwi duduk dengan keras di meja kerja Jihan membuat Kevin menelan salivanya sulit. Dwi mengarahkan untuk Kevin supaya duduk di depannya dengan tatapan tajamnya Kevin yang merasa takut kemudian duduk dengan jantung yang berdetak lebih cepat.
"Kamu tau kenapa saya panggil kamu ke sini" ujar Dwi dingin.
"Mati gue, kalau cuma berdua panggilannya gitu bisa ada masalah besar" ujar Kevin dalam hati.
"Saya suruh kamu diam atau kamu harus menjawabnya" ujr Dwi.
"Maaf tuan" ucap Kevin.
"Kamu tau kesalahan terbesarmu" ucap Dwi.
"Maaf tuan saya tidak bermaksud untuk itu, saya juga tidak tau kapan itu terjadi" ujar Kevin.
"Maksud kamu apa Vin, kamu suka sama istri gue" ucap Dwi.
"Maaf tuan" ucap Kevin.
"Kenapa dia kayak kaget bukannya dia tau kalau gue suka sama istrinya" ujar Kevin dalam hati.
"Gak apa apa Vin itu hak kamu tapi memang Jihan sangat mempesona si" ucap Dwi.
"Wah ada yang lagi jatuh cinta nih" ujar Kevin santai.
"Gue juga belum tau sama perasaan gue lo kan tau di saat gue bener bener mau berjuang dia bertingkah dingin dan lo juga tau kan kalau si Clarissa cuma sebagai pengganti buat gue bisa lupain Jihan tapi ternyata cara itu malah buat gue dalam masalah" ucap Dwi.
"Lo tau Vin gue bener bener sudah ingin melupakannya tapi ternyata takdir berkata lain di saat itu papa malah jodohin gue sama dia walaupun pernikahan ini gak nyata tapi gue merasa saat dia jauh dari gue ada sesuatu yang kurang" ucap Dwi.
"Tapi apa gak apa apa lo gak kasih tau yang sebenarnya sama dia" ujar Kevin.
"Entahlah tapi gue takut saat gue kasih tau kebenarannya dia akan buat adek gue sakit hati karena dia bakal kembali lagi sama Fero dan yang lebih gue takutin di pergi lagi dari gue dan gue harus berjuang dari awal lagi" ucap Dwi.
"Tapi lebih baik lo omongin semuanya Wi, lo gak mau kan dia bakal pergi lebih jauh saat dia tahu semuanya" ujar Kevin.
"Tapi bagaimana dengan lo" ujar Dwi.
"Gue bakal baik baik aja Wi, lo jangan sia siakan kesempatan ini gue yakin dia juga suka sama lo" ucap Kevin.
"Iya tapi gue harus gimana Vin lo tau Jihan susah buat di deketin Vin, gue gak tau pakai cara apa lagi buat bisa deket sama dia gue harus gimana Vin" ujar Dwi Frustasi .e.buat Kevin ikut memutar otaknya.
"Jadilah seperti kak Dwi yang Jihan kenal dulu, jangan buat jalan kakak sulit karena Jihan" ujar Jihan membuat Dwi maupun Kevin menatap ke arah pintu yang ternyata Jihan sudah ada di sana.
"Jihan kamu sejak kapan di sana" ujar Dwi menghampiri Jihan.
"Sejak seseorang bilang kalau pernikahan ini gak nyata" ucap Jihan.
"Ji lo" ucap Kevin.
"Ya gue tau lo suka sama gue kak, gue juga tau lo berjuang mati matian buat gue gak down, dan gue juga tau kalau lo yang udah suruh orang orang desa buat jaga gue karena lo gak bisa pantau gue selama di sana makasih kak makasih semuanya" ucap Jihan.
"Ji sekarang apa keputusan lo setelah tau apa yang sebenarnya terjadi" tanya Dwi.
"Gue gak akan melakukan apapun untuk semua ini se tidaknya sampai pernikahan Fero sama Putri berlangsung" ucap Jihan.
"Kalau gitu gue pergi dulu" ucap Jihan setelah mengambil laptopnya yang tertinggal.
__ADS_1
Jihan berjalan dengan berlari dia bahkan Jihan memilih untuk melewati tangga. Saat di rasa sudah cukup aman karena Dwi ataupun Kevin tak lagi mengikutinya dia duduk di tangga sembari menangis sesegukan.
"Pernikahan gak nyata, ternyata gue terjebak di situasi gila ini Tuhan kenapa ujian ini semakin besar dan kenapa juga gue tau ini di saat gue bener bener mau menerimanya" ujar Jihan menangis.
Setelah lama menangis Jihan langsung pergi ke tempat mobilnya terparkir dengan mata sebam. Jihan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dia tidak peduli dengan nyawa orang lain dia pergi untuk menemui Zira.
"Ngapain lo mau ketemu gue" ujar Zira saat Jihan sampai di mansion Suseno.
"Antar gue pulang" ucap Jihan singkat dan dingin.
"Emang gue supir lo" ucap Zira.
"Gue gak peduli gue mau lo antar gue pulang atau besok lo denger gue udah ke dunia bawah" ucap Jihan.
"Yaya, gue beres2 dulu lo tunggu di sini masuk dulu gih" ucap Zira.
"Gak mau berangkat sekarang atau gak sama sekali" ujar Jihan
"Yaya kita berangkat sekarang" ucap Zira kesal namun melihat raut wajh Jihan yang sebam membuatnya mengalah.
"Kita ke tempat wedding organizer dulu" ucap Jihan.
"Iya bawel" ucap Zira.
Jihan membiarkan Zira untuk membawa mobilnya karena Zira menolak keras jika Jihan yang membawa mobilnya. Saat sampai di tempat WO Jihan dan Zira turun kemudian menyerahkan tema untuk pernikahan Fero dan Putri.
"Eh gue mau pulang lama kalau sama lo kayak siput, lo pulang naik taksi" ucap Jihan.
"Kalau bukan kesayangan Kak Dwi gue bom lo" ujar Zira.
"Sekarang aja gue juga lagi nunggu kematian gue" ucap Jihan.
"Lo gila ya Ji, pergi lo jangan ke dunia bawah sebelum gue suruh lo pergi lagian kalau mau mati ngapain suruh gue bawa mobil lo ya walaupun gue tau kalau cuma lo yang bakal pergi ke alam bawah duluan" ucap Zira.
"Kurang lebih seperti itu" ucap Zira.
"Yaya tau the Queen of mafia" ledek jihan.
"Lo target gue selanjutnya" ucap Zira.
"Iya gue tunggu" ucap Jihan tertawa kemudian pergi menuju desanya.
Selam perjalanan menuju desanya dia selalu memikirkan ucapan demi ucapan yang Dwi dan Kevin katakan. Sebenarnya Jihan mendengar semuanya dari awal saat Dwi menatap Kevin dengan mengintimidasi namun Jihan mengurungkan niatnya untuk masuk dia lebih memilih duduk di depan pintu dan mendengarkan semuanya hany sekertarisnya lah yang tau apa yang Jihan lakukan.
Jihan menepikan mobilnya saat di rasa dirinya benar benar tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Jihan sadar saat beberapa mobil juga turut menepi di belakang Jihan dan beberapa sepeda motor di sana. Jihan langsung turun dari mobil dan menghampiri semua orang yang ikut menepi membuat mereka semua menatap Jihan kaget.
"Kenapa gitu natap gue nya biasa aja kali, eh kalian siapa yang suruh ikutin gue" tanya Jihan.
"Maaf Nona saya di perintahkan tuan Kevin, kalau mereka yang membawa motor di perintah nona Zira secara langsung" ucap salah seorang bodyguard yang mengawal Jihan.
"Oh Kevin" ucap Jihan.
"Kenapa Nona menghentikan mobilnya apa ada sesuatu yang ingin nona perintahkan" tanya Nya.
"Ada saya minta dua orang dari kalian ke mobil saya" ucap Jihan.
"Tapi nona, untuk apa" tanya nya.
"Jadi supir sama pengawal saya, saya rasa saya tidak melanjutkan perjalanan ini sendiri kepala saya sangat berat" ucap Jihan.
"Apa kita perlu menghubungi tuan Kevin Nona" tanya nya.
"Jangan libatkan dia dalam kecemasan, setelah saya istirahat sebentar pasti sembuh kok" ucap Jihan.
__ADS_1
"Baik nona, nona akan pakai mobil yang mana" tanya Bodyguardnya.
"Yang mobil gue sendiri lagian kan udah anti peluru mobil gue" ucap Jihan.
"Baiklah nona" ucapnya.
"Untung gue inget wajah wajah mereka kalau gak udah gue serang tadi" ujar Jihan dalam hati.
Jihan langsung melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan tinggi karena permintaan Jihan. Karena jalan menuju desa sangat sepi membuatnya merasa sangat damai mereka sampai di desa pukul empat sore hari.
Saat memasuki pedesaan Jihan menjadi pusat perhatian karena mobil dan motor yang mengawalnya tapi karena halaman Jihan lumayan sempit jadi hanya motor yang terparkir di sana sedangkan mobil yang Jihan pakai ataupun milik para pengawalnya mengular sepanjang jalan.
"Wah siapa tuh" ujar beberapa tetangga yang sedang duduk berkelompok.
"Pejabat kali tuh liat aja pengawalnya"
"Iya banyak banget lagi"
"Iya bener banget tuh"
Bisik bisik tetangga yang membuat Jihan menghela nafasnya panjang. Jihan menyuruh semua pengawalnya untuk tidak menyeramkan tapi mau bagaimana lagi sudah menjadi tanggung jawab mereka. Semua pengawal Jihan berbaris sepanjang jalan yang akan di lewati Jihan.
"Hai Ji udah sampai" ucap Mama Fero yang menyapanya sembari mendekat tap para pengawal Jihan laangsung menghalanginya membuat mama Fero tersenyum.
"Dia mak gue biarin aja" ucap Jihan pada para bodyguard.
"Baik nona" ucapnya membiarkan mama Fero memeluk Jihan.
"Hai tente apa kabar" ujar Jihan.
"Baik, katanya kamu pulang pas hari pernikahan Fero kok pulang cepet si" ujar Mama Fero sembari menuntun Jihan masuk ke dalam rumah.
"Iya tante tadinya gitu tapi Jihan di suruh menjadi perwakilan mempelai wanita" ucap Jihan.
"Oh oke, mau makan sekarang" tanya Mama Fero.
"Iya laper nih, oh ya tante masak buat Jihan ya" ujar Jihan.
"Iya kamu mau makan yang mana" tanya mama Fero.
"Mana aja kalau tante yang masak pasti enak" ucap Jihan.
"Iya, udah kamu duduk dulu yabiar tante siapin" ucap Mama Fero.
"Biar Jihan bantu tante" ucap Jihan.
"Jangan kamu istirahat aja dulu" ujar Mama Fero.
"Maaf ya tante" ucap Jihan.
.
.
.
.
.
.
Like vote dan komennya....
__ADS_1