
Jihan langsung membawa uang seratus ribu itu ke depan cafenya. Dia membeli semangkuk bakso namun dia membayar dengan uang itu dan tidak mau kembaliannya.
"Makan lo" ujar Jihan membawa bakso ke dalam Cafe.
"Gak lah buat lo aja, gue gak" ucap Riko.
"Bakso mahal loh " ucap Jihan
"Gak peduli" ucap Riko membuat Jihan berjalan ke arah ruangannya.
Jihan langsung menyantap bakso yang dia bawa dia berhasil melupakan masalah yang ada dan tidak larut dalam kesedihan.
Tak lama Jihan kembali ke luar dan menggantikan posisi kasir karena banyak pelanggan yang datang dan banyak yang membawa anak anak mereka dan banyak anak yang terlalu aktiv.
"Semuanya berapa" tanya seseorang saat Jihan sibuk.
"Ya kak, meja nomer berapa ya" ucap Jihan sembari bangun dari duduknya lalu menatap sang pelanggan.
Jihan langsung diam melihat siapa yang ada di depannya. Jihan hanya menarik nafas panjang lalu kembali bekerja.
"Meja VVIP" Ucap Dwi.
Jihan menghitung semua makanan yang ada. Dwi membayar menggunakan kartu kreditnya dengan senyuman mengembang.
"Terima kasih atas kunjungannya kak" ujar Jihan sembari memberikan kartu kreditnya.
"Ya" ujar Dwi menarik kartu kreditnya keras membuat Jihan kaget dan mencondongkan diri ke depan Dwi saat itu Dwi langsung mencium pipinya dan pergi.
"Wah cie cie" sorak semua kariawan yang melihat.
"Biasa aja" ucap Jihan dengan wajah merah.
"Kalau saya makan terus bayarnya doble gitu boleh gak" tanya salah seorang kariawan pria.
"Boleh tapi lo keluar dari sini gak ada jantung" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Mati dong" ucapnya membuat Jihan tersenyum.
Jihan kembali bekerja sembari beberapa kali bercanda dengan para kariawannya. Bahkan saat ada pelanggan yang membuat Vlog dan meminta Jihan untuk bergabung Jihan mengiyakan dan tak peduli dengan orang orang yang ada di sana sekalipun koleganya.
"Terima kasih kak, bakal kasih bintang lima buat cafe ini" ucapnya.
"Terima kasih kakak" ucap Jihan membungkukkan badannya.
"Bos laporan keuangan" ucap Riko memberikan sebuah angka angka yang sangat banyak.
"Ini udah gaji semua kariawan" tanya Jihan.
"Udah itu sisanya" ucap Riko.
"Ini sama modal" tanya Jihan.
"Sudah di ambil modal bos" ucap Riko membuat Jihan tersenyum.
"Dapet cuan senyum lo" ledek Riko.
"Penentu masa depan" ucap Jihan.
Riko hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi. Saat kepergian Riko ada seseorang yang baru datang dan menatap Jihan aneh.
"Ternyata pelayan cafe" ujar Sinta.
"Silahkan kakak mau pesan apa" tanya Jihan sopan.
"Pelayan aja sok mau jadi algojo" ucap Sinta.
Jihan tersenyum dengan seringai menyeramkan menunjukkan taringnya membuat Sinta kembali diam.
"Kalau anda tidak ingin semua orang tau kalau anda hamil di luar nikah maka diamlah" ucap Jihan karena dia tau kalau reputasi seorang model sangat di jaga.
"Kenapa kalau gue hamil di luar nikah, lagian bapak dari anak ini orang ternama" ucap Sinta sengaja.
"Kalau iya anaknya tapi kalau tes DNA menunjukkan dia bukan anaknya lo mau mati di depan publik" ucap Jihan membuat Sinta tak bisa menjawab lalu pergi.
"Bos langganan lo usir" ujar Nisa.
"Gak peduli" ujar Jihan dengan raut wajah berbeda membuat Nisa langsung pergi.
"Nona Jihan" ujar segerombol anak muda di pintu utama.
"Selamat datang tuan tuan muda" ujar Jihan sopan.
"Ternyata ini, kita cari cari" ucapnya.
"Silahkan" ujar Jihan.
"Kita mau sewa tempat ini sehari penuh" ujarnya.
"Maaf tuan tapi jika anda ingin menggunakan tempat ini untuk pribadi harus menghubungi minimal sehari sebelumnya" ucap Jihan.
"Nih, gak buat mikir lagi" ucapnya memberikan setumpuk uang.
"Maaf tuan kenyamanan pelanggan saya utamakan" ucap Jihan sembari menyatukan tangannya dan senyuman manisnya.
Pletakk....
"Au" ujar Jihan.
"Buat lo, uang segini banyak gak mau" ucapnya.
"Tuan mau banyak banyakan uang" ujar Jihan.
"Hehe gak, lagi belagak jadi tuan muda gue langsung kena mental gue" ucapnya.
__ADS_1
"Bang Raka" panggil Nisa lalu memeluknya erat.
"Hai gimana kerja capek" ucapnya.
"Hm, tapi seneng dapat gaji" ucap Nisa.
"Jangan buat beli barang yang gak jelas kasian tenaganya" ucap Raka.
"Oke Bang" ucap Nisa melepaskan pelukannya.
"Lo gak kangen sama gue Ji" tanya Raka.
"Enggak, sering ketemu kali" ucap Jihan.
"Yaya Bu Bos" ucap Raka.
"Tadi jadi gak sewa nih tempat" ucap Jihan.
"Kamu ngomong langsung aja sama yang bersangkutan" ucap Raka.
"Siapa" tanya Jihan.
"Tuh Randy ini uangnya" ucap Raka.
"Oke, mau pesen apa kak" tanya Jihan.
"Gratis nih" ucap Raka.
"Iya uang gaji Nisa buat bayar" ucap Jihan tersenyum.
"Gak mau gue" ucap Raka.
"Terserah, Nis bikinin minum sama makan buat Abang lo " ucap Jihan.
"Siap bos" ucap Jihan.
"Free Bang Raka" ucap Jihan pergi dengan tersenyum.
Jihan langsung pergi ke tempat Randy dan mengembalikan uang Randy yang tadi di bawa Raka. Sedangkan Raka sedang membantu kariawan di sana.
"Gak mau" tanya Randy.
"Bukan gak mau, tapi tuh banyak pelanggan gue gak bisa tutup gitu aja kalau mau besok jadi dari pagi gak gue buka sekalian" ucap Jihan
"Kamu gemukan ya Ji" tanya Randy.
"Ngomong apa jawab apa" ucap Jihan.
"Ya oke besok sehari full" ucap Randy.
"Buat acara apa" tanya Jihan.
"Buat asik asikan dong" ucap Randy.
"Oke, Ji mata gue apa bener lo gemukan" tanya Randy.
"Gue yang gemukan mata lo sehat" ucap Jihan.
"Bos, tuan muda datang" ucap Riko.
"Suruh sini aja tumben lapor dulu" ucap Jihan.
"Soalnya ada gue" ujar Putri.
"Ikut lo" ucap Jihan.
"Ya, mau makan nasi goreng spesial buatan kakak ipar" ucap Putri.
Jihan tidak menjawab dia langsung pergi membuatkan nasi goreng permintaan Putri. Jihan langsung meminta bantuan semua kariawannya untuk membantu.
"Gue bantu" ucap Riko.
"Gak usah permintaannya gue yang masak jangan di bantu nanti anak lo ileran loh" ucap Jihan.
"Ji Dwi gak dateng" tanya Randy.
"Tadi makan siang di sini kenapa" tanya Jihan santai.
"Gak ke sini lagi" tanya Randy.
"Gak tau" ucap Jihan.
Jihan langsung memasak nasi goreng untuk Putri di dapur terbuka di saksikan Putri. Sebenarnya dia mual melihat nasi goreng tapi dia menahannya.
"Ta gue gak kuat" ucap Jihan langsung menundukkna badannya.
"Kenapa lo" tanya Fero.
"Mual gue" ucap Jihan langsung berlari ke ruangannya dan pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Saat Jihan keluar dia langsung pergi mengambil minuman segar. Dia juga membantu meracik minuman untuk pelanggannya.
"Bu Bos, pesanan paket makan malam buat nanti malam ambil gak nih" tanya Riko.
"Berapa paket" tanya Jihan.
"Lima puluh" ucap Riko.
"Tapi sama minta kueh juga" ucap Riko.
"Lo tau sini gak ada kueh tolak lah" ucap Jihan.
"Tapi mereka akan kirim kuehnya tapi minta di dekorasi langsung sama bu Bos" ucap Riko.
__ADS_1
"Guys sanggup gak lima puluh paket makan malam" ucap Jihan bertanya pada semua kariawannya.
Jihan menatap setiap kariawannya namun mereka tersenyum dengan anggukan terpaksa Jihan tersenyum dengan jawaban para kariawannya.
"Tolak Kak Riko" ucap Jihan membuat semua kariawannya saling tatap.
"Siap" ucap Riko.
"Bos kok di tolak" tanya Hana.
"Lebih baik saya gak dapat uang malam ini daripada besok kalian semua izin" ucap Jihan.
"Bos love you" ujar seorang kariawan pria.
"Love you too" ucap Jihan enteng.
"Permisi kak tadi saya yang mau pesen makan malam lima puluh" ucap seorang wanita paruh baya terengah engah.
"Ya kenapa bu" tanya Jihan langsung.
"Saya bisa ketemu sama bosnya langsung" tanya nya.
"Bisa bu, silahkan duduk" ucap Jihan membawa ibu itu untuk duduk.
"Kenapa kamu tidak memanggilnya" tanyanya saat Jihan diam dan ikut duduk.
"Saya bu, maaf muka saya orang susah ya" ucap Jihan.
"Bukan nak, tapi kamu turun tangan buat menyambut pelanggan maaf ya" ucapnya.
"Tidak apa bu, maaf kita menolak untuk orderan ibu bukannya sudah di konfirmasi orang saya" tanya Jihan.
"Tapi nak bantu saya setidaknya tolong hias kuehnya" ucapnya.
"Acara apa bu" tanya Jihan.
"Acara pernikahan nak" ucapnya.
"pernikahan atau perjodohan" tanya Jihan di jawab senyuman.
"Baiklah mana kuehnya" ucap Jihan.
"Itu nak" ucap sang ibu menunjuk beberapa orang yang membawa kueh lumayan tinggi lengkap dengan alat dn bahan untuk menghias kue.
"Bu yang bener masa iya mau saya yang hias ini udah komplit loh bu" ucap Jihan mengitari kueh itu.
"Yang mau hias kueh itu mati" ucapnya judes.
"Pasti pacarnya si manten ya" ujar Jihan tertawa.
"Mau gak nak" tanyanya sinis.
"Oke bu mau di buat gimana" tanya Jihan.
"Terserah yang penting di bawa ke tempat acara bagus" ucapnya.
"Siap jam berapa" tanya Jihan.
"Jam makan malam" ucapnya.
"Lima jam lagi" tanya Jihan di angguki sang ibu.
"Gak janji ya bu" ucap Jihan.
"Yang penting jadi" ucap nya.
"Saya harus segera pergi nanti akan ada yang mengambilnya" ucapnya pergi.
"Bu duit" ucap Riko.
"Maaf lupa nih" ucapnya memberikan kartu kredit
"Pin" ucap Riko.
"Nih" ujarnya memberikan secarik kertas berisi kartu pin kartu kredit.
"Biarin kartunya sini dulu" ucapnya sembari menunjuk kartu lain di dompetnya dan langsung pergi
"Ya elah gue juga punya banyak kali" ujar Jihan.
"Kalah banyak bos" ucap Riko tertawa.
"Biar dikit tapi black card" ucap Jihan.
"Kena mental gue" ucap Riko pergi.
"Woi kemana lo bawa nih ke sana" ucap Jihan menunjuk dapur terbukanya.
Jihan langsung membersihkan tangannya lalu berjalan untuk mengambil masker dan sarung tangan.
"Mona Hana Nisa sini" ucap Jihan membuat ketiganya datang.
"Kenapa" tanya Nisa.
"Hias ini satu orang dapat satu tingkat karena empat tingkat jadi gue juga ikut pilih tingkat yang kalian mau tapi sebelumnya ambil persiapan" ucap Jihan.
.
.
.
Jangan lupa dukung Author terus ya Readers......
__ADS_1