Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 145


__ADS_3

"Hallo" ujar Dwi saat menerima panggilan di ponsel Jihan.


"Maaf Bos, Bos Jihan ada" tanya Kevin di sebrang.


"Ada lagi tiduran kenapa ada masalah" tanya Dwi.


"Iya bos" ujar Kevin


"Masalahnya apa" tanya Dwi.


"Em, orang yang buat nama baik Bos Jihan di desa rusak sudah tertangkap dan ternyata benar ada penghianat di antara kita tapi orangnya terbunuh dan warga desa meminta bos Jihan segera menyelesaikan masalah ini" ujar Kevin.


"Oke saya sampaikan" ucap Dwi.


"Terima kasih Bos" ucap Kevin mematikan ponselnya.


"Apa harus gue kasih tau Jihan, kayaknya dia lagi banyak masalah deh tapi kalau gak kasih tau bakal marah lagi dia" ujar Dwi delima dengan perasaannya sendiri.


"Kevin menemukan orangnya" ujar Jihan masih pada posisinya.


"Kamu tau" tanya Dwi


"Ya dan orang itu sudah terbunuh, swpertinya dia berhasil membujuknya sampai menemukan dia mati" ucap Jihan tersenyum.


"Kamu yang melakukannya" tanya Dwi.


"haruskah saya lakukan, dia merusak kepercayaan saya terhadap warga desa dia juga beberapa kali menyakiti warga desa kamu tau saya akan membalas seribu kali lipat atas perbuatannya" ucap Jihan.


"Kamu berdosa" ucap Dwi.


"Saya tidak membunuhnya bahkan saya memaafkannya sepertinya Klara melakukannya lebih dulu" ucap Jihan.


"Klara bukannya kamu sudah mengurusnya" tanya Dwi mendekati Jihan.


"Dia gak semudah itu di lumpuhkan" ucap Jihan.


"Lagian orang itu gak mati ada kok di penjara" ujar Jihan.


"Tadinya dia mau mati di tangan Klara tapi lagi lagi ada yang menolongnya dan dia memilih di pemjara daripada langsung menemui saya" ujar Jihan


"Oh, kamu sakit" tanya Dwi.


"Gak, oh ya nanti sore saya ke desa lagi" ujar Jihan.


"Secepat itu" tanya Dwi.


"Harusnya pagi ini tapi drama" ucap Jihan bangun dan meminum kopi yang tinggal sedikit itu.


"Bukannya kamu gak pernah minum kopi" tanya Dwi bingung.


"Adanya itu di pantry masa iya minum dari kulkas" ucap Jihan.


"Mau makan apa biar saya belikan" ucap Dwi.


"Kamu bener bener siluman ya" ucap Jihan membuat Dwi bingung.


"Siluman" ucap Dwi berfikir.


"Hm, berubah dengan cepat" ujar Jihan membuat Dwi manggut manggut dengan senyuman karena tau maksud Jihan.


"Terserah kamu, Siluman tampan sepertinya itu cocok" ucap Dwi bangga.


"Ganteng ganteng monster" ucap Jihan tertawa.


"Mau jadi mangsa saya lagi" tanya Dwi mendekati Jihan.


"Eh stop stop udah capek tau" ucap Jihan saat Dwi mendekat.


"Dilarang bilang capek" ucap Dwi berbisik.


"Yaya awas ih laper" ucap Jihan mengambil cemilan yang ada di meja.


"Jangan makan cemilan biar saya belikan" ucap Dwi.


"Hm, beli di kantin aja enak kok makanan di sana" ucap Jihan di angguki Dwi.

__ADS_1


Jihan tersenyum saat Dwi pergi dari ruangan itu dia yakin kalau Dwi pasti akan memberi peeintah pada Rey karena dia tidak akan mau pergi ke kantin kantor di jam istirahat.


Jihan beejalan ke arah meja kerja Dwi dan mengecek komputer yang ada di sana. Jihan melihat kerjaan Dwi yang belum selesai dia tidak berniat menyelesaikannya hanya ingin melihat lihat saja dan mengecek harga saham.


Tok.... tok.... tok..


"Masuk" ujar Jihan.


"Lo kamu Rey, kirain lagi beli makan" ucap Jihan


"Makan" tanya Rey.


"Hm, udhlah kamu kenapa ada perlu sama mas Dwi" ucap Jihan bertanya.


"Gak sama anda Bos, Kevin bilang bos minta uamg cash yang lumayan banyak ya kata Kevin bos di hubungi susah" tanya Rey.


"Ya, hp saya mati" ucap Jihan singkat.


"Mau dari sini apa AYASTA" Tanya Rey.


"Dari pribadi aja, nanti kalau udah jelas semuanya kayaknya baru minta bantuan dana" ucap Jihan.


"Siap bos, ya sudah maaf mengganggu" ujar Rey pergi.


Lama Jihan berjibaku dengan komputer Dwi melihat dengan teliti semua pekerjaan yang Dwi buat. Jihan penasaran kenapa Dwi sangat lama membuatnya memainkan musik yang ada di ponselnya dan kembali melihat komputer Dwi.


"Lama banget, apa iya dia beli sendiri tapi bukan Rey, apa sekertarisnya" ujar Jihan.


Saat Jihan menunggu dengan terus memainkan jari jemarinya di atas keyboard milik Dwi. Dwi datang dengan nampan yang berisi makanan dan minuman kesukaan Jihan saat bekerja di tempat Dwi.


"Makanan datang" ujar Dwi dengan senyuman.


Jihan menatapnya tak percaya melihat pemandangan di depannya itu. Jihan berjalan mendekat dan duduk di sofa.


"Kamu pergi sendiri" tanya Jihan.


"Hm" ujar Dwi tersenyum.


"Kenapa gak suruh Rey aja, pasti rame di kantin" ucap Jihan.


"Apapun untukmu" ucap Dwi memberikan makanan itu kepada Jihan dengan menyuapinya.


"Kamu jadi apa kali ini" tanya Jihan sembari mengunyah makanannya.


"Jadi pacar aja deh" ucap Dwi membuat Jihan menggeleng.


"Kenapa jawabnya bukan jadi suami" tanya Jihan.


"Karena saat menjadi suami saya selalu salah" ucap Dwi.


"Oke" ujar Jihan menerima suapan demi suapan dari Dwi dengan niat Dwi malas menyuapinya lagi tapi di luar dugaan Dwi justru terus menebar senyumnya membuat Jihan tidak tega membiarkan Dwi kelaparan.


"Buka mulut" ucap Jihan merebut sendok yang Dwi pegang.


Dengan senang hati Dwi membuka mulutnya membuat mereka makan bersama sampai makanan habis. Ya walaupun Dwi sudah mkan cukup banyak tadi tapi sepertinya makanan yang Jihan suapkan menggoda perutmya.


Setelah makanan selesai Rey datang meminta Dwi untuk segera pergi ke pertemuannya kali ini.


"Bos" ucap Rey karena menunggu sudah agak lama.


"Bentar" ujar Dwi.


"Bentar bentar panjang amat" gerutu Rey di tertawakan Sekertaris Dwi.


"Saya kerja dulu mau pulang biar saya antar" ucap Dwi dingin.


"Oke, ke rumah mamah aja yang satu arah sama tempat kerja kamu" ucap Jihan dingin.


Dwi mengangguk sedangkan Jihan mengambil tas jingjing dan laptopnya kemudian pergi ke arah pintu. Dwi melihat Jihan jalan lebih dulu membuatnya manyun dia menyuruh sekertarisnya untuk membersihkan ruangannya dan berlalu mengejar Jihan di ikuti Rey.


"Jadilah pasangan yang harmonis" ucap Dwi berbisik di dalam lif.


Rey hanya menatap, Dwi sengaja berbicara lirih karena Rey adalah mata mata dari keluarganya terutama mamah Sri.


Saat keluar dari lif Jihan menggandeng tangan Dwi mesra sembari terus tersenyum. Dwi pun tersenyum bahagia karena dia memang bahagia ya walaupun harus mengorbankan kebahagiaan orang lain hehe.

__ADS_1


Saat sampai di depan mobil Dwi membukakan pintu untuk Jihan dengan senang hati Jihan masuk dengan senyumann mengembang walau saat sudah di mobil senyuman itu hilang.


"Saya antar sampai rumah" tanya Dwi.


"Gak perlu saya turun di depan ujung jalan saja biar saya jalan ke sana deket juga" ucap Jihaan.


"Terserah" ucap Dwi acuh.


"Kalian kapan akurnya si" tanya Rey


"Kamu akan mengadukan ini sama mama" tanya Dwi.


"Tergantung seberapa besar nyonya Sri membujuk saya" ucap Rey enteng.


"Bukannya tergantung seberapa besar duit yang kmau terima" Ujar Jihan di sambut tawa Rey.


"Kamu kenapa kalau sama laki laki lain tuh santai, bercanda tapi kalau sama saya marah marah" tabya Dwi menatap Jihan.


"Karena saya membenci kamu" ucap Jihan jujur.


"Kejujuranmu membuat sakit hatiku" ledek Rey.


"Kamu tau kalau saya benci seseorang maka saya tidak akan peduli dengan hatinya" ujar Jihan


"Rey kamu tau lebih banyak dari saya" ucap Dwi.


"Sepertinya begitu" ucap Rey.


"Apa kamu tidak memberikan sedikit saja kesempatan" ucap Dwi.


"Saya sudah memberikan kesempatan tapi kamu mengbaikannya, dan kamu justru membuat orang yang ada di sekeliling saya terancam" ucap Jihan.


"Maksud kamu" tanya Dwi.


"Bos dia tuh kasih kesempatan sama bos buat rebut hatinya, dia juga melepaskan orang yang sudah ada di sana tapi bos malah memilih menduakannya dengan Klara" ucap Rey.


"Kamu tau juga Rey" ucap Dwi.


"Karena dia juga sahabat saya" ucap Rey.


"Apa itu semua benar" tanya Dwi.


"Hm, saya kasih kamu kesempatan buat memilih karena saya tau semuanya bukannya lepasin dia malah simpan dia" ujar Jihan.


"Kamu tau tentang saya tapi kenapa saya datang kamu tidak mengenali saya" tanya Dwi.


"Saya gak semudah itu melupakan seseorang, tapi saya benar benar tidak menyukai anda dari pertama anda kesana ya walaupun kamu lebih bersinar dari semua orang yang saya lihat tapi entah saya tidak suka itu" ujar Jihan.


"Kebenaran mulai terungkap" ujar Dwi


"Kamu aja banyak drama, kenapa saya gak boleh saya bisa menjadi figuran juga bisa menjadi tokoh utama jadi protagonis ataupun antagonis tergantung siapa yany saya hadapi" ujar Jihan


"Terima kasih tunpangannya" ujar Jihan saat sampai di depan kediaman Prasaja Jihan langsung pergi dengan cepat tak terasa air natanya mengakir begitu saja dia merasa lega karena bisa jujur kepada Dwi tapi dia juga merasa bersalah karena mengatakan itu pada Dwi.


"Nona anda pulang" tanya seorang maid di rumah itu Jihan hanya mengangguk dan berlari ke kamarnya dengan derai air mata.


Jihan pergi ke kamarnya dan mengangktifkan mode senyap di kamarnya dia menangis di dekat jendela.


"Kenapa gue nangis" ujar Jihan menghapus air matanya yang terus mengalir.


"Tuhan rasa apa yang Engkau anugrhkan kepadaku sampai hati ini merasa sangat sakit dan terus menangis" ujar Jihan menepuk nepuk dadanya.


Air nata Jihan tak kunjung surut justru mengakir semkin deras. Sampai sore hari Jihan memutuskan untuk ke desa esok hari karena lelah menangis Jihan terlelap di depat jendela sampai Dwi pulang.


"Katanya mau pergi kok malah tidur di sini" ujar Dwi sembari mendekati Jihan dan menggendongnya ke tempat tidur.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukunganya ..


Makasih udah setia menunggu maaf ya kalau banyakan. alur yang gak jelas masih amatir...🤭


__ADS_2