
Perlahan Dwi melvmat bibir Jihan lembut, tanpa sadar Jihan menutup matanya dan mengalungkan tangannya di leher Dwi membuat Dwi tersenyum apalagi saat Jihan mulai membalas lvmatannya.
"Katanya benci tapi bales" ujar Dwi dalam hati.
Semakin lama lvmatan itu semakin mengganas, Dwi menggendong Jihan ke atas tempat tidur dengan pelan Dwi membaringkan Jihan tanpa melepas lvmatannya.
Dwi menurunkan bibirnya menyusuri leher jenjang Jihan membuat Jihan mengeliat. perlahan Dwi melepas kain yang menempel di tubuh istrinya itu membuat gundukan kembar milik Jihan nyembul.
Dwi mulai memainkannya dan m3r3m4s payvd4r4 Jihan dengan ganas membuat erangan kecil terdengar dan membuat Dwi semakin bersemangat.
Tok.... tok.... tok....
namun saat yang bersamaan pintu kamar mereka di ketuk membuat Dwi frustasi dengan mengacak rambutnya.
"ganggu aja si" ucap Dwi.
Jihan hanya tersenyum membuat Dwi semakin kesal, dengan terus membenarkan baju Jihan.
"Sayang kita lanjut aja ya" ujar Dwi memelas.
"Gak mau siapa tau penting" ucap Jihan bangun dari tempat tidur.
"Padahal baru ada kesempatan" ucap Dwi sesal.
"Lagian gue lagi marah ya" ucap Jihan bingung.
"Marah katanya juga benci tapi malah bales hehe" ucap Dwi.
"Dasar lo" ucap Jihan.
"Serah deh" ujar Dwi pergi ke kamar mandi sedangkan Jihan membuka pintu kamarnya
"Lo Put, kenapa malem malem ke tempat orang ganggu lagi" tanya Jihan tak suka.
"Bantuin gue" ucap Putri.
"Kenapa" tanya Dwi yang baru saja datang dengan wajah di tekuk.
"Fero di keroyok di ujung jalan sana, bantuin gue Bang" ucap Putri.
"Lo gila dia di keroyok lu malah pergi gak bener lo" ucap Jihan.
"Kamu mau tolong dia" tanya Dwi menatap lekat Jihan.
"Kamu aja sana" ucap Jihan membuat Dwi merasa sedikit senang karena Jihan tak peduli soal Fero.
"Woi kalian bisa cepet gak si" ucap Putri.
Jihan dan Dwi saling tatap, saat itu Dwi berpamitan kepada Jihan namun Jihan memilih ikut walau Dwi melarang keras. Mobil melaju dengan cepat membut mereka dengan cepat sampai di tempat tujuan saat tiba di sana ternyata keadaan sangat sepi dan tidak ada fero di sana.
"Put lo gak bohong kan" tanya Jihan penuh telisik.
"Sorry Kak gue harus korbanin kebahagiaan lo" ucap Putri dengan seringai menyeramkan.
flash back on
"Gue minta bantuan lo" ujar Putri menelfon seseorang.
"Apa yang lo mau" tanya orang tersebut.
"Buat Jihan menderita walau itu harus menyakit Kakak gue" ucap Putri.
"Lo yakin, lo gila dia Kakak lo" ucap Nya.
"Gak peduli gue, lakukan itu malam ini juga gue bakal pancing dia keluar" ujar Putri
"Oke tapi kalau sesuatu terjadi jangan libatin gue" ucapnya.
"Tidak masalah" ucap Putri mematikan telfon.
flashback off
__ADS_1
"Maksud lo" tanya Dwi kesal.
"Gue gak suka lihat lo berjuang mati matian dapatin Jihan sedangkan Jihan gak peduli sama lo kak gue mau balas perbuatannya kak sedikit doang" ujar Putri.
"Jangan pernah sentuh Jihan" ucap Dwi tegas namun Putri sudah menyeret Jihan keluar mobil.
"Put jangan gila lo" ucap Jihan memberontak.
Dwi ikut turun dari mobil saat akan menyelamatkan Jihaan Dwi di pegang kuat oleh beberapa orang membuatnya kewalahan bahkan Dwi tersungkur
Dwi membantai semua orang yang berusaha menghalanginya menyelamatkan Jihan. Dwi berkelahi namun dia tidak terlalu fokus karena menatap ke arah Jihan Saat melihat seseorang akan menendang Dwi Jihan reflek menghempaskan tangannya dengan keras sampai Putri melepaskannya Jihan berlari ke arah Dwi kemudian melindungi Dwi dan
Bugh.....
"Jihan" ujar Dwi menatap nanar istrinya yang mendapat satu tendangan keras di punggungnya sedangkan Jihan hanya tersenyum.
"Gue pantas terima ini" ucap Jihan lalu pingsan.
"Jihan" teriak Dwi memeluk Jihan.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya lo pantas buat pergi dari negeri ini" uhar Dwi dengan penuh amarah membuat Putri lemas pasalnya baru pertama kali Dwi membentaknya.
Saat itu ada darah segar mengalir di antara kaki Jihan membut Dwi membulatkan matanya dan segera membawa Jihan ke rumah sakit dimana Ridwan berada.
"Abang tolong" teriak Dwi membut semua orang menatapmya begitupun Ridwan yang langsung berlari ke arah Dwi.
"Kenapa Wi" tanya Ridwan panik dan membawa Jihan ke UGD.
Dwi menunggu dengan frustasi di depan ruangan Jihan. Jovan yang datng membuat Dwi menatapnya Jovan langsung memeluk iparnya itu membuat Dwi menangis.
"Udah dia pasti baik baik aja" ucap Jovan.
"Tapi tadi ada darah segar keluar" ucap Dwi.
"Iya gak papa dia pasti baik kok" ucap Jovan menenangkan walaupun dirinya juga tidak baik baik saja.
"Bang, kenapa Abang ada di sini tau dari mana" tanya Dwi.
"Dan ternyata Jihan pinter dia rekam semua kejadian yang ada bisa jadi bukti, karena panik gue cari rumah sakit terdekat ya sini lah" sambung Jovan.
"Maafin gue" ucap Dwi.
"Gak ada yang salah, mending kita berdoa biar Jihan baik gue mau hubungin mama papa dulu" ucap Jovan melonggarkan pelukannya.
Jovan menghubungi keluarganya dan keluarga Dwi sembari menunggu keluarganya datang Jovan duduk di samping Dwi yang sedang frustasi.
"Baru kali ini gue liat orang yang nangis buat lo lo emang di kelilingi orang orang yang sayang sama lo yang pernah Abang liat mereka cuma manfaatin lo" ujar Jovan dalam hati.
"Sayang" panggil mama Sri kepada putranya yang sedang duduk.
"Mah Jihan Mah" ucap Dwi.
"Iya gimana" tanya mama.
"Dia baik baik aja kok untung Dwi cepet bawa ke sini jadi masih ketolong, cuma" ucap Ridwan yang baru keluar dari ruangan Jihan.
"Cuma apa Bang" tanya Dwi.
"Maafin Ridwan tante om Wi semuanya cuma satu nyawa yang bisa gue selamatin" ucap Ridwan menunduk.
"Satu nyawa maksudnya ada nyawa lain" ucap Jovan.
"Iya Jihan sedang mengandung dan usia kandungannya masih sangat muda jadi sangat rentan" ucap Ridwan.
"Anak gue" ucap Dwi.
"Boy temui istrimu tersenyumlah" ucap papa seno.
"Iya pah" ucap Dwi.
"Kalian bisa ke ruang rawat segera akan saya pindahkan" ucap Ridwan.
__ADS_1
Mareka semua pergi ke ruang inap Jihan bersamaan Jihan yang di pindah ke ruangan itu. Saat sudah di ruangan inap Dwi mencium kening Jihan kemudian pergi ke pemakaman walaupun anak yang di kandung Jihan masih gumpalan darah tapi Dwi tidak ingin menyianyiakan anak yang sangat dia dambakan.
"Apa Abang marah" tanya Dwi dalam mobil saat perjalanan ke pemakaman.
"Marah tentu kecewa iya sedih juga tapi mau gimana lagi mau marah mau kecewa mau sedih itu bakal buat Jihan down" ucap Jovan.
"Abang bisa marah dengan Dwi" ucap Dwi.
"Gue gak tega apa lagi lo sekarang panggil gue Abang, saat liat lo gue liat Jihan gue gak bisa marah atau sakitin lo" ucap Jovan.
Dwi kembali diam mendengar jawaban Jovan, Dwi hanya menatap lurus ke luar jendela. Jovan hanya memberikan waktu untuk Dwi menerima segalanya. Sampai mereka kembali ke rumah sakit Dwi masih diam dengan tatapan kosong sampai dia masuk ke ruangan Jihan dan melihat Jihan sedang duduk bersandar membuatnya tersenyum.
"Alhamdulillah kamu sadar Ji" ucap Jovan sedangkan Dwi sudah memeluknya.
"Iya Bang, tapi masih lemes" ucap Jihan membuat Dwi melepaskan pelukannya.
"Lo baik baik aja kan" tanya Jihan pada Dwi.
"Lo masih bisa mikirin gue, lo gak mikirin diri lo lo gak tau kalau itu bahaya banget buat lo jangan pernah lakukan hal gila lagi paham lo" ucap Dwi dengan penuh penekanan membuat semua orang membulatkan matanya apa lagi Dwi memakai bahasa lo gue.
"Yaya maaf" ucap Jihan menundukkan kepalanya.
"Ji gue yang minta maaf karena gue gak bisa jaga kalian" ucap Dwi.
"Kalian" tanya Jihan bingung.
"Maaf Ji" ucap Dwi Jihan yang peka langsung menggenggam tangan Dwi membuat Dwi menatapnya.
"Gue udah tau gue udah terima semuanya, gue tau dia akan lebih bagaia di sana gue yakin itu mungkin kalau dia lahir dan tau kalau orang tuanya belum saling menerima dia akan sakit jadi dia pergi duluan gue cuma minta kita mulai semuanya dari awal" ucap Jihan lembut.
"Lo mau terima gue kali ini di hidup lo Ji" tanya Dwi memastikan.
"Gue bakal berusaha, tapi gue minta jangan pernah putusin hubungan lo sama Putri" ucap Jihan.
"Tapi karen dia kita kehilangan anak kita Ji" ucap Dwi dengan sorot mata penuh amarah.
"Please " ucap Jihan mempu membuat Dwi terdiam lalu Jihan memeluknya erat.
"Gue sedih iya marah iya kecewa juga iya tapi liat lo dan keluarga gue rapuh gue gak mampu melihatnya gue bakal pura pura kuat di depan lo dan semua orang gak ada seorang calon ibu yang bisa menerima berita kalau calon anaknya meninggal tapi gue bisa apa di saat kalian semua sedih" ujar Jihan dalam hati sembari meneteskan air matanya.
Dengan cepat Jihan menghapus air matanya tanpa di sadari Dwi. Hanya Ridwan yang melihatnya dari ambang pintu namun Jihan tersenyum saat memyadari Ridwan ada di sana sedangkan anggota keluarga yang lain sedang menunggu di luar ruangan.
"Bisa lepasin gue" ucap Jihan.
"Eh maaf maaf" ucap Dwi menghapus air matanya.
"Berhentilah menangis, air mata gak akan balikin keadaan seperti semula" ucap Jihan sayu.
"Iya, lo beneran mau terima gue di hidup lo atau lo cuma mau buat gue sedikit bahagia" tanya Dwi.
"Percumah kalau gue gak serius yang jalani gue, gue mau minum bisa ambilkan minum" ucap Jihan.
"Oke oke" ucap Dwi lalu mengambilkan air dan memberikannya kepada Jihan.
"Mana ponsel gue" ujar Jihan mencari.
"Nih, tadi di Abang dia temuin di lokasi kejadian " ucap Dwi.
Jihan tidak memperdulikan omongan Dwi, dia hanya mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo cari tau semua tentang nona muda Putri Suseno hancurlan karirnya hanya itu jangan sentuh karir suaminya paham" ujar Jihan penuh amarah membuat Dwi tak percaya.
.
.
.
.
Jangan lupa like vote dan comentarnya ya...
__ADS_1
buat yang udah mampir makasih maaf belum sempet mampir balik....