Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 157


__ADS_3

"Oh ya satu lagi tuan datanglah tepat waktu lupakan sejenak mainan anda" ujar Jihan.


"Je cantik banget" ujar Leon yang tidak bisa melepas pandangannya dari Jihan.


Jihan tidak menggubris sampai Leon berlari dan menarik tangannya membuat Jihan menatapnya tidak suka.


"Jangan galak galak dong Je" ucap Leon.


"Datanglah ke rumah tuan Suseno dan cari tau apa yang ingin anda tau" ucap Jihan yang tau maksud Leon.


"Siap" ucap Leon tersenyum puas.


"Guys gue duluan, Bang Ridwan bantu saya" ujar Jihan yang menahan sakit di kepalanya.


Jihan berjalan pergi ke tempat dimanaa Jovan berada di ikuti Ridwan. Jovan Ridwan dan Jihan sekarang sedang berada di sebuah ruangan sebenarnya Jihan menolak Jovan untuk ikut namun Jovan bersikeras.


Saat Ridwan mulai memberikan pertanyaan air mata Jihan mulai menetes semakin lama semakin deras. Dia bercerita semua yang dia inginkan dalam hidupnya dia bahkan bercerita tentang perasaannya saat kehilangam sang buah hati yang mengharuskannya tersenyum padahal hati menangis.


"Dokter bisakah kamu membuatku mati" pertanyaan yang membuat Jovan dan Ridwan terbelalak.


"Apa alasan kamu memenuhi syarat kematian" tanya Ridwan santai membuat Jovan lebih terkejut.


"Jihan ingin bertemu dia mendengar tawanya dan hidup bahagia bersamanya, kamu tau dok di saat Jihan mulai berfikir untuk menjalani hidup ini lebih baik dan mulai menerima orang orang baru di sekitar ternyata mereka tidak bisa di terima mereka iblis di balut wajah tampannya dia tanpa beban melakukan itu tapi dia pinter dia melakukannya saat gue jauh mungkin karena gue yang terlalu sibuk dengan kerjaan kali ya tapi dia juga yang buat gue bekerja dua kali" ucap Jihan.


"Maksudmu kerja dua kali" tanya Jovan.


"Abang tau masalah di kantor Ayasta kan, Abang tau kenapa Jihan gak pulang cepet dan gak mau temuin dia Jihan udah cari tau siapa yang merubah semuanya" ucap Jihan.


"Seberapa keinginanmu untuk bertahan" tanya Ridwan.


"Gak ada, karena saat kepercayaan sudah ternoda maka tidak akan ada ketulusan di sana jangan paksa Jihan kalaupun Jihan bertahan ada suatu alasan yang menguatkan" ucap Jihan langsung menangis di pelukan Jovan.


Jihan menangis lumayan lama, sampai Ridwan dan Jovan ikut menangis. Di lain tempat Dwi sedang kebingungan dengan hasil ulahnya sendiri bagaimana dia akan bertanggung jawab. Dia langsung pulang setelah kepergian Jihan tadi sembari menunggu semua orang datang Dwi memikirkan berbagai macam hal yang mungkin terjadi.


Tak lama kemudian di saat waktu mulai malam saat ke dua orang tua Dwi Putri bahkan Fero sedang bersantai Jihan datang dengan Jovan dan Dani lalu ke dua orang tuanya dan langsung duduk di ruang tamu.


"Ada apa nih" tanya mama Sri.


"Mana Dwi jeng" tanya mama Anggun yang sudha mendengar semua masalah yang Jihan ceritakan.


"Disini" ujar Dwi langsung duduk di sana membuat ke dua orang tua Dwi Putri bahkan Fero bingung dengan apa yang terjadi.


"Sekarang ceritakan masalahnya versi kamu dan Jihan kamu diamlah" ucap papa Prasaja


"Sepertinya semua yang Jihan ceritakan adalah kebenaran mah, tapi mamah tau kan kalau Jihan gak suka dengan pernikahan ini" ucap Dwi membuat Jihan tersenyum


"Ini ada apa si" tanya mama Sri.


"Maaf sebelumnya mah, seperti yang sudah pernah Jihan singgung berkaitan dengan Jihan yang akan mencoba menjalankan pernikahan ini dengan sebaik baiknya tapi Jihan gak bisa melanjutkannya mah sebelumnya Jihan diam karena memang hanya mendengar tanpa melihat jadi Jihan mencoba untuk percaya dengan dia tapi hari ini Jihan melihat apa yang seharusnya gak di lihat jadi Jihan menyerah" ucap Jihan.


"Ini tante" ucap Dani memberikan sebuah vidio CCTV di TKP.


"Dwi" bentak mama Sri.


"Bukan hanya itu mah" ucap Jihan menberikan sebuah dokumen yang memberitahu kalau Dwi mencoba mengganti semua sistem Ayasta yang membuat perusahaan Jihan goyah.


"Ternyata kamu lebih jahat dari yang terlihat ya Wi, kamu tau perjuangan dia buat bangun perusahaan kamu sampai dia di caci maki keluarganya sendiri tapi dia tetap mau mengembangkannya" ucap papa Seno.


"Tapi pah dia melakukannya karena uang" ucap Dwi.

__ADS_1


"Kamu tidak seperti yang papa kira, sekarang keputusan ada di kamu Ji" ucap papa Seno.


"Pah" ucap mama Sri.


"Mah kita gak boleh memperjuangkan ego kita dengan mengorbankan kebahagiaan seseorang" ucap papa.


"Sekarang ambillah keputusan sayang" ucap Mama Sri berat.


"Mah Jihan belum mau memutuskan tapi Jihan hanya izin untuk menjauh sementara dari dia Jihan akan pikirkan apa yang harus Jihan lakukan" ucap Jihan.


"Kamu memang bijak nak" ucap mama Sri lega.


"Tapi jika memang tidak ada keputusan yang bisa di ambil sekarang saya tetap akan membawa anak saya dan membiarkan dia untuk bertingkah semaunya" ucap pak Prasaja.


"Baik tuan Prasaja sebelumnya saya minta maaf atas perlakuan anak saya" ujar papa Seno.


Jihan hanya bermain ponsel sedangkan Dwi menatapnya tajam. Jihan mulai terlelap di pundak Jovan membuat Jovan meneteskan air matanya.


"Tante om" ujar Ridwan yang datang dengan Leon.


"Ngapain lo kesini" tanya Dwi ketus pada Leon.


"Ngapain kan udah lama gak ketemu om sama tante" ujar Leon.


"Van gimana" tanya Ridwan.


"Good" ucap Jovan membuat Ridwan tersenyum.


Perlahan Jihan mulai mengeliat dan mulai membuka matanya membuat Ridwan menatapnya.


"Salah obat kayaknya, lo kasih gue obat apa si dok" ucap Jihan


"Kamu minta obat penenang kan kamu tenang kan" ujar Ridwan.


"Dia anak anda tuan Prasaja" tanya Leon.


"Ya apa dia buat masalah" tanya tuan Prasaja.


"Iya masalah besar" ujar Leon.


"Apa saya bisa memperbaikinya" tanya papa Prasaja.


"Tidak jangan di perbaiki, dia hanya mengobrak abrik hati saya membuat saya jatuh cinta dan tidak bisa melupakannya" ucap Leon membuat semua orang membulatkan matanya.


"Bang Ridwan berapa lama dia akan tertidur" tanya Dwi.


"Sebaiknya kamu bawa dia ke kamar dan biarkan dia istirahat sejenak. Tapi saat dia bangun jangan langsung ajukan pertanyaan atau kamu akan dihabisi" ucap Ridwan.


"Dia cekatan" ucap Leon.


"Maksudnya" tanya Dwi.


"Gak papa, biar gue aja yang bawa di ke kamar" ucap Leon.


"Jauhkan tangan kotor mu itu" ucap Dwi marah.


Leon hanya menatap Dwi sedangkan Dwi langsung menggendong Jihan ke kamarnya. Saat dalam gendongan Dwi Jihan mengeliat membuat Dwi bwrhenti sejenak agar Jihan tidak jatuh. Dwi membaringkan Jihan dengan sangat pelan tak ingin membuatnya bangun.


"Tidurlah " ucap Dwi mencium kening Jihan.

__ADS_1


Dwi langsung berdiri hendak pergi, saat Dwi sudah memegang handle pintu Jihan langsung duduk di sandaran ranjang.


"Kita perlu bicara" ucap Jihan.


"Kamu gak tidur kamu bohong" tanya Dwi langsung merapatkan pintu kamarnya


"Tidur, tapi gak senyenyak itu nih obatnya gue emaang ngantuk banget" ucap Jihan sembari melepeh obat tidur yang Ridwan berikan.


"Kenapa kamu meminumnya" tanya Dwi.


"Tidak sebenarnya saya minta obat penenang dengan dosis tinggi tapi Bang Ridwan gak kasih malah kasih ini" ujat Jihan.


"Kamu harus menjelaskan semuanya sekarang kita buat keputusan" ucap Jihan.


"Kita akan buat keputusan beberap minggu lagi saat pernikahan ini genap satu tahun" ujar Dwi.


"Kenapa harus menunggu satu tahun, kenapa gue harus bertahan selama itu untuk penderitaan yang lo kasih lo pikir idup gue cuma urusin diri gue doang gak hidup gue lebih bermakna daripada lo" ujar Jihan mulai emosi.


"Kamu tau alasan saya bermain dengan para boneka itu dan kenapa saya menghancurkan perusahaanmu" ujar Dwi.


"Ya karena kamu terbiasa dengan banyak wanita dan karena kamu takut tersaingi sama gue karena dan lo mau buat gue wanita yang tunduk karena uang lo kan" ujar Jihan Dwi hanya diam.


"Kenapa diam, semua tebakan gue benar kan sekarang gue gak mau lagi main main sama pernikahan gue gue gak mau lo terus permainkan perasaan gue " ujar Jihan.


"Oke sekarang gue tanya lo harus jujur, apa kamu benar benar ingin berpisah denganku" tanya Dwi.


"Hahaha gue udah bilang walaupun gue gak menyetujui pernikahan ini tapi gue gak oernah main main dengan sebuah ikatan apalagi ikatan sakral seperti ini" ujar Jihan.


"Lo mau pisah sama gue apa gak" tanya Dwi lagi.


"Tadinya gaak gue udah mulai suka sama lo gue mulai cemburu sama lo tapi lo malah main sama wanita lain lo pikir hati gue apa ha pondasi rumah aja berusaha kokoh karena dipaksa menanggung banyak beban" ucap Jihan.


"Lo cinta sama gue apa gak" tanya Dwi.


"Oke lo mau kejujuran gue kan, gue cinta sama lo lebih dari diri gue sendiri gue sayang sama lo gue mau jalani hidup susah senang sama sama lo" ujar Jihan membuat Dwi terkejut.


"Sejak kapan" tanya Dwi.


"Sejak lo tulus sama gue sejak gue ninggalijn dunia gelap gue buat lo itu langkah pertama gue dan ternyata semua sia sia sekarang pengorbanan gue langkah baru gue lo hianati jadi maaf karena perasaan gue terlalu instan jadi sekarang gue gak mau liat lo lagi" ujar Jihan.


"Haruskah kita bercerai" ujar Dwi bagaikan petir di malam yang kelam


Bukannya membuat Jihan bertahan di sisinya Dwi justru mengatakan hal yang sangat ingin Jihan hindari.


"Kalau itu jalan yang terbaik kenapa tidak, lalu sebenarnya apa tujuan lo nikahin gue" tanya Jihan.


"Pertama gue sayang sama lo gue cinta sama lo tapi lo terlalu cuek lo gak peka dan lo lebih mementingkan orang lain di banding gue" ucap Dwi.


"Cinta lo terlalu lemah" ujar Jihan langsung bangun dari ranjang menuju pintu kamar.


Namun Dwi yang terlihat marah dengan ucapan Jihan barusan langsung menarik Jihan dan membenturkan Jihj di tembok.


"Kalau lo keluar dari sini tanpa keputusan gue bakal buat sesuatu yang lo sesali seumur hidup lo" ujar Dwi membuat Jihan takut.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya ya guys....


__ADS_2