
Jihan membulatkan matanya bagaimana tidak Dwi santainya mencubu dia di depan orang apalagi di depan ayahnya membuat Jihan menutup matanya bukan karena menikmati tapi Jihan karena malu.
"Wi lo gila ya" ujar Jovan.
Dwi melepaskan tautannya dengan Jihan lalu tersenyum sedangkan Jihan merona karena malu, Jihan lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Dwi.
"Lo buat adek gue malu gila lo" cibir Jovan.
"maaf Bang, lagian gak percayaan si" ucap Dwi tanpa merasa bersalah.
"Kalian lanjutin di sana aja" ucap Zian menunjuk kamar di ruangannya lalu pergi.
"Oke terima kasih saudaraku, bilangin sama mereka ya kalau rapat di undur besok" ucap Dwi enteng.
"Mana bisa besok, besok gue udah pulang kali gak ada pengunduran jadwal" ucap Jihan.
"Lama kalau suami istri udah berantem" ledek papa Seno.
"Maaf pah, anak papah kurang ajar" ucap Jihan merona.
"Gak apa apa, sudah kalian lanjut nanti aja mesra mesrannya jangan sekarang takut gak bisa jalan Jihan" ledek papa Seno.
"Vin come here" ujar Jihan menelfon sang asisten.
"Maaf Bu Bos panggil saya" ucap Kevin yang baru saja datang.
"Ya, kemana jadwal kita" tanya Jihan.
"Makan siang bersama CEO dari DJPutra Company untuk membahas pembaruan kerja sama Bos" ucap Kevin.
"Oke" ucap Jihan.
"Berangkat sekarang Bos" tanya Kevin.
"Iya gue masuk kuliah malam aja" ucap Jihan.
"Siap Bos" ucap Kevin.
"Kita berangkat bareng aja" ucap Dwi.
"Gak ada" ucap Jihan.
"Sekalian arahnya sama tujuannya sama juga" ucap Dwi.
"Pake mobil sendiri sendiri" ucap Jihan.
"Gak ada biar para asisten bawa mobil kamu kita berdua" ucap Dwi.
"Gak ada," ucap Jihan.
Jihan dan Dwi terus berdebat membuat ke dua asisten yang sedari tadi menunggunya jenuh dan memilih untuk pergi. sama halnya dengan Jovan dan papa Seno beserta asistennya masing masing.
"Kita di tinggal" ucap Jihan saat sudah selesai berdebat.
"Mereka mau kita berduaan lebih lama" ucap Dwi.
"Gila lo, jangan bilang lo udah jatuh hati sama gue" ucap Jihan menebak.
"Bisa gak si berhenti ngatain mas gila, berhenti panggil mas lo gue " ucap Dwi.
"Yaya terserah eh bentar DJPutra Company bukannya perusahaan kamu ya mas" tanya Jihan.
"Baru sadar" tanya Dwi.
"Bener kan, dulu Jihan tuh kerja sama papa buat urusin DJPutra Company" ucap Jihan.
"Jadi apa mungkin DJ tuh artinya Dwi dan Jihan" ujar Dwi.
"Mungkin, jadi perjodohan ini udah lama dong di rencanakan" ucap Jihan.
"Sepertinya begitu, atau mungkin juga kamu jodohku" ucap Dwi.
"Udahlah Jihan duluan, bye jangan rindu" ucap Jihan pergi
"Gak akan rindu saat kamu di sisihku" ucap Dwi menggandeng tangan Jihan.
"Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta" ucap Jihan menelisik.
"Bagaimana kalau jawabannya iya, kamu mau menerimanya" tanya Dwi.
"Bagaimana dengan Clarissa model kamu itu" ujar Jihan.
__ADS_1
"Dia" ucap Dwi.
"Bos, telat nih" ucap Kevin.
"Kalian berangkat dulu tujuan kita sama biar saya yang bawa bos kamu" ucap Dwi.
"Siap bos" ucap Kevin dan Rudi asisten Dwi.
Dwi lalu menuntun Jihan untuk masuk ke dalam mobilnya, mau tidak mau Jihan ikut dengn Dwi karena asistennya sudah melesat entah kemana. Jihan duduk di samping Dwi dengan santai begitupun Dwi yang sudah menancap gas untuk menuju tempat tujuan.
"Ji bagaimana kamu tau tentang Clarissa" tanya Dwi serius.
"Kamu pikir selama gue kerja sama papa serius apa sama perusahaan gak lah, kamu tau setelah enam bulan kerja dia kasih biodata semua keluarganya sampai hal paling kecil terutama tentang kamu dan papa juga menyuruhku berdandan jauh dari kata kata menarik tapi itu juga sebuah keuntungan untukku karena dengan cara itu juga gue tau seseorang dari perilaku mereka dan itu juga membuat tidak ada yang bisa mengenaliku" jelas Jihan.
"Apa bayaran yang papa janjikan begitu besar sampai kamu mau part time" tanya Dwi.
"Bukan soal uang tapi soal pengalaman bagaimana menangani masalah ataupun menjalankan sebuah perusahaan dengan baik" ucap Jihan.
"Benarkah, bukannya kamu harus membiayai sekolah kamu" tanya Dwi lagi.
"Sekolah gue gak bayar, malah mereka yang bayar gue bahkan gue dapat fasilitas terbaik di sekolah" ucap Jihan.
"Maksudnya kamu anak berprestasi dan bukan bad Girl seperti yang melekat di namamu" ucap Dwi.
"Kalau bad Girl itu emang gue nakal tapi fasilitas itu gue dapet dari prestasi dari berbagi bidang dalam akademik maupun non akademik" ucap Jihan.
"Nakal tapi cantik" ucap Dwi mengacak acak rambut Jihan.
"Cantik emang udah dari kalbu, kamu kenapa baik sama gue pas gue lagi kerja dulu sempet baper gue padahal dari fisik jelas jelas gak menarik " ceplos Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Kamu tau mas gak pernah memandang fisik, lagian mas juga udah tau kamu yang sebenarnya sejak pertama pulang dari London dan kalau boleh jujur emang mas udah nyaman sama kamu" ucap Dwi serius.
uhuk.... uhuk.... uhuk...
"Are you oke" tanya Dwi menghentikan mobilnya.
"Gak mandang fisik tapi semua kekasih kamu semua model.dengan body goal" ucap Jihan.
"Kata siapa, mereka aja yang deketin gue yang sayang kalau gak di coba" ucap Dwi membuat Jihan meringis.
"Apa maksud kamu dengan kata nyaman" tanya Jihan.
"Apa kamu sedang mengungkapkan rasa" ledek Jihan tersenyum
"Kamu gak peka banget si" ujar Dwi ngembek.
"Yah ngambek, karena gue tau orang kayak lo gak bakal bisa mencintai seseorang karena lo akan selalu memainkan setiap wanita" ucap Jihan.
"Dasar gak tau diri udah gue lembut lembutin malah nyolot lo gak tau di untung" ucap Dwi lalu keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya.
"Dia pikir dia siapa, gue juga bisa kali buat dia baper tunggu aja lo" ucap Jihan menyusul Dwi yang sudah dulu masuk ke dalam restauran walaupun bukan restauran tempat janji mereka di buat.
"Mba dimana orang yang baru saja masuk" tanya Jihan pada salah seorang pelayan restauran.
"Pak Putra maksud anda" tanyanya.
"Iya" ucap Jihan.
"Dia di ruang VVIP di sebelah sana nona" ucapnya ramah.
"Terima kasih" ucap Jihan pergi
Jihan lalu masuk begitu saja ke ruang tersebut namun seketika matanya membulat saat melihat Dwi sedang bermesraan dengan seorang wanita yang sangat Jihan kenal. Jihan lalu duduk dan seolah tidak ada apapun yang terjadi.
"Kamu siapa masuk langsung duduk aja ganggu tau" ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Clarissa kekasih Dwi.
"Maaf Nona kalau saya mengganggu tapi saya ada janji dengan pak Putra" ucap Jihan.
"Beneran yang" tanyanya kepada Dwi dan Dwi hanya mengangguk.
"Apa saya perlu pergi sekarang atau kita lanjutkan pertemuan ini" ujar Jihan dengan nada datar.
"Lanjutkan" ucap Dwi tegas.
"Vin ubah jadwal kita ada di restauran ujung jalan arah kanan dari restauran yang kalian tempati, datang sekarang atau tidak sama sekali" ucap Jihan menelfon Kevin.
Di lain tempat Kevin sempat bingung dengan ucapan Jihan namun dia langsung melakukan yang Jihan perintahkan. Kevin memberitahukan kepada Rudi untuk pergi dari tempat tersebut pergi ke tempat yang Jihan katakan.
"Buat ulah lagi pasti bos gue, kebiasaan kalau meeting sama orang yang dia kenal langsung ke tempat seenak dia" gerutu Rudi.
"Iya biasaan dia, dan pasti juga ada si Ica di sana" ucap Kevin.
__ADS_1
"Ica, Clarissa kali Vin " ujar Rudi.
"Itu panggilan biasa kita pas kuliah dulu" ucap Kevin sembari terus berjalan.
"Kalian satu angkatan" tanya Rudi.
"Ya tapi gue kuliah sampai lulus di sini sedangkan bos Putra menyelesaikan kuliah di uar negeri maklum anak sultan" ucap Kevin
"Oh gitu, pantes kalian kayak deket" ucap Rudi.
"Iya tapi dia profesional banget kalau kerja gak pandang siap yang jadi partnernya" ucap Kevin.
"Pantes sama bu Jihan gitu amat" ucap Rudi.
"Iya, ya udah yuk kita masuk" ucap Kevin.
"Ya" ucap Rudi.
Setelah bertanya kepada pelayan restauran Rudi dan Kevin menuju ruang tempat Jihan dan Dwi berada. Rudi dan Kevin lalu mengganti mode bersahabat mereka menjadi seorang partner kerja saja. Rudi adalah teman Kevin yang dia kenal saat Rudi membantu keuangan Kevin dahulu saat SMA.
"Permisi" ucap Kevin mengetuk pintu.
"Masuk" ucap dari dalam.
"Maaf bos lama" ujar Kevin lalu membungkuk kepada Jihan memberikan hormat.
"Ya gak apa apa, lain kali pakai helly biar cepet" ucap Jihan membuat Kevin tersenyum sedangkan Rudi melamun.
"Kalau pakai Helly nanti susah masuknya bos" ucap Kevin.
"Helly apa tuh" ujar Jihan.
"Helly guguk bos punya restoran Jepang bos" ucap Kevin dengan nada datar.
"Mainnya ke Jepang belajarnya bahasa Tiongkok" ujar Rudi.
"Tiketnya ke London" ujar Jihan.
"Sampainya di Jakarta" ucap Kevin.
"Kalian gila bicara hal gak penting tau, cepet sedikit dong gue mau nge date sama Putra nih" ucap Clarissa.
"Udah Guys, ada yang gak bisa lanjutin kata kata tuh" sindir Jihan.
"Lanjutkan atau tidak sama sekali" ujar Dwi datar.
"Kata kata gue tuh, kalian udah berunding kan gimana hasilnya" tanya Jihan.
"Keputusan ada di kita gila lo, lagian tanpa gue perusahaan lo gak bakal maju" ujar Dwi sombong.
"Hahaha, lo pikir siapa yang lo yang besarin perusahaan lo aja gue padahal gue kerja jarak jauh sok ngancem lagi yang minta kerja sama juga perusahan lo yang lagi goyah itu" ucap Jihan dengan senyum kemenangan.
"Rud mana surat kerja sama kita" tanya Dwi.
"Ini Tuan" ucap Rudi memberikan surat kerja sama tersebut.
Dwi lalu mengambilnya dan merobek robek menjadi sangat kecil di hadapan Jihan membuat semua orang melongo selain Jihan yang terlihat sangat santai dan tenang bahkan Jihan melemparkan sebuah senyuman.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Sepertinya banyak komentar yang kurang enak di baca ya...
Gak apa apa kalian bebas kok...
Tapi kalian harus ikuti ceritanya terus biar tau akhirnya dan tau dimana jawaban atas komentar kalian...
Salam manis Author***....
__ADS_1