
Dwi menembak semua orang yang Klara bawa walaupun bukan vitalnya Dwi hanya melumpuhkannya. Sedangkan Jihan dan Klara sedang berduel khas wanita saling menarik rambut dan mencakar. Sebenarnya Jihan bisa saja melumpuhkan Klara dengan ilmu bela diri yang dia miliki namun karena luka yang Klara gores di tubuhnya tidak parah menurutnya jadi dia menggunakan cara halus.
"Kalian kapan selesainya" tanya Jovan.
"Kamu bukannya bantuin malah nontonin" ujar Dwi.
"Kenapa gak lo aja yang pisahin mereka" tanya Jovan.
"Bisa abis gue" ujar Dwi.
"Dasar" ucap Jovan.
"Huh capek gue,"ujar Jihan melepaskan jambakannya.
"Serahin Dwi buat gue, dengan itu gue lepasin lo" teriak Klara.
"Siapa elo, elo tuh cuma pelarian neng gue yang dia cari tapi karena kesepian lo yang muncul gimana enak jadi pelarian" ucap Jihan membuat Dwi ternganga sedangkan Klara semakin kesal.
"Biarin pelarian tapi gue nikmatin tubuhnya" ujar Klara berusaha membuat Jihan murka.
"Gue gak peduli, itu urusan lo sama dia dosa dosa lo berdua yang jelas gue gak akan serahin apapun yang menjadi hak gue" ucap Jihan.
"Lo tuh cuma tebusan" ucap Klara.
"Eh gak papa kali, jadi tebusan derajat gue tinggi di tunggu hadir gue dalam acara keluarga dia lah elo udah pacaran berabad abad gak ada seorang pun yang mau nerima lo" ucap Jihan.
"Dasar ******, apa itu yang mak lo ajarin" ujar Klara berhasil membuat Jihan marah.
Plakkk
"Lo boleh hina gue semau lo tapi gak sama keluarga gue" ucap Jihan.
"Hahaha bukannya lo anak terbuang ha, yang mengejar cinta seorang tuan muda" ucap Klara.
"Kalaupun gue di buang se enggaknya orang tua gue kasih bekal moral baik" ucap Jihan.
"Lo mending pergi deh sama kesayangan lo itu, percumah sama Putra dia kan gak mau barang bajakan" ujar Klara.
"Maksud lo gue bajakan di kira onderdil, gue capek ngomong sama orang gak waras kayak lo" ucap Jihan membuat Klara menyerangnya.
Jihan menyerang balik Klara sampai Klara tersengkur kemudian mengikat tangan klara ke belakang dan mengikatnya ke kursi.
"Jul bawa dia buat dia hancur sampai gak bisa berdiri" ujar Jihan penuh amarah.
"Siap bos, tapi bos oke" tanya Julio yang melihat darah mengalir di ujung bibir Jihan
"Pikirin dia jangan gue, gue bisa urus diri gue sendiri" ujar Jihan membentak Julio bentakan pertama yang dia lakukan kepada asistennya itu namun Julio tidak sakit hati justru dia kasihan kepada bosnya itu yang memikul beban beratnya sendiri namun dia memilih membawa Klara.
"Kevin bawa mereka semua" ujar Jihan menunjuk orang orang Klara yang terkapar.
Kevin mengangguk sedangkan Jihan memungut beberapa senjata yang di bawa anak buah Klara tadi dan memberikannya kepada Randy.
"Ji duduk biar gue obatin" ujar Randy sedangkan Raka mengambil obat.
"Nih Ran" ucap Raka
"Kak gimana keadaan Jihan"tanya Nisa yang mendekati Jihan.
"Woy lo kenapa pakai tanya dia gue di depan lo " ucap Jihan.
"Hehe sorry panik Ji" ucap Nisa.
"Au" ucap Jihan saat Randy mengompres ujung bibirnya.
"Sorry" ucap Randy.
"Udah biar Jihan aja makasih kak" ucap Jihan menatap Randy membuat Randy nurut.
"Gue aja Ji" ucap Nisa yang melihat raut wajah Dwi tak suka.
"Hm" ucap Jihan.
Nisa mulai mengobati luka di wajah Jihan Nisa tidak melihat tangan Jihan yang tergores cukup panjang di sana.
"Honey maaf" ucap Dwi berlutut.
"Berhenti menyebutku dengan panggilan panggilan aneh itu" ujar Jihan kesal.
"Maaf, udah buat kamu luka" ucap Dwi berusaha sabar.
"Maaf lo bilang, terus gimaana sama nasib hati gue lo main di depan gue" ucap Jihan meninggi.
"Itu semua gue lakuin biar lo gak mati" ucap Dwi.
"Mending gue mati kena timah panas itu, lo tuh gila lo gila gue manusia bukan boneka gue punya hati" ucap Jihan dengan amarah menggebu.
"Gue tau gue salah, tapi gue gak ada pilihan lain" ucap Dwi.
"Pilihan banyak, gak harus lo balas ciuman wanita gila itu" ucap Jihan.
__ADS_1
"Ji gue gak balas cium dia mereka juga liat, dia yang terus maksa gue" ucap Dwi.
"Dan pada akhirnya lo terbuai" ucap Jihan.
"Jadi kamu marah karena gue cium dia bukan karena gue buat lo dalam bahaya dan karena gue udah buat dia jadi pelarian" tanya Dwi.
"Ya iya lah lo pikir gue marah kenapa, lo suami gue gue gak mau berbagi sekalipun dengan wanita yang udah ada di hidup lo duluan" ujar Jihan.
"Makasih Ji" ucap Dwi memeluk Jihan.
"Au" pekik Jihan.
"Kenapa Ji" tanya Jovan panik.
"Lepasin gue dulu" ujar Jihan mendorong Dwi.
Dwi melepaskan pelukannya sedangkan Jihan berdiri dan melepaskan kancing lengan kemejanya menampilkan sebuah luka yang cukup panjang.
"Lo luka parah Ji, gue panggil dokter ya" ucap Jovan.
"Panggil bang Ridwan aja, dia yang paling deket tempatnya" ujar Dwi.
Namun belum juga Jovan memanggilnya Ridwan datang bak malaikat. Dia datang berjalan santai namun saat melihat beberapa kariawan sedang membereskan tempat dia mulai mencari sosok yang mungkin dia kenal.
"Abang tolong" ucap Dwi merengek membuat Ridwan bingung sedangkan Jihan tertawa dengan tingkah suaminya .
"Kenapa" tanya Ridwan yang di seret Dwi namun dia tetap santai.
"Jihan tuh" ucap Dwi membuat Ridwan langsung menatap Jihan dan duduk di sebelahnya.
"Oke oke jangan panik dong" ujar Ridwan.
"Kenapa gila lagi" tanya Ridwan membuat Dwi melongo.
"Sedikit dok, tapi yang saaya lawan sama gilanya" ucap Jihan.
"Oh" ujar Ridwan santai.
"Dok ini ini ini ini rasanya perih" ucap Jihan menunjukk beberapa luka di tubuhnya.
"Ada lagi" tanya Ridwan.
"Ada dok, tapi saya gak yakin dokter bisa mengobatinya" ucap Jihan.
"Mana siapa tau saya obatnya" tanya Ridwan.
"Udah telat dok, obatnya yang bikin sakit, saya takut overdosis" ucap Jihan.
Ridwan menyentuh wajah Jihaan dan memeriksa luka Jihan namun Dwi malah menghentikannya.
"Gak pakai sentuh kali" ucap Dwi cemburu.
"Kalau gak di sentuh terus di apain" ucap Ridwan santai.
"Ya periksa tapi jangan pegang pegang" ucap Dwi.
"Oh ya liat tangan kamu boleh" tanya Ridwan.
"Nih, dokter tau" tanya Jihan.
"Julio menjelaskan semuanya makanya saya datang" ucap Ridwan.
"Dia ke tempat dokter" tanya Jihan.
"Hidup di jaman modern emang kalau ngomong harus pergi ke tempatnya" ujar Ridwan.
"Hehe, bentar dok biar saya ganti baju dulu " ucap Jihan di angguki Ridwan.
"Des capucino satu, buat dia ya" ujar Jihan sembari berjalan ke ruangannya .
"Siap bos" ujar Desi semangat.
Jihan berganti baju dari yang memakai pakaian formal berganti memakai kaos dan celana jean tidak lupa dengan sandal jepitnya. Jihan keluar dengan rambut di kuncir kuda dengan rapi menampakkan beberapa bagian leher dan tengkuknya yang bekas cakaran.
"Bos abis kerokan" ledek Julio.
"Iya tadi gratis lagi, lo ngapain di sini" tanya Jihan pada asistennya itu.
"Mau makan siang" ucap Julio.
"Mau makan apa" tanya Jihan.
"Makan spageti carbonara aja mau makan kamu takut di makan hidup hidup sama suami kamu" ucap Julio.
"oke, kalau dokter" tanya Jihan.
"Samain aja" ujar Ridwan.
"Ikut ikutan aja lo" ucap Julio.
__ADS_1
"Ji lo panggil dia bisa "Kak Julio" tapi panggil gue dokter dokter mulu" ucap Ridwan.
"Udah nyaman" ucap Jihan langsung duduk di depan Ridwan.
"Iz, eh mana luka lo" tanya Ridwan.
"Masih belum di obatin" tanya Julio.
"Ya belum gue ganti baju dulu tadi, lagian lo kenapa panggil dokter si kak gue kan bisa obatin luka gue" ujar Jihan.
"Gue tau itu yang bakal lo ucapin, bulannya terima kasih atau minta maaf gitu udah marahin gue tadi, tapi kalau lo yang bersihin tuh luka terus kalau lo gak bersih nih luka bakal lama gue juga yang repot" ucap Julio.
"Gak pernah iklas ya" ucap Ridwan
"Sekarang gak ada yang iklas dulu gue iklas suka sama dia di abaikan" ucap Julio tanpa beban.
"Apa baru saja ada orang yang mengutarakan perasaannya dok" ledek Jihan.
"Jahat" ucap Julio.
"Ngambek ngambek, oh ya lo kemanain tuh Klaara" tanya Jihan.
"RSJ" ujar Julio singkat.
"What, lo gila" tanya Jihan.
"Bukan gue dia yang gila, udah gue lakuin tes juga emang bener dia gila " ucap Julio
"Jadi gue beneran berantem sama orang gila" ucap Jihan.
"Iya, ternyata udah lama depresi sejak Dwi memutuskan nikahin lo tapi makin parah beberapa hari lalu keluarganya hancur bokapnya terjerat korupsi sedangkan emaknya pacaran lagi" ucap Julio membuat Jihan ternganga.
"Tutup tuh mulut" ucap Julio memegang dagu Jihan agar mulutnya tertutup.
"Belum juga gue hancurin udah hancur duluan" ucap Jihan.
"Udah selesai" ucap Ridwan.
"Oke makasih Kak " ucap Jihan.
"Hm, sekarang mana makanannya" tanya Ridwan.
"Lupa" ucap Jihan melenggang pergi menuju dapur.
Tak lama ponselnya berdering membuatnya menghampiri meja Dwi dan mengambil ponselnya. Ternyata sahabat sahabatnya yang menelfon.
"Nis mau bantu" ujar Jihan saat akan memasak dan Nisa sedang duduk.
"Oke bos" ujar Nisa memberi hormat membuat Jihan menggelengkan kepalanya.
Jihan mulai memasak dengan bantuan Nisa, ya walaupun Nisa bar bar tapi untuk memasak dia bisa di andalkan apalagi otaknya sangat merespon saat memasak.
"Ji ternyata gampang juga ya bikinnya cuma tinggal rasanya aja gimana" ucap Nisa.
"Iya lah, otak lo kalau masak paling respon ya tapi kalau suruh respon pelajaran milih tidur" ucap Jihan membuat Nisa tersenyum.
"Kalau di isi pelajaran blenk Ji, jadi istirahat" ucap Nisa.
"Untung gak konslet ya keluar api" ucap Jihan.
"Otak gue udah biasa gitu tinggal tidur atau healing udah selesai" ujar Nisa.
"Oke tolong bawa ke sana ya, tapi ingat gak pakai bar bar" ujar Jihan.
"Ih lo ma tau aja kalau itu" ucap Nisa cemberut sembari membawa nampan berisi dua spageti.
"Gak pake cemberut juga kali" ujar Jihan yang berjalan menututi Nisa dengan segelas kopi.
"Silahkan" ucap Nisa dengan senyum merekah.
"Puas lo" ucap Nisa.
"Banget" ujar Jihan sembari menjulurkan lidah.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys...
Makasih yang udah setia nungguin dan yang udah dukung buat yang udah mampir maaf ya belum sempet mampir ke tempat kalian
__ADS_1
see you bye bye ...