
"Boleh" ujar Dwi membuat Jihan membulatkan matanya.
"Yakin" tanya Jihan.
"Iya" ucap Dwi mantap
"Gak sayang kalau dia gila" tanya Jihan.
"Gak lah, terserah kamu aja mau apa yang penting buka hati kamu biar saya bisa masuk untuk membuang semua nama yang ada di masa lalu kamu" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya dengan tajam.
"Kesayangan mamah kalian bertiga mau makan apa" tanya mama antusias karena melihat perlakuan Jihan kepada Dwi.
"Mama masak apa" tanya Jihan.
"Masak apapun yang kamu mau, kamu mau apa" tanya Mama.
"Apa aja masakan mamah Jihan makan" ucap Jihan tersenyum.
"Oke sayang kalau kamu Wi" tanya Mama
"Terserah mama aja yang penting jangan seefood" ucap Dwi.
"Beres" ucap mama pergi.
"Mah papa gak di tanya" ucap Papa.
"Alah kalau papa mamah udah paham" ujar Mama.
"Oke istriku" ujar papa lebay.
Jihan tersenyum melihat ke dua mertuanya yang selalu akur dan romantis, berbeda dengan orang tuanya yang jarang bertemu tapi sekali bertemu bertengkar di depan anak anaknya karena itulah Jihan memilih tinggal jauh dari keluarga.
"Mah Jihan boleh ikut mamah" tanya Jihan.
"Boleh dong sayang mau masakin suami ya" ledek mama.
"Gak mau liatin mama masak aja" ujar Jihan langsung berlari ke arah mertuanya tanpa alas kaki.
"Jangan lari lari inget kaki" ucap Dwi.
"Inget dong kalau gak inget udah gue tinggal" ujar Jihan tertawa.
"Bukan itu maksudnya" ujar Dwi Jihan hanya tersenyum.
"Kamu gak pakai sandal" tanya mama.
"Gak perlu mah sekalian ini lemesin kaki" ujar Jihan.
"Dari tadi bilangin kaki kaki aja, kenapa si" tanya mama.
"Gak mah cuma kegilir sedikit" ujar Jihan.
"Kamu seneng banget ke kilir" ujar mama.
"Biar di perhatikan tuh" ujar Papa.
"Ih papa klau ngomong suka bener untung mertua kalau bukan" ucap Jihan.
"Kalau bukan kenapa Ji" tanya papa.
"Jihan tikung mamah" ucap Jihan dengan penuh gelak tawa.
"Kamu gak akan mampu menyaingi mama Ji, mamamu luar biasa" ujar papa dengan tatapan menggoda.
"Mah masak aja yuk" ujar Jihan di angguki mertuanya.
Jihan dan mama sudah cukup dekat sebelum ada ikatan keluarga apalagi dengan mertuanya yang sangat supel membuat jihan tidak canggung.
Jihan menggandeng mertuanya dengan manja sembari menahan sakit di kakinya yang mulai bengkak.
Jihan melihat banyak maid yang sedang menata beberapa jenis sayuran yang akan di masak oleh mertuanya. Dengan tatapan berbinar Jihan berjalan dengan cepat meninggalkan mertuanya.
"Mah, boleh Jihan masak ayam kecap manis" tanya Jihan.
"Boleh dong" ujar mertunya membuat Jihan semangat.
"Mari saya tolong nona muda" ujar seorang kepala pelayan kepada Jihan.
"Gak perlu biar saya saja, oh ya berapa orang yang bekerja di sini bu" tanya Jihan.
"Panggil saya bibi saja nona" ucapnya.
"Udah biasa panggil ibu susah buat gantinya" ucap Jihan tertawa.
__ADS_1
"Terserah nona, di sini semua pelayan ada lima belas orang nona di tambah lima satpam yang berjaga dan lima supir pribadi" ujarnya.
"Oh oke" ucap Jihan.
Karena kepala pelayan terus saja mendesak agar bisa melayani nona mudanya itu membuat Jihan mengangguk. Jihan pergi untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Kevin untuk membeli beberapa bahan untuk masakannya lalu kembali ke dapur dengan memguncir rambut nya.
"Sudah bu silahkan bantu mama" ucap Jihan sopan.
"Baik nona" ujarnya
Jihan mulai memasak ayam kecap manis untuk keluarganya dengan beberapa sayuran yang ada sembari menunggu Kevin datang.
Setelah semua masakannya hampir siap Kevin datang dengan banyak belanjaan membuat Dwi menatapnya aneh. Jihan tersenyum dan menyuruh Kevin untuk membantunya ya walaupun tetap Jihan yang masak. tapi Jihan sengaja meminta bantuan Kevin karena dia cepat dalam bekerja.
"Wah peningkatan nih kak" ledek Jihan pada Kevin.
"Kalau gak di tingkatin yang ada tuh sutil bukan buat masak" ucap Kevin dingin.
"Dingin bener, berantem ya sama Ani" ledeknya lagi.
"Mana ada berantem, kita tuh pasangan paling harmonis" ucap Kevin membuat Jihan manyun.
"Yaya terserah, lo gak perlu seserius itu kak Kevin kita di luar jam kerja walaupun lo masih pakai jas" ujar Jihan.
"Yaya eh jas, aduh ini kan kan baru kenapa gak bilamg dari tadi si kan jadi kotor" ucap Kevin merengek.
"Nanti lo beli lagi kan gajihan" ujar Jihan.
"Iya gampang beli tapi ini dari Ani" ucap Kevin.
"Mba tolong lepasin jas ini dong tangan saya kotor" ujar Kevin menyuruh kepala pelayan.
"Inget jangan sampai kotor lagi" ucap Kevin saat kepala pelayan sudah melepaskan jasnya dari tubuhya.
"Baik, lalu ini taruh dimana apa perlu saya tenteng kemanapun tapi saya tidak janji ini akan bersih" ucapnya.
"Taruh di kamar tamu gak papa" ucap Kevin.
"Siap" ucap kepala pelayan pergi.
"Kak Kevin lo kenapa sensitiv banget soal jas itu" tanya Jihan.
"Iya karena itu pemberian pertama Ani, sesuatu yang sangat berharga patut di jaga lo kan juga tau semua yang gue terima dari seseorang bakal gue jaga dengan sebaik baiknya walaupun gue gak suka" ujar Kevin membuat Jihan berfikir.
Jihan tersenyum kemudian lanjut masak beberapa hidangan dengan porsi besar dia ingin memasak untuk seluruh kariawan yang ada di sana.
"Ji banyak banget" ujar mertuanya.
"Iya mah sengaja, bu ini semua di bawa ke tempat kalian semua makan ya gantian juga gak papa" ujar Jihan membuat kepala pelayang menatap bos besarnya.
Mama mengangguk lalu para pelayan membawa beberapa makanan ke tempat mereka biasa berkumpul dan makan. Berbagai hidangan tersaji di meja makan utama maupun untuk para maid.
"Ji lo gak masakin buat gue" ujar Kevin.
"Nanti makan bareng lah tuh gue masak banyak makanya jangan pulang dulu gue juga punya kerjaan buat lo sehabis makan" ucap Jihan.
"Oke" ucap Kevin.
"Mah Jihan mandi dulu ya" ujar Jihan setelah selesai dengan pekerjaannya.
"Oke, baju baju kamu udah di beresin Putri" ucap mama semangat.
"Putri, kenapa perasaan gue gak enak ya" ujar Jihan sembari berjalan.
"Mas Jihan mandi dulu ya" ujar Jihan berjalan ke arah Dwi sembari membawa tas dan sandalnya.
"Belum juga saya jawab" ucap Dwi karena Jihan nyelonor saja.
Jihan tidak memperdulikannya dia berjalan ke arah kamar Dwi dengan hati gelisah karena semua yang Putri lakukan padanya pasti ada sesuatu yang tersembunyi.
Saat melihat kamar itu masih baik baik saja Jihan langsung mandi dengan tenang. Tak lama Jihan keluar dengan handuk yang melilit badannya dan kepalanya untuk mengambil baju namun siapa sangka dia di buat terkejut dengan isi lemarinya.
"Putri" teriak Jihan membuat semua orang tersentak.
"Kenapa kakak iparku sayang" ujar Putri tertawa karena dia sudah tau apa yang membuat Jihan teriak.
"Kenapa dia Wi coba liat deh tadi soalnya mau mandi" ujar Mama.
"Iya mah" ucap Dwi berjalan ke kamarnya.
"Dimana baju baju gue" teriak Jihan dengan kepala keluar dari pintu kamar namun badannya di dalam.
"Di lemari kakakku" ledek Putri karena tau iparnya itu sangat kesal.
__ADS_1
"Mana ada baju kayak gitu, yang ada jaring kupu kupu" ucap Jihan membuat Dwi yang berada di depan Jihan bingung namun enggan bertanya.
"Biar lo ngefly" ucap Putri dari lantai satu.
"Ya kali ngefly, gimana gue makenya coba" ucap Jihan sangat kesal.
"Pakai aja" ucap Putri.
"Kalau gue pakai gak yakin gue kalau cuma gue yang ngefly mau lo" ucap Jihan membuat Putri berfikir.
"Eh jangan jangan lo di kamar aja jangan keluar sampai lo temuin baju lo" ucap Putri.
"Untung Abang lo ganteng kalau gak gue santet lo" teriak Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Santet aja tapi jangan lupa santet pakai cream glowing" ucap Putri.
"Kenapa si" tanya Dwi lembut
"Baju gue ilang" ujar Jihan membuat Dwi membuka pintu namun Jihan tahan.
"Kenapa" tanya Dwi.
"Jangan masuk saya malu" ucap Jihan.
"Kenapa" tanya Dwi mengerutkan dahinya.
"Saya gak pakai baju" ucap Jihan menunduk malu.
"Bagus dong, lagian kenapa malu saya sudah melihat semuanya" ujar Dwi memaksa membuka pintu dan berhasil.
"Udah sini jangan malu" ucap Dwi menarik tangan Jihan setelah menutup pintu kamar.
"Gak ada baju sama sekali ya" ujar Dwi.
"Liat aja" ujar Jihan membuat Dwi membuka lemarinya.
"Kek gini semua" ucap Dwi tersenyum.
"Jangan senyum senyum inget puasa" ucap Jihan.
"Yaya, ya udah pakai baju saya aja nanti belanja" ucap Dwi.
"Oke" ucap Jihan.
Jihan langsung memilih baju Dwi dan membawanya ke ruang ganti. Setelah selesai dia mengeringkan rambut dan hanya memoles bibirnya dengan warna natural
"Eh bentar kok ini sama persis kayak yang ada di meja rias saya" tanya Jihan
"Iya sengaja saya suruh mamah buat belanja, biar kamu nyaman" ucap Dwi
"Oh" ujar Jihan ber oh ria.
"Ji ji coba deh kamu dandan kayak gini lagi" ucap Dwi menunjukkan sebuah foto dalam stori IG milik Jihan.
"Kamu serius" tanya Jihan penuh telisik.
"Hm gimana kalau yang ini" ujar Jihan merebut ponsel Dwi dan mencari fotonya dengan make up ala korea.
"Tepat itu aja lebih cantik, tapi mau lihat kamu yang kayak tadi" ucap Dwi.
"Katanya cantik ini terus kenapa sama yang itu" ucap Jihan.
"Mau lihat kamu dengan wajah lain" ucap Dwi.
"Pakein topeng aja" ucap Jihan.
"Hehe sebenarnya saya yang mau liat kamu make up" ucap Dwi.
"Bilang kalau mau cara saya make up mau ikutan pake make up" ujar Jihan mangguk mangguk dengan senyuman tipis ya sangat tipis.
Jihan mulai dengan make upnya dengan sangat serius Dwi menatapnya. Bukan ingin melihat hasil riasan Jihan namun dia ingin menatap wajah cantik Jihan dalam waktu lama.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys. ...
Makasih yang selalu mendukung
__ADS_1