
Justine dan Jenifer ke duanya pergi ke ruang makan dengan bergandeng tangan. Mereka merubah sifat dinginnya dengan cepat saat di depan neneknya di ruang makan mereka jadi periang dan tertawa tanpa beban.
"Maafin mereka ya Wi" ujar Jovan.
"Gak papa Bang, mereka kan masih anak anak" ujar Dwi duduk di kursi.
"Ya anak anak tapi bukannya mereka harusnya hormat sama kamu apa Jihan salah mendidiknya" ujar Papa Prasaja.
"Gak gitu juga Pah, Jihan gak salah tapi emang Dwi yang gak bisa jaga perasaannya Dwi hanya tidak menduga dia sangat sensitif seperti itu membujuknya lebih sulit dari membujuk anak papa" ujar Dwi tersenyum.
"Liat aja pah, tuh mereka bisa mengubah dunia ceria hanya sekejap mata" ujar Dwi lagi.
"Ya sifat Jihan menurun dia bisa merubah keadaan sekejap mata dia bisa menjadi matahari bersinar setelah kabut kelam dalam beberapa detik". Ujar Jovan.
"Ya bener, kamu harus sabar ya Jihan aja kamu taklukin mereka juga pasti bisa" ujar papa Prasaja.
"Ya bener, berjuanglah sepertinya mereka seperti itu karena ingin membuat mommynya bahagia jadi buat Jihan di selimuti senyuman maka mereka akan berubah" ujar Jovan pergi bersama papa Prasaja.
Dwi berfikir di ruang tamu sendirian. Tak lama seorang maid memberikannya segelas kopi dan cemilan. Di lain tempat Jihan sedang makan bersama para kariawannya mereka bercanda tawa bersama mereka tidak membahas pekerjaan mereka hanya bersuka cita bersama sama.
Setelah waktu menunjukkan mulai malam Jihan langsung membayar semua makana dan minum bahkan sewa tempatnya dia langsung pamit kepada semua kariawannya untuk pulang semua kariawannya mengerti karena Jihan sudah memiliki anak sekarang jadi seorang ibu juga perlu.
"See you guys" ujar Jihan pergi.
"See you bos" ujar Semua kariawannya.
Saat Jihan pergi ke lokasi mobilnya ternyata kariawannya ikut pergi semua membuat Jihan menatap aneh karena sebelumnya mereka ingin berbincang satu sama lain.
"Kok ikut" tanya Jihan.
"Rindu keluarga bos" ujar salah satunya.
"Oh oke duluan ya" ujar Jihan saat di depan mobilnya.
Dia pergi dengan cepat apalagi lalu lintas yang sudah tidak padat karena sudah larit dia sampai dengan cepat. Namun saat sampai pekarangan rumah Prasaja dia melihat pintu terbuka lebar membuatnya bingung.
Dia membawa semua berkas di tangannya lalu masuk ke dalam rumah dia melihat Dwi yang sedang melamun di sana bahkan saat dia masuk Dwi hanya menatapnya sekilas
"Udah pulang lo" ujar Jovan.
"Ya Bang, dimana anak anak" tanya Jihan sembari menyalami Jovan.
"Ada di kamar kamu udah tidur" ujar Jovan.
"Oh capek kali" ujar Jihan berganti menyalami Dwi di sambut ciuman mensra Dwi
"Kalian baikan" tanya Jovan.
"Kapan berantem" ujar Jihan dengan entengnya lalu berjalan ke arah kamar dan melihat ke dua anaknya yang sudah tertidur pulas dia langsung meletakkan semua barang bawaannya dan berganti pakaian.
"Mommy" ujar Jenifer lirih
"Ya sayang" tanya Jihan mendekat.
"Bilang sama Daddy untuk tidak menyakuti hati mommy lagi kalau perlu mommy rebut daddy biar gak ada wanita atau anak lain memilikinya" ujar Jenifer.
"Kamu sudah bicara dengan Daddy" tanya Jihan.
"Tidak belum Jenifer hanya mau mommy bahagia selama ini mommy sudah cukup medderita" ujar Jenifer.
"Ya oke, sekarang tidurlah mommy janji akan merebutnya dari wanita itu oke tidurlah" ujar Jihan lembut.
"Apa kalian tidak terlalu jahat" ujar Justine dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Kamu belum tidur hei bohongin mommy dan menguping pembicaraan kita" ujar Jihan menggelitiki Justine.
"Oke oke sorry mom please" ujar Justine tertawa.
"Oke sekarang mommy akan menceritakan sesuatu sama kalian ya setelah itu kalian ambil keputusan oke" ujar Jihan.
"Oke mom" ujar ke dua anaknya.
Jihan duduk di ranjang begitupun ke dua anaknya dia bercerita bagaimana dia pergi dari negara ini dulu dan bagaimana daddynya menikah lagi. Dia juga menceritakan ayah dari Falen yang sudah menolongnya sehingga kebencian mereka kepada Falen berkurang karena ayah Falen mereka bisa melihat dunia.
Jihan juga menceritakan kalau Daddy mereka sudah menolong Falen agar tidak di olok olok dan di cemooh arang karena tidak memikiki ayah. Jihan meminta ke dua anaknya untuk tidak menceritakan kenyataan ini pada Falen dan mereka berdua menyanggupi dan akan menutup rahasia ini rapat rapat.
Sedangkan di depan pintu kamar Dwi mendengar semuanya. Setelah Jihan selesai mengatakan semua kenyataan Justinr dan Jenifer saling tatap dan saling mengangguk membuat Jihan hanya tersenyum.
"Sekarang tidurlah good night sayang" ujr Jihan mencium ke dua anaknya dan memastikan mereka tertidur.
Saat ke dua anaknya sudah tidur pulas Jihan pergi ke luar kamar dan dia melihat Dwi ada di depan pintu membuatnya terperanjat.
"Ngagetin aja" ujar Jihan memukul dada Dwi.
Dwi hanya menatap lalu memeluk Jihan membuat Jihan bingung namun tetap di balas pelukan hangat Jihan. Dalam pelukannya Dwi menangis sembari meminta maaf dalam pelukannya.
"Oke sudahlah" ujar Jihan mendorong Dwi.
Jihan menatap Dwi yang menghapus air matanya di hanya tersenyum lalu berjalan ke arah dapur. Dia berpapasan dengan mamanya yang mengatakan kalau Dwi belum makan karena di larang anak anaknya membuat Jihan tersenyum kaku lalu menyiapkan makanan untuk Dwi.
"Nih makan, maafin mereka mungkin sedamg melampiaskan kemarahannya" ujar Jihan duduk di samping Jovan dan menyandarkan kepalanya di bahu Jovan.
"Ji perkataanmu tidak membuat Dwi lebih baik" ujar Jovan.
"Biarin" ujar Jihan.
"Ji ada undangan tuh" ujar Jovan menunjuk sebuah undangan pernikahan.
"Kepergian lo udah hampir tujuh tahun jadi mereka sudah selesai S2" ujar Jovan.
"Ternyata udah lama ya Jihan pergi, pantesan udah banyak yang berubah Bang menurut Abang nih ya kalau Jihan egois apa Jihan masih berhak bahagia" ujar Jihan.
"Kamu tidak ingin ke psikolog aja" tanya Jovan.
"Semua psikolog yang pernah gue kenal mereka semua bukan lagi menjadi teman curhat tapi mereka selalu membuat Jihan nyaman Jihan gak mau main hati lagi Bang hati Jihan udah ketutup dari semua arah Jihan bisa berjalan sekarang hanya buat anak anak" ujar Jihan.
"Apa kamu benar benar bisa menerima Dwi di kehidupan kamu lagi, maksudnya gini kamu bilang tadi gak mau main hati lagi dan fokus untuk anak anak" ujar Jovan.
"Itu yang lagi gue pikir Bang, walaupun anak anak gak pernah menanyakan keberadaan Daddynya tapi mereka menginginkannya walau kenyataan membuat mereka berfikir untuk memiliki Daddy sekarang" ujar Jihan membuat Jovan menatap Dwi yang ada di dekatnya namun Dwi hanya mengangguk.
"Andai Abang beri dua pilihan pertama kamu jadi orang jahat rebut suami kamu dari keluarga barunya walau sebenarnya kamu ada hak, atau yang ke dua jadi anak baik yang hanya datang berkunjung lalu pergi lagi tanpa mematahkan hati seseorang tapi mengorbankan senyuman anak anak" ujar Jovan.
"Pilihan ke dua, senyuman mereka gak akan pudar karena tujuan mereka bukan untuk mengambil alih daddynya dari wanita lain melainkan ingin melihat kebahagiaan gue senyuman gue tapi kalau menurut hati gue pilih nomor satu bang jadi wanita jahat dan egois" ujar Jihan.
"Maka berjuanglah" ujar Dwi.
"Perjuanganku terlalu panjang selama ini bisa berjuang sendiri biasa tapi setelah kedatanganmu semua berubah" ujar Jihan.
"Maukah kamu berjuang bersamaku dan aku akan bertanggung jawab atas kalian" ujar Dwi.
"Ya, biarkanku menjadi wanita jahat kali ini jangan menghalangiku karena ingin ku penuhi kebahagiaan mereka" ujar Jihan menatap Dwi.
"Kamu sadar dengan ucapanmu barusan" tanya Dwi mengerutkan dahinya
"Sadar" ujar Jihan.
"Gak mabuk" tanya Dwi lagi.
__ADS_1
"Gak lah" ucap Jihan tersenyum.
"Mabuk gak gila iya" ujar Jovan.
"Tepat" ujar Jihan
Dwi langsung mendekat mencium pipi Jihan. Jihan beralih menyandarkan kepala dan memeluk Dwi dari belakang.
"Maaf pergi gak bilang bilang dulu" ujar Jihan.
"Iya tapi kalau waktu bisa di ulang harusnya kamu bilang atau tinggalin surat mungkin semuanya gak kayak gini" ujar Dwi.
"Gak mau kehilangan anak ke dua, kehilangan yang pertama aja masih membekas di sini" ujar Jihan mengusap dadanya sembari meneteskan air mata.
"Dia pasti bahagia di sana, kamu jangan gitu nanti dia sedih liat kamu nangis" ujar Dwi membuat Jihan menghapus air matanya.
"Hallo Rey urus surat perceraian untukku dan Klara walaupun pernikhan ini hanya di atas kertas namun sudah tercatat di negara saya mau semua tuntas" ujar Dwi menghubungi Rey dalam pelukan Jihan tanpa menunggu jawaban Rey dia langsung mematikan ponselnya.
"Kamu yakin dengan keputusanmu" tanya Jihan.
"Emang sedari dulu gak pernah ada rasa sama dia, gak pernah sentuh dia juga gak ada tanggung jawab sama mereka" ujar Dwi membuat Jihan mengeratkan pelukannya.
"Hei kalian tidurlah sudah malam, gue duluan" ujar Jovan.
"Ya Bang good night" ucap Jihan melepaskan pelukannya dengan Dwi.
Setelah kepergian Jovan Dwi langsung merangkup wajah Jihan dan mencium mesra bibir Jihan dan menjanjikan kebahagiaan kepada Jihan. Walau hatinya masih belum bisa menerima semuanya dengan tulus karena setatus Dwi yang masih sah menjadi suami Klara.
"Makanlah setelah itu tidurlah" ujar Jihan duduk langsung bermain game.
Dwi duduk di samping Jihan dengan memakan makan yang Jihan bawa tadi. Dia makan dengan lahap sembari sesekali mencium pipi Jihan yang hanya di balas senyuman manis Jihan.
"Em Ji bisa gak besok pulang ke rumah Suseno ada yang mau mama papa katakan" ujar Dwi.
"Bisa, tapi anak anak gak tau mau apa gak kayaknya kamu harus ngomong sendiri deh" ujar Jihan.
"Oke, setelah semua urusan perceraian selesai saya bakal selalu bersama kalian" ujar Dwi Jihan tidak menanggapi selain diam.
Dwi yang merasa mood Jihan berubah dia langsung menyudahi makan malamnya dan memeluk Jihan dari belakang. Jihan berpindah ke depan komputer yang ada di sana dan bermain game di sana sedangkan Dwi terus membuntutinya.
"Sudah malam tidurlah" ujar Jihan mematikan komputernya.
"Jangan tidur di kamar anak anak bakal marah tidurlah di kamar tamu, akan ku siapkan untukmu" ujar Jihan berjalan ke kamar tamu di dekat ruang keluarga itu.
Dwi mengikuti langkah Jihan, saat melihat Jihan merapikan tempat tidur Dwi langsung menutup pintu kamar dan menguncinya pelan pelan dan menaruh kuncinya di saku celana.
"Berhentilah" ujar Dwi menarik Jihan ke dalam pelukannya.
"Belum selesai" ujar Jihan memberontak.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan" ujar Dwi menatap Jihan.
"Kenapa tanya gitu" ujar Jihan berhenti memberontak.
"Raut wajah kamu ada kekhawatiran, duduklah" ujar Dwi membuat Jihan duduk di tepi ranjang.
"Sebenarnya bagaimana jika kamu menceraikan Klara maksdudnya bagaimana dengan kehidupan Falen" ujar Jihan membuat Dwi menatapnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys... Maaf lama gak up oh ya yang merasa bacanya kurang nyambung bahkan gak paham alurnya maaf ya semua ini karya pertama Autir dan Author juga sedang belajar memperbaiki..... Happy readers....