Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 171 [pengakuan 2]


__ADS_3

"Sayang sini" ujar Jihan memanggil Dwi.


"Perkenalkan dia suami saya Nyonya" ucap Jihan membuat Dwi membungkukkan badannya.


"Salam kenal Nyonya Aditya" ucap Dwi sopan.


"Pasangan yang luar biasa" ucap Nyonya Aditya terpesona dengan ketampanan Dwi.


"Terima kasih Nyonya" ucap Jihan.


"Bukankah umurmu jauh dariku, kamu sudah menikah" tanya Raka.


"Hm, umur saya memang tergolong muda tuan" ucap Jihan.


"Kecelakaan" ujar Nyonya Aditya.


"Kecelakaan, harusnya sudah ada malaikat kecil di antara kita karema pernikahan kita sudah hampir satu tahun" ucap Jihan.


"Kamu bukannya Putra mahkota Suseno kenapa tidak ada pesta pernikahan" ujarnya.


"Akan segera nyonya" ucap Dwi.


"Saya yang tidak mau nyonya karena saya baru selesai wisuda dan bisnis saya yang baru mulai berjalan jadi saya tidak ingin ada pesta" ucap Jihan.


"Kalian berdua aneh, kenapa saya tidak yakin kalau kalian benar benar pasangan" ujar Nyonya Aditya.


"Saya tidak ingin anda yakin hanya memberi tahu saja agar anak anda tidak merasa terbebani dengn anda yang mencoba mendekatkan saya dengannya" ucap Jihan.


"Baiklah kalau kalian benar suami istri lakukan hal yang bisa membuat saya percaya" ucapnya.


"Haruskah saya melakukannya" ucap Dwi


"Silahkan" ucapnya membuat Dwi menatap Jihan.


Dwi langsung menarik tengkuk Jihan dan mulai memyesap bibir Jihan dengan lembut. Tak lama Jihan mulai membalas membuat nyonya Aditya terperanga saat Dwi menarik pinggang Jihan.


"Sudah dasar gak tau malu" ucapnya.


"Anda yang meminta Nyonya" ucap Dwi dengan seringai nakal.


"Terima kasih Nona Jihan" ucap Raka Aditya tersenyum.


Sebenarnya Raka bertemu Jihan sebelum pesta ini, dia bercerita kalau dia akan di jodohkan dan dia di perintah ibunya untuk mendekati pimpinan Ayasta Grup.


Jihan mendengar semua cerita Raka walau Jihan merasa aneh saat Raka menceritakan kehidupannya. Jihan tersenyum lalu memikirkan cara untuk membantunya karena dia merasa kalau dia juga terlibat.


"Tidak di sangka semudah ini" ucap Jihan membalas senyuman Raka membuat Dwi cemburu lalu menyesap leher Jihan membuat tanda merah di sana.


"Mas" ujar Jihan dengan wajah merah.


"Jangan senyum" ucap Dwi.


"Iya" ucap Jihan merangkup wajah Dwi saat Dwi akan melakukannya lagi.


Tak lama Tuan Wibowo membuka pesta dan memperkenalkan anaknya yang baru terjun ke duania bisnis. Saat sambutan tuan Wibowo selesai ada ada sebuah Vidio ciuman Dwi dan Jihan membuat Jihan membulatkan matanya sedangkan Nyonya Aditya tersenyum.


"Bukankah itu tuan Putra" ujar salah seorang.


"Maaf semuanya saya tidak tau akan hal ini, tuan Putra silahkan anda bersihkan nama anda di sini" ujar Riki.


Dwi langsung maju ke depan dan memceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dwu dengan percaya diri memperkenalkan Jihn sebagai istri sahnya membuat Jihan merasa tersentuh.


"Selamat Nona" ledek Julio.


"Diem lo" ucap Jihan.


"Masih gak mau mengakuinya" tanya Julio.


"Belum" ujar Jihan membuat Julio hamya mengangguk.


"Maaf merahasiakannya dari kamu, tapi ada seseorang yang menunggu pertanggung jawabanmu" ucap Jihan dalam hati.


Jihan ingin memberitahukan kehamilannya namun saat datang ke pesta tadi dia mendengar bahwa seseorang memiliki anak dari putra keluarga Suseno membuat Jihan marah tapi dia tidak ingin mengorbankan anak oramg lain demi kebahagiaan dia dan anaknya.


Jihan sudah menyuruh seseorang untuk mencari tau kebenarannya namun sebelum kebenaran itu terungkap Jihan tidak akan memberitahukan kehamilannya.


"Hallo, bagaimana" ujar Jihan.

__ADS_1


"......." jawab seorang yang Jihan suruh untuk mencari tau.


"Lakukan semuanya dengan bersih dan cari sampai akarnya" ucap Jihan membuat Julio bingung.


"......"


"Baiklah" ucap Jihan mematikan ponselnya.


"Ji" ujar Julio.


"Cari tau siapa saja yang pernah tidur dengannya" ujar Jihan menunjuk Dwi membuat Julio semakin bingung.


"Lakukan dan jangan beri tahu siapapun kalau kamu nerhasil dengan itu saya beri hadiah yang cukup besar" ujar Jihan membuat Julio semangat.


Sebenarnya Jihan menyuruh Julio untuk mencocokkan hasil kerja Julio dan orang yang sudah dia suruh lebih dulu. Tak lama Dwi kembali ke hadapan Jihan dengan senyuman mengembang.


"Tuan Putra masih ingat saya" ujar seorang wanita yang Jihan lihat tadi.


"Ya, ada perlu apa" tanya Dwi.


"Anda tidak ingat apa yang sudah terjdi antara kita dulu" ucapnya dengan penuh keseksian dan bergelanyut manja


Jihan hanya melihat dan melepaskan tangan Dwi yang menggenggamnya.


"Apa maksud anda nona" ucap Dwi.


"Bukankah kita bercocok taman dulu dan sekarang dia mulai tumbuh" ucapnya mengelus perutnya yang terlihat sedikit berisi.


"Maaf saya tidak tau maksud anda" ujar Dwi.


"Apa karena wanita ini anda melupakan saya" ucapnya.


"Jaga bicara anda nona" ucap Dwi.


"Mas Jihan ke kamar mandi dulu ya" ucap Jihan pergi.


Jihan berjalan dengan cepat ke kamar mandi lalu dia menangis. Sebemarnya dia tau semua yang di lakukan suaminya itu sebelum menikah tapi dia tidak bisa menerima kalau dia menghamili seseorang dan anak itu belum lahir artinya Dwi melakukannya setelah pernikahannya.


"Oke tinggal menghitung hari" ucap Jihan.


Jihan keluar dengan tegar namun Dwi masih memgobrol dengan wanita itu membuat Jihan merasa sakit hati apalagi itu adalah teman klara mantan pacar Dwi.


"Kak Kevin lo dimana" tanya Jihan mengirim pesan singkat.


"Di palkiran kenapa" tanya Kevin.


"Antar gue pulang" ucap Jihan.


"Bagaimana dengan tuan muda" tanya Kevin.


"Gak peduli" ucap Jihan langsung berjalan ke arah parkiran dan menemukan Kevin sedang asik berbicara dengan Ani sang sekertaris Jihan .


"Maaf An" ucap Jihan dengan mata merah.


"Gak papa Bos" ucap Ani.


"Kamu ikutlah setelah ini Kevin akan mengantarmu" ucap Jihan membuat Ani menatap Kevin


"Banyakan mikir" ucap Jihan.


Jihan langsung memeberikan kunci mobilnya pada Kevin. Ani ikut mereka Ani dan Kevin tidak peduli dengan adanya Jihan mereka tetap bercanda.


Jihan meminta di antar ke apartemennya setelah sampai Jihan tidak mebgatakan apapun dan membiarkan Kevin pergi menggunakan mobilnya.


Jihan melihat surat perjanjian pernikahannya dan benar beberapa hari lagi perjanjian itu usai. Saat merebahkan tubuh dan menonton tv ternyata kabar cepat menyebar sampai Jihan di cap sebagai pelakor oleh orang yang mengaku mengandung anak Dwi.


"Bisa gila gue" ujar Jihan langsung merebahkan diri.


Malam mulai larut dan Jihan sudah terlelap seperti biasa saat jauh dari Dwi tengah malam Jihan terbangun. Jihan bangun lalu membasuh wajahnya dan langsung mencari siapa yang bersama suaminya dulu dan benarkan mereka bercocok taman.


"Cantik juga model ternyata sama kayak Klara" ujar Jihan melihat teman Klara.


"Tapi apa bener dia hamil anak mas Dwi" ujar Jihan berfikir


Jihan meminta bantuan Julio untuk mendatangi teman Klara itu esok pagi. Jihan tersenyum dengan rencana gilanya.


Saat pagi menjalang Jihan langsung bersiap untuk bertemu Julio untuk menjalankan rencananya.

__ADS_1


"Oke kita mulai" ujar Jihan menyemangati dirinya sendiri.


Saat Jihan keluar dari apartemen ternyata Dwi berada tepat di depan pintu membuat Jihan kaget.


"Ji semua itu gak bener" ujar Dwi langsung.


"Apa jaminannya" ucap Jihan.


"Tes DNA" ucap Dwi.


"Kelamaan gue harus nunggu sampai anak itu lahir la terus gimana nasib anak gue" ucap Jihan.


"Anak kamu, kamu hamil" ujar Dwi.


"Apa peduli lo" ujar Jihan melangkah pergi.


"Gue peduli kalau itu anak saya Ji" ucap Dwi membuat Jihan berhenti dan berbalik.


"kalau lo emang peduli jangan buat gue stress" ucap Jihan melenggang pergi.


Dwu hanya diam memikirkan ucapan Jihan apa benar Jihan hamil tapi kalau hamil masa iya dia gak bilang. Sedangkan Jihan sudah pergi ke tempat Sinta sahabat Klara yang semalam mengganggu Dwi.


"Hai cantik" ujar Jihan di depan apartemen Sinta dengan senyuman aneh.


"Maaf siapa ya" ucapnya.


"Gak penting siapa gue yang jelas gue mau ketemu dan bicara sama lo" ucap Jihan


"Hei siapa lo" ujarnya dengan nada tinggi.


"Masih pagi mau buat ribut" ucap Jihan dengan Julio yang tiba di sana bersama anak buahnya membuat Sinta takut.


"Boleh masuk" ucap Jihan.


"Oke, tapi mereka gak" ucapnya menunjuk semua orang yang berbaju hitam.


"Oke" ucap Jihan membuat Julio menatapnya.


Jihan langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Sinta. Jihan melihat perut Sinta yang cukup besar saat memakai baju biasa itu membuatnya sakit hati.


"Siapa yang menghamilimu" tanya Jihan langsung.


"Apa peduli lo" ucap nya.


"Gue gak peduli sama lo, tapi lo udah buat jarak gue sama Putra" ucap Jihan.


"Jadi lo gadis semalam, kok beda benget si" ucap Sinta.


"Semalam gue jadi princes hari ini gue jadi algojo" ucap Jihan membuat Sinta terkejut.


"Lo mau bunuh gue karena mengandung anaknya" tanya Sinta gemetar.


"Biasa aja kali, gini gue ke sini cuma mau tanya baik baik apa bener lo hamil anak Putra" tanya Jihan.


"Kalau iya kenapa" tanya Sinta.


"Kalau iya, ya gue mundur gue gak bisa biarin seorang anak yang gak tau apa apa jadi korban" ucap Jihan membuat Sinta senang.


"Tapi lo juga harus inget gue gak pernah maafin orang yang berusaha menghancurkan keluarga gue satu kebaikannya gue balas seratus kali lipat tapi satu kejahatannya gue balas seribu kali lipat" ucap Jihan pergi.


Saat Jihan pergi Sinta ketar ketir dengan ucapan Jihan apalagi dengan tatapan Jihan yang seolah membunuhnya. Dia menghubungi Klaara namun tak bisa dia lupa kalau Klara sudah jatuh dari karir hingga kekuasaannya.


"Sialan gara gara Klara gue harus berurusan dengannya" ucap Sinta marah.


Sedangkan di lain tempat Jihan sudah pergi ke Ayasta Grup dan sudah memakai setelan kantornya. Dwi sudah menunggu namun Jihan enggan bicara dengannya Jihan makan sarapannya yang dia beli di jalan tadi lalu meminum obat untuk kehamilannya di depan Dwi.


"Kamu sakit" tanya Dwi tak di jawab Jihan.


"Ji jawab" ucap Dwi mendekat namun lagi lagi Jihan diam.


"Sekarang jawab kamu menghamilinya" ucap Jihan membuat Dwi bungkam.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys....


.


__ADS_2