
"Oke pertama apa yang gue lakuin" tanya Dani.
"Jauhin dia dari keluarga Suseno dan Prasaja terutama mas Dwi" ujar Jihan.
"Kamu takut dia pergi" tanya Dani.
"Gak tau Bang, tapi gak rela aja" ujar Jihan membuat Dani tersenyum.
"Oke deh" ujar Dani.
"Ji Abang boleh tanya gak" tanya Jovan.
"Tanya aja" ucap Jihan.
"Em gini mungkin juga pertanyaan Dwi dalam hati" ucap Jovan membuat Jihan berjalan duduk ke samping Dwi.
"Mau tau jawaban yang tadi ya, gini kalau gue jawab gue menantu keluarga Suseno apalagi kalau mereka tau saya keturunan Prasaja pasti mereka berfikir saya jaminan perusahaan melebarkan bisnis rugi buat gue buat Papa juga, ke dua kalau saya bilang saya istri mas Dwi melihat umur kita pasti mereka kira kecelakaan nah jadi rugi banyak saya nama dia hancur nama saya juga hancur nama Abang juga gak bisa jaga satu adik perempuan" ujar Jihan.
"Makasih" ujar Dwi mencium pipi Jihan membuat Jihan membatu.
"Ehem.. ehem" ujar Jihan menghilangkan gugupnya.
"Terus mau sampai kapan kamu bersembunyi" tanya Jovan.
Saat Jihan akan menjawab sebuah ketukan pintu terdengar. Jihan membiarkan Fero yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Gak tau juga tapi ada saatnya Jihan keluar sebagai Nyonya Dwi Putra" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum bahagia sedangkan Fero membatu.
"Semoga lo bahagia dengan pilihan orang tua lo Ay, jadikan dia yang terbaik untukmu" ujar Fero dalam hati.
"Ta kenapa " tanya Jihan.
"Eh gak ini mungkin kamu butuh ini buat menutup kerugian kita di cafe Ay" ujar Fero memberikan sebuah berkas.
Jihan membaca dengan teliti, yang ternyata berisi tentang rekening keluarga Klara. Jihan tersenyum simpul namun terlihat sangat manis di mata Fero.
"Kamu dapat ini dari mana" tanya Jihan.
"Jangan remehin saya" ucap Fero.
"Kita bisa gunakan itu tapi kenapa kamu masuk pakai ketuk pintu" tanya Jihan.
"Karena mulai hari ini saya bukan lagi rekan kamu di sini, jadi lakukan yang menurutmu baik dengarkan kritikan jangan marah dengan cacian" ujar Fero.
"Makasih Ta, tapi boleh gak sehari ini aja kamu di sini ya gak kerja gak papa bareng mereka" ujar Jihan.
"Bisa, oke saya duduk dimana" tanya Fero.
"Oh ya sini aja" ujar Jihan bangkit dan menunjuk tempatnya tadi.
"Lalu kamu" tanya Fero.
"Dia di sini" ujar Dwi memarik Jihan sampai Jihan duduk di pangkuannya membuat semua orang bersorak.
"Diem deh di kantor bukan lagi tamasya" ujar Jihan dengan wajah merah.
"Cie merah tuh pipi" ucap Randy.
"Udah lah" ujar Jihan bengkit namun di tahan Dwi.
"Khusus hari ini kamu gak boleh kerja kita aja di sini gak ada yang kerja" ujar Dwi.
"Ya tapi jangan di kantor juga, jalan yuk" ujar Fero.
"Bilang aja biar bisa dua duaan juga kayak Jihan" ledek Randy.
"Diem deh, emang dia doang yang bisa gitu" ucap Fero.
"Bos Bos" ujar Kevin masuk dengan tergesa gesa.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Bos gak mau berdiri dulu" ujar Kevin menatap bosnya.
"Eh iya, kenapa" tanya Jihan berjalan ke arah Kevin.
"Ada artikel" ucap Kevin.
"Tayangin" ujar Jihan.
"Bos yakin" tanya Kevin.
"Hm" ucap Jihan di angguki Kevin.
"Seorang penyanyi cafe menggoda seorang pengusaha muda" ujar Jihan membaca artikel tersebut dengan tersenyum.
"Kok senyum bos" tanya Kevin.
"Iya gue cantik juga jadi model ya" ujar Jihan membuat semua orang melongo.
"Kok malah fotonya " ujar Kevin.
__ADS_1
"Hehe yaya, eh bentar ini bukannya tadi iya gak si mas di cafe" ujar Jihan.
"Iya bajunya juga sama this is real" ujar Dwi.
"Kalian lagi ngapain kenapa lo jadi penyanyi cafe" tanya Jovan.
"Jihan makan tadi sama kasih gaji" ujar Jihan.
"Gimana bos" tanya Kevin.
"Seperti biasa hancurkan" ujar Jihan.
"Tapi saya tidak bisa serapi Julio" ujar Kevin.
"Saya bantu" ucap Jihan.
"Siap bos" ujar Kevin pergi.
"Bentar deh Vin ini kok gini judulnya" ujar Jihan.
"Kenapa bos" tanya Kevin yang sudah di ambang pintu.
"Seorang gadis jelata menjerat bos muda, lucu Vin gak tau aja kalaupun dia gak kerja gue bisa hidupin dia juga" ujar Jihan tertawa namun dengan seringai yang sangat menakutkan.
"Iya bos" ujar Kevin lembut takut Jihan marah
"Vin dapat dari mana" tanya Jihan.
"Ani bos" ujar Kevin.
"Panggil Ani" ujar Jihan membuat Kevin ketar ketir.
"Bos panggil saya" ujar Ani gemetar.
"Kamu kenapa apa kamu melakukan kesalahan" ujar Jihan.
"Menurut saya tidak tapi tidak tau dengan bos" ujar Ani.
"Yakinlah dengan dirimu sendiri, seburuk apapun kamu di mata orang lain jangan jadikan beban" ujar Jihan berjalan ke kursi kebesarannya.
"Kamu dapat itu dari mana" tanya Jihan menunjuk artikel yang Kevin berikan.
"Saya lihat di internet bos" ujar Ani menunduk.
"Kapan, dan siapa suruh bicara menunduk sama saya tatap saya" ujar Jihan tegas.
"Tadi bos maaf" ucap Ani menatap Jihan dengan takut.
"Maaf bos bukannya kerjaan dia memang bermain internet" ujar Kevin mendekat.
"Kenapa kamu mau membelanya" ujar Jihan.
"Ya karena dia gak salah" ujar Kevin.
"Siapa kamu bilang dia gak salah" ucap Jihan.
"Maaf Bos, saya memang salah maafkan saya tuan Kevin tidak bersalah" ujar Ani
"Kalian berdua saling bela satu sama lain bikin gemes tau gak si, kalian gak takut saat membela yang lain kalian akan jatuh lebih dalam" ujar Jihan.
"Akan saya lakukan apapun itu" ucap Kevin.
"Lucu" ujar Jihan menyandarkan kepalanya.
"Kamu An" tanya Jihan.
"Saya juga akan melakukan hal yang sama dengan tuan Kevin" ucap Ani
"Kamu tau kenapa Kevin saya hukum, dan kamu tau kenapa gak boleh bawa urusan pribadi termasuk cinta dalam pekerjaan karena cinta merusak segalanya" ujar Jihan.
"Keajaiban cinta bukan merusak bos, tapi memperbaiki" ujar Kevin.
"Saya gak setuju karena Cinta seseorang hidup saya rusak, dan karena itu saya tidak percaya cinta hanya kata hati yang saya percaya dia tidak bisa berbohong dengan diri saya tapi ahli dengan orang lain" ujar Jihan.
"Bos curhat" ujar Kevin.
"Kamu bener bener ya, oke hukuman kamu sama Ani karena bawa urusan pribadi lagi pulanglah lebih awal dan makanlah di luar dan satu lagi kalian harus bisa membereskan artikel itu dengan cepat dengan teliti tanpa jejak" ujar Jihan.
"Tapi Bos kalau tanpa jejak cuma bos sama Julio yang bisa" ucap Kevin.
"Otak satu orang genius dengan dua orang cerdas lebih baik dua orang cerdas dia akan mencari solusi " ujar Jihan.
"Kenapa kamu gak yakin" tanya Jihan menatap ke duanya.
"Bukan gak yakin bos, tapi saya gak bisa" ujar Ani takut takut.
"Huhhhh, kerjakan sekarang di sini" ujar Jihan sembari menarik nafas panjang
"Percayalah, bos pasti bantu" ujar Kevin kepada Ani mesra.
"Woi kalian bisa gak si gak pake mesra gitu ini kantor kalian mau saya tambah hukuman" ujar Jihan meninggi.
__ADS_1
"Iya bos maaf" ujar Kevin langsung menarik Ani ke meja penuh komputer canggih di pojok ruangan Jihan.
Jihan menatap Kevin dan Ani dengan serius. Tak lama telfon berdering membuat Jihan mengalihkan pamdangannya namun seketika wajahnya cemberut.
"Hallo mah kenapa" ujar Jihan yang ternyata Mama Anggun yang menelfon Jihan mengeraskan suaranya sehingga semua orang degar sebenarnya tujuannya agar Dwi mendengarnya sendiri kalau mamanya yang meminta dia untuk jadi model produk mamanya yang sudah pasti dengan laki laki lain.
"Kamu bisa bantu mama promosikan produk mama" ujar Mama.
"Biasaan mama telfon kalau butuh doang, dan kalaupun Jihan menolak pasti mama memaksa jawabannya Ya" ujar Jihan.
"Sama temen kamu yang ganteng itu ya" ujar Mama.
"Temen Jihan yang mana temen Jihan ganteng semua gak ada yang burik" ucap Jihan dingin.
"Brama ya kayaknya kalau gak salah namanya itu" ucap Mama.
"Brama, gak ada yang lain mah kalau kolaborasi sama dia gak ada yang bener gantengan juga Abang " ujar Jihan.
"Turuti ucapan mama" ujarnya maksa.
"Biasaan mama, ya udah ya tapi bayaran Jihan kali ini double" ujar Jihan.
"Kok doble" tanya Mama.
"Ya pertama biaya Jihan jadi model ke dua biaya Jihan bujuk Brama" ujar Jihan.
"Oke terserah kamu mau berapa" tanya Maama.
"Giliran uang cepet ya, kalau aja minta kasih sayang mikirnya seribu kali" ujar Jihan.
"Kamu meledek mama" ujar Mama.
"Gak, fakta" ujar Jihan.
"Ya udah kamu ke sini aja besok ya mama sibuk nih" ujar Mama.
"Ya kalau ada waktu dan ada izin suami" ujar Jihan.
"Tapi sayang please bantu mama" ujar mama.
"Panggil sayang dikala ada maunya udahlah katanya mama sibuk" ujar Jihan mematikan telfonnya.
"Kok gak sopan sama mama" ujar Dwi berjalan ke arah kursi Jihan.
"Mau gimana lagi masih sakit hati" ujar Jihan.
"Apa gak bisa maafin" ucap Dwi duduk di meja depan Jihan.
"Sulit, maaf Jihan gak mau denger masehat" ujar Jihan memejamkan matanya membuat Dwi menarik nafas panjang.
Ting... sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Jihan. Dwi menatap sekilas.
"Penasaran buka apa" ujar Jihan membuat Dwi menarik ponsel Jihan dan membukanya.
"Pasword" tanya Dwi.
"Dwi Putra" ujar Jihan.
"Pasword ponsel kamu bukan hati kamu" ujar Dwi.
"Iya Dwi Putra coba aja" ujar Jihan.
Dwi mengetik pasword yang Jihan maksud dan ternyata benar membuat Dwi tersenyum. Dwi membaca pesan chat dan mengecek siapa saja yang menghubungi Jihan saat melihat Chat dia tertarik dengan chat grup milik Jihan.
"Sayang nih dari Kak Dokter" ujar Dwi.
"Oh apa katanya" tanya Jihan membuka matanya.
"Julio berhasil melewati masa kritisnya tapi masih belum sadar" ujar Dwi membaca pesan di ponsel Jihan.
"Syukurlah" ujar Jihan.
"Pasword kamu kapan ganti" tanya Dwi.
"Kemarin mama yang minta" ujar Jihan.
"Gak tulus dari hati" ujar Dwi.
"Gak" ucap Jihan singkat.
"Singkat bener" ucap Dwi mengambil ponsel miliknya dan mengganti pasword nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys....