Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 185 Terjun Bebas


__ADS_3

"Bawa belanjaan, bang telfonin dia suruh bawa belanjaannya pake keranjang biar gak bolak balik" ujar Jihan.


"Lo aja" ucap Jovan.


"Gue gak punya nomer ponselnya" ucap Jihan langsung tidur.


"Kebo bener" ujar Jovan langsung menghubungi Dwi dan mengatakan apa yang Jihan katakan.


Tak lama Dwi datang dengan belanjaan super banyak dia membawanya ke dapur namun tidak menatanya karena takut salah sampai Justine datang dan membereskan belanjaan Mommynya dan meletakkannya di tempatnya.


"Dasar gak pemgertian Mommy tuh capek" ujar Justine terus menggerutu


"Tuan gerutu" ujar Jenifer.


"Kamu juga Je harusnya lebih pengertian katanya mau jadi dokter biar bisa urus mommy nah sekarang aja kamu gak peka" ujar Justine.


"Iya Abang" ucap Jenifer membantu.


Jihan terbangun setelah beberapa menit tidur doa terlibat lebih segar walau lelahnya tak bisa lagi dia sembunyikan.


"Kalian udah makan" tanya Jihan.


"Belum, maaf Mom udah ganggu tidur Mommy" ucap Jenifer.


"Gak kok" ujar Jihan berjalan ke kamar dan menaruh tasnya.


Dia melepaskan baju yang dia pakai berganti dengan baju sehari harinya dia langsung mengikat rambutnya sembarang dan membasuh wajahnya bersiap untuk masak makan malam.


"Iz" ujar Jihan kaget saat melihat Dwi sudah ada di belakangnya.


"Kenapa " ujar Dwi.


"Ngagetin aja" ucap Jihan.


"He maaf" ucap Dwi berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Jihan.


"Kenapa" tanya Jihan saat Dwi menatapnya tanpa berkedip.


"Gak papa" ucap Dwi mencium bibir Jihan.


"Ya udah mau masak, kamu mau makan apa" tanya Jihan.


"Makan kamu" ujar Dwi langsung menggendong Jihan ke atas ranjang.


"Jangan dong kasihan anak anak belum makan" ucap Jihan.


"Bentar" ujar Dwi menggoda.


"Gak ada" ucap Jihan.


"Dikit doang" ucap Dwi.


"No no no" ujar Jihan mendorong Dwi namun tenaganya kalah dengan tenaga Dwi.


"Kiss" ucap Dwi menahan tangan Jihan dengan tubuhnya.


"Tadi udah" ucap Jihan dengan wajah memerah melihat raut wajah Jihan Dwi tertawa dan langsung melancarkan aksinya dia bermain lembut kali ini sampai Jihan terbawa suasana dan membalas perlahan.


"Mau lanjut gak" ujar Dwi mengedipkan matanya.


"Gak " ujar Jihan menatap arah lain.


"Saya di sini liatnya kemana" ujar Dwi.


"Udahlah malu" ucap Jihan.


"Kenapa malu" ujar Dwi melepaskan Jihan membuat berlari dengan sangat cepat.


Jihan langsung pergi ke dapur dan memasak banyak makanan sedangkan Dwi dia mendekati anak anaknya dan bermain bersama. Dwi sangat mudah mendekati sang anak perempuannya namun dengan ank laki lakinya dia justru sangat sulit.


"Bang Justine Mommy minta tolong bisa gak" tanya Jihan berteriak.


"Ya Mom" ucap Justine mendekati Jihan di dapur.


"Kenapa Mom" tanya Justine.


"Abang bisa liatin laptop mommy dan cek semua uang bunda kaku bisa mengaksesnya kan" ujar Jihan.


"Saham mana yang mau Mommy lihat" tanya Justine.


"Ayasta Group karena kelak kamu akan menggantikan Mommy di sana" ujar Jihan.


"Mom bawa Abang ke Ayasta" ujar Justine.


"Oke saat Mommy bisa ke sana dengan senyuman" ujar Jihan di angguki Justine.


"Mom kenapa minta lihat saham apa ada sesuatu" tanya Justine.


"Ada kabar saham Ayasta terjun bebas lihatlah kebenarannya" ujar Jihan.


"Siap Mom" ucap Justine langsung berkutik dengan laptop di kamarnya.


Jihan selesai masak dengan berbagai menu dia langsung mandi dan bersiap untuk makan. Jihan ke luar dengan rambut sedikut badah dan pakaian yang dia pakai juga minim karena berada di rumah.

__ADS_1


Tok... Tok....


"Mom Abang masih belum keluar gak bisa ganggu" ujar Jenifer.


"Kamu gak bantuin Abang" tanya Jihan.


"Gak kata Abang Jeje gak mampu" ucap Jenifer.


"Oh oke" ujar Jihan pergi ke ruang TV.


"Makanlah dulu sama Daddy dan Uncle" ujar Jihan di angguki Jenifer.


Dia menunggu Justine untuk makan malam sedangkanJovan sudah makan lebih dulu bersama Jenifer dan Dwi. Sembari menunggu Jihan juga mengecek langsung perusahaan Ayasta dan ternyata benar kalau sahamnya terjun bebas membuatnya pusing karena penghasilan utama untuk anaknya adalah dari Ayasta.


"Mommy" ujar Justine keluar dengan wajah muram.


"Bener ya Boy" tanya Jihan.


"Ya mom maaf, Abang gak bisa buat apa apa karena banyak skandal yang terjadi di perusahaan itu" ujar Justine.


"Harus turun tangan langsung ya Bang" ujar Jihan sebenarnya dia tau kalau tidak bisa memperbaiki perusahaannya dari jarak jauh namun dia tidak ingin tindakannya menghancurkan kerja keras anaknya.


"Bang mau bantu Mommy" ujar Jihan.


"Apa" tanya Justine.


"Sepertinya Uncle baru saja melihat itu lihat wajahnya pasti sebentar lagi ada yang menghubunginya bgitupun dengan Daddymu maukah kamu bantu Mommy di sana nanti kamu langsung turun tangan" ujar Jihan.


"Beneran Mom" tanya Justine semangat.


"Hem" ujar Jihan.


"Sekarang kita makan" ujar Jihan.


"Oke mom" ujar Justine semangat


Dia makan dengan sangat lahap, sedangkan Jihan dia makan dengan tidak nafsu dia berfikir bagaimana mengembalikan perusahaannya itu pasti sangat sulit Dwi yang melihat Jihan ikut sedih karena baru saja Rey mengabarinya.


"Ji Abang besok harus pulang kalian mau ikut" tanya Jovan.


"Guys" ujar Jihan.


"Boleh Mom" tanya Jenifer antusias.


"Tanyakan pada Daddy kalian apa memperbolehkan karema sekarang keputusan bukan hanya ada sama Mommy" ujar Jihan.


"Daddy bolehkah" tanya Jenifer.


"Boleh dong sayang, pulang sama Daddy" ujar Dw.


"Dengan syarat jangan pernah pertemukan Justine dengan anak itu lagi" ujar Justine.


"Siapa yang kamu maksdu Boy" tanya Dwi.


"Anak Klaraz sekarang kamu jelaskan pada mereka" ujar Jihan.


Dwi menjelaskan dengan sangat runtut walaupun anaknya bisa mengerti tanpa di jelaskan dengan runtut namun Dwi tidak mau anak anaknya salah paham padanya.


"Oke jangan bawa Abang ke mansoin" ujar Justine.


"Deal, tapi kamu juga tidak boleh bertanya tanya tentang siapa Mommy di sana apa lagi cari tau tentang Mommy di media sosial" ujar Jihan.


"Udah di cari nama Jihan banyak bener" ujar Jenifer.


"Cari nama lengkapnya cuma satu" ujar Jovan.


"Abang" ujar Jihan.


"Sekarang tidurlah dulu bersiaplah mommy akan minta izin dengan guru kalian" ujar Jihan.


"Siap Mom" ujar Ke dua anaknya.


"Abang jangan cari tau apapun lagi" ujar Jihan di angguki sang anak.


Jihan menarik nafasnya panjang dia duduk di samping Dwi dia meminta kepada Jovan dan Dwi untuk merahasiakan kepulangannya terutama Klara.


"Siapa" tanya Jovan.


"Mama" ujar Dwi.


"Jawablah" ujar Jihan langsung fokus pada laptopnya.


"Hai sayang kamu kemana si gak kasih kabar peegi gak bilang" ujar Mama Sri.


"Menjemput masa depan Mah" ujar Dwi.


"Masa depan sama siapa apa kamu menemukan Jihan" tanya Mama Sri.


"Kenapa tanya gitu" ujar Dwi.


"Kamu berlaku gila saat mengenai Jihan" ujar Mama Sri.


"Hehe iya mah, tuh menantu mamah" ujar Dwi memgarahkan ponselnya ke arah Jihan.

__ADS_1


"Jihan" ujar Mama Sri.


"Hai Mah, mamah bisa pindah ke kamar aja" ujar Jihan.


"Oke oke sayang" ujar Mama Sri semangat.


"Kamu apa kabar" tanya Mama.


"Baik" ujar Jihan singkat.


"Udah dong mas lagi izin sama gurunya anak anak nih" ujar Jihan.


"Yaya maaf" ujar Dwi.


Jihan selesai dengan laptopnya dia menaruhnya di meja dia langsung bangun.


"Kemana" tanya Dwi..


"Mau mandi kan belum mandi kenapa" ujar Jihan.


"Ikut" ujar Dwi menarik Jihan sampai Jihan jatuh di pangkuannya.


"Lepasin" ujar Jihan namun Dwi malah melingkarkan tangan di perutnya.


"Iz malu tuh sama mama" ujar Jihan memberontak.


"Biarin lagian kamu udah lama gak ketemu mama malah judes gitu" ujar Dwi.


"Siapa yang judes, lagian sekarang gue gak mau drama drama lagi pura pyra baik atau nurut paham" ujar Jihan tegas.


"Apa kamu sedang memarahiku" tanya Dwi.


"Gak marah cuma kesel" ujar Jihan.


"Mah tuh lama gak ketemu bukannya di sayang malah di marahin mulu sejak sampai di sini" ujar Dwi mengadu membuat mamanya tertawa.


"Ngadu aja terus" ujar Jihan manyun


"Is gemes, se enggaknya di depan mama baik kek sama aku" ucap Dwi.


"Ogah" ujar Jihan nemun bukannya marah Dwi justru mencium pipi Jihan berkali kali membuat Jihan akhirnya tertawa lirih.


"Wi bawa menantu mama pulang ya" ucap Mama Sri.


"Gak yakin mah, dianya gak mau" ucap Dwi.


"Kenapa pasti karena " ujar Mama Sri terhenti.


"Bukan mah, tapi emang Jihan gak ada niat buat pulang ke situ saat ini kalaupun ke negara itu karena ada sesuatu yang harus Jihan lakukan Jihan gak mau mematqhkan hati seorang anak" ujar Jihan.


"Boleh mama melihat anak anakmu Ji" tanya Mama.


"Secepatnya mah" ujar Jihan.


"Oke sehat sehat kalian di sana cepet pulang" ujar Mama Sri mematikan ponselnya.


Saat panggilan berakhir tak terasa ada air mata yang jatuh dari mata Jihan karena Jihan masih di pangkuan Dwi membuat Dwi melihatnya dengan jelas apalagi air mata Jihan jatuh tepat di lengannya yang melingkar di perut Jihan.


"Maaf" ujar Dwi di telinga Jihan.


"Kenapa minta maaf ini emang udah jalannya, lagian anakmu di sana perempuan jangan pernah menghianatinya sama seperti yang gue ucap saat kamu harus menjaga cinta Jeje" ujar Jihan


"Oke" ujar Dwi pasrah saat Jihan berbicara panjang lebar dia tidak menyangkal ataupun membantah dia justru asik bermain di leher Jihan.


"Au" ujar Jihan saat Dwi menyesap lehernya keras dia memukul paha Dwi lirih.


Dwi tersenyum tanpa dosa dan melepaskan pelukannya membuat Jihan berganti menghadap ke arah Dwi.


"Senyum lagi, pasti merah banget" ucap Jihan.


"Mana" ujar Dwi menahan tawa.


"Tuh kan iiiih " ujar Jihan langsung berdiri dan berjalannle kamarnya dengan menghentak hentakkan kakinya.


"Wi kayaknya lo harus milih salah satu antara Jihan atau Klara karena gue liat Jihan udah mulai nyaman lago sama lo" ujar Jovan.


"Bang dari dulu pernikahanku dengan Klara hanya sebatas kertas gak lebih" ucap Dwi.


"Sama aja" ucap Jovan..


"Apa gue masih boleh merebut hatinya lagi Bang" ujar Dwi.


"Lakukan tapi jangan terlalu memaksanya" ucap Jovan.


"Ya jangan terlalu menekannya, saya gak mau kalau dia pingsan lagi" ucap Justine langsung duduk di depan Dwi dan membuka laptop milik Jihan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.....


"


__ADS_2