
Semua orang yang ada di sana menatap Jihan aneh namun Jihan tak gentar dengan apa yang dia lakukan. Jihan dengan jalan yang sangat berwibawa mendekati Dwi dan berhenti tepat di hadapan Dwi.
"Sekarang gue mau tanya lo anggap gue apa" tanya Jihan membuat semua orang tercengang.
"Maksud kamu apa" tanya Dwi lembut.
"Jawab gue gak butuh pertanyaan lo" bentak Jihan.
"Siap yang berani bentak tunangan gue" ujar seseorang dari pintu utama.
Jihan hanya melirik sebentar lalu kembali fokus menatap manik Dwi begitupun dengan Dwi mereka berdua tak menghiraukan sekeliling. Wanita dengan pakaian serba minim kemudian mencium pipi Dwi membuat Jihan membulatkan matanya.
"Hai lo, jangan tatap tunangan gue" ucap Wanita tersebut.
"Kenapa" tanya Jihan santai.
"Lo tanya kenapa ya gak boleh lah, kenalin gue putri tunangan Dwi" ucap Putri.
"Oh hai salam kenal" ucap Jihan mengulurkan tangannya.
Putri tidak menerima uluran tangan Jihan namun Putri menghempaskan tangan Jihan kuat membuat Jihan tersenyum sinis dan kebencian yang tersirat.
"Kamu gak apa apa kan sayang" ucap Putri memeluk Dwi.
"Ya gak papa lah cuma gue bentak kali, belum gue cabik cabik" cibir Jihan duduk santai.
"Lo diem deh gue gak lagi ngomong sama lo, sayang aku kangen banget sama kamu" ucap Putri penuh penekanan.
"Bisa gak si jangan peluk peluk gitu" ucap Dwi melepas pelukam Putri.
"Tapi sayang kenapa gak boleh, apa karena wanita ini" ucap Putri menunjuk Jihan jijik.
"Bisa diem gak si, lagian ngapain juga lo kesini" ucap Dwi.
"Gue ke sini, samperin kamu lah udah kangen banget, lagian lo ngapain si disini sama cewek itu liat aja dandanannya kampungan banget" cibir Putri.
"Bisa jaga bicara lo" ucap Dwi.
"Kenapa lo begitu banget bela dia, apa yang udah dia kasih ke lo yang gak gue kasih" ucap Putri.
"Diem" ucap Dwi.
"Dasar lo ya wanita murahan bisanya jadi pelakor" ucap Putri membuat Jihan berdiri tegas.
"Kenapa marah lo dasar pelakor" ucap Putri.
"Lo boleh hina gue apapun katain gue sesuka lo tapi bukan dengan pelakor karena dengan gak langsung lo rendahin didikan orang tua gue" ucap Jihan tegas.
"Wah marah, kalau barang murahan emang beda" ucap Putri.
"Lo anggap gue murahan gue bakal jadi apa yang lo ucapkan karena ucapan adalah doa" ucap Jihan mendekati Dwi.
Jihan mendekati Dwi lalu menatap Dwi dalam membiat semua orang penasaran dengan apa yang akan Jihan lakukan. Jihan memeluk Dwi dengn manja membuat semua orang membulatkan matanya.
"Lo lihat wanita murahan ambil apa yang lo punya" ucap Jihan sinis kepada Putri membuat Putri membuka mulutnya lebar.
"Lo gila dasar jal**g, pergi lo" ucap Putri memisahkan Jihan dan Dwi secara paksa membuat Jihan terjatuh.
Dwi yang melihat itu langsung membulatkan matanya, Dwi menatap Putri tajam lalu menolong Jihan.
"Lo bisa gak pake dorong gak si" ucap Dwi lantang lalu menolong Jihan namun dengan santainya Jihan justru bermain ponsel sembari masih duduk di lantai.
"Sayang lo kok lebih pilih dia si" ucap Putri.
"Karena dia istri gue" ucap Dwi lantang.
"Lo bilang dia istri lo" ucap Putri.
"Iya kenapa" tanya Dwi.
"Tega banget kamu" ucap Putri pergi.
__ADS_1
Putri berlari ke luar rumah, dengan cepat Dwi menolong Jihan yang masih duduk di lantai namun dengan cepat Jihan menolak dan berdiri dengan tegak tepat di depan Dwi.
"Lo bisa gak si hargai gue dikit aja, sebenarnya lo anggap gue apa si" ujar Jihan serius.
"Ya lo istri gue lah" ucap Dwi bingung.
"Lo anggap gue istri tapi lo gak bisa hargai gue sebagai istri" ucap Jihan.
"Maksud lo" tanya Dwi bingung.
"Kalo lo anggap gue istri se enggaknya lo jaga hati gue lo boleh lakukan apapun di belakang gue taoi gak di depan guez lo tau betapa besarnya gue mencoba terima ini tapi apa yang lo lakuin ha lo sengaja " ucap Jihan.
"Lo boleh lakuin ini tapi gak di sini juga lo boleh aja main di depan gue tapi gak disini bukan gue gak suka tapi gue gak mau lukai perasaan orang tua gue cukup mereka tau gue gak terima dengan pernikahan ini tapi tidak dengan dengan apa yang terjadi antara kita" lanjut Jihan.
"Gue gak maksud gitu Ji, gue tulus sama lo" ucap Dwi.
"Gue butuh waktu untuk itu, sekali lagi lo gak ada hak buat lukai perasaan keluarga gue terserah mau lo robek mau lo pecahin hati gue terserah lo tapi gak buat keluarga gue" ucap Jihan berjalan pergi.
"Ji" panggi Mona.
"Eh Mona Hana kapan kalian kesini" tanya Jihan dengan senyum manisnya.
"Gak penting tapi lo baik kan" tanya Hana khawatir.
"Gue baik liat aja semua masih utuh, kenapa kalian gitu banget si biasa aja kali kalian duduklah dulu gue mau ke kamar sebentar" ucap Jihan.
"Udah lah Ji, lo gak sepintar itu bohong sama kita" teriak Hana.
Jihan berhenti lalu berbalik menatap ke dua sahabatnya lalu melanjutkan jalannya.
"Happy birthday to you Happy birthday to you" semua orang benyanyi membuat Jihan berbalik dan melihat Dwi sedang membawa kue ulang tahun.
"Happy birthday Jihan" ucap semua orang.
"Kalian semua" ucap Jihan meneteskan air matanya.
"Happy birthday kaka ipar, hehe maafin gue ya kak udah buat kaka marah gue putri adek kak Dwi buka. tunangannya he" ucap Putri memeluk Jihan.
"Dasar lo, gue tunggu hadiah lo " ucap Jihan.
"Biarin" ucap Jihan tersenyum.
"Happy birthday sayang "ucap Dwi.
"Makasih, lain kali kalau mau kerjain jangan gini masukin gue ke mulut buaya langsung lebih baik" ucap Jihan.
"Iya maaf" ucap Dwi.
Jihan tersenyum tapi air matanya terus saja menetes membasahi pipinya. Jovan berjalan ke arah Jihan kemudian memeluk Jihan erat membuat Jihan makin deras meneteskan air matanya.
"Ji maafin Abang, Abang gak salah kamu adalah wanita terhebat yang pernah Abang kenal happy birthday Ji moga kamu bisa menjadi pribadi lebih baik dan lebih dewasa lagi" ucap Jovan mencium kening Jihan.
"Makasih doanya Bang" ucap Jihan.
"Apa" ucap Jihan saat sampai di depan Dwi.
"Gak papa, cuma mau bilang happy birthday istriku" ucap Dwi sembari mengdipkan satu matanya.
Jihan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Dwi, sebenarnya Jihan ingin marah namun tidak bisa ingin ingin menangis pun sulit apa lagi tersenyum di depan Dwi.
"Happy birhday sayang" ucap ke empt orang tuanya bersamaan.
"Kalian semua jahat tau" ucap Jihan menangis di pelukan ke dua mamanya.
"Sudah lah Ji, jangan menangis lagi" ucap Mama Anggun.
"Jihan happy birthday" ucap Mona dan Hana.
"Kalian, gue kasih pelajaran lo besok" ucap Jihan.
"Iya deh kita terima semua hukuman dari lo" ucap Mona.
__ADS_1
"Udah udah sekarang tiup lilinnya udah gak sabar gue makan kue buatan gue sendiri" ucap Putri.
"Sombong amat, pasti gak enak tuh kue buatan lo" cibir Jihan.
"Ih nyebelin amat lo kak, awas nanti ketagihan" ujar Putri.
Jihan mendekati Dwi lalu meminta jaket Dwi u tuk di lepas dengan senyum yang terus saja mengembang Dwi meepaskan jaket yang dia kenakan dan memberikannya ke Jihan.
"Mending lo pakai nih, baju bayi lo pakai" ucap Jihan memberikn jaket Dwi untuk di pakai Putri.
"Hehe iya kak maaf" ucap Putri tersenyum.
"Tiup lilinnya tiup lilinnya tiupilinnya sekarang juga sekarang juga sekarang juga" ucap semua orang.
Jihan memejamkan matanya kemudian meniup lilin di lanjutkan dengan memotong kue ulang tahun Jihan mengambil potongan pertama lalu memberikannya kepada ke dua orang tuanya dan Abangnya.
"Sekarang gue mau tanya , siapa yang rencanain semua ini lebih tepatnya siapa dalangnya" tanya Jihan serius.
Semua orang saling pandang lalu semua orang menunjuk ke arah Dwi. Jihan menatap Dwi tajam membuat Dwi was was.
"Mana hadiah gue" ucap Jihan mengulurkan tangannya.
"Hadiah, em" ucap Dwi menggruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Pasti lupa, udahlah gak penting juga" ucap Jihan duduk bergabung dengan ke dua sahabatnya.
"Ji nih buat lo" ucap Mona dan Hana memberika sebuah foto animasi empat sahabat yang di buat langsung oleh Hana dan Mona.
"Makasih, bagus banget" ucap Jihan.
"Ji "panggil Jovan.
"Ya Bang, gue ke Abang dulu ya" ucap Jihan.
"Iya sana" ucap Mona dan Hana.
Jihan berjalan ke arah Jovan yang kebetulan duduk tepat di samping Raka membuat Jihan merasa tidak nyaman. Jovan yang tau itu langsung berpindah tempat membuat senyum di wajah Jihan mengembang.
"Nih buat lo" ucap Jovan memberikan sebuah sepatu snacker yang Jihan inginkan.
"Beneran Bang, makasih Bang" ucap Jihan memeluk Jovan.
"Ji gue gak bawa hadiah maaf ya" ucap Raka.
"Iya gak apa apa" ucap Jihan.
"Mereka aja gak apa apa gue juga gak apa apa kan gak kasih hadiah sekarang gue janji besok deh" pinta Dwi.
"Gak berlaku buat kamu, lagian gue gak minta barang mahal yang gue mau ketulusan saat memberikannya" ucap Jihan enteng.
"Emang lo mau hadiah apa dari gue" tanya Dwi.
"Kalau gue ngoming namanya bukan hadiah tapi permintaan" ucap Jihan.
Jihan tersenyum lalu ikut bergabung dengan semu orang yang duduk di lantai namun belum sampai Jihan duduk Dwi tiba tiba mencium pipi Jihan membuat Jihan membeku seketika sorakan dari semua orang membuat Jihan tersadar.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***Penasaran marah gak ya Jihan ke Dwi.... yuk pandengin terus cerita selanjutnya.....
Hapoy reader***...