Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Pertama


__ADS_3

"Nih nih nih" ucap Jihan menunjuk beberapa luka di tubuhnya lalu duduk di samoing Ridwan.


"Lo bisa luka Ji, tapi gue salut sama lo semua bidikan lo tepat padahal lo gak fokus ke itu doang" ucap Leon.


"Gue juga manusia kali, eh lo mau bunuh gue ya hadiah main senjata pelan pelan ngapa Bang" ucap Jihan.


"Hehe sorry" ucap Ridwan tersenyum.


"Lo yang habisin anak buah gue" ucap Leon.


"Lah lo duluan" ucap Jihan.


"Nih gue kasih tau semua senjata yang mereka pakai tuh isinya peluru karet selain orangnya Clarissa ya gue gak tau dan lo sama temen temen lo habisin anak buah gue" ucap Leon.


"Mana gue tau kalau bercanda, lagian kita cuma bidik kakinya gak bakal fatal lagi" ucap Jihan.


"Ya tapi duit gue abis buat biaya in mereka semua" ucap Leon.


"Bodo amat" ucap Jihan.


"Eh sekali lagi selamat atas pernikahan lo ya gue pergi dulu" ucap Leon.


"Buru buru amat" tanya Jihan


"Kenapa mau lama lama sama gue" ucap Leon.


"Gak " ucap Jihan membuat Leon memajukan bibirnya.


"Iya lagian gue cuma mampir kali karena gue gak bawa hadiah ini hadiah buat lo" ucap Leon memberikan sebuah jam tangan yang dia pakai.


"Oke thanks ya" ucap Jihan.


"Oke, gue pergi ya om tante saya pamit undur diri maaf sudah membut resah tapi tenang aja semua orang di sini tau kok kalau saya yang rencanain ini semua" ucap Leon.


"Udah Ji" ucap Ridwan.


"Makasih Bang" ucap Jihan.


"Pantes pincang" ucap Dwi.


"Kenapa" tanya Jihan


"Gak" ucap Dwi lagi lalu duduk di samping Jihan dan menyenderkan kepalanya di bahu Jihan.


"Eh lindungi Jihan jangan sampai dia luka lagi" ucap Leon.


"Gak perlu lo kasih tau" ucap Dwi memejamkan matanya.


"Sepertinya akan ada perdebatan sengit" ucap Dika.


"Hormat kapten, maaf kita harus pergi sekarang" ucap anak buahnya.


"Oke kita berangkat sekarang, om tante semuanya saya pamit" ucap Leon.


"Ya hati hati nak Leon" ucap papa Jihan.


"Siap om, jaga diri lo" ucap Leon mengacak acak rambut Jihan saat pergi.


"Jaga nyawa lo" ucap Jihan tersenyum.


"Jangan senyum senyum" ucap Dwi.


"Cemburu tuh" ucap Jovan.


Jihan tidak menghiraukan omongan Jovan begitupun dengan Dwi yang masih nyaman di pundak Jihan. Semua orang berkumpul sedangkan sahabat sahabat Jihan sedang berada di kamar tamu untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pesta malam ini.


"Ji laper" ucap Dwi merengek membuat Jihan tertawa melihat wajah Dwi.


"Malah ketawa" ucap Dwi memajukan bibirnya.


"Lagian tuh muka aneh banget, mau makan apa" tanya Jihan.


"Makan kamu boleh" ucap Dwi.


"Kalau makan gue gak ada kenyangnya, eh ngomong ngomong makan gimana nasib daging kita" ucap Jihan.


"Udah jelas gosong nih" ucap Fero masuk ke dalam rumah Jihan dengan daging daging gosong di piring.


"Yah" ucap Jihan.


"Emang kamu masih mau makan" tanya Dwi.


"Gak si, oh ya katanya laper mau makan apa" tanya Jihan.


"Gak jadi" ucap Dwi.


"Jihan" teriak Zira membuat semua orang kaget.


"Ngapa lo teriak teriak" ucap Jihan santai.


"Lo ya, hua kenapa lo biarin kapten itu pergi si" ucap Zira.


"Kirain apaan" ucap Jihan.


"Iya Zira gak malu apa teriak teriak gitu" ucap Mama Sri.


"Mau gue telfonin dia" ucap Jihan.

__ADS_1


"Emang lo punya nomer hpnya" tanya Dwi.


"Gak, tapi gue tau kemana dia pergi" ucap Jihan.


"Kemana kemana" tanya Zira.


"Ke medan perang" ucap Jihan tertawa.


"What, gak jadi deh sini aja sama kak Randy ya kan kak" ucap Zira.


"Ogah" ucap Randy.


"Hahaha di tolak mentah mentah" ucap Jihan.


Ucapan Jihan sukses membuat semua orang tertawa namun tidak dengan Zira yang memajukan bibirnya lalu duduk bergabung dengan semua orang. Zira duduk di samping Randy membuat Randy menjadi bahan ledekan.


"Udah udah dari pagi kalian adanya bercanda mulu" ucap papa Jihan.


"Iye istirahat gih" ucap mama Anggun.


"Sayang tante kalau istirahat, nanti malam juga kita harus pergi" ucap Zira.


"Kemana" tanya Mama Anggun.


"Besok kan wisuda tante, ya kali tante lupa besok ke dua anak tante kan wisuda" ucap Zira.


"Iya bener, gue lupa Ra nanti bareng aja" ucap Jihan.


"Gak mau, gue bareng sama Sonia aja dia kan bawa mobil sport biar cepet" ucap Zira.


"Gue juga punya kali" ucap Jihan.


"Eh Ji mobil yang lo menangin dari gue dulu masih ada" ucap Putri.


"Ada, kenapa mau lo beli lagi" ucap Jihan.


"Berapa lo mau jual" tanya Putri.


"Entahlah setelah beberapa pembaruan sepertinya harganya naik" ucap Jihan.


"Berapapun harganya gue bayar, lo tau gak gue sengsara karena mobil itu" ucap Putri.


"Gimana kalau dengan lima buah mobil sport terbaru dan limited edition" ucap Jihan.


"Habis dong duit gue" ucap Putri


"Ya udah kali, tuh mobil di gue aman lagian Abang lo udah gak marah kan" ucap Jihan.


"Gak tapi kalau bisa gue harus dapat mobil itu lagi itu banyak kenangan tau" ucap Putri.


"Itu mobil hadiah ulang tahun gue dari kakak gue tau" ucap Putri.


"Siapa suruh buat taruhan, lagian ya gue belum puas pakainya baru beberapa bulan" ucap Jihan.


Dua bulan lalu saat Jihan ke kota dia bertemu dengan Putri di jalan. Putri menantang Jihan untuk taruhan dan mencari siapa tercepat di antara mereka.


Jihan mempertaruhkan dirinya sedangkan Putri mempertaruhkan mobil sport miliknya membuat Jihan bersemangat. Dengan sangat santai Jihan melawan Putri namun akhirnya Jihan memenangkannya dan membuat Putri harus menyerahkan mobil sport nya.


"Jadi lo orang yang sita mobil Putri" ucap Dwi.


"Iya kenapa mau marah" ucap Jihan.


"Gak, makasih ya karena lo dia gak balapan lagi dan buat mobil itu buat lo aja" ucap Dwi masih memejamkan matanya.


"Denger kan Put" ucap Jihan.


"Kakak gak asik" ucap Putri.


"Udah ngeyel aja lo pikir nyawa lo sembilan, dengan lo taruhan bisa selesaikan segalanya gak yang ada lo kehilangan sesuatu yang paling lo sayang dan lagi balapan lo gak ahli dalam hal itu" ucap Fero membuat Putri menciut.


Jihan tersenyum meihat Fero yang mampu memahami Putri. Sedangkan di antara semua orang sudah bersiap untuk pesta di ruang keluarga hanya ada Jihan Dwi Putri dan Fero.


"Mah mamah yakin kalau mereka akan baik baik saja" ucap Papa Dwi khawatir.


Pasalnya mama Sri menyuruh semua orang untuk pergi meninggalkan ke dua pasangan dalam satu tempat membuat semua orang ragu untuk meninggalkan mereka namun mereka juga penasaran apa yang akan terjadi.


"Kak nyaman banget" ucap Putri.


"Hm" ujar Dwi.


"Ay maksud gue kakak ipar kenapa lo gak tau kalau Leon kerjain lo" ucap Fero.


"Elah Ta mana tau si lagian di situasi kayak gitu bisa mikir" ucap Jihan.


"Eh lucu juga ya lo jadi adek ipar gue, kalian berdua panggil gue kakak hehe" ucap Jihan tertawa.


"Iya kenapa si Kakak nikahin Jihan" ucap Putri.


"Sopanlah sedikit bicaralah seperti kamu bicara sama kaka" ucap Dwi langsung duduk tegak.


"Biarin masih belajar" ucap Jihan.


"Biar tau sopan" ucap Dwi.


"Oke, eh mas gimana ku bisa luka gitu" tanya Jihan.


"Mas liat orang itu menyerang kamu terus dia arahin pisau sama kamu dia tau kamu lemah dalam jarak dekat maaf kamu masih luka" ucap Dwi.

__ADS_1


"Oh, iya gak apa apa cuma perih doang" ucap Jihan.


Dwi menarik tangan Jihan yang terluka lalu menciumnya membuat Fero membulatkan matanya. Jihan biasa saja karena dia sudah sering di perlakukan seperti itu oleh Dwi.


"Mas boleh minta sesuatu gak" tanya Jihan.


"Apa" tanya Dwi.


"Jihan mau tau perasaan mas yang sebenarnya sama Jihan boleh minta satu lagu yang menjelaskan itu semua" ucap Jihan.


"Bilang aja lo mau penyanyi gratis" ucap Putri.


"Ye kenapa kalau ada yang grastis ngapain cari yang bayar" ucap Jihan.


"Dasar pelit" ucap Putri.


"Biarin, eh kalian nanti malam pakai baju couple" tanya Jihan.


"Iya dong, iya kan sayang" ucap Putri.


"Panggil sayangnya kok gitu banget susah ya... hahahha" ujar Jihan.


"Emang lo bisa panggil sayang ke kakak gue dengan lembut jangan kaku" ucap Putri.


"Nantangin gue lo" ucap Jihan.


"Iya berani gak lo" ucap Putri senyum meremehkan.


"Berani liat aja" ucap Jihan.


Jihan menatap Dwi lalu menarik nafasnya panjang berulang. Sedangkan Dwi tak kalah dag dig dug karena tatapan Jihan yang hangat.


"Bentar ngomong apa nih" ucap Jihan membuat Putri dan Fero tertawa sedangkan Dwi hanya tersenyum tipis.


"Lo gak lebih baik dari dia" ucap Fero.


"Lo remehin gue Ta" ucap Jihan.


"Udah gini coba lo bilang yang barusan lo minta sama dia tapi dengan lemah lembut dan penuh cinta" ucap Putri.


"Oke oke" ujar Jihan kembali menarik nafasnya panjang.


"Mas em gimana kok susah ya" ucap Jihan membuat tawa kembali terdengar bahkan kali ini Fero dan Putri terlihat tidak canggung lagi.


"Tadi remehin sekarang gak bisa" ucap Putri.


"Sayang ke kamar aja yuk, siap siap buat pesta oke" ucap Dwi dengan penuh kelembutan.


"Huh meleleh" ucap Jihan.


Dwi langsung menuntun Jihan ke kamarnya, Jihan yang tergores kakinya membuatnya jalan sangat pelan. Sedangkan di ruang keluarga tinggal Putri dan Fero membuat situasi sunyi.


"Kenapa liatnya gitu banget" ucap Jihan saat sudah sampai kamar dan menutup pintunya.


Jihan berjalan ke depan meja riasnya dan mulai memoles wajahnya membuat Dwi mengikutinya. Dwi duduk di atas meja rias Jihan memperhatikan wajah Jihan.


"Lagian kamu kenapa susah banget tinggal bilang sayang gitu" ucap Dwi duduk di meja rias Jihan


"Mau di panggil sayang" ucap Jihan.


"Iya" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya jengah.


"Sayang bisa minggir sebentar" ucap Jihan dengan senyuman.


"Senyumannya terpaksa banget" ucap Dwi.


"Susah gak pernah gitu soalnya" ucap Jihan.


"Jadi mas yang pertama" ucap Dwi tersenyum.


"Iya" ucap Jihan.


"Serius" tanya Dwi.


"Hm"


"Yakin" tanya Dwi.


"Iya, kenapa si gak abis abis tanya gitu" ucap Jihan.


"Thanks Honey" ucap Dwi memeluk Jihan..


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya Readers....


Kalau kalian bilang halu banget, iya soalnya kalau gak halu gak bakal jadi nih cerita hehe....


Silahkan tinggalkan komentar kalian....

__ADS_1


__ADS_2