
"Woi kalian berdua kerjanya gimana ini bukannya hilang malah nyebar sengaja" ujar Jihan membuat Ani takut sedamgkan Kevin masih serius.
"Udah bilang gak bisa rapi" ucap Kevin.
Jihan berjalan ke arah Kevin dan menyuruh Ani untuk berdiri di belakangnya. Ani mengikuti ucapan Jihan dan mulai memperhatikan apa yang Jihan lakukan.
"Bos kok" ujar Kevin saat melihat Jihan tidak memghapus artikelnya justru menghapus situs webnya.
"Cepetan gini hapus situsnya hilangkan" ujar Jihan sembari tersenyum.
"Kejam" ujar Kevin menarik nafas panjang lega.
"Lagian siapa suruh main main" ujar Jihan bangun dengan senyuman bangga.
"Bos gak hapus yang itu sekalian" tanya Kevin mengingatkan sebuah artikel tentang dirinya.
"Itu biarin gak ada yang rugi, tapi kalau ini mas Dwi rugi gue juga rugi" ujar Jihan.
"Kok bisa" tanya Kevin
"Di saat dia rugi duitnya dikit jatah gue juga dikit dong" ucap Jihan.
"Dasar Bos mata duitan" ucap Kevin hanya di balas senyuman manis Jihan.
"An ngapain di situ, balik kerja aja tadi saya cuma bercanda hehe" ujar Jihan membuat Ani menarik nafas lega.
"Siap Bos" ujar Ani gemetar.
"Kamu juga ngapain masih di sini kerja gih" ujar Jihan kepada Kevin.
"Iya iya i love you Bos" ujar Kevin.
"Love you too " ucap Jihan enteng membuat Jovan dkk membulatkan matanya apalagi Dwi yang terlihat sangat marah.
Kevin berlari melihat tatapan maut Dwi. Jihan bersikap biasa saja dan kembali duduk di kursinya di depan Dwi. Jihan menatap Dwi seolah tau perasaan Dwi saat ini.
"Marah marah aja tapi setelah mereka semua pergi" ujar Jihan.
"Kamu sengaja" ujar Dwi.
"Iya" ucap Jihan.
Dwi hanya mengepalkan tangannya dia menahan emosinya yang membara. Jihan tersenyum lalu menarik tangan Dwi dan menggenggamnya perlahan emosi Dwi turun.
"Kamu tau kelemahan saya" ujar Dwi memajukan bibirnya.
Jihan tersenyum lalu melepaskan tangan Dwi dan berdiri tepat di depan Dwi dengan senyuman mengerikan.
"Emangnya cuma kamu yang bisa buat hati panas saya juga bisa" ujar Jihan berbisik lalu melenggang pergi namun dengan cepat Dwi turun dan menahan posisinya.
"Benarkah, jadi jangan ucapkan apapun atau kamu akan malu" ujar Dwi berbisik di telinga Jihan membuat Jihan berfikir.
"Maksudnya" tanya Jihan.
Dwi hanya tersenyum lalu menyesap bawah telinga Jihan membuat Jihan menutup matanya dan menahan suara gila yang akan keluar. Hanya sebentar namun sukses membuat tanda yang cukup gelap di sana.
__ADS_1
"Kenapa gak bersuara" ujar Dwi tersenyum penuh kemenangan dan melenggang pergi
"Dasar kamu ya" ujar Jihan.
"Woi masih ada orang di sini" ujar Randy.
"Sepertimya kita siapin uang deh buat ngontrak" ujar Dani.
"Maksudnya apa" tanya Jovan.
"Dunia akan di ambil alih mereka berdua" ujar Dani.
"Bener bener tuh" ujar Jovan dan Randy.
"Jadi jalan gak nih" tanya Fero.
"Panas guys" ucap Randy
"Lo juga panas kan udah nembak eh tinggal kabur" ujar Fero.
"Lo jangan bilang bilang dong" ujar Randy.
"Kamu menyukai istri saya" tanya Dwi.
"Sebelum jadi istri kamu tandai itu" ujar Randy.
"Gak cuma dia lah Wi, masih banyak orang di sekitar lo maupun gue yang suka sama adek gue" ujar Jovan.
"Iya orang cantik mah beda" ujar Jihan tersenyum.
"Narsis bener dek" ujar Jovan.
"Iya lah orang semua cowok" ujar Jovan.
"Tapi kamu gak takut di kelilingi cowok gini" tanya Dani.
"Kenapa harus takut disaat ada Abang sama kakak yang paling Jihan percaya" ucap Jihan.
"Yaya gini yang buat gue gak bisa lupa beliin lo barbie" ujar Jovan tertawa.
"Hm lemari gue belum penuh Bang, beliin lagi ya" ujar Jihan.
"Udah gede juga" ucap Dwi
"Gak papa dari pada pusing di buat mainan sana sini mending mainan sendiri" ujar Jihan sukses membuat Jovan Dani dan juga Dwi diam membisu.
Jihan menatap semua orang satu persatu namun tatapannya berakhir pada tatapan lekatnya Jovan. Seolah berbicara tentang perasaannya sampai mereka berdua sama sama mengeluarkan air matanya tanpa suara.
"Sorry Baby" ujar Jovan berjalan ke arah Jihan dan memeluknya.
"Hm" ujar Jihan membalas pelukan Jovan erat.
"Sekarang semua terserah kamu Baby, kamu harus pilih jalan kamu sendiri" ujar Jovan dengan terus bercucuran air mata.
"Bang kenapa baru sekarang bang, di kala Jihan sudah mulai bisa menerimanya kenapa gak dulu sebelum Jihan di paksa jadi istri" ujar Jihan
__ADS_1
"Maafin Abang" ujar Jovan memeluk Jihan erat.
"Tapi kamu tau kenapa Abang setuju dengan Dwi melamar kamu sama Abang" ujar Jovan
"Hm di keluarganya gak ada kata cerai itu perbuatan laknat, Jihan tau itu Bang Jihan tau semuanya Jihan tau Abang mikirin masa depan Jihan tapi Abang gak mikirin hati Jihan hancur Bang hancur" ujar Jihan nangis sesegukan.
"Berhentilah menangis jika kamu memang tidak menerima saya maka kamu berhak untuk memilih jalan lain tapi tolong untuk perlahan jangan hilangkan senyuman di wajah mama" ujar Dwi mendekat.
"Kamu pikir cuma kamu yang mikirin hati orang tua saya juga banyak hati yang harus saya jaga saya tau itu bisa buat saya gila bisa buat saya hancur tapi apapun yang terjadi tidak akan ada kata cerai kalaupun saya harus menangis seumur hidup saya" ujar Jihan meninggi sembari menangis.
"Jihan pelankan suara kamu" bentak Dani membuat Jihan tersentak biasanya Dani adalah orang yang sangat mendukungnya.
"Kak lo bentak gue, hal yang gak pernah lo lakuin di depan banyak orang gue tau gue harus hormat sama dia gue tau posisi gue Kak gue seorang istri harus nuritin suami tapi dia bicara seolah saya tidak memperdulikan keluarganya saya tidak memperdulikan orang tuanya asal Kakak tau selama dia pergi gue yang urusin orang tuanya gue bahkan lebih menghormatinya dari pada orang tua gue sendiri apa itu berlebihan" ujar Jihan penuh tekanan.
"Jika kamu tau posisi maka jangan pernah menangis di depan semua orang kevuali dirinya, belajarlah tersenyum dalam menghadapi masalah" ujar Dani serius.
"Menangis, pernah Jihan lupa rasanya menangis Kak dan Kakak tau kenapa, di saat kalian semua pergi memojokkan bahkan membuang Jihan begitu saja hanya karena rumor Kakak tau apa yang akan Jihan lakukan mengakhiri hidup Kak itu yang ada di pikiran Jihan, Jihan pernah di posisi itu jadi Jihan tau persis rasanya di khianati orang yang sangat di percaya apa untuk saat ini saja Jihan tidak boleh menangis." ujar Jihan meninggi sembari terduduk di lantai kakinya seolah tak mampu menopang tubuhnya lagi membuat Dani ikut meneteskan air matanya.
"Sepertinya saya harus pergi sekarang" ujar Randy pergi dari ruangan itu karena dia tidak mau terlibat urusan keluarga.
"Baby, Abang tau kamu begitu menderita maafin Abang tapi itu juga cara Abang jauhin kamu dari dunia gila yang kamu jalani" ujar Jovan berjongkok di depan Jihan.
"Dunia gila Abang bilang, Abang kalaupun Jihan masuk dunia gila itu Jihan gak pernah sekalipun minum minuman laknat itu dan Jihan gak pernah menjual diri Jihan Bang dan kenapa sekarang Jihan berani menyentuh minuman itu Jihan hanya ingin melupakan masalah untuk sesaat" ujar Jihan.
"Benarkah Wi" tanya Jovan.
"Sepertinya begitu" ujar Dwi.
"Lo bilang apa sepertinya begitu, gue tau lo biasa mainin wanita lo biasa tidurin banyak wanita dan gue hanya diam bahkan tidak pernah mengadukannya sama oramg tua lo padahal.gue tau lo bakal jadi jodoh gue dan sekarang lo bilang sepertinya begitu gue terima lo bukan tanpa alasan" ujar Jihan dengan amarah membara namun Dani dan Jovan hanya diam.
Jovan menahan Dani untuk ikut campur membiarkan Jihan mengeluarkan semua unek uneknya itu lebih penting untuk saat ini. Sebenarnya Jovan sempat menemui Ridwan sebagai psikeater Jihan dan bertanya banyak hal di sana sampai dia tau kalau Jihan masih menyimpan banyak hal sendiri jadi Ridwan meminta Jovan untuk memancing Jihan mengeluarkan semuanya walaupun dia tidak tega dengan reaksi Jihan sekarang.
"Oke oke gue emang laki laki gak bener gue terima itu tapi untuk gue nidurin banyak wanita gue gak bisa terima itu karena kamu wanita pertama yang memakai senjata gue gue juga perjaka, lo pikir saat pertama gue sekamar sama lo jantung gue gak mau loncat sama perasaan yang gue rasaain sama lo bedanya gue bisa mengendalikannya sedangkan lo menghindarinya" ujar Dwi.
"Apa lo jujur" tanya Jihan melembut.
"Apa marah pernah berbohong" ujar Dwi sadis.
"Lalu bagaimana dengan wanita berganti ganti itu yang lo bawa ke rumah, bagaimana dengan Klara kamu yakin tidak pernah menyentuhnya" ujar Jihan penuh telisik.
"Haruskah gue jawab, lo tau Klara terobsesi sama gue gue terima dia karena bisnis dan lo juga mau tau kontak fisik yang gue lakuin sama dia kan gue gak pernah lebih dari berciuman bibir bahkan bermain lebih lama pun gak hanya agar dia mau mengalirkan dana untuk perusahaan gue di luar negeri sedangkan dengan lo gue gak bisa menahannya sekali gue coba gue gak pernah bisa lupain apa lo juga amnesia kalau lo sukses ambil hati gue dan buat gue gila karena lo" ujar Dwi.
"Lalu kenapa lo tiba tiba datang dan paksa gue jadi istri lo" ujar Jihan kembali menangis.
"Terus gue harus pakai cara apa biar lo mau sama gue biar lo mau melepas dia yang ada di hati lo dan biar gue bisa miliki lo sepenuhnya gue menahan nafsu gue, gue menekan semuanya hanya buat lo gue diam selama ini dengan perlakuan lo bukan berarti gue memang bersalah tapi gue harap dengan ini lo bisa percaya sama gue kalau gue bener bener bisa buat lo bahagia" ujar Dwi berjalan mendekati.
"Gue gak pernah minta lo menahan nafsu lo gue gak pernah minta lo buat datang ke kehidupan gue dan gue juga gak minta di pertemukan sama lo jadi kenapa lo maksa gue terima lo" ujar Jihan menangis Dwi memeluknya membuat Jihan semakin menangis tersedu.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys....
__ADS_1
Banyak konflik di episode ini bisa jadi tanda perpisahan kita di novel ini ya...
Kasih masukan dong guys.....