
"Kenapa" ucap Jihan dingin sembari melanjutkan makannya.
"Mama mau bicara" ucap Mama yang tadi memeluknya dari belakang.
"Gue mau makan" ucap Jihan.
"Sebentar" ucap Mama.
"Mah kasih Jihan waktu buat makan ngapa, gak iklas banget liat Jihan makan" ucap Jihan membuat Mama tersulut emosi.
"Lo ya anak gak ada nurut nurut nya sama mama" ucap Mama.
"Gue nurut sama mama, emang mama pantes apa di sebut mama terbaik gak mah" ucap Jihan.
"Lo ya, mama mau berangkat nanti luangin waktu sebentar aja Ji buat mama" ucap nya.
"Gak salah mah, seharusnya mamah yang luangin waktu buat Jihan" ucap Jihan.
"Mama gak punya waktu banyak Ji, jadi tolong mama mama cuma mau minta sepuluh menit dari kamu Ji" ucap Mama dengan nada tinggi.
"Kenapa mah, kenapa mamah gak pernah ada waktu buat Jihan padahal mamah selalu ada waktu buat Abang mamah selalu pantau Abang bahkan mamah punya waktu saat Abang putus cinta lalu apa apa yang udah mama lakuin sama Jihan mah" ucap Jihan dengan penuh emosi.
"Gak gitu maksud mama Ji" ucap Mama melembut.
"Mah, mamah tau Jihan sampai pernah ingin pergi dari dunia ini tapi mama gak ada di samping Jihan mamah gak peduli sama Jihan bahkan saat Jihan minta mama pulang temenin Jihan di hari kelulusan Jihan waktu SMA mamah gak datang mamah malah kirim Jihan ke desa jauhin Jihan dari semuanya bahkan Mamah tega biarin Jihan hidup di sana seorang diri dengan semua fasilitas yang mama cabut bahkan ponsel Jihan hadiah ulang tahun Jihan dari orang yang gak mama kenal" ucap Jihan.
"Kamu lulus SMA kapan bukannya tahun ini kamu lulus Ji" ucap Mama.
"Pantes mama gak tau, mama selalu gak ada waktu buat Jihan yang mama tau cuma kejelekan kejelekan yang Jihan lakukan mama tau mah sejak masuk SMA Jihan berjuang kerja part time mah mamah tau kenapa Jihan gak mau jadi beban kalian, gak seperti Abang anak cowok yang bisa kalian banggakan" ucap Jihan menunduk.
"Kalian berdua anak mama, tapi kalau Abang dia gak pernah buat masalah Abang kamu bisa di andalkan gak kayak kamu di sekolah jadi bad Girl" ucap Mama membuat Jihan kembali bangkit.
"Jihan Bad Girl mama tau alasan di balik itu Jihan pengin perhatian mah itu aja tapi mamah malah buat Jihan semakin gila" ucap Jihan mulai meneteskan air matanya.
"Jadi apa mau kamu sekarang" tanya mama.
"Gak ada Jihan gak mau apapun dari mamah" ucap Jihan.
"Kalau begitu jadilah anak baik seperti Fero" ucap Mama.
"Seperti Fero iya lah dia murid idaman setiap orang tua bahkan murid lain orang dia putra mahkota dengan kasih sayang penuh, mamahnya bahkan rela berhenti kerja demi anak anaknya" ucap Jihan sinis.
"Jadi maksud kamu ingin mama berhenti kerja dan jadi pengangguran" ucap Mama.
"Jihan gak bilang gitu, mau mama berhenti kerja atau gk gue gak peduli mah sekarang Jihan ada teman saat mamah pergi ada orang yang mau menjaga gue walau mungkin gue orang yang paling dia benci" ucap Jihan.
"Siapa" tanya Mama.
"Sok banget si, mamah tau saat mamah pergi gue masuk rumah sakit dan di rawat satu pekan di sana tapi mama gak perduli bahkan mamah gak pernah jenguk gue di sana tapi mama tau ada makaikat datang di kehidupan gue yang merubah kehidupan gue di saat mama kasih semua yang terbaik buat Abang kasih semua perusahaan ke Abang dan ambil semua hak gue mama gak kasih gue kepercayaan dia datang dan memeberikan kepercayaan bahkan saat dia gak tau siapa gue" ucap Jihan sembari menangis.
"Mama tau dia bahkan kasih satu perusahaan yang sedang dia bangun untuk anaknya dia gak takut kalau gue bakal hancurin perusahaannya saat gue berhasil dia gak buang gue dia malah kasih lima puluh persen saham perusahaan anaknya ke gue," ucap Jihan.
"Siapa dia" ucap Jovan.
"Apa yang kamu kasih ke orang itu sampai dia begitu percaya sama kamu Ji" tanya Mama.
"Gak ada dia gak menuntut apapun dia hanya meminta ku untuk menjaga seseorang yang sangat dia ingin jaga" ucap Jihan.
"Ji kita harus bicara sekarang" ucap Jovan.
__ADS_1
"Udah lah Bang, gak oenting bicara sama Jihn bahkan saat Abang bicara sama Jihan Abang akan jadi bad boy Abang tau Jihan hanya beban Bang" ucap Jihan.
"Gak Ji kamu adek Abang yang paling Abang sayang" ucap jovan
"Bukan Bang, tapi Jihan adek yang selalu menjadi beban buat Abang Jihan gak mau buat Abang jadi buruk karena Jihan" ucap Jihan membalikkan badannya namun saat dia mendongakkan Dwi sudah ada di belakangnya.
"Jangan nagis" ucap Dwi.
"Sakit" ucap Jihan menepuk nepuk dadanya.
"Jangan sakiti diri kamu sendiri" ucap Dwi.
"Minggir gue pergi" ucap Jihan.
"Kemana biar gue temenin" ucap Dwi lembut sembari menahan Jihan.
"Gue mau sendiri" ucap Jihan.
Dwi melepaskan tangan Jihan namun menghubungi semua pengawalnya untuk mengikuti Jihan kemanapun dia pergi.
"Kak gue susulin Jihan dulu, kakak selesaiin masalah ya" ucap Dwi kepada Dani.
"Hm jangan biarin Jihan semdiri" ucap Dani.
Dengan cepat Dwi menyusul Jihan yang sedang berjalan dengan berlinang air mata. Dwi mengikuti Jihan dengan diam namun pasti saat berada di jalan raya Jihan menghentikan taksi membuat Dwi mengikuti kemana tujuan Jihan.
Di lain tempat mama sedang menangis di dalam kamarnya sesegukan karena Dani menceritakan semuanya.
"mama tau anak yang selama ini gak mama perhatiin yang selalu mama anggap sebagai beban sekarang sudah jadi CEO mah, di sebuah perusahaan yang mama ingin hancurkan" ucap Dani.
"Maksud kamu" tanya Mama.
"AYASTA GROUP ya dia adalah CEO di sana mah, perusahaan yang dia bangun dari sebuah persabahatan dengan Fero" ucap Dani.
Di rootproof sebuah apartemen Jihan sedang menangis sembari duduk di tepi pagar sembari sesegukan. Dwi menemani Jihan walau Jihan terus saja memukulnya dan menyuruhnya pergi namun perlahan Dwi mendekap Jihan dalam pelukannya.
"Menangislah jika itu membuat mu lega" ucap Dwi membuat Jihan kembali menangis dengan keras.
"Sesakit itu kah Ji" tanya Dwi.
"Sakit sakit banget malah, mama gak pernah anggap Jihannanak selain beban dalam keluarga" ucap Jihan sembari menangis.
"Gak ada anak yang menjadi beban" ujar Dwi.
Jihan langsung berdiri dan berjaln ke temoat yang lebih tinggi membuat Dwi membulatkan matanya. Dwi mengejar Jihan sembari memanggil manggip Jihan namun Jihan tak peduli.
"Ji nyawa lo cuma satu jangan main main deh sama nyawa" ucap Dwi frustasi.
"Gue tau, gue juga mau peegi dari dunia ini tapi lo tau takdir gak izinin hal itu" ucap Jihan sembari mengusap.air matanya.
Dwi semakin frustasi Dwi memanggil semua pengawalnya juga Dani dan Jovan. Tak lama mereka semua datang membut Jihan mengerutkan Dahinya pasalnya semua orang menangis untuknya.
"Kalian kenapa" tanya Jihan.
"Kenapa lo bilang, gue yang tanya kenapa lo mau akhirin hidup lo mau buat gue gila, dan buat gue hidup dalam penyesalan" ucap Jovan.
"Bang siapa si yang mau bunuh diri gue juga mau menatap masa depan gue juga mau ada seorang yang memanggil gue mama" ucap Jihan tersenyum.
"Lo hamil Ji" ucap Dani membuat semua orang menatapnya.
__ADS_1
"Iya" ucap Jihn tersneyum membuat Dwi kaget.
"Suatu hari nanti gue akan bertahan sampai hari itu datang" ucap Jihan.
Dwi lalu menghampiri Jihan dan memeluknya erat sembari menangis membuat Jihan bingung. Jihan menatap sekeliling mereka semua tersenyum dengan apa yang Dwi lakukan.
"Lo kenapa" tanya Jihan.
"Gue sayang sama lo Ji" kata itu terlontar membuat Jihan memaku.
"Maksud lo" tanya Jihan.
"Gue mau lo jadi ibu dari anak anak gue" ucap Dwi.
"Gue gak mau" ucap Jihan.
Dwi langsung melepaskan pelukannya dengan cepat dan menatap Jihan tajam sembari mencengkram lengan Jihan erat.
"Sabar dong belum selesai gue ngomong, gue belum siap untuk sekarang gue masih bingung dengan perasaan gue sama lo" ucap Jihan.
"Gue bakal, buat lo yakin sama perasaan lo buat gue" ucap Dwi.
Jihan hanya tersenyum namun tiba tiba Jihan jatuh pingsan di pelukan Dwi membuat mereka berdua terjatuh dengan Dwi mendekap Jihan agar Jihan tidak terluka.
"Lo gak apa apa Wi" tanya Jovan.
"Gak van lo urus Jihan aja dulu gue gak bisa bangun" ucap Dwi.
"Oke oke Kak tolong bawa Jihan biar gue bantu Dwi" ucap Jovan kepada Dani.
Dani menggendong Jihan lalu membawanya ke dalam apartemen Jihan sedangkn Dwi berusaha keras untuk bangun karena terjatuh cukup tinggi dengan Jihan di atasnya.
"Remuk punggung gue" ujar Dwi.
"Maafin Jihan Wi" ucap Jovan.
"Iya, gak apa apa lagi dia udah tanggung jawab gue" ucap Dwi.
"Maafin gue juga" ucap Jovan.
"Udahlah masalah kita udah kelar, kita buka lembaran baru kalau Lo mau lo bisa bantu gue dapatin hati Jihan" ucap Dwi.
"Oke, tapi sebelumnya lo harus sah dulu sama Jihan gue gak mau sesuatu terjadi" ucap Jovan.
"Iya juga gitu gue gak mau khilaf, rencana gue sama Rey si bareng sama pernikahan Putri lo setuju gak" ucap Dwi.
"Setuju gue, oh ya Jihan pengin banget urusin sebuah pernikahan untuk dia sendiri jadi pas banget" ucap Jovan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like vote dan komennya ya....