Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 170 [pengakuan]


__ADS_3

"Gak bisa jawab kan" ucap Jihan langsung duduk di ruang keluarga bergabung dengan Fero.


"Kenapa lo" tanya Fero.


"Jangan bicara" ucap Jihan ketus membuat Fero mangguk mangguk.


Jihan mengambil cemilan yang ada dintangan Fero dan memakannya membuat Fero hanya menatap. Melihat Jihan yang dandan begitu cantik dan sangat mempesona membuat Fero kadang lupa bahwa sekarang Jihan adalah kakak iparnya.


"Ji kapan lo hamil" tanya Putri bergabung.


"Saat auntynya udah gak gila dan menvoba melenyapkannya lagi" ucap Jihan santai.


Fero memberikan isyarat pada Putri untuk diam saat ini. Dwi berjalan mendekat dan duduk di samping Jihan.


"Ji" ujar Dwi menggenggam erat tangan Jihan.


Dwi mencium pipi Jihan berkali kali membuat Jihan jengah dan mulai mendorong wajah Dwi namun bukannya berhenti Dwi justru semakin menjadi.


"Bisa diem gak si" ujar Jihan langsung menyandarkan kepalanya di pundak Dwi.


"Lagian kamu manyun mulu" ucap Dwi.


"Istri mana yang gak manyun suaminya di pegang pegang cewek lain" ujar Jihan.


"Oh itu masalahnya, gak kapok lo kak" ucap Putri.


"Jangan marahin dia gue yang salah kenapa juga gue harus melihat adegan itu" ucap Jihan.


"Tapi tadi lo bilang lo lagi bahagia" ucap Putri.


"Tadinya gue bhagia banget tp sekarang gak tapi terserah gue dong" ucap Jihan.


Putri hanya menarik nafasnya, Jihan melihat jam menunjukkan sudah jam tujuh malam dia bersiap untuk bangun dan pergi tanpa berpamitan pada Dwi membuat Dwi mengejarnya ke depan mobil Jihan.


"Ji bareng aja" ucap Dwi


"Gak mau" ucap Jihan.


Dwi langsung mendorong Jihan sampai Jihan terbentur pintu mobilnya. Dwi terus memepet Jihan sampai bibir Dwi menempel di bibir Jihan.


Dwi tersenyum sinis lalu mulai bermain di sana, walau Jihan menolak dan mulai memberontak membuat Dwi langsung menarik tengkuk Jihan dan memaksanya.


"Kamu kenapa kalau gak maksa" ujar Jihan mendorong Dwi kuat.


"Kamu yang memaksa saya melakukannya" ucap Dwi.


"Dasar gila" ujar Jihan langsung masuk ke mobilnya dan melajukannya pergi.


"Kenapa si gak bilang aja mas gue hamil gitu kenapa saat di samping dia malah marah" ujar Jihan dalam mobil.


Jihan melajukan mobilnya namun saat berada di tempat tujuan Jihan lupa dengan undangannya. Dia menelfon Kevin sembari menunggu Kevin Jihan bermain ponsel namun karena dia memakai mobil yang di buka atapnya ada seseorang yang mengenalinya.


"Nona Jihan" ujar Riki sang pemilik pesta.


"Ya tuan Riki" ucap Jihan.


"Silahkan masuk" ucap Riki.


"Sebentar tuan saya menunggu seseorang karena saya lupa dengan undangan dan hadiahnya he" ujar Jihan membuat Riki tertawa.


"Tidak perlu undangan masuklah dengan saya, dan hadiahnya kedatangan anda saja sudah hadiah buat saya" ucap Riki.


"Saya harus menunggu seseorang" ucap Jihan.


"Baiklah saya temani anda nona apa kita bisa menyapa dengan akrab" tanya Riki.


"Maksud anda" tanya Jihan.


"Ya seperti anda hanya memanggil saya dengan nama begitupun sebaliknya" ujar Riki.


"Baiklah" ucap Angel.


Lama mereka duduk bersandar di mobil Jihan bersama sampai Kevin datang dan membuat suasana canggung.


"Bos" ujar Kevin.


"Bos" ucap Riki.


"Ini" ucap Kevin memberikan undangan milik Jihan.


"Sendiri" tanya Jihan.


"Sama tuan muda" ucap Kevin.


"Tuan muda Abang Kakak atau" ujar Jihan.


"Yang terakhir he" ucap Kevin tersenyum.


"Mana" tanya Jihan membuat Kevin hanya menunjuk Dwi yang ada di dalam mobil.


Dan tak lama Dwi menghampiri dan menatap Riki tak suka tapi karena bisnis Dwi berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Makanya tungguin" ujar Dwi langsung memberikan hadiah yang Jihan minta.

__ADS_1


"Selamat datang tuan Dwi" ujar Riki menyambut hangat.


Dwi langsung menggandeng Jihan di depan Riki karena tidak ingin mencari masalah Jihan menerima perlakuan Dwi.


"Selamat ulang tahun Tuan" ucap Jihan memberikan kadonya di terima dengan senyuman manis Riki.


"Baiklah semakin dingin di sini silahkan masuk dan nikmati pestanya" ucap Riki membuat Dwi dengan cepat membawa Jihan ke dalam.


Saat di dalam Dwi terus menggandeng Jihan sampai seseorang menarik Dwi dan berbicara padanya. Jihan kesal namun dia tidak ingin terlalu stress dia langsung mencari tempat duduk.


"Hei" ujar seseorang.


"Hai" jawab Jihan.


"Sendiri" tanyanya.


"Gak" ucap Jihan dingin.


"Nona jangan terlalu dingin bukankah masalah kita sudah selesai" ucapnya.


"Maaf tuan saya sedang tidak memikirkan bisnis" ucap Jihan.


"Baiklah, berhati hatilah" ucapnya pergi.


Jihan menunggu dengan kesal karena Dwi tidak kembali dia duduk sendiri sedangkan Kevin sudah pergi entah kemana. Jihan bermain ponsel sampai dia merasa sangat bosan.


"Mending cari tau kehamilan aja" ucap Jihan dalam hati laku mencari menjaga kehamilan dan seoutar kehamilan lainnya di internet.


"Sayang maaf ya" ucap Dwi mencium Jihan.


"Hm" ujar Jihan.


"Serius banget baca apa" ujar Dwi mengintip namun dengan cepat Jihan mematikan layar ponselnya.


"Jangan jangan ada rahasia" ucap Dwi menelisik.


"Emang, udah selesai sama mereka" tanya Jihan.


"Kalau sama mereka gak ada selesainya, tapi kasian kamu disini sendiri" ucap Dwi namun Jihan bersikap biasa saja.


"Yuk gabung aja" ucap Dwi.


"Sini aja duduk capek" ucap Jihan.


"Kamu sakit" tanya Dwi memegang kening Jihan.


"Gak kenapa" ucap Jihan.


"Wajah kamu pucet benget apa perutmu sakit lagi" tanya Dwi.


"Dasar kamu" ucap Dwi mengusap rambut Jihan membuat Jihan menutup matanya membuat Dwi makin bingung.


"Kenapa saya terlalu kasar" tanya Dwi.


"Entahlah" ucap Jihan menyandarkan kepalanya di dada Dwi dengan tangan Dwi yang terus mengusap kepalanya.


"Mau ke dokter gak" tanya Dwi.


"Gak sakit ke dokter buat apa" tanya Jihan.


"Em kita periksa rutin aja" ujar Dwi.


"Bilang aja pengin tau gue hamil apa gak ya kan" ucap Jihan langsung duduk dengan tegap.


Jihan menatap Dwi yang sedang menatapnya dengan senyum manisnya. Tak lama Julio datang dengan terengah engah


"Bos baik baik aja" ucap Julio.


"Ya kenapa" tanya Jihan pelan.


"Tadi ketemu sama Dok" ujar Julio berhenti saat Jihan memberikan isyarat untuk diam.


"Dok dok apa Dokter" tanya Dwi.


"Dokumen, salah maksudnya undangan untuk pemimpin Ayasta kan ada sama saya takutnya si bos gak bisaa masuk kan kasian" ucap Julio.


"Pimpinan Ayasta" tanya Riki.


"Tuan Riki selamat ulang tahun tuan" ucap Julio.


"Terima kasih, tapi apa maksudnya tadi dan kamu datang sendiri di mana bosmu" tanya Riki.


Julio bingung membuat Jihan tersenyum. Sedangkan Dwi menggenggam tangan Jihan sembari melihat wajah panik Julio.


"Dia sudah ada di sini tuan" ucap Julio.


"Beliau" ucap Julio menunjuk Jihan membuat Jihan membungkukkan badannya dan tersenyum.


"Kamu pimpinan Ayasta grup" tanya Riki di angguki Jihan.


"Bukannya kamu Putri dari keluarga Prasaja" ujarnya.


"Semuanya benar tuan" ucap Jihan.

__ADS_1


"Kamu Jihan Ayundia itu" ujarnya di jawab anggukan Jihan.


"Wah gak nyangka gue" ujar Riki terlihat sangat kaget.


"Baiklah kalian sudah saling kenal" ujar Tuan Wibowo.


"Tuan apa kabar" ucap Jihan.


"Saya baik seperti terakhir kita bertemu" ucapnya.


"Seperti janji saya sebelumnya pertemuan selanjutnya saya akan memperkenalkan anak saya" ucapnya.


"Baiklah" ucap Jihan.


"Rik" ujar ayahnya.


"Salam kenal Nona saya Riki Wibowo Putra tunggal sekaligus pewaris tunggal keluarga Wibowo boleh tau siapa anda" ujar Riki mengulurkan tangannya.


"Saya Jihan Ayundia pemilik Ayasta Group" ujar Jihan menyambut uluran tangan Riki.


"Bukannya kemarin berita kamu putri keluarga Prasaja" ucap Riki.


"Ya saya anak ke dua dari keluarga Prasaja tapi marga itu sudah tidak tersemat karena saya sudah mendapat marga keluarga lain jadi saya tidak memperkenalkan dengan marga Prasaja" ujar Jihan.


"Siapa nama barumu nak" tanya tuan Wibowo.


"Saya Jihan Ayundia Dwi Putra istri tuan Dwi Putra suseno pemilik sekaligus pewaris utama keluarga Putra" ujar Jihan membuat Riki melongo dan melepaskan tanggannya dari tangn Jihan sedangkan semua orang yang ada di sana tersenyum


"Saya Dwi Putra Suseno suami dari Jihan Ayundia Dwi Putra" ucap Dwi mengulurkan tangannya di sambut lemas oleh Riki.


"Baiklah selamat menikmati pesta tuan dan Nyonya Putra". Ucap tuan Wibowo membawa anaknya pergi.


"Terima kasih" ucap Dwi memeluk Jihan.


"Kenapa " tanya Jihan.


"Kamu memperkenalkan dengan marga saya" ucap Dwi.


"Ya daripada gak ada yang ngenalin gue sebagai Nyonya Dwi Putra" ucap Jihan membuat Julio tertawa.


"Tuan Nona minum" ucap Seorang pelayan dengan beberapa minuman beralkohol.


"Ji jangan" ujar Julio saat Jihan akan mengambil gelasnya.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Inget perut lo" ucap Julio membuat Jihan sadar dan dengan cepat menaruh bkembali gelas berisi minuman itu.


"Makasih udah ngingetin, sekarang Jul nikmati pestanya" ucap Jihan di angguki Julio dan pergi.


"Dari tadi muter muter tentang perut sebenarnya ada apa Ji" tanya Dwi.


"Makanya jnagan sukanya main sama wanita lain biar tau apa yang terjadi" ucap Jihan berjalan jalan.


"Nona Jihan tidak menyangka bisa ketemu sama anda Nona, saya dengar anda mengurus perusahaan ayah anda di luar kota" tanya Seorang nyonya paruh baya.


"Sama sama Nyonya, ya berita itu benar dan beru kemarin saya pulang bagaiman kabar anda" tanya Jihan.


"Baik, oh ya kenalain dia anak saya Raka Aditya" ucapnya dia adalah seorang nyonya dari keluarga Aditya.


"Salam kenal tuan Raka " ujar Jihan mengukurkan tangannya di sambut dengan baik oleh Raka.


"Mama kenal" tanya Raka.


"Dia itu yang sering mama ceritakan pemilik JiAy itu" ucapnya.


"Bukannya dia putri Prasaja" tanya Raka.


"Benarkah, kalau dia putri dari keluarga Prasaja jdi dia pemilik baru Ayasta Group" ucapnya membuat Raka membulatkan matanya.


"Ayasta" ucap Raka di angguki ibunya.


"Maaf tuan Nyonya saya permisi" ucap Jihan.


"Kalian tidak ingin saling mengenal" ucap nyonya Aditya.


"Sepertinya akan ada yang marah jika saya mencoba mengenalinya lebih jauh Nyonya" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Siapa yang marah dia gak punya pacar, dia single iya kan sayang" ucapnya.


"Bukan dia tapi saya" ucap Jihan membuat Bingung


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya guys...


__ADS_2