Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Bucin


__ADS_3

Mama Fero hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan Jihan di ruang tamu. Setelah cukup beristirahat Jihan keluar dari rumah dengan menggerai setengah rambutnya membuat cat rambutnya terlihat apa lagi dengan dres yang dia pakai membuat banyak orang menatapmya dari jauh.


"Kalian gak capek apa berdiri terus" ujar Jihan kepada para bodyguard nya.


"Tidak nona" ucap salah satu bodyguard.


"Kalian semua sini" ucap Jihan membuat semua bodyguard berkumpul.


Saat semua bodyguardnya berkumpul Jihan langsung duduk di teras dan memberikan intruksi kepada semua bodyguardnya untuk duduk. salah satu dari para bodyguardnya memberikan sebuah jasnya kepada Jihan karena rok yang Jihan pakai terlalu pendek menurut aturan desa membuat Jihan tersenyum.


"Makasih ya" ucap Jihan.


"Iya nona" ucap nya.


"Kalian mau makan apa laper kan" tanya Jihan.


"Apa aja nona kita bisa bergantian cari makan nanti" ucap Nya.


"Wah kebetulan ad tukang bakso lewat semuanya doyan bakso kan" tanya Jihan.


"Suka nona" ucap nya salah satu bodyguard.


"Oh oke, mang bakso mang" ujar Jihan memanggil seorang tukang bakso yang sedang melintas.


Abang bakso tersebut berhenti namun tak mendekat, dia takut karena banyak sekali bodyguard yang mengelilingi Jihan. Jihan tersenyum dan menyuruh seorang bodyguardnya untuk memesan bakso untuk semua bodyguardnya termasuk dirimya.


Saat sedang asik menyantap bakso yang dia pesan bersama anak buahnya tiba tiba Fero datang dan memakan bakso yang ada di tangan Jihan.


"Eh lo ngapain lo" ucap Jihan.


"Laper gue" ucap Fero.


"Dasar lo" ujar Jihan kembali makan.


"Katanya pulang pas gue nikah lah ini pulang kenapa gak bareng aja kemarin" ujar Fero.


"Tadinya gitu tapi gue di suruh buat jadi wakil dari mempelai wanita gila gak si" ucap Jihan.


"Maaf nona anda tidak boleh terlalu dekat dengan tuan muda Fero" ujar salah seorang bodyguard.


"Oh oke, lo anak buahnya siapa Kevin ya" ucap Jihan.


"Iya nona ini perintah langsung dari tuan muda Dwi" ucap nya.


"Mas Dwi yakin lo kan anak buah Kevin bawahan gue kenapa jadi Mas Dwi" ucap Jihan.


"Benar nona ini persyaratan anda selama di desa" ucapnya memberikan selembar kertas kepada Jihan.


Jihan membaca dengan sangat teliti tulisan tersebut. Jihan membulatkan matanya karena semua yang Dwi tulis adalah larangan untuk dekat dengan Fero.


Jihan langsung memberikan mangkuk baksonya kepada Fero dan menghubungi Dwi. Saat panhgilan tersambung dengan Dwi Jihan tiba tiba banyak orang datang mendekati Jihan.


"Ji" ujar salah seorang.


"Hai kenapa" tanya Jihan.


"Kita mau latihan buat pelepasan kelas kita nanti mau ikut gak" tanya Nisa karena yang datang ke rumah Jihn adalah teman temannya di SMA.


"Maaf ya gue lagi banyak orang gak enak di tinggal" ucap Jihan.


"Iya Nis lo.mah aneh lagian dia baru sampai sini lagi kali" ucap Hana.


"Jadi lo yang tadi di kawal banyak banget orang gue kira siapa lo sebenarnya siapa si Ji" tanya Niko teman sekelas Jihan.


"Gue Jihan yang kalian semua kenal gue bukan siapa siapa untuk lebih jelasnya nanti pas waktunya tepat kita akan bicara siapa kita sebenarnya" ucap Jihan.


"Kita maksud lo" tanya Nisa.


"Dia sama gue" ucap Fero.


"Oh oke kita tunggu sampai waktu itu tiba" ucap Hana.


"Guys kita pergi yuk" ucap Mona menyuruh semua teman temannya pergi dari rumah Jihan.


Setelah semua teman temannya pergi Jihan kembali melanjutkan panggilan telfonnya yang ternyata Dwi masih setia menunggu panggilan Jihan.


"Hai Ji" ujar Dwi.

__ADS_1


"Eh iya udah masuk ternyata" ucap Jihan.


"Udah dari tadi" ucap Dwi.


"Mas kenapa pakai syarat si gue keluar dari kota tau gitu gue di situ aja deket sama lo biar gak harus ada syaratnya, kita kan gak ada perjanjian kayak gitu kenapa tega banget si gak cukup apa kasih mata mata di mana mana kamu juga gak boleh deket sama Clarissa" ucap Jihan dengan nada kesal.


"Iya iya sayang maaf, soalnya takut kamu ke lain hati" ucap Dwi lembut.


"Ya gak lah, Jihan gak kayak kamu mas kalau bosen ganti, dan lagi kenapa gak kirim pasukan aja buat jaga Jihan" ucap Jihan ikut melembut.


"Iya maafin mas ya, ya udah suruh semua anak buat Kevin pulang mas gak kirim pasukan karena mas percaya sama kamu" ucap Dwi.


"Percaya tapi kirim mata mata tarik semua anak buah kamu atau gue hancurin pernikahan putri" ucap Jihan.


"Cie ngambek, iya iya mas suruh pulang semuanya kamu udah makan" tanya Dwi.


"Udah" ucap Jihan singkat.


"Singkat amat neng" ucap Dwi.


"Kalau gak ada yang penting lagi matiin aja mau istirahat gue" ucap Jihan malas.


"Ya di kerasin dulu suaranya biar gue langsung yang suruh mereka semua pulang" ucap Dwi.


Jihan mengikuti arah Dwi untuk mengeraskan suara ponselnya. Dwi memberikan perintah untuk merobek syarat Jihan berada di desa dan juga menyuruh semua pengawal yang Kevin maupun Zira kirim untuk pulang.


"Nona kami pamit jika ada sesuatu segera hubungi kami" ucap para bodyguard.


"Oke makasih ya semuanya, hati hati di jalan" ucap Jihan ramah sembari tersenyum lebar membuat beberapa bodyguard terpesona.


"Udah terpesonanya" ucap Fero.


"Maaf maaf tuan muda" ucapnya kemudian pergi.


"Mang udah di bayar belum" tanya Jihan.


"Belum neng" ucap tukang bakso.


"Berapa semuanya" tanya Jihan.


"Saya borong deh bang tapi anter ke SMA ya kasih aja semuanya ke teman teman saya di sana" ucap Jihan.


"Wah terima kasih neng terima kasih" ucap nya.


"Segini cukup" tanya Jihan memberikan uang satu juta kepada tukang bakso.


"Lebih dari cukup neng terima kasih" ucapnya pergi.


"Kemana semua orang tante udah siapin di ruang makan tau" ucap Mam Fero.


"Udah pulang semua tante, biar nanti Jihan yang habiskan" ucap Jihan.


"Oke, tante pamit dulu ya kalian lanjutkan" ucap mama Fero.


"Iya tante makasih ya tante" ucap Jihan.


"Iya" ucap nya pergi.


"Ji maafin gue gue gak ada maksud buat rahasiain pernikahan gue sama Putri" ucap Fero.


"Iya gak apa apa lagi, seharusnya gue yang minta maaf gue buat lo sakit" ucap Jihan.


"Hm" ujar Fero.


"Oh ya Ta gue mau istirahat nih lo boleh pulang tapi maaf ya gak maksud mau ngusir lo tapi" ucapan Jihan terhenti.


"Gue tau kok lo pasti capek ya udah lo istirahat ya maaf udah tunda waktu istirahat lo" ucap Fero.


"Oke, sekali lagi maaf ya Ta" ucap Jihan tersenyum.


"Gue tau Ji lo.lagi menjaga hati orang lain" ujar Fero dalam hati.


Fero melambaikan tangannya pergi di balas lambaian tangan Jihan. Setelah rumah benar benar sepi Jihan masuk ke dalam rumahnya. Jihan menghamburkan dirinya di atas kasur empuk yang sangat dia rindukan.


"Ji gue tau lo udah masuk rumah kenapa gak bicara lagi si" ujar Dwi.


Jihan mencari asal suara tersebut. Saat Jihan membuka ponselnya ternyata Dwi masih dalam sambungan membuat Jihan membulatkan matanya.

__ADS_1


"Baru beberapa jam udah lupa sama mas" ucap Dwi.


"Karena lo menyebalkan" ucap Jihan


"Bilang menyebalkan awas nanti ketagihan" ucap Dwi.


"Serah lo" ucap Jihan.


"Ji jangan pakai lo.gue ngapa Ji" ucap Dwi.


"Maaf, Jihan mau istirahat nih udah dulu ya" ucap Jihan.


"Bentar dong sayang masih rindu nih" ucap Dwi.


"Kalau rimdu ngapain suruh Jihan jauh jauh" ucap Jihan.


"Emang kamu gak rindu apa" tanya Dwi.


"Gak" ucap Jihan.


"Jahat kamu Honey, padahal mas rindu berat" ucap Dwi lebay.


"Berat pikul.aja kan jadi ringan udah lah Jihan mau istirahat kamu selesaikan kerja jangan buat masalah di kantor Jihan cepet ke sini" ucap Jihan.


"Ternyata ada yang rindu juga tapi malu ungkapin nya" ucap Dwi.


"Mana ada udah ya" ucap Jihan.


"Sebentar dong sayang, mas rindu candumu" ucap Dwi.


"Maksudnya" tanya Jihan polos.


"Vidio call dong biar jelas" ucap Dwi.


"Gak mau nanti aja nih mau bersih beraih dulu" ucap Jihan.


"Ya deh, see you tumorrow Honey" ucap Dwi dengan penuh kelembutan membuat Jihan senyum senyum sendiri.


"Jangan senyum senyum sendiri" ucap Dwi.


"Kata siapa" ujar Jihan mengelak.


"Kata mas dong kan jelas benget di hati mas saat kamu tersebyum" ucao Dwi.


"Bucin" ujar Rey dan Kevin bersama membuat Jihan tertawa.


"Udah tuh dengerin gak malu apa" ucap Jihan.


"Udah ya bye" ucap Jihan mematikan sambungan telfonnya.


"Kenapa gue seneng ya di telfon dia, rasa apa ini tuhan" ujar Jihan kepada dirinya sendiri sembari memegang dadanya yang berdetak lebih kencang.


Di lain tempat Dwi sedang menatap tajam ke dua orang yang membuat sambungan telfonnya mati. Rey dan Kevin seolah tak melihat apa yang sedang Dwi lakukan mereka serius bekerja walaupun harus menahan rasa geli hatinya.


Dwi yang tak tahan di acuhkan ke dua anak buahnya tersebut pergi meninggalkan gedung perusahaan Jihan dengan menggunakan taxi online yang sengaja dia pesan.


Dwi pergi ke apartemen Jihan, dia dengan mudah masuk karena Jihan memberikan kartu nya kepada Dwi saat dia tak berdaya. Dwi masuk ke kamar Jihan lalu membersihkan diri.


.


.


.


.


.


.


.


***Jangan lupa like vote dan komentarnya ya....


Buat yang udah mampir dan dukung Author selama ini Terima kasih maaf belum sempat mampir ke novel kalian....


Salam manis Aithor***.....

__ADS_1


__ADS_2