
"Kak Jihan" teriak dari beberapa adik kelas Jihan.
"Go go kak Jihan" teriakan semakin riuh saat pertandingan hampir berakhir.
Dwi yang penasaran dengan semua orang yang meneriaki Jihan ikut bergabung dan melihat Jihan yang sedang bertanding. Dwi tersenyum pasalnya Jihan terlihat sangat bersemangat namun tiba tiba Jihan terjatuh dan kakinya terkilir membuat permainan berakhir.
"Jihan" ujar Dwi hendak mengejar Jihan namun iya urungkan.
Dwi melihat Jihan di kerumuni teman temannya membuatnya sedikit lega karena banyak yang peduli dengannya, Dwi melihat tangan Jihan mengeluarkan darah namun Jihan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun membuat Dwi tersenyum.
"Ji lo baik baik aja" tanya Mona.
"Gue baik, cuma terkilir dong" ucap Jihan tersenyum.
"Lo sakit masih aja sempet senyum" ujar Hana.
"Gue yang sakit lo yang panik" ledek Jihan.
"Gimana gak panik lo kan sabahat kita, ya udah kalau lo gak apa apa kita ke kantin yuk makan" ucap Nisa.
"Ya ayok, gue juga laper belum sarapan tadi pagi" ucap Jihan berjalan lebih dulu seolah dia adalah orang paling sehat.
Saat sampai di kantin Jihan dan teman temannya memesan makanan saat menunggu makanannya datang Jihan melihat Dwi yang masuk kantin membuatnya penasaran apa yang di lakukannya sembari berdiri. Saat berada tepat di sampingnya Dwi memberikan sebuah surat di tangan Jihan sembari terus berjalan membuat Jihan bingung.
"Ji lo baik" tanya Nisa.
"Gue baik" ucap Jihan kembali duduk.
"Lo liat apa si Ji" tanya Nisa melihat ke arah yang Jihan lihat.
"Gak liat malaikat lewat" ucap Jihan asal.
Hana dan Mona yang tau tadi Dwi yang lewat hanya tersenyum sembari berbisik satu sama lain membuat Jihan memajukan bibirnya sedangkan Nisa mengambil pesanan makannya.
"Ji tuh malaikat ganteng ya sampai gak kedip" ledek Mona.
"Lo apaan si" ucap Jihan membaca pesan dari Dwi.
"Setelah makan pergilah ke UKS untuk mengobati luka, pergi atau aku lakukan di sini" tulisnya.
"Apaan sih main ancam aja" cibir Jihan.
"Lo ngomong apa Ji" tanya Mona.
"Apa lagi Mon kalau gak lagi puji makaikatnya" ledek Hana.
"Diam lo berdua" ucap Jihan.
"Eh kak Dwi ya" sapa Nisa.
"Iya, siapa ya" ucap Dwi.
"Oh ya lupa, gue Nisa temannya Jihan" ucap Nisa.
"Oh" ucap Dwi singkat.
"Eh kak Dwi yuk duduk bareng kita" ucap Nisa.
"Iya terima kasih" ucap Dwi mengikuti Nisa.
Mona dan Hana yang melihat Dwi berjalan ke arahnya dengan Nisa di sampingnya membuat mereka tau apa yang akan terjadi dengan spontan mereka berpindah tempat membuat Jihan bingung.
"Hai semua boleh gabung" tanya Dwi lembut.
"Boleh Kak silahkan duduk di sini aja" ucap Mona menunjuk bangku di sampingnya tepat di depan Jihan.
"Terima kasih" ucap Dwi.
Jihan belum menyadari keberadaan Dwi hanya serius membersihkan luka di tanyannya dengan tisu. Saat Nisa memberikan makannya Jihan kemudian makan dengan lahap membuat Dwi tersenyum.
"Hai Ji" sapa Mona
"Hai" ucap Jihan mendongakkan kepalanya ke depan dengan tidak sengaja Jihan menatap Dwi karena Dwi juga sedang menatapnya.
"Loh, kok disini " ucap Jihan.
"Iya mau makan soalnya" ucap Dwi.
"Oh, ya udah makan aja" ucap Jihan langsung kembali memakan makanannya.
"Pelan pelan kali Ji kita gak bakal minta juga" ucap Hana.
"Diem lo" ucap Jihan menyelesaikan makannya.
"Gimana sakit gak" tanya Dwi kepada Jihan.
__ADS_1
"Apa" tanya Jihan.
"Tuh tangan sama kakinya" ucap Dwi sembari makan.
"Oh gak, cuma luka dikit gue gak secemen itu" ucap Jihan mengambil minuman Dwi.
"Bagus lah, gue kira tadi lo nangis" ledek Dwi.
"Pengin banget liat gue nangis" cibir Jihan.
"Gak" ucap Dwi tersenyum karena minumannya di minum Jihan.
Hana dan Mona hanya tersenyum melihat pertengkaran mereka. Berbeda dengan Nisa yang merasa cemburu dengan kedekatan Jihan dan Dwi.
"Ji udah mau masuk nih, yuk ganti baju" ajak Nisa yang bahkan belum menyentuh makannya.
"Tapi makanan lo belum abis Nis" ucap Jihan.
"Udah lah, gue udah kenyang lagian sebentar lagi kita pelajaran bahasa Inggris kita gak tau siapa yang ganti buat ngajar takut galak" ucap Nisa.
"Oh oke" ucap Jihan.
Saat Jihan hendak pergi Nisa berjalan cepat di depan Jihan membuat Jihan Mona dan Hana bingung. Jihan berjalan dengan pelan membuat Dwi hendak membantunya namun iya urungkan saat ke dua sahabatnya membantu Jihan.
"Eh ada pak Dwi ganteng" ucap adik kelas Jihan.
"Pak" ucap Jihan penasaran.
"Iya pak Dwi ganteng" ucap adik kelas Jihan senyum senyum.
"Setua itukah kau" ledek Jihan namun Dwi hanya tersenyum.
"Kau akan tau apa artinya" ucap Dwi tersenyum.
Jihan tidak mengindahkan omongan Dwi, Jihan melanjutkan jalannya untuk mengganti pakaian menyusul Nisa. setelah selesai menggantin pakaian Jihan izin untuk ke UKS pada teman temannya untuk mengambil obat merah.
Semua temannya meng iyakan lalu temannya meninggalkan Jihan sendiri. Jihan masuk ke dalam UKS sembari tertatih karena memang kakinya sangat sakit saat hendak memgambil obat Jihan di kagetkan dengan Dwi yang berada di UKS juga.
"Sampai juga, kirain lupa" ucap Dwi.
"Gak lupa cuma gue jalan gak sampai sampai" ucap Jihan meringis kesakitan.
"Sini duduk" ucap Dwi memberikan kursi untuk Jihan Duduk.
"Makasih, bisa ambilin kotak itu" ucap Jihan.
Namun dengan cepat Dwi mengmbil alih obatnya dan membersihkan luka Jihan lalu membalutnya. Setelah selesai Dwi mengangkat kaki Jihan ke atas pahanya dan memeriksa Kaki Jihan.
"Eh. ... turunin gak apa apa" ucap Jihan kaget.
"Biar gue liat, bengkak gini biar gue obati dulu" ucap Dwi santai.
Dengan telaten Dwi mengobati kaki Jihan yang terkilir lalu membalutnya dengan perban agar mengurangi rasa sakitnya.
"Sudah apa kamu bisa berdiri" tanya Dwi.
"Makasih, eh ngomong ngomong kenapa kamu di sini" tanya Jihan.
"Kamu akan tau jawabannya sebentar lagi" ucap Dwi.
"Biasaaan kalau di tanya gak jawab, ya udah gue pergi" ucap Jihan berlalu.
Namun baru dua langkah Dwi menarik tangan Jihan membuat Jihan hilang keseimbangan dan terjatuh di pelukan Dwi. Dwi tersenyum lalu mencium bibir Jihan membuat Jihan membelalakkan matanya kaget Dwi lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan Jihan berdiri dengan keterkejutannya.
"Manis, lain kali kalau main hati hati" ucap Dwi berbisik.
Jihan tersadar dengan ucapan Dwi lalu menatap Dwi tajam yang di sambut senyuman manis Dwi membuat Jihan semakin kesal kepada Dwi.
"Lancang lo" ucap Jihan marah.
"Gak, lo hak gue" ucap Dwi.
"Udahlah" ucap Jihan berlalu.
Dwi yang melihat Jihan pergi sembari mengelap elap bibirnya keras dengan tisu membuatnya semakin ingin menjahilinya.
"Lama banget lo Ji untung gurunya belum masuk" ucap Hana.
"Iya lo tau kaki gue sakit" ucap Jihan.
"Iya, terus itu kenapa bibir merah bener" tanya Mona.
"Atau jangan jangan lo abis..." ujar Nisa.
"Jaga mulut lo, gue gak se brengsek itu" ucap Jihan marah.
__ADS_1
"Ya santai aja kali kalau emang gak" ucap Nisa.
Jihan yang hendak membalas omongan Nisa di hentikan Hana dan Mona karena Dwi masuk kelas. Jihan yang melihat Dwi masuk ke kelas membuat Jihan kembali memajukan bibirnya.
"Kak Dwi" teriak beberapa anak perempuan.
"Siang semuanya" sapa Dwi.
"Siang" jawab semua murid termasuk Jihan.
"Baiklah sebelumnya perkenalkan nama saya Dwi putra pengajar sementara mungkin sudah banyak yang mengenal saja jadi cukup sekian perkenalannya apa ada yang ingin di tanyakan" ucap Dwi.
"Oh ini jawabannya ternyata dia pak guru" ucap Jihan lirih.
"Ada kak" ucap Nisa semangat.
"Ya silahkan" ucap Dwi ramah.
"Apa kaka udah punya pacar" tanya Nisa.
"Pacar saya tidak punya, tapi saya sudah menikah" ucap Dwi santai.
"Dengan berani lo mengakui pernikahan padahal umur lo masih sangat muda" ujar Jihan dalam hati.
"Yah.... hancur harapn gue" ucap Nisa sedih membuat ke tiga sahabatnya tersenyum.
"Ada pertanyaan lagi" ucap Dwi.
"Berapa umur Kaka" tanya Nisa lagi.
"Umur saya dua puluh satu tahun" ucap Dwi.
"Masih muda banget udah nikah kecelakaan ya kak" ujar Nisa.
"Jaga mulut lo deh Nis, gak semua yang nikah muda tuh kecelakaan" ucap Jihan keras.
"Kenapa lo yang marah" ucap Nisa.
"Ya karena gue gak mau paham seperti itu terus di anut lah" ujar Jihan.
"Kalian sudahlah, kita langsung masuk pelajaran aja" ucap Dwi melerai.
Dwi mengajar dengan sangat baik, dengan sangat sabar dan telaten karena Dwi tau kalau Jihan tidak ahli di pelajaran tersebut. Dwi terus saja memperhatikan Jihan dari belakang Jihan yang sedang serius membuatnya semakin manis menutut Dwi.
"Mon yang ini gimana si gue pusing" tanya Jihan pada Mona saat mengerjakan beberapa pertanyaan yang Dwi berikan.
"Nanti Ji, gue juga pusing" ucap Mona.
"Pak ini gimana saya pusing" teriak Jihan.
Dwi yang mendengar teriakan Jihan kemudian menghampiri Jihan dengan senyuman manis. Jihan terus saja berfikir cara untuk menyelesaikan tugasnya namun tidak bisa. Dwi dengan sabar mengajari Jihan bagaimana cara untuk menjawab semua pertanyaan yang dia berikan seketika Jihan tersenyum.
"Udah bisa" tanya Dwi lembut.
"Gak" ucap Jihan senyum tanpa dosa.
Dwi tersenyum mendengar jawaban Jihan yang sangat polos. Dwi meninggalkan Jihan tapi sebelumnya menulis sesuatu di buku Jihan.
"Kita lanjut nanti di rumah aja, kalau di sini waktunya gak cukup siapin diri aku gak akan kasih ampun belajar yang rajin manis" tulisnya tak lupa dengan emotikon tersenyum membuat Jihan bergidik.
"Ngapa lo Ji" tanya Mona yang duduk bersama Jihan.
"Nih gue minta di ajarin malah ini" ucap Jihan menunjukkan catatan Dwi.
"Wah sosweet" ledek Mona.
"Sosweet apa nya bakal menderita gue belum lagi kalau ada Abang dia gak main main hilangin semua sifat baiknya" bisik Jihan.
"Hahaha.... nikmati lah" ucap Mona.
"Pasti" ucap Jihan kesal.
Jihan dan Mona terus bercanda sembari mengerjakan tugasnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komennya ya...