Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 137


__ADS_3

Malam makin larut namun Dwi masih belum bisa memejamkan matanya. Dia melihat Jihan sepanjang malam sembari terus memeluknya. Dia juga mendnegar kamar sebelah dengan suara suara gila.


"Sialan gak tau gue lagi puasa atau sengaja si" ujar Dwi lirih.


"Kenapa gak tidur" ucap Jihan membuat Dwi terdsentak.


"Sayang belum tidur ya" ujar Dwi.


"Udah tapi kamu gangguin ih" ujar Jihan manja.


"Sayang boleh tanya gak" ujar Dwi.


"Tanya aja, pasti ganggu pikiran kamu ya" ujar Jihan menatap Dwi.


"Gini aku tau kamu sama Fero ya walau gak lebih dari teman atau adik kakak tapi kamu pasti punya rasa sama dia aku tau karena dua orang berlainan jenis bersahabat salah satunya oasti punya rasa entah kamu atau dia jujur sebenarnya gimana perasaan kamu sama dia" ucap Dwi.


"Itu lagi bukannya tadi siang udah jelas" ucap Jihan.


"Ya siapa tau itu bohong biar dia bisa lupain lo sekarang jujur sama mas" ucap Dwi membuat Jihan menarik nafas panjang sembari memajukan bibirnya.


"Oke gue jawab jujur, gue sayang sama dia lebih dari seorang adik ke kakaknya dan suka sama dia lebih dari seorang teman tapi sepertinya perasaan kamu buat gue, buat rasa yang ada ke kamu itu lebih besar oke jujur gue gak terima pernikahan ini gak terima semua ini tapi gue mulai menyukaimu" ujar Jihan.


"Kamu yakin" tanya Dwi memastikan.


"Belum yakin seutuhnya, tapi semua yang kamu lakukan sulit untuk di lupakan" ucap Jihan.


"Bagaimana dengan semua yang aku lakukan itu kesalahan" tanya Dwi.


"Iya semua yang kamu lakukan salah tapi gak tau kenapa terus terlintas di kepala Jihan sulit untuk di lupakan, bahkan saat teringat sering ketawa sendiri kayak orang gila" ujar Jihan.


"Jadi kamu mencintaiku" tanya Dwi lagi.


"Maaf gue gak tau apa itu cinta karena yang gue tau apapun yang menjadi milik gue maka gak akan biarin orang lain mengambilnya termasuk kamu" ujar Jihan.


"Kamu tau apa yang gue lakuin ke keluarga Klara, mau tau alasannya kan mungkin itu yang buqt kamu gak bisa tidur" ujar Jihan di angguki Dwi.


"Keluarganya buat masalah sama gue mereka bohongin gue jadi gur buat mereka bangkrut dan kalau Klara gue buat Gila karena apa karena gue gak rela saat dia mendekatimu" ucap Jihan pasti.


"Jadi kamu cemburu" ucap Dwi.


"Gak cuma mempertahankan hak" ujar Jihan.


"Sama dong sayang bilang aja cemburu gitu" ucap Dwi penuh tawa.


"Iya Jihan cemburu sayang, takut duit kamu ke dia bukan gue" ujar Jihan tertawa.


"Ih kamu gemes" ucap Dwi menggelitiki Jihan.


"Oke oke udah ngantuk nih" ucap Jihan.


"Bilang sayang dulu" ucap Dwi.


"Sayang gue ngantuk oke, lagian udah malam takut buat yang lain denger" ujar Jihan.


"Tenang aja udah aktivin mode kedap suara kok" ujar Dwi.


"Oh ya udah tidur gih besok kerja hasilin uang yang banyak" ucap Jihan.


"Iya iya Nyonya Dwi, tidurlah tapi kiss dulu" ucap Dwi.


"Udah kebanyakan kiss hari ini takut overdosis" ucap Jihan.


"Biarin aja please satu aja" ucap Dwi.


"Gak mau mau tidur" ucap Jihan langsung tidur dengan membelakangi Dwi.


Dwi justru memeluk Jihan dari belakang dan melancarkan aksinya. Dia membuat tanda kepemilikannya di leher Jihan membuat Jihan membalikkan badannya.


"Izzz nyebelin" ucap Jihan tidak di indahkan oleh Dwi dia justru berganti posisi dan mengunci ke dua tangan dan kaki Jihan.


"Mau ngapain" ujar Jihan.


"Gak ngapa ngapain" ujar Dwi tersenyum penuh teka teki.

__ADS_1


"Udah ah tidur" ucap Jihan itu justru membuat gairah Dwi.


Bukannya kembali tidur Dwi justru bermain di bi**r Jihan sampai Jihan kewalahan. Dia juga membuat tanda merah di leher Jihan cukup banyak membuat suara suara yang sedari tadi di tahan Jihan keluar.


"Suara kamu buatku candu" ucap Dwi.


"Mas puasa" ujar Jihan mendorong Dwi dengan sekuat tenaga saat Dwi mulai menyibak bajunya.


"Tau cuma main atas doang sayang" ujar Dwi dengan nada menggoda.


"Mas em...." ucap Jihan tertahan saat bi**r Dwi sudah mendarat di salah satu gunung kembarnya.


"Sayang aku gak bisa menahannya bantu aku ya" ujar Dwi.


"Lagian kamu si" ujar Jihan manyun.


"Kamu terlalu menggoda" ujar Dwi.


"Main solo karir deh" ujar Jihan.


"Kamu tega" ujar Dwi.


"Terus gimana kan masih lama buka puasanya" ujar Jihan.


"Yang please" ucap Dwi memohon.


"Oke Jihan bantu tapi gak bisa langsung" ujar Jihan.


"Maksudnya" tanya Dwi aneh


"Jihan bantu ra***ang aja, pake cara Jihan kamu main sendiri" ujar Jihan.


"Ah mending sendiri aja" ujar Dwi berlari ke kamar


Jihan hanya tertawa kemudian merapikan kembali bajunya. Dia kembali merebahkan tubuhnya dan mulai terlelap.


"Udah tidur capek banget ya" ujar Dwi saat keluar dari kamar mandi dengan menyibak anak rambut di wajah Jihan.


"Iz kenapa gue berdebar" ujar Jihan karena sebenarnya dia juga belum tidur.


.


.


Pagi menjelang membuat Jihan mengerjap ngerjapkan matanya. Dia melihat Dwi yang tidur masih dalam posisinya semalam membuat Jihan sulit bangun.


"Kenapa berat banget si dia banykan dosa kali y" ujar Jihan lirih sembari menyingkirkan tangan dan tubuh Dwi darinya.


Jihan pergi untuk mebersihkan diri, setelah itu dia mempersiapkan semuanya karena dia akan pergi ke desa entah sampai kapan di sana.


"Sayang" ujar Dwi lembut membuat senyuman tipis di wajah Jihan.


"Kok bawa koper segala si berapa lama" ujar Dwi manja.


"Gak tau, kalau hari ini juga bisa selesai langsung pulang kok" ucap Jihan menutup kopernya.


"Tapi yang, beneran gak mau di temenin" ujar Dwi bergelanyut manja di lengan Jihan.


"Gak Jihan pergi sendiri aja" ujar Jihan dingin.


"Mandi gih udah siang tau" ucap Jihan dengan nada memerintah keras.


"Ya ya" ucap Dwi manyun.


Dwi pergi membersihkan diri sedangkan Jihan sibuk membawa barang barang yang ingin dia bawa ke mobil. Semua anggota keluarga hanya menatap tanpa bertanya banyak kemungkinan yang terjadi namun mereka tidak ingin campuri urusan Jihan.


Jihan pergi sarapan terlebih dahulu setelah di surih Dwi karena perut Jihan terus saja membuat banyak melodi. Dengan wajah merah karena malu Jihan mengiyakan meninggalkan Dwi yang sedang berganti pakaian.


"Kenapa kalian liat Jihan kayak gitu" ujar Jihan saat baru bergabung dengan semua anggota keluarga di meja makan.


"Kamu gak mau kabur kan Ay" tanya Fero


"Kabur buat apa, pas di nikahin aja gak kabur " ujar Jihan

__ADS_1


"Terus itu" tanya Fero.


"Oh itu, gini tadi malam Cika telfon udah malam banget katanya ada masalah di desa bukan mau kabur" ujar Jihan sembari membuat sandwich


"Oh gitu kirain" ucap Fero


"Pagi sayang" ujar Dwi sembari mencium pipi Jihan.


"Hm" ujar Jihan acuh sembari makan sandwich yang dia buat namun tiba tiba Dwi ikut menggigitnya saat Jihan menggigit sandwich itu membuat ke suanya sangat dekat sekarang.


"Gue harus belajar relain lo Ay" ujar Fero dalam hati yang terasa sangat sesak di dada.


Namun semua anggota yang lain justru berbahagia.


"Eh kok yah" ujar Jihan setelah menelan sandwichnya.


"Kenapa mau marah" ujar Dwi oenuh tekanan.


"Gak, marah juga percumah tapi kenapa harus ini si" ucap Jihan dingin.


"Karena makanan yang kamu buat lebih enak" ucap Dwi.


Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya sembari menggigit sandwichnya kejadian tadi oun terulang membuat Jihan kesal dan menanggalkan sandwich itu di piringnya.


"Ji berapa lama di sana" tanya Dani.


"Gak tau kak, semoga aja masalahnya cepet selesai" ucap Jihan hangat.


"Mau kakak temenin" tanya Dani.


"Gak kak nanti kalau ada apa apa Jihan hubungi, biar bisa urus yang di sini juga" ucap Jihan.


"Kamu terlalu tangguh untuk hal ini" ujar Jovan.


"Seorang wanita tangguh itu karena terlalu banyak guncangan yang menerpa jadi jangan salahkan Jihan jika Jihan dingin untuk orang baru" ucap Jihan sebagai tekanan untuk Dwi.


"Sayang suapin" ucap Dwi.


"Gak mau makan sendiri udah punya gue di makan punya sendiri di makan nyidam lo" ujar Jihan membuat Dwi manyun karena Jihan memakai lo gue.


Jihan yang sadar akan perbuatannya langsung mengerjap erjapkan matanya dan segera pamit untuk pergi karena dia tau apa yang akan Dwi lakukan padanya.


Di susul Dwi yang juga berpamitan untuk mengambil jasnya yang ada di kamar. Namun saat berpapasan dengan Jihan ternyata Jihan sudah membawakan jas kerja Dwi. Dwi menatap Jihan tatapan elang lalu mendorong Jihan ke dinding sampai Jihan tak bisa berkutik.


"Mau apa" ujar Jihan gugup.


"Bukankah kamu membuat kesalahan" ujar dwi dengan tatapan tajam.


"Nih orang kalau lagi jadi monster menakutkan juga ya" cibir Jihan dalam hati.


Dwi menaruh tangannya mengunci posisi Jihan yang tebentur tembok. Dwi memajukan kepalanya sampai detak jantung mereka terdeengar menjadi musik yang sangat indah.


Dwi tidak memperdulikan posisinya karena posisinya baru sampai di samping tangga membuat semua orang bisa menyaksikan tingkahnya kepada Jihan.


Dwi menci*m bi**r Jihan yang ranum dengan sangan lembut. Jihan hanya bisa menerima tanpa membalas karena dia masih juga belum terbiasa dengan tindakan Dwi ini walau dia tau Dwi akan melakukan ini tapi dia masih saja membatu saat Dwi melakukannya.


"Em mas" ujar Jihan berusaha melepaskan diri namun tidak bisa.


Sampai Jihan kehabisan nafas dan menepuk dada Dwi dengan tangannya. Dwi melepaskannya begitu saja membuat Jihan mengambil oksigen sebanyak mungkin.


"Kenapa siapa suruh gak nafas" ujar Dwi pemuh kemenangan.


Jihan hanya menatap Dwi tak suka. Dia langsung menarik tangan Dwi dan memberikan jasnya dan pergi.


"Gimana mau ambil nafas di sentuh aja udah beku gue" ujar Jihan dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus ya guys....


Kalau ada pemdapat silahkan komentar... tapi jangan jatuhkan ya author baru bisa bangkit soalnya...🤭


__ADS_2