Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 174


__ADS_3

Nisa Hana Mona langsung mempersiapkan diri membuat Jihan tersenyum. Walaupun nilai academi mereka di bawah rata rata namun soal seni mereka luar biasa karena itulah Jihan percaya dengan mereka.


"Temanya apa nih bos" tanya Nisa.


"Queen" ucap Riko.


"Boleh juga Queen yang teraniyaya" ucap Jihan tertawa.


"Sama kayak lo" ucap Raka.


"Kak Raka udah makan" tanya Jihan.


"Udah makasih ya" ucapnya di balas senyuman manis di balik masker.


Jihan langsung mengambil posisi begitupun Nisa Hana dan Mona mereka mencampur warna sesuai keinginannmereka sedangkan Jihan sudah menuangkan krim di atas kueh dengan berbagai warna.


Karena jam makan siang selesai dan para tuan muda sudah kembali ke tempatnya lagi membuat cafe agak sepi sehingga konsentrasi mereka tidak terpecah.


Jihan mulai menggoreskan aneka spluit untuk menghias kuehnya membuat para kariawannya terpesona dengan kecantikan kueh itu.


"Nak tolong makan malamnya sekalian ya" ujar ibu paruh baya itu kembali.


"Kenapa gak ada yang mau ya bu" tanya Jihan.


"Gak ada yang sanggup nak, gini aja gak perlu di paket yang penting ada makanan untuk nanti malam" ucapnya.


"Guys, tutup cafe kita tolong ibu ini waktu masih ada empat jam kita buat semaksimal mungkin" ucap Jihan di angguki semua kariawannya.


"Mona Hana Nisa kalian bantu yang lain aja biar saya yang selesaikan" ucap Jihan di angguki ke tiga sahabatnya.


Mereka semua langsung mengambil posisi masing masing. Pekerjaan mereka sangat di utamakan mereka bahkan tidak merespom dengan banyaknya pelanggan yang akan masuk.


"Maaf Kak kamu tidak menerima tamu" ucap Jihan sembari menghias kuehnya.


"Tau makanya masuk" ucapnya membuat Jihan menatapnya.


"Lo kok kesini udah banyak uang yang lo hasilkan hari ini" ujar Jihan.


"Udah liat aja rekening kamu" ucap Dwi.


"Terus mau ngapain ke sini" tanya Jihan sembari melanjutkan kerjanya.


"Mau liatin istri yang cantik" ucap Dwi berjalan ke arah Jihan dan memeluknya dari belakang.


"Lepasin gak liat apa lagi sibuk" ujar Jihan.


"Liat dan tau tapi pengin peluk" ucap Dwi mengeratkan pelukannya.


"Geli tau, kalau mau peluk peluk aja" ucap Jihan saat Dwi mencium telinganya.


"Iya iya tapi jangan marah lagi" ucap Dwi.


"Kalau kamu gini terus gue marah nih tinggal tiga jam lagi tau" ucap Jihan.


"Tapi itu kan udah cantik kayak yang buat" ucap Dwi.


Jihan tidak menjawab hanya melanjutkan kerja. Dwi melepaskannya saat tatapan Jihan sudah mengerikan. Dwi hanya menemani Jihan dengan duduk dan menatap Jihan selama Jihan bekerja.


"Ji kamu tau tanggal berapa sekarang" tanya Dwi.


"Tau" ucap Jihan singkat.


"Bulan berapa" tanya Dwi.


"Tau, dua hari lagi tepat umur pernikahan satu tahun di saat itu juga akan jelas hubungan kita" ucap Jihan.


"Apa gak bisa kita perpanjang sampai gue bener bener bisa buat lo cinta sama gue Ji" tanya Dwi.


"Udah berapa kesempatan yang kamu sia siakan" tanya Jihan.


"Ya gue tau tapi gue gak bisa jauh dari lo" ujar Dwi.


"Benarkah lalu bagaimana dengan sebulan tanpa gue" ucap Jihan.


"Tersiksa" ucap Dwi.


"Gue gak peduli sekarang yang gue pedulikan cuma fue gak boleh stress gue happy dan biarkan dia hidup dengan bahagia" ucap Jihan kembali membuat Dwi berfikir.


"Dari kemarin kamu menghindar dan ucapan kamu tuh gak jelas tau Ji" ucap Dwi.


"Oke sekarang keputusan kita ambil berhenti atau gaknya itu ada pada pilihan kita" ucap Jihan menatap Dwi.


"Gue......" ujar Dwi berhenti dan langsung menarik tengkuk Jihan dan mencium Jihan di balik masker.


Di saat yang bersamaan Putri kembali dari ruangan Jihan membuatnya tersenyum, sedangkan Fero yang sedari tadi melihat adegan itu hanya tersenyum kecut.


"Bisa gak si jangan nyosor mulu" ucap Jihan


"Itu jawabanku Ji" ucap Dwi.

__ADS_1


"Jawaban gak jelas" ujar Jihan kembali bekerja.


Dwi tidak puas dengan Jihan yang terlalu dingin dia langsung memeluk Jihan dari belakang dan menyesap leher Jihan membuat Jihan merapatkan bibirnya dengan posisi yang membelakangi para kariawannya.


"Gue selesaikan ini dulu" ucap Jihan membuat Dwi melepaskan bibirnya yang menempel di leher Jihan.


Jihan langsung menyelesaikan pekerjaanya, dan langsung membantu kariawanya agar cepat seleai. Tepat satu jam sebelum makan malam mereka sudah menyelesaikan semua tugasnya dan di depan pintu ibu ibu itu kembali.


"Sudah buk silahkan di cek dari rasa atau penampilan" ucap Jihan sopan.


"Bagus semuanya perfec" ucapnya puas.


"Tapi mohon maaf ibu kita hanya bisa menaruhnya di satu tempat" ucap Jihan.


"Tidak masalah nak, terima kasih ya" ucapnya di angguki Jihan.


"Berapa yang harus saya bayar" tanyanya.


"Mana kartu kredit saya" tanyanya membuat Riko memberikan kartu kredit dan pinnya pada sang pemilik.


Ibu itu sangat puas dengan pekerjaaan Jihan sehingga dia memberikan uang lebih pada Jihan. Dia juga sngat berterima kasih kepada Jihan hanya di balas senyuman manis Jihan.


"Nak lehermu kenapa biru gitu" tanyanya membuat Jihan menyentuhnya dan malu.


"Gak sakit ya" tanyanya lagi.


"Gak buk, terima kasih atas kepercayaan ibuk" ucap Jihan membungkukkan badannya.


Sang ibu itu langsung membawa pesanannya ke dalam mobil. Jihan merasa was was saat kuehnya di taruh di mobil. Setelah kepergian ibu itu mereka semua langsung menarik nafas panjang lega.


"Oke guys kalian bersih bersih lalu pulang" ucap Jihan.


"Siap bos" ujar semuanya.


"Ji" ujar Dwi.


"Riko berikan ini pada semua " ucap Jihan memberikan beberapa lembar uang kepada Riko.


"Ji" panggil Dwi lagi membuat Riko tersenyum.


"Tuh bos udah gak sabar" ucap Riko


"Ikut ke ruangan" ucap Jihan di ikuti Dwi.


"gimana" tanya Jihan.


"Gue gak bisa biarin lo pergi dari kehidupan gue" ucap Dwi langsung memeluk Jihan erat karena tak seimbamg Jihan terjatuh di atas sofa ruangannya.


"Beratan hati gue lo tinggal" ujar Dwi.


"Beneran bangun dong" ucap Jihan.


Bukannya bangun Dwi langsung kembali menyesap leher Jihan kali ini isapannya lebih keras membuat Jihan mengeluarkan lengkuhannya.


"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku" ucap Dwi.


"Gak ada pemaksaan" ucap Jihan.


"Kasih waktu lagi" ucap Dwi.


"Satu mingyu" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Ji main sekali aja" ucap Dwi menunjuk bibirnya.


"Di kasih hati minta jantung, bangun " ucap Jihan membuat Dwi bangun.


"Nanti malam bisa ke rumah papa Prasaja" ucap Jihan.


"Oke bareng ya" ucap Dwi.


"Hm pergi setelah gue bersih bersih" ujar Jihan berjalan pergi.


Saat kakinya melangkah menjauhi Dwi tiba tiba perutnya kembali kram membuat Jihan terduduk di lantai.


"Ji" ujar Dwi


"Sakit" ucap Jihan dengan air mata mengalir.


"Sini" ucap Dwi langsung mengge dong Jihan dan membawanya ke sofa. Jihan terus memegang perutmya dengan perasaan takut Jihan marah Dwi mengusap perut Jihan dan perlahan perutnya sembuh.


"Gimana" tanya Dwi.


"Udah sembuh" ucap Jihan langsung duduk.


"Kamu hamil" tanya Dwi.


"Kenapa tanya itu" tanya Jihan.


"Kamu ingat saat kamu hamil dulu kan juga gini perut kamu kram tapi kalau udah saya usap langsung sembuh" ucap Dwi.

__ADS_1


Jihan hanya diam ingin rasanya dia memberikan kabar gembira pada Dwi kalau dia mengandung anaknya tapi tiba tiba ponselnya berdering.


"Hallo" ujar Jihan.


"Nak papa di rumah sakit" ucap Mama Anggun membuat Jihan membulatkan matanya.


"Oke di RS kita kan mah" tanya Jihan.


"Iya, hati papa kamu Ji" ucap Mama Anggun


Jihan langsung terbengong dan menjatuhkan ponselnya. Dia langsung bersiap pergi membuat Dwi menahannya.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Papa masuk RS" ucap Jihan


"Mas anter ya" ucap Dwi Jihan hanya diam.


Dwi langsung mengambil alih kunci mobil Jihan. Jihan menatapnya lalu mengikuti Dwi yang menuntunnya.


Dwi melajukan mobilnya ke arah RS yang di tuju. Saat sampai Jihan langsung berlari ke kamar VVIP dimana ayahnya di rawat.


"Pah" ucap Jihan panik.


"Kok panik" tanya Papa yang ternyata sedang sehat dan anggota keluarga yang lain juga datang.


"Papa bohongin Jihan" ucap Jihan.


"Gak, mama kan cuma bilang papa di rumah sakit hati papa kamu baik baik aja dan minta pernjelasan" ucap Mama.


"Gue yang bego atau kalian semu yang jahat si" ucap Jihan menangis.


Jovan langsung memeluk Jihan yang menangis. Tak lama Jihan langsung merasakan perutnya kembali kram.


"Abang" ujar Jihan terduduk membuat Jovan tau keadaan Jihan.


"Gimana Ji kamu stress kali" ucap Jovan.


"Lo juga buat gue stress" ucap Jihan memarahi Jovan.


"Maaf tadi saya melihat Jihan di sini" tanya Ridwan.


"Di sini dok" ucap Jovan.


"Lo kamu kenapa" tanya Ridwan.


"Kram" ucap Jovan.


"Sini biar sama gue" ucap Dwi mengusap perut Jihan membuatnya lebih baik.


"Gimana" tanya Ridwan di angguki Jihan.


"Emang seorang suami berkesan ya" ucap Ridwan tersenyum.


"Dokter kenapa cari Jihan" tanya Dwi membuat Ridwan menatapnya di angguki Jihan.


"Em gini kemarin pas kamu periksa fotonya lupa gak di kasihin kamu ada sama saya jadi mau di ambil" tanya Ridwan.


"Mau lah, sekalian mau liat dia lagi" ucap Jihan.


"Oke, kamu ikut Wi" tanya Ridwan.


"Bang" ujar Jihan.


"Dia juga berhak tau Ji biar dia juga bisa menjaganya, saya tau kamu tangguh tapi dia juga ada hak Ji" ucap Ridwan.


"Oke tapi sebelum itu saya selesaikan masalah saya dulu" ucap Jihan.


"Oke datang ke ruangan kandungan nanti dan temui dokter Lani ya" ucap Ridwan.


"Dokter kandungan" ucap Dwi dan semua orang menatap Ridwan.


"Nanti kalian akan tau apa yang terjadi dengan kandungan Jihan" ucap Ridwan pergi.


Jihan langsung berdiri dan mengatakan semua tentang pernikahannya dan surat perjanjian yang akan segera berakhir membuat ke dua orang tua dan mertuanya menatapnya dengan serius.


"Jihan gak mau di paksa berjodoh lagi pah kalau memang jodoh Jihan dengannya selesai sekarang" ucap Jihan.


"Apa kamu benar benar ingin berpisah dengan ku, lalu obat apa yang kamu konsumsi dengan banyak tablet itu" tanya Dwi


"Kamu tidak berniat bunh diri kan" tanya Mama Sri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya guys.


__ADS_2